BAB TUJUH

2075 Kata
"Akuuuuuu......." "Iya kamu kenapa?" "Tapi janji ya gak marah." "Iya sayang, kakak janji gak akan marah. Kenapa?" Tanya Vathan untuk kesekian kalinya "Kepala ku pusing, gak bisa tidur pake kipas angin." "Maaf ya bikin kamu gak nyaman ada disini, di rumah ini cuma kamar Livia yang pake AC. Terus kamu mau pulang? Biar kakak bangunin Mang Iyan." Vathan hendak berdiri namun di cegah oleh Zelin. "Gak usah, lagian kan aku mau nginep disini. Masa malah pulang tengah malem, gak enak kalo besok pagi Livia nyariin." "Terus sekarang mau gimana? Kakak takut kamu jadi sakit kalo maksain nginep disini, tuh hidung kamu udah merah bersin-bersin terus dari tadi." Zelin bingung sekarang mau bagaimana, di satu sisi bersinnya sangat menyiksa. Tapi ia juga tidak mau jika harus pulang, apalagi keadaan Livia yang sudah tertidur pulas. Zelin tidak mau Livia berpikir macam-macam kalau harus pulang cuma karena masalah kipas angin. "Kok malah nunduk, kakak nanya loh tadi. Kamu mau gimana sekarang? Pindah ke kamar Livia aja, mau? Kakak temenin kalo emang kamu takut gelap." "Gak mau ke kamar Livia, aku kalo tidur ditempat gelap suka sesak nafas. Hikkssss,,, hikksss,,," "Kok malah nangis?" "Aku ngerepotin ya?" "Enggak sayang, kakak cuma kamu bilang sekarang maunya gimana?" "Aku tidur dibawah sama kakak boleh?" "Hahhhh..." "Gak boleh ya?" Ujar Zelin dengan tatapan sendu "Bukan gak boleh, kalo kamu tidur cuma diatas karpet nanti badannya sakit." "Badan kakak sakit dong tidur dikarpet?" "Beda sayang, kakak kan cowok harus lebih kuat dari cewek." "Jadi gimana boleh apa enggak?" Kesal Zelin "Kok marah-marah sih?" "Gak marah, tapi udah cape bersin terus. Kipas anginnya pas diatas kepala banget, jadinya pusing kak." Ya kipas angin dikamar Vathan memang kipas angin yang menempel di dinding, dan posisinya sangat tepat diatas kepala Zelin. "Yaudah tunggu kakak ambil bed cover di kamar Livia dulu buat lapisin karpetnya, kan lumayan jadi tambah tebel. Kalo udah gak kuat lama-lama kena kipas turun aja dulu ke bawah, kakak tinggal sebentar ya." Vathan keluar dari kamarnya, melihat begitu tulus perhatian Vathan padanya gadis cantik yang sedang duduk di tepi ranjang pun terus tersenyum dengan begitu manis. Vathan sudah kembali masuk ke kamar dengan membawa dua bed cover tebal dalam pelukannya. Dengan cekatan ia menata bed cover dan di tumpuk di atas karpet bulu supaya jadi lebih tebal. Setelah rapi ia pun menarik pergelangan tangan Zelin untuk segera turun, Zelin langsung merebahkan badannya karena kantuk sudah menginggapi kedua mata indahnya. Vathan pun langsung menyelimuti tubuh mungil gadis yang sangat ia cintai. Lalu ia berdiri hendak meninggalkan Zelin yang sepertinya akan segera memasuki alam mimpi. "Kakak mau kemana?" Tanya Zelin dengan mata kembali terbuka "Kakak tidur di sofa ruang tamu aja ya, kalo kakak di atas besok pagi Livia bisa ngamuk." "Kakkkkkk..." "Iya ada apa?" Vathan kembali duduk di samping tubuh Zelin lalu memegang kening gadis itu memastikan demam atau tidak. "Kakkkk.." "Iya sayang, kenapa?" "Tidur disini aja, di samping aku." "Enggak sayang, ini sempit." "Muat kak, udah sini cepetan. Aku udah ngantuk." Vathan pun mengikuti keinginan Zelin, karena ia mau Zelin segera tidur. Bahkan jam sudah menunjukan pukul satu lebih lima belas menit, Vathan tidak mau gadisnya pusing keesokan hari karena tidur larut malam. Rasanya masih seperti mimpi, bisa tidur di satu ruangan yang sama. Bahkan posisinya saat ini diatas alas tidur dan selimut yang sama. Tiba-tiba Zelin membalik tubuhnya dengan posisi menyamping menghadap Vathan. Vathan menyadari itupun mengikuti apa yang dilakukan Zelin, sampai akhirnya mereka saling berhadapan. "Udah malem menjelang pagi, tidur ya. Maaf kalo tempatnya gak nyaman." Ucap Vathan yang saat ini tangannya sudah terulur membelai kepala Zelin, berharap usapan itu akan membawa Zelin merasa lebih nyaman dan akan segera tertidur. "Kakkk...." "Iya kenapa?" "I Love You." Ucap Zelin berbisik nyaris tak terdengar "Apa?" Tanya Vathan untuk meyakinkan, karena takut apa yang ia dengar salah "I Love You Kak Vathan Asvatama." Setelah mengucapkan kalimat itu Zelin merapatkan tubuhnya dengan Vathan. Memeluk erat laki-laki yang belakangan ini selalu memberikan kenyamanan dengan beribu perhatian. "I Love You Too Zelina Airani." Vathan membalas pelukan Zelin dengan erat, mengusap punggung Zelin lembut. Menyalurkan kehangatan dan rasa nyaman. Lima belas menit berselang keduanya terlelap dalam tidurnya dengan saling memeluk satu sama lain. Pagi menyapa, sinar matahari sudah mulai masuk kedalam kamar melalui celah jendela. Livia sudah bangun lebih dulu, namun gadis itu kaget karena hanya sendirian diatas kasur. Dengan gerakan cepat Livia mendudukan dirinya, merapikan rambutnya yang berantakan dan menguncirnya asal. Saat akan turun dari tempat tidur betapa terkejutnya ia melihat kakak dan sahabatnya tidur bersama. Dengan posisi Vathan yang memeluk Zelin dari belakang. Akhirnya Livia pun berniat untuk membangunkan Vathan terlebih dahulu, namun niatnya di urungkan saat Zelin tiba-tiba saja bersin. Livia memegang kening sahabatnya dan sedikit kaget karena Zelin sedikit demam. Setelah berpikir sejenak Livia meninggalkan kamar, tak ada satupun yang ia bangunkan. Gadis itu membiarkan kedua orang yang ia sayang tidur bersama. Lalu ia menuju dapur untuk memasak sarapan. "Biarin lah mereka tidur berdua kayak gitu, lagian masih pake baju lengkap juga. Gak mungkin ngapa-ngapain." Ucapnya pada diri sendiri "Ih gue udah kayak orang gila ngomong sendiri." Pagi ini Livia hanya membuat roti panggang dan s**u sebagai minuman untuk mereka sarapan. Saat ingin masuk ke kamar untuk membangunkan kakak dan sahabatnya, ia malah di suguhkan pemandangan yang menyebalkan baginya. Vathan yang duduk diatas tempatnya tidur semalam dengan Zelin yang ada di pangkuannya. Zelin bersandar di d**a Vathan, tangan kanan Vathan memeluk pinggang gadis itu erat dan tangan kirinya sedang memijit kening Zelin. Sepertinya kepala Zelin pusing karena badannya pun tadi sedikit demam "Bisa-bisanya mereka bermesraan kayak gitu disaat gue sibuk di dapur, lagian sakit kok gantian?" Gumam Livia pada diri sendiri. *** Lima belas menit Livia menunggu di ruang makan, tapi kedua anak manusia yang sedang bermesraan itu tak kunjung keluar dari kamar. Rasanya ingin sekali gadis itu menghampiri keduanya, namun niatnya ia urungkan karena tidak mau mengganggu privasi dua orang yang begitu ia sayangi selain ibu dan ayahnya. Akhirnya Livia memutuskan akan membuat secangkir kopi untuk Mang Iyan dan setelah itu akan memanggil lelaki itu untuk sarapan terlebih dahulu. Karena menunggu Vathan dan Zelin tak ada kejelasan kapan mereka akan keluar kamar. Secangkir kopi panas pun sudah tersedia di meja. "Kayaknya Mang Iyan lagi panasin mobil, sarapannya anter ke teras aja deh. Kalo nunggu selesai nanti kopinya malah dingin." Gumam Livia Livia pun keluar membawakan secangkir kopi dan dua potong roti panggang selai kacang untuk sarapan Mang Iyan. "Mang ini sarapan roti sama kopinya ya, semoga suka." Teriak Livia sambil meletakan sarapan yang ia bawa di meja kecil yang ada di teras rumahnya. "Iya Non makasih, pasti saya suka." Sahut Mang Iyan Livia pun kembali masuk ke dalam rumahnya. "Sarapan duluan aja deh gue, yang lagi kasmaran mah gak butuh sarapan kali ya." Namun saat ia sampai di meja makan kakak dan sahabatnya sudah ada disana duduk bersampingan membelakanginya. Zelin yang masih saja ada di pelukan kakaknya itu, dan sang kakak dengan penuh kasih sayang terus membelai puncak kepala gadis yang ia cintai. Livia pun melewati keduanya dan duduk berhadapan. Zelin yang menyadari kehadiran Livia langsung menegakan duduknya, melepaskan diri dari pelukan Vathan. "Biasa aja kali Zelin, tadi pagi aja tidur di peluk abang nyenyak banget kayaknya. Sampe rela gak tidur di kasur." Sindir Livia "Gak gitu de, Zelin tuh gak bi" "Gak bisa tidur pake kipas angin?" Livia memotong ucapan Vathan "Kok tau?" Ucap Zelin dan Vathan bersamaan "Tau lah, kan punya kuping. Jadi denger semuanya deh, eh gak semuanya. Udah ngantuk banget jadi tidur deh pas Zelin bilang mau tidur dibawah sama abang." "Dosa lo Lip nguping obrolan orang sambil pura-pura udah tidur." Kesal Zelin karena ketahuan ia yang meminta lebih dulu untuk tidur bersama Vathan "Gue gak nguping ya, tapi emang kedengeran." Ujar Livia sarkas sambil memakan sarapannya "Udah-udah mau sarapan kok malah ribut sih, kalo ada ibu kena omel kalian berdua debat di depan makanan." Vathan mencoba menengahi kedua gadis kesayangannya itu "Maaf." Ucap kedua gadis itu lalu melanjutkan kegiatan sarapannya. "Yaudah ayo lanjut sarapan, makasih ya de udah dibikinin sarapan." "Iya bang sama-sama, oya kok ibu belum pulang ya? Katanya mau pulang pagi-pagi." "Assalamualaikum...." Terdengar suara Maya dari ruang tamu "Waalaikumsalam...." Jawab ketiganya "Kita di ruang makan bu, lagi sarapan." Tambah Vathan Maya pun menuju ruang makan "Abang tadi titip bubur ayam sama ibu kok udah sarapan duluan. Abang udah sehat? Kok pas sehat malah minta bubur bang? Apa abang masih sakit?" Cerocos Maya menghampiri anak laki-lakinya, memegang kening putranya untuk memastikan kesehatan Vathan "Abang udah sembuh dari semalem bu, kata abang langsung sembuh udah ketemu sama obatnya." Livia yang menjawab "Ih anak ibu mulai belajar gombal ya. Terus ini bubur ayam buat siapa? Ibu beli lima bungkus lagi, kirain kita mau sarapan bareng." "Tadi Vathan titip bubur ayam buat Zelin bu, dia lagi gak enak badan. Tuh di buatin roti panggang sama Ade aja di makan sedikit, katanya lidahnya pahit." "Loh kok sakitnya gantian sih?" "Gak apa-apa bu, Zelin Cuma sedikit pusing aja. Nanti juga sembuh kok." Akhirnya Zelin membuka suara "Yaudah ibu sarapan aja, Vathan nanti ambil satu buburnya buat Zelin." Maya pun duduk dihadapan Vathan samping Livia, setelah selesai mencuci tangan dan mengambil alat makannya. "Terus tiga lagi buat siapa dong? Ade mau sarapan bubur lagi?" Tanya Maya pada anak gadisnya "Ih enggak ya bu, ade udah kenyang banget. Lagian kan abang yang nitip, suruh aja abang abisin semuanya." Ujar Livia memberikan pendapat "Ih gak gitu Ade, makan itu gak boleh berlebih. Mendingan kasih ke orang lain." Maya menasehati yang hanya dibalas senyum manis oleh Livia. Kalau sudah ibunya yang bicara, ia tak sanggup berkutik. "Bu,,," Zelin memanggil dengan suara yang begitu pelan "Iya sayang kenapa?" Jawab Maya "Kalo bubur ayamnya buat Mang Iyan aja boleh? Biar Mang Iyan pulang dulu anterin buat istri sama anak-anaknya. Nanti Zelin ganti deh uang ibu." "Ya boleh banget sayang, Abang anterin buburnya ke depan ya. Tadi ibu liat Mang Iyan udah selesai sarapan." Perintah Maya pada Vathan "Iya bu." Vathan pun membawa tiga bungkus bubur ayam dan mengantarkan ke depan untuk diberikan ke Mang Iyan. Setelah Vathan menghilang dari pandangan, Zelin berdiri dari tempat duduknya. "Mau kemana lo? Kata ibu gak sopan tau ninggalin meja makan kalo masih ada yang makan. Ya kan bu?" Livia meminta persetujuan sang ibu, dan Maya hanya menjawab dengan anggukan kepala "Mau ambil tas di kamar, mau gantiin uang ibu yang dipake buat beli bubur ayam." Lirih Zelin dan kembali duduk ditempatnya. "Hushhh kamu ini ngomong apa sih, masa anak harus ganti uang orang tuanya. Gak usah sayang, kalo kamu ganti ibu marah ya." Ancam Maya "Tapi bu...." "Gak ada tapi-tapian Zelin, lo mau ibu marah." "Enggak." Vathan sudah kembali ke ruang makan dan kembali duduk disamping Zelin, membuka bubur ayam dan menuangnya ke mangkok. "Makan buburnya dulu ya, abis itu minum obat." "Gak mau kak, lidahnya pahit." "Ya tapi harus dipaksain makan biar cepet sembuh. Aku suapin ya sayang." "Uhuukkkk... Uhuukkk..." Maya tersedak makanannya. Ia tahu anak lelakinya menyukai Zelin. Tapi Maya tidak menyangka anaknya akan berani bilang sayang di depannya. "Bu minum bu." Livia memberikan segelas air mineral "Ibu gak salah denger?" Maya bertanya setelah selesai minum "Ya enggak bu." Livia yang menjawab Zelin menundukan kepala karena malu, tangannya terus menarik ujung kaos yang dikenakan Vathan. Vathan yang menyadari kegugupan gadisnya hanya mampu tersenyum. Pagi itupun dilanjutkan dengan sarapan bersama penuh kehangatan keluarga, hal yang sudah jarang sekali dirasakan oleh Zelin. Vathan yang sangat sabar menyuapi bubur ayam untuk Zelin, Maya dan Livia hanya menyaksikan adegan romantis itu dengan senyum penuh bahagia. Setelah selesai sarapan, Maya dan ketiga anaknya berkumpul di kamar Livia. Karena Zelin yang kembali merasa kepalanya sangat pusing. Livia menceritakan semua yang terjadi semalam, apa penyebab mereka harus tidur bertiga di kamar Vathan. Memberi tahu apa yang ia dengan dan ia lihat pada ibunya. Setelah mendengar cerita dari Livia dan Vathan, Maya hanya berpesan pada anak laki-lakinya untuk tetap mengedepankan norma-norma agama. Tidak boleh melewati batasan, tidak boleh menyakiti hati perempuan. Dan begitu banyak nasehat yang diberikan Mata pada Vathan. Vathan pun mendengarkan dengan baik semua nasehat dari ibunya. Setelah itu Maya mengajak Vathan dan Livia untuk meninggalkan kamar karena Zelin sudah tertidur nyenyak. "Ibu sama Livia keluar duluan aja, Vathan masih mau disini." Ujar Vathan dan dibalas delikan tajam Maya pada sang anak. "Gak akan ngapa-ngapain bu, Cuma mau nemenin aja. Janji." Maya tersenyum dan segera melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu bersama dengan putri cantiknya yang sedang bergelayut manja di lengannya. Walaupun suka ceplas-ceplos dan terkesan barbar, namun Livia tetaplah anak gadis yang selalu manja pada anggota keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN