Setelah Emma memandikan dan memakaikan baju Teresia, Teresia bersiap pergi menuju istana pangeran putra mahkota. Ini pertama kalinya Teresia pergi keluar dari rumahnya
Teresia memakai dress berwarna merah muda senada dengan rambutnya, rambutnya dibiarkan tergerai dengan memakai beberapa jepit rambut agar terlihat semakin manis, sangat cocok dengan wajah manis dan imutnya itu
"Putri ayah sangat cantik." Puji Henry ketika melihat Teresia menuruni tangga diikuti dengan Emma di belakangnya
Teresia berlari menuruni tangga menuju ayahnya, Henry mengenakan baju berwarna biru navy dengan aksen berlian berwarna safir seperti mata miliknya lengkap dengan jubah miliknya. Rambut pirangnya itu disemir rapi
"Nanti Tere ketika bersama bibi Felicia, Tere jangan nakal yaa..." Ucap Henry sambil tersenyum
Teresia memeluk kaki Henry, Henry mengangkat tubuh Teresia dan menciumnya dengan lembut sebelum akhirnya membawa Teresia pergi menuju kereta kuda. Karena Henry memiliki urusan juga dengan duke, sehingga hari ini Henry yang pergi mengantar Teresia menuju istana putra mahkota untuk pertama kalinya
Henry berniat menitipkan Teresia kepada Felicia selagi dirinya pergi ke kediaman duke. Langkah kaki kuda terdengar memasuki istana putra mahkota, Felicia yang sudah diberi kabar sebelumnya menyambut Teresia bersama Henry di depan gerbang istana dan langsung menggendong Teresia, sementara itu kereta kuda dimana Henry berada di dalam langsung memutar balik dan meninggalkan istana
"Kutitipkan Teresia yaa!!" Ucap Henry sebelum kereta kuda berbalik dan pergi
"Apa Teresia merindukan bibi hmm?" Tanya Felicia dan Teresia spontan memeluk Felicia
"Iyaa!!" Jawabnya, Felicia terkekeh dan mulai berjalan memasuki istana putra mahkota
Istana putra mahkota sangatlah besar, walau tidak sebesar istana kerajaan. Banyak penjaga yang berdiam di pinggir pintu serta pelayan yang berlalu lalang, ya meskipun istana ini ditinggali oleh anak kecil namun rupanya para penjaga dan pelayan disini tidak makan gaji buta
Felicia seperti sudah hafal dengan seluk-beluk istana ini, tanpa arahan pelayan pun Felicia pergi menuju ke ruang perpustakaan dimana kata dia, Felicia sering menghabiskan waktu disana ketika senggang
"Apa Tere suka buku?" Tanya Felicia ketika dirinya sudah sampai di depan ruangan perpustakaan, pintunya sangat besar dan tinggi.
Ketika para penjaga itu membukakan pintu seketika juga Tere dapat melihat puluhan rak yang penuh dengan buku memenuhi satu ruangan itu
Felicia berjalan ke arah sebuah kursi yang terletak disana dan mendudukan Teresia. Sementara dirinya sendiri sibuk membereskan barang - barang miliknya yang masih berserakan di atas meja
Teresia hanya diam memperhatikan aktivitas bibinya, ia sebenarnya sangat ingin menanyakan dimana pangeran tetapi Felicia mungkin akan curiga jika tiba-tiba dia menanyakannya
"Bibi, aku ingin bermain." Ucap Teresia mengayunkan kaki kecil miliknya sambil menatap ke arah Felicia yang sedang merapikan beberapa buku
"Kau ingin pergi ke taman?hmm" Tanya nya sambil sibuk dengan merapikan peralatan menulisnya tanpa melihat ke arah Teresia
Teresia mengangguk, matanya berbinar. "Iya!! Aku mauu!!" Jawabnya kegirangan membuat Felicia menatap Teresia dan tersenyum
"Baiklah, tunggu sebentar yaa..." Kata Felicia
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Waktu istirahat yang diberikan kaisar kepada pangeran cukup banyak yaitu sekitar 30 menit, waktu itu cukup untuk pangeran makan siang dan bersantai sebelum akhirnya kembali belajar sampai sore hari bersama Felicia
Ketika istirahat, pangeran bisa melakukan hal apa saja asalkan berguna ya seperti membaca buku selebihnya tidak diperbolehkan, meski Felicia merupakan pengasuhnya namun ada kalanya dimana Felicia diminta agar membiarkan pangeran hidup secara mandiri
Felicia dan Teresia berlari menuju taman, mereka sedang bermain penjaga dan penjahat dimana Felicia merupakan penjaga yang menangkap penjahat. Teresia berlari sekencang mungkin sambil tertawa dan berteriak ketika Felicia hampir menangkapnya. Teresia berlari tanpa hambatan meski memakai dress, suara tawa Teresia dan Felicia dapat terdengar beberapa meter jauhnya.
Tentunya, hal ini dapat menarik pangeran. Dan benar saja, ketika Teresia sedang asyik berlari sambil melihat ke arah Felicia yang berada di belakangnya tiba-tiba dia menabrak seseorang yang muncul secara mendadak di hadapannya
"Awas!" Teriak Felicia, namun Teresia sudah tidak bisa menghentikan larinya dan
Bugg!!
Teresia menabrak cukup keras sehingga membuat dirinya sedikit terpental, dia meringis namun tatapannya langsung ia arahkan ke arah depan dimana sosok yang selama ini ia tunggu akhirnya muncul di hadapannya
Seorang anak kecil laki-laki, berambut hitam dan bermata merah, meski masih kecil namun wajah anak itu sangatlah tampan. Anak itu juga terlihat mengaduh kesakitan
"Apa yang mulia dan Teresia terluka?" Tanya Felicia ketika sudah sampai di hadapan mereka dan mulai berjongkok untuk memeriksa keadaan mereka masing-masing
Pangeran menggeleng, namun Teresia matanya berkaca - kaca seperti sedang menahan tangis. "Kau tak apa Tere?" Tanya Felicia panik dan mulai memeriksa inci demi inci tubuh kecil Tere yang terduduk di atas tanah taman tersebut
"Tanganku sakit." Ucap Tere lemah dan menyeka matanya. Tabrakan mereka memang cukup keras sih, karena pangeran yang tiba-tiba muncul di belokan bagian kiri ketika Teresia sedang berlari kencang
"Oh astaga." Felicia mengangkat tubuh Teresia, memangkunya. Sementara itu pangeran tengah merapikan bajunya yang sedikit berantakan
"Apa yang mulia juga merasa sakit?" Tanya Felicia dan mulai memerika keadaan pangeran dengan hati - hati
Anak kecil itu mengangguk. "Kepalaku sedikit sakit, tadi kepala kita berbenturan." Jawabnya yang membuat Felicia menekuk wajahnya merasa bersalah
Felicia kemudian menyodorkan lengannya, dan pangeran meraih lengan itu kemudian mereka berjalan menuju ke dalam bangunan istana dengan Teresia yang di gendong olehnya dan Pangeran yang di tuntun oleh Felicia, rasanya Felicia seperti memiliki 2 anak kembar sekaligus.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
"Ouchh!!" Teresia mengaduh ketika Felicia menyentuh lengannya. Sementara itu pangeran dengan tenang memerhatikan mereka berdua
"Sudah bibi ini tidak apa - apa." Jawab Teresia memegang lengannya Felicia. "Apa anak itu baik - baik saja?" Tanya nya sambil menunjuk pangeran
"Ehmm Tere, itu bukan 'anak' tapi pangeran." Koreksi Felicia membuat Teresia membulatkan mata dan langsung menyodorkan tangannya sambil tersenyum manis
"Namaku Teresia yang mulia bisa memanggilku Tere, namamu?" Tanya Teresia, rupanya pangeran kecil lebih pendiam, itu berarti mentalnya masih stabil dan penyakit cemas belum melanda dirinya
Pangeran nampak ragu - ragu menerima juluran tangan Teresia sebelum akhirnya Teresia dengan lebih dulu menarik lengan pangeran dengan paksa, Felicia berusaha memberitahu Teresia kalau tidak boleh menyentuh pangeran sembarang tetapi melihat pangeran yang cukup nyaman dengan Teresia membuatnya memperhatikan tingkah lucu kedua anak itu
"Lui." Jawabnya yang membuat Tere tersenyum, mata safir itu berbinar, bola matanya cukup besar sehingga mata Teresia memiliki tipe 'doe eye' wajahnya yang ceria pun seperti musim panas
"Hai pangeran Lui." Sapa Teresia dan menggoyangkan tangan mereka. "Ayah sering seperti ini ketika dia bertemu seseorang yang baru." Ucap Teresia, Lui mengangguk paham menurut kepada Teresia
"Pangeran, maafkan aku yaa..." Teresia melepaskan jabat tangan mereka dan menundukan kepala. Lui menggelengkan kepalanya sebagai jawaban .
"Tidak, tadi juga salahku karena tidak melihat." Jawab Lui, anak sekecil itu sudah bisa memberikan jawaban yang bijak
"Apa kau ingin bergabung bersama kami? Maksudku bermain." Tanya Teresia, Felicia mengerutkan keningnya dan menggeleng
"Tidak, tidak, kau bilang lenganmu sakit. Pangeran juga kepalanya sakit. Kita harus segera mengobati itu." Tolak Felicia.
Sebenarnya mereka sedang berada di perpustakaan, Teresia, Lui, dan Felicia duduk di satu kursi yang sama yang membentang cukup panjang. Pada saat di perjalanan pun Teresia menyuruh pelayan untuk memanggil dokter, memeriksa kondisi tubuh keponakan dan pangeran
Sebenarnya, Felicia tidak berani menggunakan ruangan lainnya. Baginya, perpustakaan adalah tempat pribadi miliknya selain kamarnya sendiri makanya kenapa Felicia membawa mereka ke perpustakaan.
Teresia memanyunkan bibirnya dan mulai merengek kepada Felicia, Felicia yang merasa tak tega pun akhirnya mengiyakan permintaan Teresia
"Baiklah, tapi hanya sampai dokter datang ya.. Setelah itu selesai, dan kita akan melakukannya di sini bukan di taman." Jawab Felicia membuat Teresia mengangguk dan langsung menarik lengan Lui untuk menuruni kursi dan berlari
"Bibi yang menjadi penjaga!! Ayo Lui kita harus menghindari bibi agar tidak ditangkap." Ucap Teresia, Lui seperti anak bebek yang mengikuti induknya dia mengikuti apa yang Teresia perintahkan kepadanya, meski begitu Teresia bisa melihat Lui yang tertawa riang sambil berlari menghindari Felicia. Mereka berlari dan bermain di perpustakaan yang cukup besar itu sembari menunggu dokter datang.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Untuk pertama kalinya Teresia melihat sosok asli Lui, semuanya persis seperti yang di deskripsikan oleh novel. Namun, memandangnya langsung sangat berbeda. Wajah Lui sangat kecil jika dibandingkan dengan Teresia mata merah yang seperti Ruby juga mampu membuat Teresia terpesona serta rambut hitam yang mengkilau juga menandakan dirinya benar-benar dirawat dengan sangat baik. Bahkan pakaian yang ia kenakan pun sangat rapih dan wangi, memang benar putra mahkota calon pewaris tahta itu kualitasnya bukan kaleng kaleng
Teresia bisa melihat Lui tersenyum dan tertawa layaknya anak biasa pada umumnya, matanya menyipit ketika dia sedang tersenyum dan ketika sedang tertawa deretan giginya terlihat. Padahal Lui sangat manis, namun sayang karena ayahnya sendiri anak semanis itu di usia 4 tahun sudah mendapatkan trauma yang cukup besar. Namun, Teresia tidak akan membiarkan hal itu, dia akan menyelematkan bibinya dan menarik Lui dari jurang kecemasan dan trauma agar anak ini tidak menjadi predator di masa depan.
Dokter mendatangi mereka, dan mulai memeriksa kondisi tubuh masing-masing anak itu dimana keringat mereka bercucuran karena berlari terus menerus tanpa henti. d**a Lui terlihat naik turun dengan cepat, di pelipisnya Teresia bisa melihat keringat yang mengucur termasuk dirinya. Poni yang disisir rapi itu sudah tidak berbentuk karena Teresia yang sering menyeka poni miliknya
Tidak ada cedera yang fatal, katanya itu hanya berbenturan sehingga menimbulkan rasa sakit. Waktu istirahat Lui sudah hampir selesai namun Henry tak kunjung menjemput Teresia.
"Pangeran, bagaimana jika kita belajar disini?" Tanya Felicia kepada Lui yang sedang terduduk sambil memakan cemilan yang disediakan oleh pelayan, Lui sangat menyukai makanan manis.
"Tapi jika tidak mau juga tidak apa - apa kok." Tambah Felicia panik berusaha meluruskan takut terjadi kesalahpahaman. "Teresia sedang menunggu ayahnya, jika aku membawanya ke ruang belajar pangeran takutnya dia akan membuatmu tidak fokus." Ucap Felicia sambil membelai rambut Teresia, Teresia tengah bersender kepadanya dengan sambil mengantuk
"Baiklah." Jawab Lui sambil memasukan cupcake ke dalam mulutnya, Lui tak keberatan.
Felicia menidurkan Teresia agar pahanya menjadi bantal bagi anak tersebut. Mungkin karena cape setelah berlari Teresia mengantuk, rasa kantuknya itu datang ketika dokter tengah memeriksa kondisi Lui terlebih lagi Felicia yang mengobrol cukup lama dengan dokter.
Felicia memulai pembelajaran mereka dengan menguji Lui melalui test lisan dan tentunya Lui dengan mudah menjawab pertanyaan Felicia, ketika mereka sedang asyik melakukan kegiatannya tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dan seseorang masuk kedalam ruangan itu dengan tergesa-gesa.