Teresia merasakan matanya sangat berat, sinar matahari yang masuk ke sela - sela dedaunan pohon willow diikuti dengan simliwir angin membuatnya mengantuk. Mungkin karena daritadi ia berlari dan tertawa sehingga energinya terkuras habis
Teresia mengalihkan pandangannya ke arah Lui, anak itu sedang terduduk sambil menutup matanya menikmati angin yang menyapa wajahnya. Rambut hitamnya itu telihat seperti sedang menari - nari mengikuti ritme angin, mata merah yang selalu menyala itu tertutup oleh kelopak mata, dan wajah yang tersinari sinar matahari yang masuk melalui celah celah daun willow membuat wajah Teresia sedikit merona
'Bagaiamana anak sekecil ini berakhir mengenaskan' gumamnya dalam hati ketika membayangkan Lui yang meninggal akibat perlakuan ayahnya sendiri
Lui membuka mata kirinya, terlihat Teresia yang sedang menatapnya dengan wajah merona yang membuat Lui tersenyum dan kembali menutup matanya
Dirasa cukup menatap Lui, Teresia kembali ke posisi semula dan ikut memejamkan matanya. Suasana tenang seperti ini tak pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya, sejujurnya Marrie merasa bersyukur bisa bereinkarnasi menjadi sosok Teresia namun di sisi lain ia sangat merindukan sosok ayah kandungnya, meski Henry dan Angelina memberikan kasih sayang yang banyak kepada Teresia namun tetap saja bagaiamana pun Marrie masih memiliki sosok ayah kandung
"Tere, apa kau ingin tinggal di istana?" Tanya Lui yang matanya masih terpejam, beberapa detik kemudian tak ada jawaban ataupun suara yang terdengar di telinga Lui yang membuat Lui langsung membuka matanya dan menoleh ke arah dimana Teresia berada
Rupanya, Teresia sedang tertidur. Melihat itu Lui kembali tersenyum rupanya Teresia sudah mempercayai Lui sepenuhnya, karena di kerajaan Lui tidak pernah tertidur di depan siapapun kecuali jika ia merasa aman. Namun Teresia dengan mudah tertidur, di tempat terbuka pula
Melihat Teresia yang tidak kunjung bergerak membuat Emma khawatir dan menghampiri mereka, Lui yang sudah paham akan hal itu mengangkat tangannya sebagai tanda kalau Emma tidak harus mendekati mereka
"Dia sedang tertidur, tidak baik membangunkannya." Ucap Lui yang membuat Emma mengangguk dan mundur perlahan.
Bagaimanapun juga ucapan Lui mutlak baginya
Lui mengangkat tangannya sebuah isyarat untuk dia memanggil pelayannya, seorang pelayan istana datang menghampirinya dengan cepat
"Bawakan buku milik-ku." Ucapnya, pelayan itu mengangguk dan kembali berbalik badan sebelum akhirnya dia kembali dengan membawa sebuah buku bersampul cokelat dengan sebuah pena bulu dan tinta
"Ini, yang mulia." Pelayan itu menyodorkan buku tersebut, Lui mengambilnya dan menekuk kedua kakinya, menaruh buku tersebut diatas kedua lututnya dan mulai membuka halaman kosong dari buku tersebut
Lui mulai menulis, buku itu seperti buku diary baginya ketika ia penat ia akan mulai menulis di buku tersebut untuk mendistrack rasa lelah dari belajar. Sementara itu Teresia tidur semakin pulas di sampingnya, sesekali Teresia berbaring ke arah samping menghadap Lui.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Henry dan Angelina menemani Ratu untuk minum teh, disana juga mereka membahas kerja sama antara Count Etrama dengan kekaisaran perihal perdagangan. Angelina dan Ratu juga sesekali membicarakan anak - anak mereka, yaa seperti ibu - ibu pada umumnya.
"Apakah Teresia sering mengunjungi Lui?" Tanya nya sambil menyeruput teh yang berwarna kuning kecokelatan dengan bunga camelia kering di atasnya
"Sebenarnya dia berniat untuk mengunjungi bibinya, Felicia. Namun, saya tidak menyangka kalau Teresia bermain bersama pangeran... Maafkan saya yang mulia." Jawabnya sambil menundukan kepalanya
Wanita pirang itu mengangkat tangannya. "Tidak apa, karena kehadiran anak itu juga Lui semakin giat belajar dan membuat Kaisar bangga padanya." Jawabnya
"Sejujurnya aku khawatir mengenai Lui, dia masih kecil tetapi harus menerima tekanan sebesar itu dari ayahnya. Aku juga berusaha memberikan beragam mainan untuknya namun, penjaga kerajaan sering mengambilnya dan melaporkan ke Kaisar." Tambahnya sambil menatap cangkir teh miliknya, rupanya seorang ibu memiliki rasa khawatir yang sama kepada anaknya
"Akupun akan berlaku sama kepada Teresia." Jawab Angelina yang membuat Ratu kembali menyesap tehnya
"Terimakasih karena telah membiarkan Teresia bermain dengan Lui." Ratu meraih lengan Angelina, Angelina sedikit tersentak sebelum akhirnya tersenyum dan kembali membalas genggaman tangan wanita pirang itu.
Meski Ratu adalah istri dari Kaisar, namun hubungan di antara mereka tidak lebih dari seorang Ratu dan Kaisar, mereka jarang berhubungan atau mengobrol satu sama lain oleh karena itu Ratu tidak berani untuk menantang Kaisar karena jika ia menentang perintahnya, Kaisar tak segan - segan akan melarang Ratu untuk bertemu Lui
"Apa mereka masih berada diluar?" Tanya Henry kepada Angelina, Angelina mengangguk sebagai jawaban
"Ya, sepertinya mereka bermain dengan senang." Angelina tersenyum kepada Henry, Henry mengangguk sebagai jawaban.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
"Nghh..." Teresia mengucek matanya dan merenggangkan tangannya
"Kau sudah bangun Tere?" Tanya seseorang yang membuat Teresia membelalakan matanya dan bersujud meminta maaf
"Maafkan aku yang mulia, aku tidak sengaja tertidur kau pasti bosan menungguku tertidur." Pinta Teresia memohon ampunan ketika melihat sosok berambut hitam dengan mata ruby itu
Lui terkekeh geli. "Apa yang kau lakukan? Angkat kepalamu Tere, aku tidak cukup umur untuk memberikan hukuman kepadamu." Jawabnya yang membuat Teresia mengangkat kepalanya dan tersenyum
"Terimakasih, yang mulia." Jawab Teresia, dan mendudukan dirinya. Lui menutup buku miliknya itu
Langit menjelang sore, sinar yang semula sangat panas dan menyengat perlahan meredup dan terasa hangat. Teresia tak sengaja tertidur, ia merasa bersalah karena waktu yang seharusnya ia habiskan untuk bermain dengan Lui tapi malah ketiduran
"Apa pangeran sedang belajar?" Tanya Teresia ketika melihat buku sampul cokelat itu dengan pena dan tinta yang berada di sampingnya
Lui menggeleng. "Tidak, aku hanya menulis saja." Jawabnya yang membuat Teresia mengangguk
Dari kejauhan terlihat Emma menghampiri mereka. "Nyonya dan tuan memanggil anda." Ucap Emma yang membuat Teresia memanyunkan bibirnya
Teresia langsung berdiri dan merapikan gaunnya itu sebelum akhirnya menghampiri Emma, begitupun dengan Lui dia ikut berdiri dan merapikan pakaian miliknya. Ketika Lui hendak mengambil buku beserta alat tulisnya, dia melihat jepitan berbentuk kupu - kupu yang tergeletak di atas rumput dimana Tere tertidur
Lui mengambil jepitan itu dan memasukannya ke dalam saku celana miliknya kemudian mulai berjalan menyusul Teresia. Mereka berjalan menuju rumah, suasana sore itu cukup indah dengan langit yang mulai memerah dan para burung yang sedang terbang menuju sarang mereka
Ratu sudah menunggu kedatangan mereka yang diikuti oleh beberapa pelayan dan penjaga kerajaan di belakangnya, Teresia menggenggam lengan Lui sambil berjalan menghampiri mereka. Ratu dapat melihat dengan jelas wajah Lui yang memerah akibat genggaman tangan Teresia
"Salam, yang mulia." Ucap Teresia dan memberi hormat kepada wanita pirang itu yang tengah menunggunya di halaman depan. "S-salam i-ibu." Jawab Lui yang membuat Ratu terkekeh geli
"Teresia, sepertinya pangeran sangat menyukaimu." Iseng wanita pirang itu yang membuat Teresia tersentak sebelum akhirnya dia melepaskan genggaman tangannya dari Lui setelah Ratu mengarahkan matanya kepada genggaman tangan mereka
"Maaf yang mulia ratu, tadi aku berlari dan mengajak pangeran. Yang mulia larinya sangat lambat jadi aku menggenggam nya agar bisa satu tempo denganku." Jawab Teresia berusaha menjelaskan yang malah membuat tawa wanita pirang itu pecah
"Hahaha..." Ratu tertawa gemas, Angelina dan Henry yang berada di pinggirnya ikut terkekeh melihat tingkah laku gemas anak di depannya. Wajah Lui semakin memerah
"Hari sudah sore, tak baik jika pulang ke istana di malam hari. Ucapkan salam dulu kepada Teresia dan Count Henry." Titah ibunya yang membuat Lui mengangguk, dan mulai menghampiri Henry beserta Angelina untuk memberikan hormat
Lui kemudian menghampiri Teresia dan melambaikan tangan kepadanya. "Terimakasih untuk hari ini Tere, aku sangat menikmatinya." Ucapnya yang membuat Tere tersenyum riang. "Tentu saja pangeran!" Jawabnya
Lui menghampiri ibunya dan mulai masuk ke dalam kereta kuda, beberapa pelayan dan penjaga mengikuti mereka di belakangnya. Dan ketika kuda itu di pecut, kereta mereka mulai meninggalkan kediaman count. Teresia melambaikan tangannya begitupun dengan Henry dan Angelina hingga kereta kuda itu sudah menghilang di pandangan mereka
"Apa kau tertidur disana?" Tanya Angelina ketika melihat rambut dan gaunnya yang sudah berantakan dan kusut
"Hehe, maafkan aku ibu." Teresia cengir, melihatkan deretan giginya
"Mana jepit rambutmu?" Tanya nya lagi ketika melihat sesuatu yang hilang di tubuh anaknya itu, Teresia langsung meraba kepalanya spontan
"Ahh! Mungkin terjatuh di taman." Jawab Teresia dan hendak kembali, namun dengan cepat Henry menarik lengan putrinya itu dan mengangkat tubuhnya
"Biarkan Emma yang mengambilnya, kau harus mandi lebih dulu." Ucap Henry sambil berjalan masuk menuju rumah dengan Teresia yang berada di pangkuannya.
"Baik, ayah." Jawabnya dan memeluk ayahnya itu, kemudian mereka juga mulai berjalan masuk menuju ke dalam rumah sementara itu Emma dan beberapa pelayan lainnya berjalan menuju ke arah taman tadi.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Ketukan langkah kuda terdengar cukup keras, Ratu menatap Lui yang sedang terduduk sambil menundukan wajahnya. Suasana di kereta kuda itu sangat hening dan sunyi
"Bagaimana hari ini, nak?" Tanya Ratu kepada Lui yang membuat Lui mengangkat wajahnya
"Baik, bermain dengan Teresia sangat menyenangkan." Jawabnya sopan dan kembali menundukan wajahnya. Ratu yang melihat itu merasa gemas dan langsung memeluk tubuh kecil Lui, di matanya Lui terlihat sangat mirip dengan kakaknya yang meninggal karena sakit. Mungkin jika anaknya itu masih hidup, Lui akan memiliki sosok kakak yang menjadi panutan baginya
"Kau tidak harus se-formal itu ketika bersama ibumu, ibu sangat merindukanmu." Ucapnya sambil mengelus rambut anaknya, Lui yang merasakan itu hanya terdiam untuk pertama kalinya ia diperlakukan sebagai seorang anak oleh orang tuanya
"Baik, ibu." Jawab Lui. Wanita pirang itu kemudian mencium kening putranya lembut, setelah kehilangan putra sulungnya dia sangat menyayangi Lui sebelum akhirnya Kaisar kembali memisahkan putranya itu dari dirinya, bahkan Kaisar membatasi interaksi antara Ratu dengan anaknya dengan alasan demi membantu Lui untuk lebih fokus belajar
"Apakah ibu setelah ini akan pergi ke istana Kaisar?" Tanya Lui, ibunya itu mengangguk
"Ya, tetapi aku akan mengantarkanmu lebih dulu." Jawabnya, Lui mengangguk paham. Sebenarnya Lui juga sangat sayang kepada ibunya namun perintah ayahnya tidak bisa ia tolak. Mau tak mau Lui harus menuruti perintah ayahnya untuk terus belajar