Terlihat satu keluarga yang sedang mengadakan makan malam bersama di sebuah ruangan dengan meja makan yang membentang cukup panjang dan besar, suasana di meja makan itu terlihat cukup hening sebelum akhirnya Angelina membuka suara
"Apa kau akan berangkat besok?" Tanyanya kepada Felicia yang berada di seberang meja makannya
Henry hanya bisa menyimak termasuk Nue. Kata Henry, Nue tidak biasanya ikut dinner bersama mereka karena Nue biasanya akan pulang duluan setelah tugasnya sebagai sekretaris pribadi Henry telah selesai
Felicia mengangguk. "Yaa begitulah kak, Yang Mulia meyuruhku untuk datang ke istana putra mahkota pada esok hari. Makanya aku datang kesini dulu karena untuk singgah sebentar." Jawab Felicia sambil membelah daging steak yang kemerahan itu menggunakan pisau miliknya
Nue sibuk membelah daging milik Teresia sebelum Felicia menyuapkannya kepada Teresia yang duduk di sampingnya.
"Kau tahukan kak perjalanan dari kerajaan Amber menuju kerajaan Lucius itu sangat jauh." Keluhnya, sambil menyuapkan daging kedalam mulut Teresia
Teresia nampak terlihat lengket sekali dengan Felicia, karena Felicia sangat menyukai anak kecil makanya kenapa anak kecil selalu lengket di dekatnya
Di novelnya diceritakan sedikit mengenai background dari Angelina, dimana dia berada di kerajaan yang berbeda dengan Henry. Angelina dan Henry bertemu ketika Henry tengah singgah ketika sudah mengadakan diplomasi dengan kerajaan Amber, sebuah kerajaan yang selalu mendapat matahari di sepanjang musim.
Kerajaan Amber pun terletak cukup jauh dengan kerajan Lucius karena wilayah kekuasaan Kaisar Luxe cukup besar makanya dibutuhkan beberapa hari untuk sampai ke pusat kota kerajaan Amber. Angelina hidup dan tumbuh besar sebagai rakyat biasa di kerajaan Amber sebelum akhirnya jatuh cinta kepada Henry dan menikah dengannya. Namun, kedua orangtuanya sudah lama meninggal dan Felicia tetap berada di kerajaan Amber karena sedang membina pendidikan tentunya dengan Henry yang membiayai nya sesuai dengan permintaan istrinya.
"Kenapa kau tidak menetap disini saja? Jarak dari rumah ini menuju istana putra mahkota cukup dekat. " Tanya Henry, Felicia langsung menggeleng dengan hormat
"Tidak bisa, aku diminta menjadi pengasuh untuk putra mahkota juga. Itu berarti aku harus menetap di istana juga." Jawabnya yang membuat Henry mengangguk paham, tak heran jika Felicia diminta menjadi pengasuh. Teresia saja langsung lengket ketika melihat Felicia
"Baiklah, aku harap kau baik - baik saja. Jika ada apa - apa hubungin kita saja." Angelina ikut buka suara, Felicia mengangguk dan mengangkat jempolnya
Kemudian suasana meja makan itu kembali hening, masing - masing fokus kepada makanannya sebelum akhirnya dinner itu selesai dan bersiap untuk tidur. Nue pulang diantar dengan kereta kuda menuju kediaman orang tua Henry yang berada tak jauh dari rumah Henry dan Felicia beristirahat di kamar yang sudah disiapkan sebelum akhirnya dia pergi menuju Istana putra mahkota.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Teresia dapat dengan jelas melihat bibinya itu yang sedang menghadap kaisar di sebuah lapangan yang cukup luas. Teresia berusaha menghampiri bibinya itu, namun kakinya tidak bisa digerakan seolah olah sudah terpaku disana. Dan lagi ia berusaha berteriak namun lagi - lagi suaranya tidak dapat keluar
Dan perlahan bibinya itu mulai merunduk, sementara itu kaisar mulai mengeluarkan pedangnya dan....
Srak!
Dalam satu kali tebasan, bibinya itu meregang nyawa di tangan kaisar. Cairan merah memenuji rumput hijau itu dan kepala bibinya yang menggelinding hingga beberapa meter jauhnya membuat Teresia menangis sekaligus mual. Teresia bersusah payah menghampiri jasad bibinya itu namun lagi - lagi tubuhnya tidak bisa digerakan dan suaranya pun tak dapat keluar
Teresia merasakan hawa seseorang di sampingnya, dan ketika melihat ke samping, anak kecil laki - laki dengan rambut hitam dan mata merah tengah menatap kejadian itu sambil badannya bergetar ketakutan, pupil matanya mengecil, raut wajahnya ketakutan.
Teresia hendak meraih anak itu agar ia tak melihat kejadian di depannya dan ketika tangannya itu mulai terangkat, tiba - tiba matanya terbuka lebar.
"Hah... Hah... Hah..." Teresia berusaha mengatur nafasnya, lagi - lagi penglihatan mengenai cerita aslinya yang sangat mengerikan.
"Anak sekecil itu yang tidak tahu apa - apa harus menyaksikan kejadian mengerikan begitu." Gumamnya sambil menatap selimut miliknya. Ending cerita dari putra mahkota selalu mengingatkannya akan kehidupannya yang dulu, Teresia selalu merasa sedih ketika mengingat kejadian hal itu
"Tapi bagaimana caranya agar aku bisa mengubah alur cerita ini?" Teresia berfikir sejenak, tubuh kecilnya itu sedang bergelut dengan pikirannya
"Jika pangeran mengalami trauma karena bibi Felicia, berarti aku bisa mengubahnya dengan membuat bibi Felicia tetap hidup. Pangeran hanya merasa jenuh dengan belajar, makanya Felicia selalu mengajak nya jalan - jalan dan bermain di taman." Ucapnya lagi sambil mengatur strategi yang akan ia gunakan untuk menyelamatkan nyawa bibinya sekaligus mencegah pangeran mengalami trauma
Berikut planning yang Teresia gunakan untuk mencegah plot tersebut terjadi :
Teresia merengek ke ibu/ayah untuk mengunjungi Felicia setiap hari atau beberapa hari sekali disaat jam istirahat pangeran > Teresia mengajak pangeran untuk bermain di sela istirahatnya > Felicia tidak akan berfikir untuk mengajak pangeran jalan - jalan dan bermain di taman > Felicia dapat hidup lebih lama > pangeran tidak jenuh dengan belajarnya
Ya kira kira begitulah rencana yang ada di otaknya saat ini, meskipun ada beberapa kemungkinan yang pasti tidak sesuai dengan rencana akan tetapi ini cukup untuk gambaran kasar rencana kedepannya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan diiringi dengan suara knop pintu yang terbuka, Angelina menghampiri Teresia yang sedang duduk menatapnya. "Tere harus mandi karena sebentar lagi bibi Felicia akan pergi, jadi kita akan mengucapkan selamat tinggal padanya." Ucap Angelina dan mulai memangku Teresia pergi ke arah kamar mandi.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Kereda kuda dengan lambang kerajaan itu mulai pergi meninggalkan kediaman Count Henry, terlihat Felicia yang melambaikan tangannya dari balik jendela yang dibuka hingga kacanya habis tak tersisa. Angelina dan Henry pun ikut melambaikan tangannya melihat kepergian Felicia dengan kereta kuda yang semakin lama semakin jauh dan menghilang
Felicia memberi kabar kepada kerajaan jika dirinya akan singgah terlebih dahulu di rumah kakanya sekaligus menemui kakanya, Angelina. Kaisar tak keberatan, sehingga dan menyuruh menjemput Felicia oleh karena itu kereta kuda kerajaan mendatangi kediaman Count Henry
"Apa bibi Felicia akan kesini lagi bu?" Tanya Teresia kepada ibunya ketika kereta kuda itu sudah benar benar menghilang di balik pandangannya
"Bibi Felicia akan sangat sibuk, sayang." Jawab Angelina, Teresia mengangguk paham dan menekuk wajahnya
"Padahal aku ingin lebih lama dengan bibi Felicia." Gumam Teresia yang masih bisa didengar oleh Angelina
Angelina berjongkok. "Apa kau ingin piknik di taman?" Tanya Angelina, Teresia menatap mata hijau ibunya itu
"Di rumah kaca itu ibu?" Tanyanya, Angelina menggeleng
"Di bawah pohon willow itu." Tunjuknya kepada sebuah pohon willow yang berada cukup jauh di samping kirinya. Teresia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju
"Baiklah, mari kita siap - siap. Henry! Kau juga bersiap - siaplah kita akan piknik." Ucap Angelina dan mulai mengangkat tubuhnya dengan tubuh Teresia yang ikut terangkat
"Baik yang mulia." Jawab Henry sarkas sambil mencium pipi istrinya itu yang membuat wajah Angelina memerah.
Karena Angelina yang menyukai suasana hijaunya alam, maka dari itu rumah Henry dibentuk sedemikian rupa agar selalu terlihat hijau. Termasuk taman yang berada di pinggir rumahnya, taman hijau yang terdapat hamparan pohon wisteria dengan pohon willow yang cukup luas. Untuk pertama kali, Teresia terkesan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dimata
"Indah bukan? Ayahmu yang membuatkannya untuk ibu." Ucap Angelina sambil memeluk Teresia yang memakai topi miliknya, terlihat sangat imut.
"Ayah juga bisa membuatkan untuk Tere, jika Tere menyukainya." Jawab ayahnya itu yang berada di samping Angelina, tubuh tinggi menjulang Henry membuat Teresia menengadah untuk melihat wajah ayahnya
"Terimakasih, ayah." Jawab Teresia, Henry tersenyum lembut. Meski hampir mencapai kepala 4 namun ketampanan di wajahnya tetap tidak tersamarkan
Kemudian mereka bertiga menghabiskan waktu dengan memandangi pohon wisteria yang sedang berbunga berwarna ungu dan merah muda itu sambil menatap langit biru dengan awan yang berbeda bentuk. Henry dan Angelina tertidur di balik rindangnya pohon willow tersebut termasuk Teresia, dia sungguh sangat menyayangi kedua orang tuanya ini. Kasih sayang yang diberikan benar - benar tulus.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Matahari kembali bersinar dan memasuki kamar dengan seorang anak kecil perempuan yang sedang tertidur nyenyak, rambut panjang berwarna merah muda itu terlihat cukup berantakan
Teresia tertidur setelah kelelahan menangis karena usahanya meminta untuk bertemu dengan Felicia ditolak mentah-mentah oleh kedua orangtuanya. Alasannya, karena Felicia sudah berada di istana putra mahkota sehingga tidak sembarang orang bisa menemuinya
Tentu, itu bukanlah akhir baginya. Ia akan tetap merengek dan memohon kepada orang tuanya agar bisa bertemu Felicia dan masuk ke dalam istana putra mahkota. Namun lagi lagi Henry tidak dapat dengan mudah menerima permintaan putri kecilnya itu
Alhasil, setiap hari Teresia hanya bisa menangis dan berdiam diri dikamar. Hal itu membuat tubuhnya drop sehingga dirinya kembali sakit, dan kali ini Teresia bahkan mogok makan membuat berat badannya kembali menurun drastis selama 3 hari tersebut. Dengan kondisi putrinya yang seperti itu, Count meminta kepada kaisar agar putrinya itu bisa menemui Felicia
Kaisar menyetujui permintaan Count, namun dengan syarat Teresia bisa mengunjungi Felicia selama 4 hari sekali selebihnya tidak diperbolehkan dan disaat jam istirahat pangeran, sesuai dengan rencana Teresia. Henry tidak keberatan akan hal itu, dan membawa kabar gembira tersebut kepada Teresia
Teresia yang mendengar kabar itu sangat bahagia, dan kembali makan. Tubuhnya berangsur-angsur membaik selama beberapa hari ini. Sehingga, tak terasa sudah hampir 1 minggu Teresia bermain dengan drama sakit - sakitan ini dan tepat hari ini dia akan mengunjungi Felicia
"Bibi, Pangeran, aku akan menyelamatkan kalian." Ucap Tere dalam hati, menguatkan niat dan tekadnya dengan menatap dirinya sendiri di balik cermin yang merefleksikan wajahnya itu, mata safir itu terlihat berbinar bersemangat untuk mengubah alur ceritanya.