"Abaaaaannngggggg....."
"Iya bu, kenapa?"
"Sayang-sayang terus sama Zelin, awas ya kalo bikin anak ibu nangis."
"Gak akan bu. Janji."
Setelah itu hanya ada obrolan-obrolan ringan antara kelimanya, sesekali Aira ataupun Maya menggoda anak-anaknya yang sedang kasmaran. Livia juga memberi ancaman pada sang kakak akan marah jika berani menyakiti sahabat terbaiknya. Walaupun hubungan antara Zelin dan Vathan belum ada kata jadian, mereka hanya ingin semuanya berjalan sebagaimana baiknya saja. Begitu banyak nasehat yang keduanya terima dari Aira ataupun Maya. Intinya mereka harus bisa saling menjaga untuk tidak saling menyakiti dan yang paling penting harus menjaga hubungan baik yang sudah terjalin selama ini. Karena hubungan mereka tidak hanya hubungan dua orang antara anak laki-laki dan perempuan. Tapi hubungan mereka juga akan melibatkan Livia, jika antara mereka terjadi sesuatu yang kurang mengenakan maka Livia pun akan terkena dampaknya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang. Terlalu asik berbincang-bincang Maya sampai lupa jika dirinya belum masak untuk makan siang.
"Yaampun keasikan ngobrol sampe lupa belum masak buat makan siang. De pesen makanan lewat aplikasi online de buat kita semua makan siang." Ujar Maya pada anak gadisnya
"Mau makan apa bu?" Tanya Livia
"Bu Aira sama Zelin mau makan apa?" Tanya Maya, namun Zelin dan Aira yang duduk berhadapannya hanya saling lempar pandangan.
"Gak usah pesen makanan Livia, gimana kalo kita pergi keluar aja makan siang bareng." Setelah berpikir sejenak, akhirnya Aira memberikan usul.
"Zelin gimana masih pusing gak?" Tanya Aira pada putrinya
"Udah enggak bun, kan tadi udah di pangku sama di peluk-peluk obatnya." Tentu saja itu jawaban yang keluar dari mulut Livia dengan nada penuh ledekan, Zelin yang duduk disebelah sahabatnya pun tak tinggal diam dengan cepat ia memukul paha Livia
"Ade itu kan kata-kata abang kok dipake? Gak kreatif. Sayang dibilangin berkali-kali tangannya jangan suka mukul-mukul kan kamu bukan petinju." Ucap Vathan menatap Livia dan Zelin secara bergantian
"Bucin"
"Sorry" Ucap Livia dan Zelin bersamaan dengan kata yang berbeda
"Zelin udah gak pusing kok bun, Cuma kayaknya masih pahit lidahnya." Zelin menjawab pertanyaan bundanya
"Yaudah yuk kita makan di restoran paling dekat dari sini aja, biar gak terlalu lama di perjalanan."
"Apa tidak merepotkan Bu Aira?" Tanya Maya
"Kita kan teman bu, eh teman apa calon besan ya bu?" Jawab Aira diselingi candaan untuk menggoda putrinya
"Yaudah kalo gitu saya siap-siap dulu ya Bu Aira, mau ganti baju di dalam."
"Iya silahkan Bu Maya, Vathan juga sama Livia kalo mau ganti baju gak apa-apa bunda tungguin. Sayang kamu bawa baju ganti gak?" Tanya Aira pada Zelin, dan hanya tinggal mereka berdua diruangan itu. Livia dan Vathan sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk ganti pakaian
"Enggak bun, ini aja aku pake baju Livia. Tapi kalo keluar rumah aku gak mau pinjem baju Livia bun, warnanya pink semua."
"Terus mau suruh Mang Iyan ambil baju dulu kerumah? Nanti kelamaan dong nunggunya nak."
Vathan dan Maya baru saja kembali ke ruang tamu setelah berganti pakaian, mereka samar-samar mendengar perbincangan Zelin dan bundanya.
"Zelin kenapa?" Tanya Maya
"Zelin gak ada baju bu, baju Livia warnanya pink semua. Zelin pinjem baju siapa?"
"Pake baju aku aja, ayok ambil dikamar." Vathan menanggapi dan langsung menarik pergelangan Zelin
"Ih gak mau ah."
"Sayang jangan membantah, udah ayok. Aku gak suka liat kamu cemberut gitu." Vathan langsung membawa Zelin menuju kamarnya untuk mengganti mengganti pakaian. Melihat adegan itu baik Maya atau Aira hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum penuh arti.
Semua sudah siap diruang tamu dan akan segera bergegas keluar dari rumah. Karena mobil yang dibawa Mang Iyan hanya muat untuk empat orang, Zelin dan Vathan memutuskan untuk naik motor berdua. Itu pun karena Vathan yang memaksa ingin Zelin yang bersamanya di motor. Padahal adiknya sudah mengusulkan biar dia saja yang di motor dan Zelin bisa di mobil bersama ibu dan bundanya. Tapi bukan Vathan namanya jika tidak berjuang untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Mang Iyan, Maya, Aira dan Livia sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil. Mobil pun sudah pergi meninggalkan halaman rumah. Vathan sedang memasangkan helm untuk Zelin, padahal gadis itu sudah bilang ia bisa pakai sendiri. Tapi entahlah belakangan ini Vathan menjadi sangat pemaksa tanpa ingin di bantah.
"Sayang," Ucap Vathan setelah selesai memasangkan helm untuk Zelin dan sedang memasangkan helm untuk dirinya sendiri
"Hmmm... Kenapa?" Tanya Zelin seraya menatap laki-laki tampan di hadapannya itu
"Aku egois ya?"
"Kenapa nanyanya begitu?"
"Aku takut kamu gak nyaman deket-deket aku, padahal kamu selalu bilang gak mau berkomitmen dulu. Tapi aku kayaknya memaksa keadaan banget depan Ibu sama bunda." Ungkap Vathan dengan nada penuh penyesalan
Zelin membuka helm yang sudah dikenakan, lalu meletakannya diatas jok motor yang ada disamping tubuhnya. Melihat Zelin melakukan itu Vathan hanya menatap dengan bingung, namun tanpa terduga ditengah kebingungan yang Vathan rasakan tiba-tiba saja Zelin berhambur memeluk tubuhnya. Namun sesaat setelah itu Vathan membalas pelukan Zelin dengan begitu hangat, menyalurkan semua rasa kasih sayangnya.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi kak, aku hanya takut untuk berkomitmen. Bukan berarti aku gak mau deket-deket sama kakak. Gak begitu kok, aku sayang sama kakak, aku cinta sama kakak. Kita jalanin aja semuanya kayak gini, aku milik kakak, kakak milik aku. Harus saling menjaga perasaan dan gak saling menyakiti." Zelin mengungkapkan seluruh isi hatinya pada Vathan
Vathan semakin mengeratkan pelukannya "Makasih sayang, aku juga sayang banget sama kamu, aku cinta kamu dan gak mau kehilangan kamu. Aku juga udah janji sama ibu dan bunda untuk gak nyakitin kamu, tapi aku Cuma manusia biasa sayang. Jika suatu saat nanti tiba-tiba aku menyakiti hati kamu, aku Cuma berharap masih ada pintu maaf untukku dari kamu."
Zelin melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Vathan, lalu memindahkan tangannya ke pundak laki-laki tampan yang ada di hadapannya. Tiba-tiba saja Zelin mengecup bibir Vathan secepat kilat, Vathan yang mendapatkan serangan itu hanya bisa membelalakan matanya.
"Pacaran itu hanya status kak, dan aku gak butuh status itu. Yang aku tau sekarang kita sepasang anak manusia yang saling memiliki."
Setelah mengucapkan itu Zelin membalikan tubuhnya kesamping hendak memakai kembali helm yang tadi ia letakan. Namun sepertinya Vathan masih berada dialam lamunannya setelah terkejut mendapatkan ciuman dari gadis yang ia cintai. Saat Zelin akan memasang helm ke kepalanya, pergerakannya di hentikan oleh Vathan, tangan laki-laki itu mengambil helm dari tangan Zelin dan kembali meletakan diatas jok motor. Lalu ia juga membuka helm yang sudah terpasang di kepalanya dan meletakannya di samping helm Zelin.
Zelin menatap bingung apa yang di lakukan Vathan, tiba-tiba Vathan menggenggam kedua pergelangan tangan Zelin. Membawa tangan mungil itu untuk kembali memeluk tubuhnya, dengan erat Vathan memeluk tubuh gadis mungil yang begitu ia cintai. Gadis yang sangat ia kagumi semenjak pertama kali melihatnya.
"I Love You Zelina Airani." Ungkap Vathan
"I Love You Too Vathan Asvatama Bucin. Hahahahaha."
"Sayaaanggggggggg,,,," Vathan melayangkan protes dan hanya ditanggapi Zelin dengan kekehan dalam masih saling memeluk penuh kasih sayang.
***
Vathan dan Zelin baru saja sampai di Restoran yang sudah menjadi tujuan untuk tempar makan siang hari ini, keduanya melangkahkan kaki melewati pintu masuk dengan senyum yang terus mengembang di sudut bibir keduanya dan tangan yang saling menggenggam. Saat sudah memasuki Restoran baik Vathan maupun Zelin sibuk mencari keberadaan keluarga mereka, Vathan lebih dulu melihat adiknya yang melambaikan tangan padanya.
"Sayang itu Livia, Ibu sama Bunda ada disana." Ujar Vathan pada Zelin yang masih sibuk mencari ketiga orang yang begitu ia sayangi. Zelin pun mengikuti arah pandang Vathan lalu tersenyum pada Livia yang sedang tersenyum padanya
"Kak panggil Zelin aja jangan sayang-sayang terus, aku malu." Untuk kesekian kalinya Zelin melayangkan protes, karena sepanjang perjalanan tadi Zelin selalu bilang pada Vathan untuk memanggil seperti biasa saja dengan sebutan namanya. Tapi namanya Vathan punya seribu kalimat untuk menanggapi protes Zelin
"Katanya saling memiliki, masa gak boleh panggil sayang sama miliknya sendiri! Kalo gak aku panggil sayang nanti kamu dilirik laki-laki lain, dan aku gak mau itu terjadi." Ucap Vathan tepat disamping telinga Zelin.
"Dasar bucin." Ucap Zelin sarkas. Keduanya pun berjalan menuju tempat duduk yang disana sudah ada keluarganya.
"Lagi nyebrang emang itu tangan gandengan aja.!" Ucap Livia sarkas saat Vathan dan Zelin sudah ada dihadapannya. Mendengar ucapan sahabatnya dengan cepat Zelin melepaskan tangan Vathan dan langsung duduk disamping Livia. Vathan yang melihat tingkah Zelin hanya tersenyum saja, lalu ikut duduk disamping Zelin.
"Mang Iyan gak diajak makan bun?" Tanya Zelin pada Aira yang duduk bersebrangan dengannya
"Tadi bunda ajak, tapi katanya mau pulang aja. Mau ngomong ke Bi Mira masalah kerja dirumah Ibu." Jawab Aira menjelaskan pada putrinya. Dan semenjak diperjalanan tadi Aira dan Maya sudah sepakat dengan panggilan mengikuti anak-anak mereka tanpa menyebutkan nama dibelakangnya.
"Loh nanti bunda, ibu sama Livia pulang naik apa?" Tanya Zelin lagi
"Ayah lagi dijalan mau nyusulin kita kesini, mau ikut makan siang bareng. Ayah juga penasaran katanya mau ketemu laki-laki yang suka sama anaknya." Jawab Aira sambil melirik Vathan yang ada disamping kiri putrinya.
"Zelin sama Abang mau pesen makan apa? Tinggal kalian aja yang belom pesen makanan." Maya bertanya pada kedua anaknya yang datang belakangan.
"Zelin mau Sop Iga bun, kayaknya enak deh seger gitu. Lidah Zelin masih pahit banget soalnya, kakak mau Sop Iga gak? Soalnya porsi Sop Iganya banyak, aku gak akan habis sendirian." Tanya Zelin mengalihkan pandangan yang sebelumnya menatap Maya, sekarang menoleh ke sisi kirinya untuk bertanya pada Vathan.
"Aku terserah kamu aja sayang." Jawab Vathan sambil kembali menggenggam tangan mungil Zelin, tangan yang sepertinya enggan ia lepaskan
"Abang anak ibu di pegangin mulu, gak bakalan kabur kemana-mana kali bang. Bundanya juga kan ada disini, kamu udah siap emang ketemu Ayahnya Zelin?" Ucap Maya dengan nada menyindir putranya Lalu memanggil pelayan Restoran untuk memesankan makanan yang diinginkan Zelin
"Bucin mah gitu bu!" Livia yang memberi jawaban
"Abang mah sayang sama anaknya jadi harus siap kapanpun ketemu ayahnya, bunda aja baik banget sama abang bu. Ayah juga pasti baik, iya kan bun?" Vathan meminta persetujuan Aira
"Iya ayah sama bunda sih selama itu buat Zelin bahagia, kita akan mendukung. Yang penting slalu inget pesan dari ibu dan bunda tadi dirumah."
"Iya bun pasti Vathan inget semuanya."
Dari tempatnya duduk, Aira melihat kedatangan suaminya yang sedang melihat kearahnya. Lalu ia melambaikan tangan memberi isyarat pada Abraham. Laki-laki itu pun berjalan menghampiri anak dan istrinya beserta keluarga yang selalu ia dengar ceritanya dari sang istri. Keluarga yang begitu menyayangi putri semata wayangnya dengan Aira.
Aira berdiri menyambut kedatangan suaminya, saat sudah berhadapan Aira pun menyalami tangan suaminya. Lalu diikuti oleh Zelin yang bangun dari tempat duduknya lalu memeluk tubuh tegap sang ayah yang begitu ia rindukan. Dilanjutkan dengan Vathan, Maya dan Livia yang bersalaman dengan Abraham dan saling memperkenalkan diri.
Mereka semua sudah duduk, namun Vathan dan Zelin bertukar tempat duduk karena Zelin yang ingin duduk bersebrangan dengan sang ayah. Mereka semua hanya berbincang-bincang ringan membicarakan kegiatan sekolah anak-anaknya. Ditengah pembicaraan beberapa pelayan restoran sudah menyajikan semua makanan yang sudah dipesan sebelumnya.
"Mas saya minta sendoknya satu lagi ya." Ucap Zelin pada salah satu pelayan, mengingat ia akan makan satu porsi berdua dengan Vathan namun hanya tersedia satu sendok disana.
"Baik mba." Jawab si pelayan tersebut
"Gak usah mas gak apa-apa, ini aja udah cukup sendoknya." Ucap Vathan yang membuat bingung seluruh orang yang ada disana termasuk pelayan restoran
"Gimana sih kak, katanya mau makan berdua. Masa sendoknya Cuma satu." Protes Zelin pada laki-laki disampingnya itu.
"Kamu duduk manis aja sayang, makannya aku suapin." Ujar Vathan menjawab protes dari Zelin
"Tapi kan....." ucapan Zelin terpotong saat dengan tiba-tiba Vathan mengecup keningnya
"Gak boleh bantah." Jawab Vathan tegas
"Yaampun ade itu kelakuan abang kamu cium-cium anak gadis orang depan ayah bundanya." Maya membuka suara melihat kelakuan anaknya
"Ade gak kenal bu, kayaknya abang kesambet setan bucin deh bu." Livia menyindir sang kakak yang ada disampingnya, nama Vathan hanya menanggapi dengan senyum manis
"Gak apa-apa Bu Maya, Livia, namanya juga anak muda lagi kasmaran ya begitu." Abraham menanggapi pembicaraan ibu dan anak itu
"Yaudah ayo kita makan semuanya, yang lagi jatuh biarin aja mau suap-suapan juga. Maklum lagi anget-angetnya kan gitu dunia serasa milik berdua, kita yang disini mah ngontrak." Ujar Aira
"Udah bun jangan di ledekin terus, itu putri kita mukanya udah merah kayak udang rebus." Ucap Abraham yang terus memandang anaknya yang semakin menundukan kepalanya.
Makan siang hari itu berjalan lancar, kedua keluarga itu menikmati makan siang mereka dengan sesekali bercengkrama. Tentu saja dengan ledekan-ledekan dari Abraham yang melihat sang putri di suapi oleh laki-laki yang terlihat begitu menyayangi Zelin. Karena dengan sangat sabar Vathan menyuapi Zelin yang saat itu lidahnya masih terasa pahit dan selalu mengatakan sudah tak bernafsu makan. Namun dengan lembut Vathan selalu berhasil merayu Zelin untuk kembali membuka mulutnya dan menerima makanan laki-laki itu suapi.
Selesai makan siang Abraham dan istrinya akan mengantarkan Maya dan Livia pulang kerumah mereka. Zelin dan Vathan kembali kerumah seperti mereka berangkat tadi, naik motor Vathan. Abraham yang melihat putrinya naik motor merasa terkejut, karena pasalnya sang anak akan marah-marah jika harus naik kendaraan roda dua itu. Namun kekuatan cinta bisa merubah kebiasaan seseorang. Sampai dirumah Maya, Abraham dan Aira langsung berpamitan pulang. Keduanya tak bisa mampir karena masih banyak yang harus diurus untuk mereka tinggal di Surabaya beberapa bulan ke depan. Abraham menitipkan Zelin pada Maya dan mengucapkan maaf karena takut anaknya merepotkan, tapi Maya yang sudah sangat menyayangi Zelin tentu saja membantah, karena Zelin tak pernah sekalipun merepotkan dirinya apalagi anak-anaknya. Maya juga mengucapkan maaf atas kelakuan anak laki-lakinya karena takut itu memberi nilai negatif pertemuan pertama Abraham dengan Vathan.
"Gak apa-apa Bu Maya, namanya juga lagi jatuh cinta. Yang penting saya sudah percaya sama Vathan kalo dia pasti akan menjaga anak saya dengan baik. Melihat interaksi keduanya tadi saya yakin anak Bu Maya akan sabar menghadapi putri saya. Kita juga perlu memberi kepercayaan bu pada anak-anak, saya berharap hubungan mereka selalu terjalin baik dan tidak mengecewakan kita sebagai orang tua." Ujar Abraham dengan kalimat panjangnya menanggapi permintaan maaf Maya.
Setelah itu mereka benar-benar berpamitan dan meninggalkan halaman rumah Maya. Vathan dan Zelin baru saja masuk ke halaman rumah itu, keduanya segera masuk kedalam rumah dan menemui Maya dan Livia di ruang keluarga.
"Motor sama mobil kan harusnya duluan motor ya bu sampe kerumahnya." Ucap Livia menyindir
"Kan abang bawanya pelan-pelan de biar lama." Jawab Vathan, Zelin yang berdiri disamping Vathan hanya mampu mendelit tajam karena tak mungkin untuk memukul walaupun sangat ingin sekali memukul tangan Vathan. Tapi kebiasaan itu harus segera ia ubah karena tidak mau membuat Vathan lelah untuk selalu memperingatinya.
Siang itu Zelin mengajak Livia untuk masuk ke kamarnya, karena sebetulnya Zelin masih merasa pusing. Namun tadi ia tidak mau menghilangkan kesempatan bisa makan siang bersama dengan keluarganya. Satu hal yang sangat ia rindukan.
Livia yang melihat wajah Zelin nampak pucat pun hanya bisa menuruti, dan ia juga akan ikut tidur siang bersama sahabatnya. Tapi jangan lupakan Vathan yang selalu mengekor kemanapun Zelin melangkah. Akhirnya ketiga anak itu tidur siang bersama di dalam satu kasur dan satu selimut.