BAB 10 : Kejahilan Naren

1221 Kata
Naren terus menjilati air mata Rheva yang mengalir semakin deras. Begitu pula dengan kejantanannya yang masih terus dia gesekkan dengan milik Rheva. Naren baru menghentikan aksinya ketika mendengar Rheva sesenggukan. “Tidurlah!” Naren bangkit dari tubuh Rheva. Menyelimuti tubuh wanita itu sebelum pergi ke kamar mandi yang berada di kamarnya. Rheva masih menangis sesenggukan. Namun, dalam hati ia merasa lega begitu Naren menjauh dari tubuhnya. Walaupun begitu, Rheva masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Ini adalah pertama kalinya dirinya dilecehkan seperti itu. Di dalam n*vel, mereka memang pasangan suami istri, tetapi di dunia nyata, Rheva belum pernah menikah. Dan Rheva menganggap apa yang baru saja dilakukan Naren kepadanya adalah bentuk pelecehan. Samar-samar, Rheva mendengar suara desahan Naren. Seketika Rheva menoleh ke arah kamar mandi, di mana pintu kamar mandi tidak tertutup sepenuhnya. Suara desahan Naren semakin lama semakin jelas. ‘Sial! Pria itu menjadikanku objek fantasinya?!’ maki Rheva dalam hati kala mendengar Naren menyebut namanya dalam setiap desahan. Wajah Rheva sangat merah karena marah dan malu. Di sela-sela desahannya, Naren terus-menerus menyebut nama Rheva tiada henti. Hal itu membuat bulu kuduk Rheva meremang semakin hebat. Setelah cukup lama berlalu, akhirnya tidak terdengar desahan Naren lagi. Tentu setelah pria itu mendesah panjang sembari menyebut nama Rheva. “Benar-benar pria c*bul!” maki Rheva kesal. Rheva mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Matanya terpejam kala mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tidak lama kemudian, Naren keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Naren yang menyangka bahwa Rheva sudah terlelap, membuka jubah mandinya begitu saja. Gerakannya yang hendak mengenakan pakaian terhenti. Dari pantulan kaca, ia memergoki Rheva menatap dirinya yang tidak mengenakan pakaian. Wanita itu menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Seketika keinginan untuk menjahili istrinya pun timbul. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Naren dengan sengaja memperlambat gerakannya mengenakan pakaian. Rheva yang tidak mengetahui bahwa perbuatannya diketahui Naren, terus menatap pria itu dengan jantung berdebar kencang. Ingin rasanya Rheva menutup mata, tetapi tubuh altelis Naren membuatnya sulit untuk diabaikan. Rheva buru-buru menutup rapat matanya ketika Naren ke tempat tidur usai mengeringkan rambutnya. Tubuh Rheva menjadi tegang ketika Naren mengambil posisi di belakangnnya. Pria itu membetulkan selimut yang dikenakannya sebelum memeluknya. “Aku tahu kamu belum tidur,” bisik Naren tepat di telinga Rheva. Lalu menjilat bagian belakang telinganya. Hal itu seketika membuat tubuh Rheva meremang hebat. “Tidurlah kalau kamu tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi.” Senyum lebar menghiasi wajah Naren kala merasakan tubuh Rheva yang semakin menegang dalam dekapannya. Diciumnya leher bagian belakang Rheva beberapa kali. Ia pun memejamkan mata. Dalam hitungan detik, Naren yang sangat kelelahan pun tertidur lelap. Berbeda dengan Rheva. Wanita itu masih terjaga dengan mata terpejam. Ia tidak berani bergerak sedikit pun. Takut Naren akan melakukan hal yang tidak senonoh kembali kepadanya. Sepanjang malam Rheva terjaga. Ia sempat memejamkan mata dan tertidur, tetapi itu hanya beberapa menit. Dirinya kembali terjaga karena takut Naren akan melakukan pelecehan lagi terhadapnya. Pukul empat pagi, Rheva memutuskan untuk bangun. Matanya perih karena kurang tidur. Begitu pun dengan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku akibat tidak bergerak sama sekali. Dengan sangat pelan, Rheva memindahkan tangan Naren di pinggangnya. “Mau kemana?” Tubuh Rheva kaku ketika Naren bergumam dengan mata tertutup. “Masih malam. Tidurlah lagi.” “Aku mau kecing,” ucap Rheva berdusta. Naren pun melepaskan pelukannya. Dengan cepat Rheva turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Rheva menatap pantulan wajahnya di cermin wasatafel. Ia bergidik menatap wajahnya yang tampak mengerikan. Di mana matanya merah dan juga ada warna kehitaman di sekitar matanya. Rheva merasa lebih segar setelah mambasuh wajah dan menggosok gigi. Rheva keluar dari kamar mandi dan menuju lemari. Saat hendak membuka lemari, pandangannya menatap wajah tertidur Naren dari pantulan kaca. ‘Sebenarnya dia terlihat lebih tampan jika sedang tertidur seperti itu. Tidak menjengkelkan seperti saat terjaga,’ batin Rheva. Namun, ia segera menggeleng cepat. ‘Tidak, tidak, tidak! Apa yang baru saja kupikirkan? Mau tertidur ataupun terjaga, dia sama saja menjengkelkan. Tidak ada hal bagus tentangnya.’ Rheva pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, membuka lemari. Ia mengambil pakaiannya dan membawanya kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Usai berganti pakaian, ia pun meninggalkan kamar. Waktu masih terlalu pagi. Hanya para pelayan yang sudah mulai sibuk di dapur untuk membuat sarapan. Rheva yang tidak memiliki kegiatan, memilih untuk menonton televisi di ruang keluarga. Rheva yang sebenarnya memang sangat mengantuk, langsung tertidur tidak lama setelah ia menyalakan televisi. Ia terjaga saat seseorang membangunkan dirinya. Rheva membuka matanya. Ia mendapati bahwa orang yang membangunkannya adalah Amelia, kepala pelayan kediaman utama Mahendra. Rheva menguap sebentar sebelum berkata, “Jam berapa sekarang? Apa kakek sudah bangun?” “Jam setengah enam pagi, Nona. Belum, Nona. Tapi mungkin sebentar lagi tuan besar akan keluar dari kamarnya untuk jalan-jalan pagi.” Rheva pun segera kembali ke kamar untuk berganti pakaian olahraga. Ia menghela napas lega melihat Naren masih terlelap. Dengan langkah pelan dan mengendap-endap, Rheva mengambil pakaian olahraga. Lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Tepat saat ia keluar dari kamar, Aditya pun keluar dari kamarnya. Bergegas ia menghampiri pria itu. “Pagi, Kek!” Rheva tersenyum lebar. “Pagi, Sayang.” Aditya ikut tersenyum lebar dengan keceriaan cucu menantunya. Namun, senyum itu mendadak luntur saat melihat wajah Rheva. Di mana matanya sangat merah dengan warna hitam yang menghiasi sekitar matanya. “Rheva, apa kamu baik-baik saja?” Rheva melingkarkan tangannya di tangan Aditya. Dengan senyum lebar ia berkata, “Aku baik-baik saja. Kakek tidak perlu khawatir.” “Bagaimana aku tidak khawatir? Apa Naren menyakitimu lagi?” Mendengar itu, Rheva tersenyum menyeringai. Ia pun memasang wajah memelas. Ia menghela napas dengan berat sebelum berkata, “Sepertinya sangat sulit menyembunyikan apa pun dari kakek.” “Jadi benar kalau Naren menyakitimu lagi?” Rheva mengangguk. “Iya, Kek.” “Anak itu!” geram Aditya mengepalkan tangannya. “Sepertinya ucapanku tidak ada artinya bagi dia.” “Kakek, tolong jangan katakan apa pun pada Naren. Aku takut Naren akan semakin menyakitiku, Kek.” Rheva benar-benar melupakan janjinya kepada Naren untuk tidak akan mengadu yang tidak-tidak kepada Aditya. “Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Rheva. Aku harus memberi dia pelajaran supaya tidak menyakitimu.” Rheva menggeleng cepat. “Percuma, Kek. Lebih baik biarkan saja dia. Mungkin dia tidak bisa melampiaskan amarahnya pada kakek. Makanya dia melampiaskannya padaku. Kumohon, Kek. Jangan katakan apa pun pada Naren.” Rheva benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika Aditya kembali menegur Naren. Bisa-bisa pria itu benar-benar memperkosanya. Aditya menghela napas pelan. “Baiklah. Tapi jika Naren sudah keterlaluan, jangan salahkan aku jika ikut campur dan bertindak.” “Iya, Kek. Tapi, Kek, jika kakek mengizinkan, aku ingin tidur di kamar terpisah dengan Naren. Kupikir ini jalan terbaik untuk saat ini supaya Naren tidak bisa menyakitiku. Jika kami masih tidur di kamar yang sama, aku takut Naren akan menyakitiku.” Aditya terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Baiklah. Nanti aku akan meminta Amelia membersihkan kamar yang berada di dekat ruang kerja. Untuk sementara kamu bisa menggunakan kamar orang tua Naren.” “Terima kasih, Kek. Aku sangat menyayangi kakek.” “Sama-sama, Sayang. Aku juga menyayangimu.” “Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang, Kek. Sebelum semakin siang.” Mereka pun meninggalkan rumah. Tanpa mereka sadari, Naren berdiri di anak tangga paling atas, mendengarkan semua percakapan mereka berdua. Senyum miring menghiasi wajah tampannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN