bagian 12 || Ngambek Versi Leon ||

1099 Kata
"kenapa gak kasih tau gue kalo Lo masuk Harvard?" Seru Leon setelah mereka sampai di apartemen gadis itu. "Niat nya mau ngasih tau, tapi ketunda!" Seru Yuki jutek. "Astagah Yu, kita serumah, satu atap! Sesusah itu buat ngomong sama gue?" Yuki menghela nafas nya malas, ia malas berdebat dengan Leon. "Jawab yu, jawab, jadi Lo nganggap gue apa sih selama ini? Angin lewat aja?" Yuki bingung mau jawab apa. "Kenapa diam?" Teriak leon benar-benar murka, Yuki yang tiba-tiba mendengar Leon teriak, begitu terkejut.  Yuki mengepalkan tangannya, ia melangkah mendekati Leon. "Jadi Lo mau tau semua tentang gue ya bang? Lo sadar gak sih sikap Lo yang kayak gini buat gue gak suka! Lo dengar gak sih omongan tetangga apartemen yang jelek-jelekin gue karna Lo nginap di sini?? Nyadar ga sih selama ini Lo sesuka hati aja sama gue? Sadar gak sih?" Seru Yuki balik mengamuk. "Jadi, selama ini Lo emang gak ada rasa sama gue? Okeh, gue pergi, gak bakal pernah lagi ganggu Lo! Gue nyerah!" Teriak Leon dengan muka memerah dan perasaan penuh dengan kecewa.  Ia meraih jaketnya lalu menyambar kunci mobilnya. Ia benar-benar kecewa dengan pengakuan Yuki. Gadis yang selama ini ia puji. Ia banggakan, ia cintai. Gadis yang menjadi cinta pertamanya, dan berharap menjadi cinta terakhir dan selamanya juga namun sama-sekali tidak bisa membalas perasaannya barang sedikit pun.Ia melajukan mobilnya, menancapkan pedal gasnya. Ia benar-benar kecewa berat . ** Yuki terdiam di apartemennya, ia tidak menyangka Leon akan sampai pergi dari apartemen nya. Rasanya ada sesuatu yang hilang, tapi apa?? Yuki benar-benar bingung sekarang. Ia mengambil jaket dan kunci motornya. Persetan dengan malam, ia melajukan motor nya menuju cafe Frans. Meski tidak yakin, laki-laki itu ada di sana. Setelah memarkirkan motornya, ia langsung memasuki cafe yang masih ramai. Padahal sudah pukul 01.00 dini hari. Tapi, beruntung. Ia melihat Frans ada di sana dan langsung menyambutnya. "Yu?? Tiba-tiba banget! Tumben gak ngasih tau!" Seru Frans. Yuki diam, hanya duduk saja di pantri tidak memesan kopi seperti biasanya. "Mau apa?" Seru Frans. Yuki masih diam, ia melihat Frans dalam. Ia juga pernah berantam dengan frasn, bahkan sampai tidak cakapan selama 23 menit 30 detik. Itu pun, Frans yang juga datang memohon maaf padanya. Tapi Yuki merasa tidak ada apa-apa ketika mereka marahan. Lalu, kenapa rasanya beda ketika marahan dengan Leon? "Hello!! Yuki my princess! Bengong aja, kenapa??" "Leon marah, lalu pergi!" Ucap Yuki. Frans diam sambil mengamati ekspresi datar Yuki yang sulit ditebak. "Jangan ngomong disini, di atas aja yok!" Ucap frans sambil membawa segelas kopi. Yuki mengangguk, ia lalu mengikuti langkah Frans menuju rooftop. Ia mendudukkan b****g nya di sebelah lelaki itu setelah sampai di atas. Ia memandangi malam yang begitu cerah. "Cerita dulu dari awal!" Seru Frans. Yuki mulai cerita, Frans mendengar tanpa bertanya. Setelah Yuki selesai cerita, ia mulai membuka suara. "Tapi, Lo kenapa gak bilang ke gue kalo Lo lolos Harvard?" Tanya Frans. "Emang perlu ya?" "Astagah Yuki, hati Lo terbuat dari apa sih?? Batu banget tau ngak?" "Batu?" Seru Yuki bingung. "Astagah Yu, Lo emang minim ekspresi banget tau ngak? Gue aja kesal Lo ngak ngasih tau masuk Harvard , apalagi itu si Leon!" "Tapi- gue ngerasa biasa aja Frans!" "Oh gustiii, engkau kemanakan hati sahabat baikku ini!!!" Seru Frans alay. "Ck, alay banget Lo!" Kesal Yuki. "Udah gini deh, Lo minum dulu kopi spesial ini!" Yuki kicep, ia meminum kopi yang diberikan oleh Frans. Tapi belum juga habis, Yuki menyemburkan kopinya rasanya benar-benar pahit. "Nah, tau kan sekarang gimana rasanya kopi item tanpa gula?" Seru Frans. "Maksudnya?" "Tau ngak? Lo itu ibarat Kopi item nya!" "Lalu?" "Leon itu ibarat gulanya yu, Lo harus bisa ngerasain apa itu arti kehadiran dia di hidup Lo." "Darimana Lo tau?" Seru Yuki makin bingung. "Dengar baik-baik, Leon itu punya arti yang mendalam buat Lo yu. Cuman, Lo aja yang belum ngerasain nya. Waktu Lo bilang ada yang hilang waktu Leon pergi, itu tanda kalo kehadiran Leon di sisi Lo itu udah mulai mempengaruhi hidup Lo. Lebih sakit lagi, kalo Leon benar-benar pergi!"  "Jadi, maksud Lo! Gue mulai buka hati sama dia?" "Yup, tepat banget yu. Gak percuma Lo lulus Harvard emang!" Yuki kicep, itu sepertinya kabar yang buruk baginya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia bingung, ia tidak tau harus bersikap seperti apa. "Jadi! Gue harus ngapain?" Seru Yuki akhirnya. Frans terkekeh, ia mengusap rambut Yuki lembut. Ia benar-benar menyayangi sahabat nya yang kurang peka satu ini. "Biarin aja Yu, biarkan berlalu seperti air mengalir!"  *** "Rapat selesai!" Setelah menutup rapat, Leon langsung pergi diikuti Akmal. Tidak ada godaan seperti biasanya. Wajah Leon sangat menyeramkan, bahkan warna hitam di matanya semakin pekat. Bagas yang menemani Yuki rapat menatap sang sahabat curiga, ini pasti ada sangkut pautnya dengannya. "Yu, kenapa Lo sama si bigboss??" Seru Bagas sambil berjalan bersisian dengan Yuki. "Emang kenapa?" "Ck, jawab dong Yu. Gak biasanya penampilan bigboss sangat menyeramkan gitunya. Apa setelah kalian pergi kemarin ada masalah?" "Hmmm!" "Lo bertengkar lagi?" "Iya!" "Astagahh, kayaknya berat banget ya?? Makanya bigboss sampe kelihatan stress gitu??" "Maybe!" Ucap Yuki cuek, ia langsung melangkah kan kaki nya menuju meja kerjanya. *** "Kalian dipekerjakan untuk apa?" Ucap Leon murka pada satpam. "Maaf pak, tadi kami udah nahan pemuda ini buat gak masuk. Tapi langsung main masuk aja, katanya mau ketemu dengan ibu Yuki!" Leon semakin emosi, ia masih mengingat dengan jelas siapa lelaki di depannya saat ini. Lelaki yang beberapa hari lalu bertemu dengan pujaan hatinya. "Bawa keluar!" Tegas Leon "atau kalian saya pecat!" Satpam itu langsung menyeret Dani keluar. "Tunggu!" Satpam lantas melihat siapa yang menahan mereka. Yuki yang baru saja datang langsung di sambut dengan hormat. Leon menatap nya dengan sendu, tapi ia pura-pura mengalihkan perhatiannya. "Lepaskan dia!" Ucap Yuki menunjuk Dani. "Tapi bu- ini perintas bigboss!" Ucap satpam sambil menatap Leon dengan takut. "Saya yang memberi perintah, dia tamu saya!" Ucap Yuki tak kalah tegas. Satpam itu melepas Dani. Lalu pamit untuk pergi. Sementara Leon masih diam dengan perasaan kecewanya.  "Ada apa?" Seru Yuki dingin. "Makasih udah nolongin Yu!" Ucap Dani ramah. "Ada apa?" Seru Yuki mengulang. "Ehmm, itu tadi cuman mau ngajak keluar sebentar aja, boleh?? Ada yang mau gue omongin!" "Berapa lama?" "Cukup 15 menit aja kok!" Ucap Dani mantap. "Baik,kita bicara di sebelah kantor aja. Soalnya gue mau ngasih laporan bentar lagi!" Ucap Yuki. "Oke Yu, makasih duluan!" Yuki mulai mengangguk lalu berjalan mengikuti Dani menuju samping kantor. Mengabaikan Leon yang masih cuek bebek padanya. Leon menatap sedih kepergian Yuki, ia ingin menahan gadis itu agar tidak mengikuti laki-laki itu. Ia ingin mengatakan bahwa Yuki itu adalah calon istrinya. Tapi, kali ini rasanya berbeda. Yuki seolah jauh dari jangkauan nya. ***TBC***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN