Kami melangkah masuk, tetapi berhenti ketika ada yang menghadang. Sepertinya, pesta ini dijaga lumayan ketat. "Surat undangan." Dua pria berpakaian hitam-hitam menadahkan tangan, meminta surat undangan dari kami. Jujur saja, sebelum datang kesini, aku malah lupa memikirkan syarat untuk masuk. "Nih, Pak." Cinta dan Devan memberikan tiga surat undangan pada kedua pria itu. Aku menatap mereka aneh. Mereka punya undangannya? Beberapa detik memeriksa, kami akhirnya dipersilakan masuk. Aku menghela napas lega. "Kalian tahu, kalau masuknya pakai undangan?" tanyaku sambil menoleh ke Cinta. "Tau, dong. Anak Mama gitu, lho." Kami melangkahkan kaki ke dalam gedung. Gedung mewah yang awalnya rumah, disulap indah sekali. "Sekarang, kita cari Papa sama selingkuhannya. Entah yang mana pe

