Bagian 13 || Sama Aja ||

1074 Kata
"Ada apa?" Seru Yuki To the point setelah merasa tempatnya cukup aman. "Buru-buru banget ya Yu?" Tanya Dani seperti kecewa dengan jawaban Yuki. "Iya!" "Aduh gimana ya, gue bingung mau mulai dari mana!" "Kayaknya gak serumit soal olimpiade fisika kan?" Seru Yuki datar. Dani terkekeh, Yuki yang dulu ia kenal ternyata masih sama saja seperti sekarang, dingin, To the point dan datar. Ciri khas Yuki yang sudah dikenal satu sekolahan dulu. "Lo bisa ja Yu, gak berubah dari dulu!" "Mau bilang apa?" Ulang Yuki. Dani terkekeh, ia mengusap tengkuk kepalanya. Bingung mau mulai dari mana. Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya gugup. Ia mengambil bunga mawar di kantong nya, lalu berjongkok di hadapan Yuki. "Gue suka sama Lo Yu, udah mulai sejak kenal pas ospek SMA dulu!" Jeda Dani,"Lo mau ngak jadi pacar gue!" Sambung Dani dengan wajah yang sudah memerah.  Yuki terdiam, ia menatap Dani dengan tatapan Dani. Kejadian ini kayaknya sama persis waktu Leon juga menyatakan perasaannya waktu jaman kuliah dulu, bedanya hanya waktu dulu Leon memberikannya cincin. Sementara Dani memberikannya sebuah mawar. Sementara di tempat lain, Leon mengeraskan rahangnya. Ia berdecih, mengapa laki-laki seperti itu menembak Yuki dengan memberikannya sebuah mawar?? Tidak etis sekali. Tapi dalam hati, Leon benar-benar frustasi. Ia takut, jika Yuki menerima laki-laki itu. Apa emang Yuki tidak ada perasaan sama sekali padanya? "Ya elah, nembak Yuki aja gak modal tempat! Masa di samping kantor?" Leon terkejut mendengar suara yang tiba-tiba ada di di sebelahnya. Ia makin terkejut ketika Frans, lelaki pemilik cafe yang juga menjadi saingannya itu sedang duduk di sofa sambil mengunyah keripik kentang. "Ngapain Lo curut? Minggir sana!" Kesal Frans , bisa ketahuan dia lagi nguping percakapan Yuki. "Ya elah, Lo sih! Ngapain juga kayak ngumpet segala?" Seru Frans heran. Gaya Leon nguping sama sekali tidak etis, masa ia bersembunyi di balik kaca yang tembus pandang dari luar? Udah gitu, gaya nya seperti Spiderman yang siap meluncurkan jaring-jaring nya lagi. Padahal kan kegiatan Yuki dan lelaki itu bisa dilihat semua penghuni kantor yang kebetulan ada di lobby! Bahkan sepertinya bukan cuman Frans yang menatap Leon heran. Para karyawan yang sedang berada di lobby juga heran, bahkan office boy pun heran dengan si bos. Padahal kan pemandangannya sangat terang dan tidak ada hambatan? Emang, sepertinya Leon sudah tidak waras lagi. Tidak bisa membedakan tembok dan kaca. Melihat sekelilingnya, Leon jadi merasa malu. Ternyata bukan cuman dia yang menguping percakapan Yuki, tapi hampir semua orang. Leon lalu duduk di sebelah Frans dengan angkuh seolah tidak terjadi apa-apa. "Yu? Gimana?" Seru Dani yang kelihatan sudah lelah dari tadi menunduk terus. "Maaf Dan, gue cuman anggap Lo sebatas teman SMA aja!" Ucap Yuki akhirnya. Bersamaan dengan para penguntit yang merasa lega mendengar jawaban Yuki yang memang kedengaran dengan jelas. Dani kicep, ia lantas bangkit berdiri lalu tersenyum kaku. "Gitu ya Yu?? Just friend aja?" Seru Dani memastikan. Sekali lagi Yuki mengangguk. Dani pupus harapan. Ia lantas menatap Yuki diam. "Ya udah lah, tapi bisa ngak gue minta satu permintaan terakhir?" "Apa?" "Gue pengen meluk Lo sekali aja!" Ucap Dani. Bersamaan dengan para penguntit yang tiba-tiba heboh. Sama hal nya juga dengan Leon, ia tidak suka jika Yuki main dipeluk orang sembarangan. "Okeh!" Jawab Yuki merentangkan tangannya. Dani tersenyum lalu langsung memeluk Yuki. Ia bahkan sampai meneteskan air matanya, ia terharu Yuki masih memandangnya seperti dulu. Meski, dulu ia berbuat salah dengan Yuki. Dulu, ia merebut kesempatan Yuki untuk pergi ke Jepang hanya karena ayah Dani adalah penentu siapa yang akan berangkat.  Yuki tau betul hal itu, ia baru di beritahu bahwa ia tidak jadi berangkat sehari sebelum flight ke Jepang. Lalu Dani menjadi orang yang tiba-tiba diberangkatkan. Yuki tidak mempermasalahkannya, tapi ia kecewa dengan sosok pemimpin seperti ayah Dani. Leon yang melihat pemandangan itu mengepal tangannya. Ia berniat hendak pergi. Tapi Frans menahannya. "Kalo Lo gak mau Yuki dipeluk orang lain, setidaknya Lo tingkatin usaha Lo buat dekatin dia. Jangan cuman jadi pengecut aja! Lo pasti nyadar kan, kalo Yuki dikelilingi cowok-cowok mapan, dan tentunya tampan juga,kayak gue!" Ucap frans pamer. "Sialan Lo!" "Dengar dulu bos ku, tapi apa yang gue bilang emang fakta kan?? Yuki itu banyak yang suka, bukan cuman Lo, atau gue aja. Bisa Lo nanya, bahkan office boy itu aja pasti suka sama Yuki!" Leon langsung mengalihkan tatapannya pada office boy yang dimaksud Frans. Astaga, yang benar saja. Office boy itu bahkan sampai ngiler lihat Yuki. "Trus lihat satpam Lo yang udah beristri!" Leon kembali melihat satpam nya yang juga menatap Yuki penuh minat. "Nah, sekarang lihat gue!" Leon menurut layaknya orang b**o, ia mengalihkan perhatiannya pada Frans. "Gue juga pernah suka sama dia, tapi di tolak! Katanya gue lebih cocok jadi sosok sahabat buat dia!" Leon menatap Frans bengis, ia memang sudah tau jika laki-laki itu menyukai Yuki. Tapi, ia baru tau kalau dia juga ditolak oleh Yuki. "Tapi, dari sekian banyak yang ditolak Yuki. Gue akui, Lo itu cowok pekerja keras buat dapat perhatian nya!" Leon seketika bangga akan dirinya. Ia memang tipekal lelaki pekerja keras. "And see? Lo udah selangka lebih maju dari kita semua!" Leon mengangguk-angguk bangga. Sebelum... Ia menatap Frans penuh tanya, apa maksudnya tadi? Selangkah lebih maju? "Maksud Lo gue selangkah lebih maju apa?" "Ops, Lo belum sadar ternyata. Jadi, Yuki itu udah mulai terbiasa dengan kehadiran Lo di hidupnya. Kemarin, setelah Lo bertengkar sama dia. Yuki cerita ke gue, and gue bisa nyimpulin. Yuki memang udah mulai terbiasa dengan Lo!" Leon terdiam, tiba-tiba saja jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Ia belum siap dengan kabar tiba-tiba ini. Ia masih syokk? "Jadi bro, kalo emang Lo sepenuh hati suka sama Yuki. Lo harus bisa naklukin hatinya, karena tentunya, Lo itu udah selangkah lebih maju dari pria-pria di sekeliling Yuki! Kalo masalah Bagas? Dia juga pernah Yuki tolak, dan berakhir jadi sahabat gadis itu, kayak gue lebih tepatnya. Agam juga sama, sebelum nikah, ia juga kejar-kejar Yuki dari dulu. Tapi, nasibnya sama kayak gue. And, sekarang dia gak mungkin lagi jadi saingan Lo, secara dia udah beristri. Sekarang Lo tinggal nyari kuncinya aja, gue udah kasih klue seperti apa kunci yang cocok buat bukain gembok hati Yuki yang sialnya emang susah dicari!" "Gue mah lebih baik ngincar resepsionis Lo aja!" Kekeh Frans sambil berjalan menghampiri Cindy yang berada di meja kerjanya. Keadaanya sudah kembali normal, Yuki sudah kembali. Para karyawan juga sudah kembali ke pekerjaannya masing-masing. Sekarang hanya tinggal Leon seorang, ia masih duduk dengan bengong di sofa lobby. Mencerna ucapan Frans barusan. Jadi, kalau begitu. Dia masih punya kesempatan bukan?? ***TBC***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN