"Jadi, sekarang gimana?" Jujur saja, aku sudah emosi. Kalau bisa, aku labrak mereka sekarang juga. Hanya saja, ini berlawanan dari semua rencana yang sudah kami susun rapi. Cinta diam. Dia berkali-kali menatap ke depan. "Sebentar, Ma. Cinta telepon Om Devan dulu. Masalah ini gak bisa diselesaiin sendirian." Aku mengangguk. Sudah panas, ditambah panas lagi, karena masalah ini. Cinta menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Devan sampai berteriak dari sana. "Gila, sih, itu cowok. Benar-benar ngajak perang dunia ketiga." Devan marah-marah disana. Dia menyuruh Cinta untuk mengirimkan lokasi. Adikku itu sepertinya serius untuk mengibarkan bendera perang. "Sabar, Om. Cinta juga udah marah banget ini. Kesal, tapi kok pengen ketawa." Eh? Kok malah pengen ketawa? "Kok, ya, Papa

