Kedatangan kereta kuda yang berisi pangeran dan Ratu disambut oleh para pelayan istana, kini kereta kuda itu tengah berhenti sejenak di istana pangeran untuk mengantar Lui sebelum akhirnya kereta itu kembali ke istana kekaisaran
"Hati - hati di jalan, yang mulia." Ucap Lui memberi hormat ketika kereta kuda itu akan berjalan
Ratu tersenyum di balik jendela kecil, dan tak lama kemudian kuda di pecut dan mulai berjalan meninggalkan istana. Lui langsung membalikan tubuhnya dan mulai berjalan menaiki tangga satu persatu menuju ke dalam istana sebelum akhirnya sebuah benda yang mengganjal di saku celananya membuatnya berhenti untuk merogohnya
"Astaga, aku lupa mengembalikannya." Ucap Lui ketika sadar benda mengganjal di sakunya itu adalah jepit rambut milik Teresia. Melihat benda itu mengingatkannya akan Teresia yang membuat wajah Lui kembali memerah
"Akan ku kembalikan ketika dia kesini." Gumamnya lagi, dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya.
Hari sudah semakin gelap, sinar matahari sudah redup sepenuhnya dan tergantikan oleh sang rembulan. Istana yang semula bermandikan cahaya matahari kini digantikan oleh cahaya lampu yang menerangi istana yang cukup besar itu
Begitu juga di kediaman count sepulangnya Ratu dan Pangeran Mahkota, kediaman itu kembali sibuk dengan beberapa aktivitas agar membereskan rumah mereka karena county lain akan mengunjungi kediaman mereka pada besok siang. Sungguh, rumah ini sibuk dengan jadwal tamu
"Nyonya, rambut jepitnya tak di temukan." Ucap Emma di belakang Angelina yang sedang terduduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya
"Hmm baiklah, terimakasih Emma." Jawab Angelina masih sambil menyisiri rambut merah muda panjang miliknya itu
"Baik, nyonya. Tapi, apakah jepit rambut itu sepenting itu nyonya? Sampai-sampai anda menyuruh saya bukan pelayan lain untuk mencari." Tanya Emma, Emma merupakan pelayan yang sangat loyal kepada Angelina tak heran Angelina mempercayainya
"Sebenarnya, aku menyimpan sihir perlindungan di dalam permata yang ada di jepit tersebut untuk melindungi Teresia. Jepit itu adalah sisa - sisa sihir terakhirku sebelum semuanya lenyap." Jawab Angelina, dia bisa dengan jelas melihat Emma di pantulan cerminnya
"Makanya kenapa aku sering memakaikan jepit rambut itu kepada Teresia agar Henry tak curiga. Dia sangat membenci penyihir." Tambahnya, wajah Emma terlihat tidak enak kepada Angelina
"Asalkan jepit itu tidak jatuh ke tangan yang salah tidak apa - apa. Kuharap, Putra mahkota yang mengambilnya karena dia seharian bermain dengan Teresia. Kau boleh pergi Emma, kau pasti sudah lelah mencari jepit itu." Titah Angelina yang membuat Emma mengangguk dan pamit undur diri
Emma sudah mengetahui bahwa istri dari tuannya ini adalah seorang penyihir ketika pertama kali bertemu, mata hijau emerald itu bersinar sangat indah seperti akan menghipnotis seseorang. Serta aura yang dipancarkan oleh Angelina berbeda dari manusia biasanya
Akan tetapi, Emma selalu tutup mata dan berpura - pura tidak tahu sampai dirinya mengalami sebuah kecelakaan yang membuat kereta kuda yang ia tumpangi hancur dan menewaskan beberapa orang tapi Emma satu - satunya orang yang selamat setelah menerima sebuah pin dari Angelina. Disitu Emma berusaha mendekati Angelina dan berterimakasih kepadanya.
Namun, kemampuan sihir Angelina sering menurun seiring dengan sakit Teresia yang semakin parah. Selain dari faktor genetik yang dialami Teresia ketika di dalam kandungan, penyebab lain dari penyakitnya itu adalah sihir hitam yang bersarang di tubuhnya. Sihir itu muncul akibat kutukan dari leluhurnya ketika keturunannya menikah dengan seorang manusia, maka dari itu Teresia terkena dampak dari kutukan tersebut
Sihir hitam itu menyedot kemampuan sihir Angelina, semakin pulih Teresia semakin banyak sihir Angelina yang tersedot hingga sebelum akhirnya Teresia pulih sepenuhnya dan kemampuan sihirnya menghilang dia menyimpan sisa sisa kemampuannya di jepit rambut agar Henry tak merasa curiga. Karena Henry sangat benci terhadap sihir sehingga apabila Angelina menaruh kepada sebuah liontin kalung, sihir itu akan terlihat menonjol dan membuat Henry curiga.
"Kukira kau sudah tidur, sayang." Ucap Henry menghampiri Angelina yang masih terduduk di depan meja rias dan mencium lehernya lembut
"Mmh... Hentikan Henry, kau pasti lelah." Jawab Angelina sambil meraba rambut suaminya itu yang sedang menjamah lehernya
"Tidak jika melihat istriku secantik ini." Henry mengangkat kepalanya dan mencium lembut Angelina.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Sudah seminggu semenjak kedatangan Lui, kini Teresia sedang bersiap untuk kembali mengunjungi Lui ke istana pangeran. Felicia mengirimkan surat kepada Angelina untuk bertanya apakah tidak terjadi sesuatu ketika pangeran dan ratu mengunjungi kediaman kakaknya itu, dan respon baik dari kakaknya menjadi lampu hijau bagi Felicia agar ia bertemu dengan Teresia. Kedatangan Teresia ke istana pangeran membuat rasa sepi di istana sedikit teralihkan.
"Hari ini Emma yang akan mengantarkanmu, Ayah dan Ibu tidak bisa mengantarkanmu. Kami ada urusan di istana kekaisaran." ucap Angelina sambil menuntun anaknya menuju halaman
"Iya ibu, Tere janji Tere tidak akan berbuat nakal." jawabnya sambil mengacungkan kelingkingnya, Angelina terkekeh dan ikut menautkan jari kelingkingnya
"Janji ya.." ucap Angelina tersenyum, Teresia mengangguk dan tersenyum riang
"Emma ku titipkan Teresia kepadamu ya, kumohon jaga dia baik - baik." Ucap Angelina menepuk bahu Emma. Emma mengangguk hormat. "Baik nyonya." jawabnya.
Seperti biasa, Felicia sudah menyambut kedatangan Teresia namun kali ini bedanya terdapat Lui di sampingnya yang ikut melambaikan tangannya ke arah kereta kuda yang mulai memasuki halaman istana tersebut. Lui dengan seragam bangsawannya yang terlihat rapi dengan mata merah menyala dengan rambut hitam yang tertiup angin melambaikan tangannya penuh antusias ke arah Teresia, meski begitu tangan satunya lagi menggenggam sebuah buku
"Selamat datang Tere." ucap Felicia ketika kereta kuda sudah berhenti dan pintunya terbuka, Lui menempel kepada Felicia karena ingin ikut menyapa Teresia
"Hallo bibi, hallo pangeran!" jawab Tere sambil keluar dari kereta kuda dipapah oleh Felicia
Karena sekarang sudah mendekati musim panas, cuaca semakin panas hingga Angelina menata rambut Teresia menjadi kuncir kuda dan memakaikan topi kepadanya. Khawatir terik matahari akan menyengat kulit cantik anaknya itu
"Wahh... keponakan bibi memang sangat cantik." puji Felicia dan langsung menuntun Teresia menuju ke dalam istana. Lui ikut berjalan di samping Teresia, anak itu sangat berantusias akan kedatangan Teresia
Seperti biasa, Felicia membawa Teresia dan Emma ke perpustakaan tak lupa juga Lui yang selalu menempel kepadanya karena perpustakaan adalah satu - satunya basecamp bagi Felicia
"Bagaimana belajarmu pangeran?" tanya Teresia kepada Lui yang tengah duduk di sampingnya.
"Baik, karena ada Tere disini." jawabnya dengan mata berbinar menatap Teresia
"Astaga.." gumam Teresia pelan dan tersenyum kecut, rupanya Lui sudah sangat menempel kepadanya. Wajar saja, meski otaknya cerdas namun dia tetaplah seorang anak kecil
"Pangeran bagaimana kalau kita bermain tebak kata?" tanya Teresia menawarkan sebuah permainan yang cukup populer di kehidupannya yang dulu. Lui mengangguk dengan cepat
Lui, Teresia, dan Felicia menghabiskan waktu istirahat bersama dengan bermain tebak kata. Meski sering mengunjungi Lui setiap hari senin namun pertumbuhan anak ini cukup pesat tiap bertemu tingginya semakin bertambah. Hingga akhirnya waktu istirahat mereka habis dan Teresia beranjak pulang meninggalkan istana namun Lui menahan lengannya sementara itu Emma dan Felicia tengah mengobrol sambil berjalan di depan mereka
"Tere, ada yang mau kuberikan kepadamu." ucap Lui dan merogoh celana abu - abu miliknya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku tersebut
Felicia dan Emma fokus mengobrol sampai - sampai mereka tak menyadari jika anak di belakang mereka tertinggal. "Ini milikmu, kemarin terjatuh di taman jadi aku mengambilnya. Tapi kemarin aku lupa membalikannya kepadamu." ucap Lui menyodorkan jepit ramput kupu - kupu dengan aksen permata berwarna pink di bagian sayapnya, permata itu terlihat sangat bersinar
Teresia tersenyum dan mendorong lengan Lui. "Simpan saja untukmu pangeran, di rumah aku mempunyai banyak jepit seperti itu." tolak Teresia, baginya jepit rambut seperti itu tidak penting karena Henry bisa membelikan lebih banyak jepit seperti itu
"Tapi ini milkmu Tere, warna merah muda di jepit ini mirip dengan warna rambutmu." ucapnya sambil tetap menyodorkan jepit tersebut
"Kalau begitu aku titipkan lebih dulu ya, nanti kalau aku ingat akan ku ambil." jawab Tere yang membuat Lui mengangguk dan kembali memasukan benda tersebut ke dalam saku celana miliknya
Emma dan Felicia yang sadar tidak ada langkah kaki di belakangnya lantas menghentikan langkahnya dan membalikan tubunya, benar saja Lui dan Teresia sedang berhenti jauh di belakangnya lorong yang panjang itu memperlihatkan Teresia yang sedang membelakangi mereka
"Tere?" ucap Felicia yang membuat Teresia menoleh dan kembali melanjutkan langkahnya, disusul dengan Lui di belakangnya.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan tahun berganti tahun tak terasa Teresia sudah berada di dunia ini selama hampir satu tahun lebih. Hidupnya sangat tenang dengan informasi mengenai alur di masa depan, Lui kecil yang semula sangat suram kini berkat kedatangan Teresia selama satu tahun, berganti menjadi anak kecil yang pintar dan hangat. Hubungan Lui dan Teresia sudah semakin akrab dan dekat, bahkan kabar mengenai kedekatan antara putri dari count Henry dan putra mahkota sudah sampai di telinga Luxe
Awalnya Luxe sempat khawatir karena Lui menghabiskan waktu istiarahatnya dengan hal - hal yang tidak berguna dan menurunkan minatnya dalam belajar bahkan Luxe hendak menyuruh Henry agar putrinya tidak lagi mengunjungi Felicia dan bertemu dengan Lui, namun hal itu ia urungkan ketika Luxe yang beberapa kali mengetes Lui dan Lui mampu memuaskan jawabannya. Kehadiran Teresia tidak menganggu performa Lui dalam belajar.
Kondisi di kerajaan Lucius pun sangat aman dan tenang, rakyat hidup sejahtera dan makmur tanpa ada konflik atau krisis ketahanan pangan semuanya hidup bahagia. Teresia yang semula sering sakit - sakitan sekarang sudah semakin sembuh dan count Henry pun mendapat kepercayaan dari Duke untuk memegang satu wilayah lagi. Dan tentu saja hal itu membuat Teresia merasa cemas, jalan cerita berganti dengan cepat namun tidak ada impact yang terjadinya kepadanya
'apakah memang tidak ada konsekuensi atas perubahan jalan cerita?' itu adalah kalimat yang sering terngiang - ngiang di dalam kepala Teresia, namun ketika bertemu Lui dan menikmati hidup yang sangat membahagaikan ini pikiran itu dapat dengan mudah menghilang dari benaknya
Dan ulang tahun Lui sebentar lagi tiba, kerajaan sibuk mendekorasi untuk keperluan pesta akan kelahiran putra mahkota termasuk Lui yang sering bulak - balik istana pangeran dan istana kekaisaran untuk menghadap kepada ayahnya, Luxe. Teresia pun sibuk mencari hadiah apa yang akan dia berikan kepada Lui yang notabennya sudah memiliki semuanya