Mang Iyan baru saja memarkirkan mobil di depan gang kecil, tempat terpencil di ujung Ibu Kota Jakarta. Mobil tak bisa sampai masuk ke pelataran rumah, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Mang Iyan keluar dari mobil dan membawa bungkusan bubur ayam yang tadi ia terima dari Vathan. Menyusuri gang sempit melewatin beberapa rumah kontrakan, dan sampai lah Mang Iyan di depan rumahnya. Kontrakan kecil bercat warna biru, namun tempat tinggal itulah yang memberikannya semangat untuk terus bekerja agar bisa memberikan tempat tinggal yang lebih baik untuk istri dan kedua anaknya.
"Assalamualaikum." Ucap Mang Iyan saat memasuki pintu rumahnya. Penampakan pertama yang ia lihat adalah istrinya yang begitu lelah terpancar dari wajahnya, padahal hari masih pagi. Istrinya yang harus mengurus rumah dan kedua anaknya bukanah pekerjaan ringan. Ditambah anak Mang Iyan yang bernama Rian sedang sakit, pasti akan lebih rewel dan merepotkan. Tapi tak pernah sekalipun istrinya mengeluh.
"Waalaikumsalam." Sahut istri Mang Iyan dan langsung menghampiri suaminya.
"Tumben bapak pulang pagi-pagi?" Tanya sang istri
"Iya bu, ini dikasih bubur ayam sama Den Vathan katanya buat Ibu dan anak-anak." Ujar Mang Iyan mengulurkan bingkisan yang ia bawa
"Den Vathan siapa pak?"
"Oh itu temennya Non Zelin, yang temennya sih adiknya namanya Non Livia. Cuma Non Zelin juga deket sama kakaknya."
"Oh gitu, yaudah ibu ke dapur dulu ya ambil mangkok sama sendok."
"Yaudah ibu sarapan sama anak-anak ya, bapak mau mau balik lagi kerumah Bu Maya. Itu Bu Maya ibunya Non Livia sama Den Vathan, gak enak kalo pergi lama-lama."
"Loh bapak gak ikut sarapan?"
"Bapak udah sarapan tadi bu, yaudah bapak berangkat ya. Assalamualaikum." Pamit Mang Iyan ke isrtrinya, wanita yang begitu ia sayangi dan sedang ia perjuangkan agak bisa hidup jauh lebih baik dari sekarang.
"Iya hati-hati pak. Waalaikumsalam."
Mang Iyan pun pergi meninggalkan rumahnya, baru masuk dan duduk di balik kemudi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Mang Iyan langsung merogoh kantongnya untuk melihat siapa yang menelpon, nama NY. AIRA tertera disana. Mang Iyan pun langsung menggeser tombol hijau dan menggesernya keatas untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo Mang," Terdengar suara majikannya di sebrang sana
"Iya bu."
"Mang Iyan, lagi dimana?"
"Abis dari rumah bu nganterin sarapan buat istri, tapi ini mau balik ke rumah Non Livia."
"Mang Iyan kerumah aja jemput saya, saya mau ikut kerumah Livia."
"Oh gitu, yaudah saya langsung kerumah sekarang ya."
"Iya mang saya tunggu."
Mang Iyan pun langsung menuju rumah majikannya untuk menjemput Aira.
***
Saat ini Aira yang duduk di kursi penumpang sedang dalam perjalanan menuju rumah Livia, ya rumah sahabat sang putri satu-satunya. Aira sering mendengar cerita dari Bi Imah jika Livia anak yang baik dan begitu perhatian pada Zelin. Aira memang belum sempat bertemu dengan Livia karena kesibukannya membantu sang suami mengelola perusahaan yang sedang berkembang pesat.
"Mang.." Panggil Aira pada sang supir yang sedang fokus dengan laju kendaraannya.
"Iya bu." Jawab Mang Iyan
"Mang Iyan udah sering ketemu sama Livia?"
"Kalo ketemu Non Livia sering bu, kan Non Zelin sering main kesana. Jadi saya sering nganter, kalo Non Livia yang main kerumah saya juga yang nganter pulang."
"Oh gitu, kalo sama keluarganya?"
"Ketemu Den Vathan juga lumayan sering, tapi gak sesering ketemu Non Livia bu. Kalo Ibunya Non Livia sama Den Vathan saya baru ketemu dua kali."
"Keluarganya baik mang?"
"Baik-baik banget bu, apalagi Den Vathan."
"Kenapa Vathan? Dia adik atau kakaknya Livia."
"Kakaknya bu, Den Vathan kayaknya suka sama Non Zelin. Itu sih menurut penglihatan saya aja bu." Mang Iyan berpendapat
"Kalo pun iya saya gak mempermasalahkan sih mang kalo emang anaknya baik."
Tak sempat Mang Iyan menanggapi, mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke halaman rumah tujuan. Setelah parkir Mang Iyan dengan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Aira.
"Assalamualaikum." Mang Iyan mengucap salam dan mengetuk pintu
"Waalaikumsalam." Terdengar suara Maya dari dalam rumah
"Bu Maya ini Bu Aira bundanya Non Zelin." Mang Iyan memperkenalkan
"Yaampun pantesan anaknya cantik banget, bundanya aja gak keliatan kayak udah punya anak gadis." Sambut Maya seraya bercipika cipiki dan disambut Aira dengan hangat
"Maaf Bu Maya, saya ganggu waktunya ya?" Ucap Aira
"Ya enggak lah bu, mari silahkan masuk."
Maya dan Aira masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya saling memperkenalkan diri. Maya mempersilahkan Aira untuk duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Mang Iyan di persilahkan untuk masuk oleh Maya, namun ia tolak dan lebih baik menunggu di teras. Karena Mang Iyan berpikir takut mengganggu privasi obrolan kedua wanita itu.
"Maaf ya bu Aira hanya ada teh hangat dan sedikit cemilan." Ujar Maya sambil meletakan minuman dan cemilan di meja.
"Gak apa-apa Bu Maya,gak perlu repot-repot sebetulnya. Kalo boleh tau Zelin lagi apa ya?" Tanya Aira to the point
"Zelin ada dikamar bu, tadi sih masih tidur. Kata anak-anak saya tadi pagi Zelin agak demam, tapi udah saya kasih minum obat. Sekarang udah reda demamnya."
"Yaampun anak itu malah merepotkan dirumah orang."
"Saya gak merasa repot bu, Zelin udah kayak anak saya sendiri. Bu Aira mau ketemu Zelin, mari saya antar ke kamar. Sekalian kenalan juga sama anak-anak saya."
"Oh iya boleh bu, maaf sekali lagi bu maya kalo saya mengganggu."
"Ah tidak sama sekali Bu Aira. Lagian kan anak kita bersahabat, alangkah baiknya kita juga bisa lebih mengenal. Itupun jika Bu Aira tidak keberatan."
"Tidak sama sekali Bu. Jadi sekarang kita teman ya?"
"Iya bu."
Kedua wanita cantik itu pun saling melemparkan senyum dan berjalan menuju kamar Livia. Disana ada Zelin, Vathan dan sang pemilik kamar. Mereka sedang duduk berjajar seraya bersandar di kepala ranjang yang ada di kamar itu.
Tok...Tok...Tok...
"De... Ade...." Ucap Maya setelah mengetuk pintu
"Iya bu, kenapa?" sahut Livia tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam. Karena begitu asik memainkan games yang ada disana.
"Ibu masuk boleh?"
"Iya masuk aja bu." Vathan yang menjawab
Didepan pintu Aira melirik sesaat pada wanita disampingnya, tersirat akan sebuah pertanyaan yang sangat dipahami oleh Maya. Bagaimana pun mereka sama-sama seorang ibu, pasti akan memiliki ke khawatiran saat anak gadisnya berada di satu ruang bersama lawan jenis.
"Anak-anak bertiga bu didalam, saya juga gak akan membiarkan Vathan berduaan sama Zelin. Walaupun saya yakin Vathan akan melindungi Zelin sama seperti ia melindungi Livia, tapi namanya setan selalu menggoda dari berbagai sudut kan bu?' Ujar Maya meminta persetujuan
"Ah syukurlah, saya kira hanya berduaan saja. Saya terlalu panik aja bu, padahal tadi saya juga sudah mendengar suara anak perempuan yang sangat saya yakin bukan suaranya Zelin."
Maya hanya membalas dengan senyum, lalu membuka pintu dan mempersilahkan Aira untuk masuk. Menyadari ada orang lain selain Maya ketiga anak yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing pun menoleh kearah pintu dengan ekspresi yang berbeda. Livia dan Zelin terkejut dengan kedatangan Aira, ya tentu saja Livia mengetahui sosok Aira. Karena walaupun belum sempat bertemu, Livia sering melihat foto Aira yang ada di kamar Zelin. Namun Vathan berekpresi penuh tanda tanya, siapa wanita yang masuk ke kamar bersama ibunya.
"Bunda....." Ucap Zelin
"Bunda?" Beo Vathan dengan nanya bertanya pada gadis disampingnya.
"Iya kak itu bunda." Jawab Zelin dan menggeser badannya untuk turun dari tempat tidur, namun tangannya di cekal oleh Vathan.
"Gak usah turun, kamu masih sakit. Aku aja yang pindah." Ujar Vathan tegas
Setelah Livia dan Vathan berkenalan dengan Aira, Maya mengajak anak-anaknya untuk menunggu diluar. Itu dilakukan untuk memberi privasi pada Zelin dan bundanya. Aira duduk di samping putri cantiknya, yang belakangan ini sering ia tinggalkan.
"Masih pusing sayang? Kalo sakit kenapa nginep disini." Ucap Aira membuka pembicaraan
"Udah sembuh kok bun, Cuma lidahnya masih pahit kalo buat makan."
"Mau pulang?" Tanya Aira
"Nanti aja ya bun, lagian besok Zelin udah janji mau piknik di taman samping rumah ini. Jadi malem ini Zelin nginep lagi disini ya. Please bun." Zelin memohon
"Kangen bunda gak?" Tiba-tiba terlontar pertanyaan yang selama ini tak pernah ia tanyakan pada putri semata wayangnya itu.
"Kok bunda nanya gitu?"
"Abisnya bunda ngerasa ada yang bakalan rebut perhatian anak bunda ini deh." Ledek Aira
"Iiihhh bunda apaan sih."
"Anak bunda udah dewasa ya, udah mulai suka-sukaan."
"Bundaaaa...." Zelin memeluk sang ibunda, dan dibalas Aira dengan pelukan penuh kasih sayang.
"Zelin,,," Aira melonggarkan pelukan tangannya dari tubuh mungil Zelin
"Iya bun..." Zelin menatap mata Ibundanya penuh tanya
"Bunda kesini mau pamit sama Zelin."
"Bunda mau kemana?"
"Bunda sama Ayah harus ke Surabaya kurang lebih tiga bulan buat ngurusin perusahaan yang disana."
"Kok tumben lama banget bun?"
"Iya perusahaan disana kan masih baru, jadi harus bener-bener ayah sama bunda awasi langsung. Sampai nanti bisa ditinggal baru bunda pulang lagi kesini."
"Zelin makin kesepian dong bun?"
"Terus Zelin maunya gimana nak? Bunda akan ikutin semua kemauan anak cantiknya bunda."
Zelin nampak berpikir sejenak, memikirkan keputusan apa yang akan ia katakan pada sang ibunda.
"Bun, kata Livia sama Vathan tuh bunda sama ayah sibuk kerja karna sayang sama aku kan? Jadi bunda mau kehidupan Zelin di masa depan akan jauh lebih baik." Ujar Zelin tersirat pertanyaan
"Bener banget sayang. Lalu?"
"Zelin gak apa-apa bun kalo ditinggal buat kepentingan pekerjaan bunda dan ayah. Tapi Zelin boleh gak bun sering-sering nginep disini? Zelin kesepian bun kalo dirumah, nanti gantian Livia yang aku ajak nginep dirumah kita."
"Boleh sayang bunda slalu ijinin kalo emang Zelin mau nginep disini, tapi kita harus omongin sama Bu Maya dulu ya. Bunda gak mau anak gadis bunda ini ngerepotin orang lain."
"Yaudah bun ayo kita kedepan."
Zelin dan Aira keluar dari kamar Livia, menghampiri Maya dan kedua anaknya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati cemilan. Setelah ikut bergabung disana, Aira langsung mengatakan keinginan Zelin untuk sering bisa bermalam dirumah itu. Ya tentu saja disambut baik oleh Maya dan kedua anaknya. Namun ada syarat yang Aira ajukan, yaitu Aira dan suaminya akan menyediakan seorang ART dirumah itu. Tujuan utamanya yang pasti untuk membantu memenuhi keperluan putrinya yang sudah terbiasa dilayani. Daripada harus merepotkan sang pemilik rumah, lebih baik ia keluar uang untuk membayar jasa ART.
Awalnya Maya menolak keras atas persyaratan yang di ajukan Aira, tapi Aira punya seribu kalimat untuk merayu wanita yang sudah ia anggap teman sejak hari ini. Dengan berat hati akhirnya Maya menyetujui persyaratan itu, karena jika tidak Zelin tak diijinkan untuk bermalam dirumahnya. Sedangkan ia sangat tahu, Zelin sering mengeluh kesepian jika dirumahnya sendirian.
"Yaudah Bu Maya untuk ART nya nanti saya minta bantuan Mang Iyan untuk mencarikan." Ujar Aira
"Saya gimana baiknya menurut bu Aira aja."
"Tapi kalo nanti Bu Maya atau anak-anak merasa gak cocok sama ARTnya kabarin saya ya bu, kalau memang masih bisa ditegur ya jauh lebih baik."
"Kalo gitu panggil Mang Iyan sekarang aja bun, kan lagi ada didepan Mang Iyan." Ujar Zelin pada bundanya
"Yaudah kamu panggil sana." Jawab Aira. Baru saja Zelin mau beranjak dari duduknya, pergelangan tangannya sudah dicekal oleh Vathan.
"Kakak aja yang panggil, kamu tunggu disini." Ucap Vathan
"Tapi kan aku yang disuruh bunda kak."
"Vathan yang panggil gak apa-apa kan ya bun?" Tanya Vathan pada Aira
"Iya gak apa-apa." Jawab Aira
"Tuh kan gak apa-apa, udah kamu tunggu aja duduk manis disini sayang." Ucap Vathan dengan nada menggoda pada gadis yang ada disampingnya. Zelin mendelik tajam pada Vathan lalu memukul lengan pria itu cukup keras. Tapi sepertinya Vathan tak mempedulikan dan langsung berlalu pergi keluar ruang untuk memanggil Mang Iyan.
"Yaampun ade, itu abang kamu apa bukan?" Tanya Maya pada anak gadis yang duduk disampingnya
"Iya itu abang lah bu, emangnya siapa?"
"Bisa-bisanya dia bilang sayang ke anak gadis orang, didepan bundanya lagi" Ujar Maya seraya menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan kelakuan anak sulungnya.
"Gak apa-apa Bu Maya, namanya juga remaja lagi kasmaran. Kita yang duduk disini gak keliatan bu." Sahut Aira terkekeh
"Ih apaan sih bunda, gak gitu ya." Zelin melayangkan protes
Ketiga orang disana hanya menanggapi protes Zelin dengan tertawa. Tak lama Vathan masuk dengan Mang Iyan dan langsung mempersilahkan laki-laki disampingnya untuk duduk di tempat yang Vathan duduki sebelumnya. Karena cuma disitu yang kosong, Vathan hanya berdiri disamping sofa yang di dudukin Zelin. Menyadari Vathan tak kebagian tempat duduk, Zelin berbisik pada bundanya untuk bergeser. Karena tubuhnya yang kecil, Zelin merasa sofa ukuran untuk dua orang ini akan cukup untuk bertiga. Aira hanya menuruti keinginan anaknya, setelah Aira bergeser Zelin meminta untuk Vathan duduk di sebelahnya. Namun Vathan malah meminta Zelin untuk berdiri lalu ia yang duduk, saat Zelin akan melayangkan protes karena malah dirinya yang berdiri, secara tiba-tiba Vathan menarik pergelangan tangan Zelin. Membawa gadis itu duduk tepat di pangkuannya, lebih tepatnya dalam pelukannya. Karena posisi kaki Vathan yang di lebarkan, Zelin berusaha untuk melepaskan diri karena malu ada ibu dan bundanya. Tapi Vathan malah memeluknya erat, semua orang yang ada di ruangan itu hanya menatap bingung dengan kelakuan dua anak manusia yang sedang di mabuk asmara.
"Abang itu anak Ibu ngapain kamu pangku-pangku terus peluk begitu? Gak malu itu ada Bu Aira di sebelah kamu?" Tanya Maya pada anak laki-lakinya
"Gak apa-apa kan ya bun? Daripada sempit-sempitan duduk bertiga?" Vathan malah mengajukan pertanyaan pada wanita di sampingnya yang sedang tersenyum geli melihat wajah putrinya sudah memerah karena malu.
"Iya gak apa-apa, udah Bu Maya biarin aja yang lagi kasmaran kan dunia serasa milik berdua. Kita semua ngontrak bu." Jawab Aira
"Lagian abang genit banget sih." Sarkas Livia
"Biarin, wleeee." Jawab Vathan
"Sudah-sudah kalo diterusin malah kalian yang ngobrol. Bu Aira silahkan kalo mau bicara sama Mang Iyan." Maya mempersilahkan Aira untuk mengungkapkan maksud dan tujuan memanggil Mang Iyan
"Tuh kan hampir lupa gara-gara liat yang jatuh cinta." Ucap Aira lalu menjeda ucapannya
"Jadi gini Mang Iyan, saya sama bapak mau tinggal di Surabaya sekitar empat bulan atau lebih. Zelin kalo dirumah terus sepi katanya, jadi akan sering-sering nginep disini. Saya minta tolong cariin ART buat dirumah ini bisa mang?" Akhirnya Aira menyampaikan tujuannya memanggil Mang Iyan untuk duduk disana bersama mereka
"Harus tinggal disini atau yang pulang bu?"
"Gimana Bu Maya, enaknya tinggal disini atau pulang?" Tanya Aira pada Maya
"Pulang saja Bu Aira, karena saya gak bisa sediain kamar kalo tinggal disini."
"Jadi gimana mang, ada?"
"Saya mau tanya dulu bu sebelumnya, apa boleh bawa anak kecil waktu kesini?"
"Kenapa begitu mang?"
"Kalo memang boleh, biar istri saya aja yang kerja disini. Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Ibu atau Pak Abraham, tapi karna anak saya yang kecil lagi sakit dan butuh biaya lebih. Jadi keluarga kita butuh pemasukan tambahan." Ujar Mang Iyan lirih
"Mang Iyan kenapa gak bilang saya kalo butuh uang?"
"Saya gak enak bu slalu merepotkan keluarga ibu, kalo emang keluarga saya bisa dapat pemasukan tambahan dengan istri saya ikut bekerja. Itu akan jauh lebih baik."
"Bu Maya gimana, saya ikut keputusan Bu Maya aja. Karna kan ARTnya buat disini."
"Kalo alasannya memang begitu gak apa-apa Bu Aira, biar istrinya Mang Iyan aja yang bantu-bantu disini. Anak Mang Iyan juga nanti bisa main sama Livia, dia kan seneng anak kecil."
"Yaudah mang mulai hari senin ajak Bi Mira kerja disini ya. Masalah tugasnya apa nanti langsung tanya Bu Maya aja, kalo urusan gaji baru ke saya."
"Iya makasih Bu Aira, Bu Maya kalo gitu saya permisi mau kabarin istri saya. Sekali lagi makasih ya bu." Mang Iyan pun beranjak dari tempat duduknya.
"Iya sama-sama mang." Ucap Maya dan Aira bersamaan
"Salam buat Bi Mira ya mang." Tambah Aira
"Iya bu nanti saya sampaikan, saya permisi." Mang Iyan pun keluar dari ruang tamu dan akan segera memberi kabar pada istrinya.
Zelin yang merasa pelukan tangan Vathan sedikit longgar, dan melihat ada tempat kosong di samping Maya. Sudah bersiap untuk melepaskan diri dan berpindah tempat duduk, karena ia merasa begitu malu dengan posisi duduknya sekarang. Apalagi Livia yang terus saja menatapnya dengan tatapan menggoda. Dan benar saja, dengan mudahnya Zelin lolos dari rengkuhan tangan Vathan dan segera duduk disamping Livia.
"Sayang kok pindah sih?" Protes Vathan saat menyadari Zelin sudah berpindah tempat duduk
"Abaaaaannngggggg....." Ucap Maya kesal dengan kelakuan anak laki-lakinya.