Terlihat seorang pria dengan nafasnya yang terengah-engah membuka pintu cukup keras membuat orang yang sedang berada disana spontan mengarahkan kepalanya ke arah pintu
"Hah.. M-maaf... Hah... Aku terlambat... Hah... Menjemput Tere." Ucapnya sambil berusaha mengatur nafasnya. "Tadi, Duke sempat menahanku sebentar." Tambahnya lagi
Felicia menarik bibirnya, tersenyum. "Tidak apa kakak ipar, lagipula pangeran juga tidak keberatan untuk belajar disini." Jawabnya sambil mengelus rambut bergelombang Tere yang panjang
Teresia nampak tertidur tenang, nafasnya teratur kelopak matanya itu tertutup sempurna, dengan posisi miring menghadap ke arah pangeran dengan paha empuk Felicia sebagai bantalan.
Henry menatap Teresia, beberapa menit kemudian dia membungkuk salam memberi hormat kepada putra mahkota yang masih terduduk di sofa seberang menghadap Felicia yang hanya terpisah oleh 1 meja berukuran sedang
"Maafkan saya, pangeran bisa melanjutkan belajar." Ucap Henry, Lui nampak mengangguk saja sebagai jawaban dan mengarahkan tatapannya ke arah Teresia yang sedang tertidur itu
Dengan pelan Henry meraih tubuh Teresia, rambut panjangnya ikut terangkat seiring tubuhnya diangkat semakin tinggi oleh ayahnya itu. "Terimakasih Felicia, saya pamit yang mulia."
Henry membalikan badannya bersama dengan Teresia yang menempel kepada dadanya itu dan mulai berjalan meninggalkan kedua sosok yang tengah menatapnya
"Apa itu ayahnya Teresia?" tanya Lui.
Felicia mengangguk. "Ya, dia adalah Count Henry. Kakaku adalah istrinya." jawab Felicia dan membuat Lui mengangguk paham.
"Mari lanjutkan belajar kita yang mulia." Kata Felicia sambil membuka sebuah buku dengan sampul kulit berwarna cokelat.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Selama 3 hari setelah pertemuan pertamanya dengan putra mahkota, kondisi tubuh Teresia berangsur-angsur membaik bahkan berat badannya perlahan naik kembali membuat pipinya kembali menggembul dan chubby, sangat menggemaskan.
Sambil menunggu hari untuk bertemu kembali dengan pangeran, Teresia menghabiskan waktu dengan keluarga harmonisnya itu, ia melakukan kegiatan yang ingin ia lakukan ketika orangtuanya masih hidup dan mengulangnya kembali dengan keluarga barunya ini. Henry sang suami sekaligus ayah yang sangat mencintai anak dan istrinya, Angelina sebagai sosok istri dan ibu yang baik bagi Teresia, setidaknya ia bisa tenggelam dalam Euphoria ini
Hingga tak terasa hari untuk bertemu kembali dengan pangeran- maksudnya Felicia pun datang
"Apa Tere sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bibir Felici?" Tanya Angelina sambil mengepang rambut anaknya itu
Teresia mengangguk. "Yaa!! Bermain bersama bibi Felicia menyenangkan!!" Jawabanya sambil menatap dirinya ke cermin yang memantulkan bayangannya
"Tere jangan nakal ya... nanti ibu akan menemanimu, Henry sedang sibuk mengurusi urusan kekaisaran." Angela tersenyum dan mencolek hidung Teresia gemas
Angela tertawa geli dan Tere pun ikut tertawa bersama ibunya. "Lihatlah anak ibu ini, sudah tumbuh semakin besar, dulu Tere hanya setinggi ini." ejek ibunya itu sambil mengangkat tangannya ke arah lutut bawah
Teresia memanyunkan bibirnya, membuat Angelina menahan rasa gemasnya agar tidak mencubit pipi anaknya itu. "Tere sebentar lagi akan setinggi ayah." jawab Tere membuat Angelina terkekeh. "Tentu saja!" jawab ibunya itu sambil mencubit pipinya
Setelah selesai mengurusi Teresia, Angelina pergi untuk bersiap - siap sementara itu Teresia pergi ke taman bersama Emma untuk melihat bunga - bunga wisteria yang sangat indah. Henry sedang tidak di rumah, maka dari itu Emma yang mengasuh Teresia.
"Emma, apakah kau punya permen?" tanya Teresia kepada Emma yang sedang menuntun dirinya. Emma menggeleng sebagai jawaban membuat Teresia merengek
"Oh ayolah.... aku sangat ingin permen, bolehkah aku memakan permen?" rengek Teresia menatap Emma, raut wajah Emma nampak kebingungan
"Permen itu apa nona?" tanya Emma yang membuat Teresia tersentak. "Gula - gula." jawab Teresia membuat Emma mengangguk paham
"Aku bisa membawakan nona gula - gula, namun jangan terlalu banyak memakannya ya?!" Ucap Emma sambil tersenyum ke arah Teresia, Teresia mengangguk paham. "Bisa tolong bawakan cukup banyak untuk dibawa ke tempat bibi Felicia? aku ingin membaginya dengan Lui." tambah Teresia, Emma mengangguk sebagai jawaban.
Teresia dan Angelina pergi meninggalkan kediaman Count memakai kereta kuda, Emma ikut bersama mereka untuk menemani Angelina. Disepanjang perjalanan Teresia sangat bersemangat, tingkahnya membuat Angelina dan Emma tertawa gemas, Teresia dengan rambutnya yang dikepang dengan pita sebagai aksesoris membuat tampilannya semakin manis, gaun biru langit dengan aksen putih membuatnya sangat cantik
Hanya butuh 10 menit dari kediaman Count menuju istana Putra mahkota karena istana putra mahkota yang terletak cukup dekat dengan kediaman para Count, khususnya Count Henry. Ketika kereta kuda mereka berhenti, Felicia sudah menyambut kedatangan mereka berdua dan memeluk Angelina sangat dekap ketika Angelina sudah menuruni kereta kuda
"Bagaimana kabarmu, kak?" tanya Felicia. Angelina mengangguk dan membelai rambut Felicia. "Baik, karena aku sudah bertemu dengan adik tersayangku ini." jawab Angelina yang membuat Felicia tersenyum
"Masuk ke dalam kak, aku sudah menyiapkan tempat untuk kita mengobrol." ucap Felicia sambil menunjuk ke dalam, Angelina mengangguk dan langsung menggenggam jari jemari mungil Teresia dan kemudian mereka memasuki ke dalam bangunan besar dan megah tersebut dengan Emma yang mengekor di belakangnya.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Aroma khas wangi bunga mawar sangat tercium menyengat, suasana siang hari yang terik dan suara kicauan burung menandakan bahwa cuacana hari itu sangat bagus. Terlihat dua orang wanita dewasa yang sedang mengobrol satu sama lain di sebuah pavilun kecil yang berada di pinggir taman tersebut
Sementara itu seorang anak kecil perempuan tengah bermain di taman dengan seorang wanita dewasa di belakang yang sedang mengawasinya. Teresia tengah mencium aroma wewangian dari setiap mawar yang berbeda warna tersebut sebelum akhirnya ia berlari menuju kepada Felicia dan bertanya suatu hal padanya
"Dimana Lui?" tanya Teresia kepada Felicia, Felicia yang sedang mengobrol dengan Angelina menghentikan obrolannya dan menatap ke arah Teresia. "Pangeran sedang membaca buku." Jawab Felicia dan kembali melanjutkan obrolannya
Teresia yang mendapat jawaban kurang memuaskan dari Felicia membalikan badannya dan kembali menuju bunga - bunga mawar itu kembali sebelum akhirnya pandangannya ter arahkan ke lorong yang berada di seberang dimana disana terdapat sosok anak kecil berambut hitam dengan mata merah tengah berjalan sambil membaca buku
Teresia berlari dengan cepat ke arah tersebut. "Pangeran!" teriaknya sambil berlari menghampiri Lui, namun Lui yang tak mendengar itu terus berjalan lurus kedepan, Teresia semakin memacu larinya agar lebih cepat dan Emma ikut berlari mengejar Teresia yang berlari semakin cepat dan menjauh dari dirinya
"Pangeran!" teriaknya lagi, namun lagi - lagi Lui tak mendengar. "Pangeran!" Teresia kembali berteriak, kini jarak dari mereka tak terpaut cukup jauh sehingga membuat Lui menghentikan langkahkan dan menurunkan tangannya yang memegang buku lalu menoleh ke belakang
"Pangeran!" teriaknya lagi, Teresia melembatkan temponya dan menghentikan langkahnya ketika sudah berada cukup dekat dengan Lui yang tengah menatapnya, Teresia mengatur nafasnya dan membungkukan badannya sambil memegang kedua lututnya
"hah...hah...hah..." Teresia berusaha mengatur nafasnya, Emma yang baru saja berhenti di samping Teresia ikut mengcopy apa yg dilakukan Teresia
"Kau datang kesini? Kukira kau tidak datang lagi." Ucap Lui ikut membungkukan badannya dan mengintip ke wajah Teresia yang sedang tertekuk
Teresia yang tiba-tiba melihat Lui di depannya terkejut, sontak langsung mengangkat wajahnya. "Aku kan sudah bilang aku akan kesini lagi." Jawab Teresia sambil tersenyum, Lui masih menatap Teresia dengan dalam
"Apa kau mau bermain denganku?" Tanya Lui, Teresia mengangguk spontan. "Yaa!!" Jawabnya sambil tersenyum sumringah
"Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untukmu pangeran." Ucap Tere dan membalikan badannya kepada Emma, Teresia membisikan sesuatu kepada Emma membuat alis Lui terangkat sebelah.
Emma mengangguk pahama setelah mendengar bisikan Teresia dan mengeluarkan sebuah kantung berukuran telapak tangan orang dewasa berwarna merah muda
"Ini!" Teresia menyodorkan kantung tersebut di depan Lui, Lui lagi lagi mengangkat sebelah alisnya itu merasa tak yakin akan apa yang ada di balik kantung merah muda itu
"Apa itu?" Tanya Lui, Teresia dengan cepat membuka bungkusan itu dan ketika kantung itu terbuka terlihat benda lonjong dengan beraneka warna memenuhi hampir seluruh dalam kantung tersebut
Teresia melihat sekeliling, sebelum akhirnya dia menarik lengan Lui menuju suatu tempat, Emma yang mengikuti di belakangnya membuat Teresia risih dan menyuruhnya untuk membawakan obat miliknya sebagai alibi dan mengecoh Emma
Setelah Emma pergi, Teresia dengan cepat membawa Lui menuju ke samping istana pangeran dimana disana terdapat tempat luas yang penuh dengan rumput hijau. "Ini namanya gula - gula pangeran. Rasanya sangat manis dan enak, cobalah." Sodor Teresia
Lui merasa tak yakin dan cukup ragu - ragu sebelum akhirnya tangan Teresia dengan cepat mengambil salah satu gula gula tersebut dan menyuapkannya ke dalam mulut Lui
"Enak, kan?" Tanya Teresia, Lui yang pertama kali mencoba itu langsung mengangguk. "Jika pangeran merasa bosan belajar makanlah ini. Kuberikan semuanya kepada pangeran tapi jangan sampai pelayan tahu ya!! Atau mereka akan mengambil semua ini." Ucap Teresia dengan serius membuat Lui mengangguk yakin
"Kau juga harus memakannya, ini kubagi 2 untukmu." Lui menyodorkan kembali kantung itu kepada Teresia. Teresia tersenyum dan menggelengkan kepalanya berusaha menolak halus
Lui yang melihat itu langsung mengambil satu buah permen di kantung tersebut dan memasukannya ke dalam mulut Teresia, kemudian Teresia dan Lui tertawa bersama - sama sambil memakan gula - gula yang berwarna - warni tersebut.
Lui melihat Teresia seperti sesosok seorang dewi, dia sangat bersinar dan baik hati dimanapun Teresia melangkah Lui seperti melihat sinar matahari yang berada di atas kepalanya yang selalu menyinari setiap langkah Teresia. Sikapnya terhadap Lui pun membuat Lui tidak terlalu tertekan atas tuntutan dari ayahnya yang terus - menerus menekan Lui agar belajar dan belajar
"Apa setelah ini kau akan pergi lagi?" tanya Lui sambil memurungkan wajahnya, Teresia mengangguk dan meraih lengan Lui yang masih memegang kantung kecil tersebut
"Pangeran harus belajar. Tapi aku berjanji, setiap senin aku akan mengunjungi dan bermain bersama pangeran, oke?" ucap Teresia dan menatap mata merah ruby tersebut, bagi Teresia Lui hanyalah anak kecil seperti pada umumnya. Anak yang masih mendambakan bermain bersama teman sebayanya
Lui mengangguk walau wajahnya masih cemberut, Teresia yang melihat hal itu gemas dan mencubit pipi Lui membuat Lui tersentak dan mengaduh sementara itu Teresia tertawa dan mengejek Lui kecil
"Kita harus kembali ke tempat tadi pangeran, atau Emma dan penjaga yang lain akan mencarimu dan aku. Tapi ingat ya, kau harus menyembunyikan ini jika ingin memakannya! jangan sampai bibi Felicia tahu apalagi penjagamu." Bawel Teresia memberi nasihat kepada Lui, Lui mengangguk dan memasukan kantung tersebut ke dalam baju rompi miliknya
"Terimakasih, Tere." Jawab Lui. Teresia tersenyum sebagai jawaban dan langsung mengenggam lengan Lui dan berjalan menuju tempat dimana mereka bertemu, meninggalkan tempat yang hijau dan tenang itu
Lui yang berjalan dibelakang Teresia bisa melihat dengan jelas sosok Teresia dari belakang, rambut merah mudanya yang panjang dan bergelombang ternyata sangat cocok dengan wajahnya. Lui tersenyum kecil.
"Kau kemana saja huh?!" omel Angelina ketika mendapati Teresia dan Lui sudah kembali.
Teresia cengir, gigi putihnya itu berjajar rapih. "Hehe maafkan aku ibu..." Ucap Tere, sementara itu Angelina hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengomeli Teresia karena Angelina mengira penyakit Teresia kambuh
Teresia kemudian diomeli oleh ibunya dengan Emma yang berada di sampingnya itu sambil membawa mantel dan obat - obatan, sementara itu Lui hanya bisa melihat Teresia dari kejauhan sambil mendekap buku miliknya yang tak selang lama dari itu dihampiri oleh Felicia dan membawa Lui menuju ruangan belajarnya karena waktu istirahat sudah selesai.