Bagian 11 || Dani ||

1209 Kata
Stay santuy di rumah, mengabaikan beberapa panggilan yang sejak tadi mendemo-demo. Setelah pulang kantor bersama Leon, Yuki langsung bersih-bersih dan duduk ngopi di pantri bawah. "Angkat tuh neng gawainya, mana tau penting!" Seru si mbok penjaga pantri. "Biarin aja mbok, lagi malas lagian!" Ucap Yuki tetap meminum kopinya. "Lah, belum siap-siap juga Yu??" Leon datang dengan jazz nya yang formal dengan pandangan bertanya pada Yuki. "Ngapain bos? Perasaan gak ada acara malam ini!" "Mau di ajak jalan kali sama Aden tampan nya non, udah pergi aja!" Leon kelihatan kesal, Yuki bingung. Ia langsung mengecek handphonenya. s**t, ternyata dari Agam. Apa-apaan ini, Agam ternyata melakukan resepsi pernikahan nya malam ini. Dan lupa memberikannya undangan, karena keasikan ngegibah di kantor. Holy shit Yuki memberikan handphonenya pada Leon. Lalu berlari terburu-buru menuju apartemennya. "Yu, hati-hati, nanti jatoh!" Cegah Leon. "Hmmm!" Yuki hanya berdehem, ia langsung meninggalkan Leon di bawah. 15 menit kemudian Yuki turun ke bawah dengan setelah batik nya, sama dengan batik yang dikenakan oleh Leon. Jangan tanya kenapa, sebelum Yuki sibuk memilih baju, ternyata Leon sudah menyediakan nya lebih dulu. Dan ternyata couple dengan bajunya. Yuki menghampiri Leon yang masih terus menatapnya tanpa berkedip. "Astagah non, kenapa makin cantik aja? Lihat noh si Aden Ampe gak kedip dari non mulai turun tangga!" Ucap simbok. "Jelas lah mbok, calon masa depan saya itu!" Ucap Leon langsung menyambar tangan Yuki menuju mobil. "Mbok kami pergi dulu!" Teriak Yuki. ** "Kamu kok selalu cantik sih Yu? Tau gak, hati Abang langsung cenat-cenutan dari tadi!" Seru Leon. "Emang udah dari lahir!" seru Yuki dengan sedikit pede "Iya, gue tau kalo dari lahir kamu udah dijodohin sama gue, ehh ralat. Sejak masih dalam bentuk s****a!" "Halu lagi!" "Kayaknya ngehaluin kamu di mimpi enak juga loh Yu. Kemarin aja gue mimpi kamu jadi istri gue, trus ena-ena kita!" Yuki mesem tidak menjawab. Lebih memilih menatap luar kaca di banding menjawab celotehan Leon. "Ck, Yu gue nya jangan di cuekin dong!" Kesal Leon menarik kepala Yuki lembut agar menghadap dirinya. "Lepas bang!" Kesal Yuki sambil menepis tangan Leon. "Kamu malu liatin gue kemarin ya?" Seru Leon menyadari wajah Yuki sedikit memerah. "Pake nanya lagi, lagian Lo sih bang. Kalo tidur pake baju kek. Kemarin Lo cuman pakek boxer doang! Gila Lo!" "Hehehe, lagian Lo harus ngebiasain dong Yu. Itu aset masa depan kita nanti, gak ada itu,ancur dunia persilatan!" "Sinting emang!" "Lagian punya gue gak malu-maluin kan?? Gede dan menantang kan?" Seru Leon menaik turunkan alisnya menggoda Yuki. "Gila!" Kesal Yuki. "Yu!" Yuki menatap Leon yang memanggilnya dengan serius dengan kening berkerut. "Nanti jangan lari dari gue, gue gak mau Lo digodain sama cowok lain!" "Hmmm!" Seru Yuki pasrah. Karena sebanyak apa pun ia menolak, paling juga nanti Leon akan terus mengikutinya. "Nah, gini kan bagus!" *** "Wah, Bawak gandengan Lo Yu? Malah pakek baju yang couple lagi!" Seru Agam menaik turunkan alisnya. "Auh ah, gelap. Oh iya, ini kado Lo!" Seru Yuki memberikan kadonya. "Makasih sayang!" Seru Agam memeluk Yuki. Ia tidak peduli pada wanita di sampingnya yang sudah sah menjadi istrinya. Sementara gadis itu mengerutkan wajahnya ketika Agam memeluk Yuki mesra. "Eh iya, Lo mah keterlaluan Gam, masa gue gak Lo kasih undangan!" Seru Yuki cemberut. "Kan udah gue bilang lupa beb, gimana sih? Lagian gue kan kasih e-undangan nya. Dapat VIP kan!" "Kan tetap aja beda b**o! Kesal gue lihat Lo!" "Eh Lo, udah dong. Ngak lihat apa antrian pada panjang?" Kesal Amanda, istri Agam sambil menjauhkan Yuki dari Agam. "Jari Lo jangan nunjuk-nunjuk dia, gue patahin juga itu nanti!" Seru Agam. "Kok belain dia sih yang?" Ucap Amanda lebay. Yuki berdecih, malas menanggapi. Leon hanya menatap tajam Agam agar menyudahi acara ngibah mereka. "Eh bos datang juga ya?" Kekeh Agam. "Nih kado Lo!" Ucap Leon dingin. Baik Yuki dan Leon tidak ada yang memberikan selamat pada mempelai wanita. Hanya mengucap selamat kepada Agam saja. Leon langsung meletakkan tangannya di pinggang Yuki, menandakan gadis cantik itu adalah miliknya. Leon sebenarnya dari tadi sudah panas dingin, ia kesal melihat banyaknya pasang mata yang melihat terang-terangan miliknya. Terlebih kebanyakan mereka adalah kaum lelaki hidung belang. "Moga cepat kepelaminan ya Yu!" Kekeh Agam menyadari Yuki memang kesal di peluk-peluk Leon. "Amin!" "Bodo!" Leon dan Yuki berbarengan mengucapkan hal itu mengundang gelak tawa Agam.  Mereka akhirnya turun ke bawah, menuju pantri yang menyediakan berbagai jenis makanan. Resepsi mereka memang dilakukan di hotel berbintang. Fasilitas nya juga sangat mewah. Yuki bisa membayangkan berapa pengeluaran Agam untuk itu. "Wah, big boss hebat ternyata!" Leon mengangguk saat Akmal dan Theresia,sang istri,bergabung dengan mereka. "Bos, besok ada seminar Nasional. Mau digantikan atau bos aja yang datang?" "Lo aja!" Ucap Leon tetap mengawasi Yuki yang sedang bergabung dengan Karin dan Bagas, itu pun setelah ia mengijinkan. "Over banget sih Lo bos!" "Itu urusan gue!" "Eh, itu Yuki ada yang nyamperin bos. Cowok, tajir kayaknya!" Leon langsung menyipitkan matanya, ia langsung berjalan menuju Yuki berada. "Eh, Yu?? Datang juga kamu!" Yuki,Bagas dan karin kompak menoleh pada lelaki yang baru saja menyapanya. Yuki langsung mengembangkan bibirnya tersenyum. Membuat Leon yang masih berada di tempatnya berdecih tidak suka."Apa-apaan itu? Enaka ja main senyum-senyum orang, cowok lagi!" guman Leon dalam hati. "Loh Dani?? Datang juga Lo ternyata!" "Ini kan Agam, masa gue gak datang sih?" Kekeh Dani. "Eh, kenalin dulu Gas, Rin, ini Dani. Teman gue waktu jaman SMA dulu!" Mereka bersalaman. Leon masih belum menampakkan diri, ia perlu mengorek informasi seperti apa hubungan Yuki dengan lelaki yang sialnya memang masuk dalam kategori tampan itu. Dan-, sepertinya juga keturunan orang sultan.Kenapa Yuki selaku dikelilingi cowok mapan dan tampan sih?? Leon kan jadi nya banyak saingan gituh. "Eh Yu, nomor Lo gak aktif lagi ya ,yang kemarin?" "Iya, gue ganti lagi!" "Siniin nomor Lo!" Yuki memberikan gawainya, dengan sigap Dani langsung memasukkan nomornya. "Yu, Lo lulus kan btw Harvard?" Ucap Dani "Iya,dari mana Lo tau?" "Langsung kesebar kali di grup angkatan. Gue juga lulus, tapi prodi bisnis manajemen!" "Wahh, temen Lo kenapa genius banget sih Yu?" Kekeh Karin. "Iya nih Yu, gue aja jadi merasa minder!" Ucap Bagas. Yuki hanya berdehem, lalu menatap Dani serius.  "Selamat ya dan, gue bangga sama Lo!" "Any way! Eh, setelah acara ini. Lo ada rencana gak?" "Maksud nya??" "Ck, rencana jalan loh Yu, kenapa sih otak Lo lemot amat kalo udah nyangkut masalah hati?" Seru Bagas. "G-eh-gue !" "Pacar gue nanti jalan sama gue!" Seru Leon akhirnya nimbrung juga. Ia sudah cukup kesal dari tadi, lalu! Apa maksudnya Yuki lulus Harvard?? Gadis itu mau meninggalkan nya lagi begitu?? Dengan amarah, Leon menarik lengan Yuki menuju mobilnya. Mereka meninggalakan acara tanpa peduli panggilan Bagas dan karin. "Itu siapanya Yuki kalau boleh tau!" Seru Dani padi Bagas dan karin. "Dia itu bigboss di kantor kita, sudah lama suka sama Yuki. Semenjak dulu malah, tapi Yuki nolak!" Jelas Karin. "Tapi masalahnya, Yuki nolak pas zaman kuliah dulu. Tau-taunya ketemu lagi di dunia pekerjaan, itu bigboss masih gencar-gencarnya ngejar Yuki!" Sambung Bagas. "Emang kenapa? Jangan bilang Lo juga bucinnya Yuki!" Tebak Karin. Dani hanya tersenyum tipis, mereka benar. Semenjak SMA dulu, ralat, semenjak mengenal Yuki dulu. Ia memang sudah menyukai gadis rendah hati itu. Tapi sayangnya, Dani tidak berani mengungkapkan nya. Tapi, ia berusaha mencari perhatian nya dengan prestasinya. Lalu, sekarang? Dani hanya menyerahkan urusan hati nya pada Tuhan saja. Ia tidak mau tersakiti lagi.  ***TBC***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN