Matahari mulai naik, sinarnya merambat naik menyapa kelopak mata Teresia yang sedang tertidur lelap, hangatnya sinar itu mampu membuat pemilik mata itu membuka matanya dan menampilkan mata biru safir seperti ayahnya. Teresia menggeliat bangun dan mengucek matanya. "Sayang, kau sudah bangun?" Tanya ibunya itu menghampiri Teresia dan mengecup keningnya kembali
Teresia merasakan tubuhnya terangkat, Angelina menggendongnya. "Ibu, mau kemana?" Tanya Teresia, Angelina tersenyum sambil berjalan menuju kamar mandi
"Mandi, bibi Felecia akan mengunjungi kita." Jawab Angelina. "Aku tidak bisa menyuruh Emma untuk memandikan mu karena kau baru saja sembuh." Tambahnya lagi dan mencubit pipi anaknya itu gemas
Felicia, nama yang cukup familiar di telinganya. Didalam novel juga terdapat satu tokoh yang bernama Felicia dimana dia menjadi pengasuh bagi Putra Mahkota dan meninggal dengan tragis akibat dipenggal oleh Kaisar karena mengajarkan anaknya hal - hal bodoh. Namun, mungkin bisa saja itu adalah orang lain karena nama Felicia itu banyak yang jelas Teresia berharap Felicia yang dimaksud bukanlah bibinya.
"Nah, sekarang putri ibu sangat cantik." Ucap ibunya itu telah selesai mendandani Teresia, rambut panjang merah mudanya itu di kuncir kuda rapi dengan beberapa jepitan yang menjadi pemanis
"Apa kau mau jalan - jalan ke taman, sayang?" Tanya ibunya itu, Teresia mengangguk spontan dan tersenyum lebar
"Yaaa!!! Aku mau ibuu!!" Teriaknya sambil berjingkrak kegirangan, Angelina terkekeh geli sebelum akhirnya meraih lengan Teresia dan berjalan menuju keluar kamar.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Terlihat seorang anak kecil laki - laki yang sedang terduduk di sebuah ruangan dengan buku yang berserakan dimana - mana. Anak itu sedang sibuk membaca sebuah buku bersampul hijau bertuliskan 'ekonomi kerajaan' yang halamannya cukup tebal. Dan terdengar seseorang membuka knop pintu membuat anak laki - laki itu menoleh spontan, ketika matanya mendapati siapa sosok yang memasuki kamarnya tubuhnya refleks menutup buku dan menunduk hormat
"Salam, ayah." Ucap anak itu, sementara sosok yang dipanggil ayah itu mulai berjalan masuk lebih dalam ke ruangan yang cukup berantakan tersebut
"Bagus! Tidak salah aku ber-ekspetasi besar terhadapmu!" Ucap ayahnya itu bangga setelah matanya melihat seisi ruangan yang berantakan karena buku - buku mengenai ekonomi kerajaan
"Terimakasih, ayah." Jawab anak itu masih menunduk dengan hormat
"Besok kau akan dipindahkan menuju istana Putra Mahkota, disana kau bisa belajar dengan giat. Aku sudah memilih guru yang terbaik untukmu." Pria itu menepuk kedua bahu putranya yang sangat mungil tersebut, usia 5 tahun di mata ayahnya sama seperti orang dewasa
"Baik, ayah." Jawab anaknya. Meski anak itu hendak menolak, namun tetap saja perintah kaisar adalah suatu perintah yang mutlak bagi dirinya sehingga mau tidak mau dia harus menuruti apa yang dikatakan ayahnya.
"Jadi, kau sudah belajar apa saja?" Tanya ayahnya itu dan mulai mendudukan dirinya di depan putranya itu.
Mereka kemudian mengobrol dan menghabiskan waktu di sela - sela kesibukan kaisar, percakapan yang sedang mereka lakukan tidak seperti anak dan orangtua melainkan seperti kaisar dengan partner bisnisnya. Kecerdasan anaknya itu mampu membuat kaisar merasa yakin jika ia membuat anaknya itu pintar dan sempurna, ia bisa menaruh ekspetasi yang besar terhadapnya.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Teresia asyik melihat taman yang bisa dikatakan itu adalah rumah kaca, dimana didalam sana sangat hangat, banyak bunga - bunga indah dan cantik yang hidup di dalam rumah kaca tersebut
"Ibu, apakah ini taman?" Tanya Teresia, diingatannya Teresia sering sakit - sakitan oleh karena itu waktu yang sering ia habiskan adalah berdiam diri di kamar jarang sekali ia berinteraksi keluar ruangan
"Iya, ini adalah taman yang ibu sukai." Jawabnya dan mendudukan Teresia di sebuah kursi kayu yang berada di dalam rumah kaca tersebut
Sinar matahari dengan sempurna diserap oleh rumah kaca tersebut, kupu - kupu yang sedang berterbangan mencari nektar bunga pun mampu membuat mata Teresia takjub, ia tidak pernah melihat pemandangan indah seperti ini. Gemerincik air yang mengalir pun terdengar sangat serasi dengan suasana rumah kaca yang hangat
Teresia memejamkan matanya, suasana seperti ini yang sangat ia dambakan. Sementara itu, ibunya sibuk memetik beberapa bunga dan memasukannya ke dalam sebuah keranjang yang sudah tersedia di sana. Dari kejauhan Teresia hanya bisa mengagumi sosok ibunya itu, Angelina benar-benar seperti seorang malaikat.
Sosoknya yang cantik dan lembut, rambut merah muda panjang dan bergelombang yang berkilauan di bawah sinar matahari itu membuat warna rambutnya semakin kontras seperti permen kapas. Di dunia nyata Teresia belum pernah bertemu dengan sosok seperti Angelina.
Selama kurang lebih 1 jam Teresia dan Angelina bersantai dan bermain di rumah kaca tersebut, sebelum akhirnya Emma [pelayanannya] memberi kabar sesuatu membuat Angelina bergegas memangku Teresia dan meninggalkan rumah kaca.
Angelina membawa Teresia ke ruang kerja milik suaminya, Count Henry dan menitipkan Teresia kepadanya selagi Angelina berganti baju. Ruangan ayahnya itu cukup luas, banyak dokumen - dokumen yang sudah mulai menumpuk, bulu yang dijaikan sebagai pulpen tinta pun berdiri tegak di wadahnya
Teresia dapat melihat dengan jelas pantulan dirinya di sebuah lemari kaca yang berada di seberangnya. Rambut merah mudanya persis seperti ibunya, dan mata biru safir miliknya mirip seperti ayahnya. Meski masih kecil namun wajah ini sangat cantik jika diibaratkan anak kecil di lingkungan kehidupannya dulu, badan kecilnya menjadi bukti bahwa anak ini mengidap penyakit yang membuat gizi anak ini tergerogoti
"Bisa kau urus ini sebentar, Nue?" Tanya Henry kepada seorang pria berambut cokelat dan memakai kacamata dengan setelan kemeja beserta rompi berwarna cokelat muda
Laki - laki bernama Nue itu mengangguk, dan mengambil alih pekerjaan Henry dan mulai mengambil secarik kertas serta bulu yang sedang berdiri di wadahnya. Henry menghampiri Teresia yang sedang terduduk menatapnya
"Apakah putri ayah sudah mandi hmm?" Tanyanya dan mulai memangkunya. Teresia mengangguk spontan sebagai jawaban
Henry mencium kening Teresia, kasih sayang seorang ayah yang pertama kali Teresia rasakan.
"Ayah hari ini sangat tampan." Ketus Teresia yang membuat ayahya itu terdian dan membelalakan matanya, terdengar suara seperti menahan tawa di belakang sana
"Nue, putriku yang mengatakannya loh. Memang sih, kakakmu ini tidak pernah berubah." Ucap Henry sambil melirik ke arah belakang dimana Teresia bisa melihat orang yang bernama 'Nue' itu dibalik punggung ayahnya yang sedang menahan tawa, bahunya bergetar.
"Pfftt... Dimataku kau tetap menyebalkan." Jawabnya yang membuat Henry memanyunkan bibirnya
"Tere tahu tidak? Ketika ayah bertemu ibumu dulu, ibumu sangat terpesona loh melihat ketampanan ayah." Kata Henry dengan mata yang berbinar
Suara tawa yang seperti mengejek itu semakin terdengar jelas. "Hahaha, bukannya kau dulu bilang kalau kau lah yang terpesona akan kecantikannya kakak ipar?" Cibir Nue yang membuat Henry cengir dan menampilkan deretan giginya
Teresia baru mengetahui jika Henry mempunyai adik laki-laki, di cerita novelnya informasi mengenai Count Henry sangat minim hanya informasi mengenai istri dan letak wilayah yang ia pegang yang dia ketahui, selebihnya tidak ada informasi lebih.
Nue terlihat sedikit berbeda dengan Henry, rambutnya cokelat dan sedikit keriting hanya matanya yang mirip seperti Henry yaitu biru safir selebihnya berbeda, tampangnya begitu manis. Namun, jika dilihat dari wajah dan tubuh Nue sepertinya dia remaja yang akan menginjak fase dewasa. Ketika Henry dan Nue sedang asyik bercanda satu sama lain, seorang pelayanan menyampaikan pesan kepada Henry membuat Henry berjalan keluar meninggalkan ruangan kerjanya. Nue langsung menggantikan posisi Henry, meski Nue terlihat jahil namun tugas yang diberikan oleh Henry selalu dikerjakan dengan baik olehnya, Teresia bisa melihat Nue yang sedang sibuk menulis sesuatu di berkas - berkas tersebut di balik punggung Henry.
Teresia bisa mendengar suara kereta kuda dari kejauhan, Henry berjalan ke arah pintu diikuti beberapa pelayan yang mengekor di belakangnya. Ketika membuka pintu, kereta kuda itu sudah terparkir rapi di halaman depan rumahnya dan tak lama kemudian seorang wanita dengan rambut pirang keluar dari kereta kuda. Mata hijau emerald itu terlihat seperti berkilauan dibalik topi yang ia kenakan, gaun yang digunakannya pun terlihat sederhana. Wanita itu selewat mirip dengan Angelina
"Selamat datang, Felicia." Ucap Henry menyambut wanita tersebut
Deg!
Rambut pirang, mata hijau, dan bernama Felicia. Jelas sekali kalau ciri - ciri itu persis seperti guru dan pengasuh bagi Putra Mahkota, dimana dia meninggal karena Kaisar memenggal kepalanya akibat memberikan putra mahkota hal - hal diluar pembelajaran. Tetapi, Teresia baru mengetahui jika Felicia merupakan kerabat dari Count Henry, lagi - lagi informasi mengenai NPC di cerita novelnya sangat minim.
"Teree, bibi kangen sekali denganmu!!!" Ucap Felicia menghampiri Teresia dan memangkunya, Henry nampak tak keberatan dengan hal itu. Alhasil, Tere sekarang berada dipangkuan Felicia
Felicia mencium seluruh wajah Tere, bibinya itu benar-benar menyanyanginya seperti Angelina. Dan dari kejauhan, Teresia bisa melihat Angelina yang berjalan dengan cepat menghampiri mereka
"Berhenti menciumi anaku Felic* lihat dia hampir menangis karenamu." Ketus Angelina yang membuat Felicia terkekeh.
"Kakak, apa kau tidak berencana memberikan Tere kepadaku? Kau kan bisa membuatnya lagi." Jawab Felicia yang membuat Angelina menjitak Felicia dan membuatnya mengaduh. "Kau ini, bicara itu yang benar." Omel Angelina
"Ouch.. Ibumu sangat galak, Tere." Cibir Felicia dan membuat Teresia tertawa melihat keakraban adik - kaka ini. Masing-masing dari kedua orangtuanya memiliki hubungan yang baik dengan saudara - saudaranya. Henry dengan Nue dan Angelina dengan Felicia, sungguh keluarga yang sempurna dan harmonis. Keluarga yang tidak pernah dia dapatkan di kehidupannya dulu
Kehidupannya saat ini sudah sangat sempurna, kedua orang tuanya menyanyanginya, harta orang tuanya cukup banyak sehingga dia tidak kekurangan, hubungan kerabat pun sangat baik dan akrab. Teresia merasa nyaman dengan kehangatan keluarga ini, ia tidak mau kembali lagi ke kehidupannya yang dulu
Tapi jika mengingat bagaimana alur novelnya berjalan, Angelina akan kehilangan sosok adik perempuan kesayangannya dan tentunya itu akan membuat keluarga ini berduka. Teresia tidak mau kehilangan sosok Felicia dan tidak mau pula melihat Angelina berlarut dalam kesedihan
"Bagaimana pun, aku harus merubah alur ceritanya!" Ucap Tere dalam hati.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
*Felic atau dibaca Felis (C=ci) A = ei B = bi C=ci