"Firly!" Aku buru-buru keluar kamar, Cinta dan Devan juga ikutan keluar kamar, ketika mendengar teriakan Mas Seno. Lagipula, ngapain pakai teriak-teriak, sih? "Kenapa, Mas?" "Mas mau keluar sebentar, kamu jagain rumah. Jangan kemana-mana." Eh? Masa tidak boleh kemana-mana? Apalagi nanti sore aku dan Cinta harus ke rumah Amel untuk menyelidiki Anggun. Aku menoleh ke Cinta, dia buru-buru mengangguk. "Nanti, Cinta mau rumah teman, Pa. Sekalian Mama mau lihat-lihat toko buat usaha kue." Cinta membenarkan hijabnya, menatap Mas Seno. Suamiku itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Terserahlah. Eh, jangan beli dulu, Fir. Bilang sama Mas dulu, bonus bulan depan Mas mau pakai sesuatu soalnya." Aku hanya mengangguk. Yang penting bisa usaha kue. Setelah itu, aku akan minta cerai darimu,

