Vathan sudah menindih tubuh mungil kekasihnya, ia sudah kembali memberi rangsangan di sekujur tubuh Zelin. Gadis yang sangat ia cintai itu pasrah tanpa perlawanan, gadis itu sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan Vathan. Lenguhan dan desahan terus keluar dari bibir mungilnya, tubuhnya sudah sangat memanas. Bahkan pendingin ruangan kamar itu pun tak mampu menghentikan aliran keringat ditubuh kedua insan yang sedang di mabuk hasrat percintaan. Bukan tanpa alasan Zelin ingin merasakan kenikmatan lebih dari sebelumnya, ia ikhlas memberikan hal paling berharga dalam hidupnya karena sangat percaya laki-laki yang sedang mencumbunya ini tidak akan pernah berkhianat. Vathan yang sudah di tutupi oleh nafsu, terus mencumbu setiap inci tubuh mulus gadis pujaan hatinya. "Sayang, kita bisa ber

