BAB 9 : Rasa Takut

1238 Kata
BAB 9 : Rasa Takut Rheva menunggu di ruang keluarga dengan gelisah. Tayangan televisi di hadapannya tidak mampu mengalihkan pikirannya dari kekalutan. Seharusnya ia senang karena Aditya memarahi Naren, tetapi entah kenapa ia merasa seolah mencari masalah untuk dirinya sendiri. Sudah satu jam berlalu, baik Aditya dan Naren masih belum keluar dari ruang kerja. Hal itu semakin membuat Rheva cemas. Kakinya tidak berhenti bergerak sejak tadi. Tidak berapa lama, Aditya dan Naren keluar. Naren langsung menuju ke kamar, sementara Aditya kembali ke ruang keluarga dan duduk di samping Rheva. “Kakek, memangnya apa yang kakek bicarakan dengan Naren?” tanya Rheva yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Jantungnya berdebar kencang. Seolah ia dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri. Aditya tersenyum lebar. “Aku hanya memperingatkannya untuk tidak mempermainkan dan menyakitimu lagi.” Rheva tersenyum kaku. Ia yakin kali ini Naren pasti akan membalas dan tidak akan melepaskan dirinya. Seketika Rheva ingin pergi dari tempat itu. Pergi sejauh mungkin dari jangkauan Naren. “Kamu tidak perlu takut,” ucap Aditya seolah mengetahui kegelisahan Rheva. “Jika Naren berani menaykitimu, langsung beritahu aku.” Rheva mengangguk kecil. Namun, dalam hatinya ia menangis dan menjerit. Tahu bahwa Rheva merasa takut akan Naren yang mungkin menyakitinya, Aditya pun menghiburnya. Memberikan janji bahwa ia akan melindungi Rheva dari amarah Naren. “Tuan, Nona, makan malam sudah siap.” Seorang pelayan wanita menginterupsi obrolan mereka. “Lebih baik kita makan malam dulu. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang akan Naren lakukan. Pokoknya, jika Naren menyakitimu, langsung beritahu aku. Mengerti?” Rheva mengangguk kecil. “Iya, Kek.” Mereka pun menuju ke ruang makan. “Duduklah di sini.” Aditya menunjuk kursi di sebelah kirinya yang selama ini kosong. Selama ini Naren selalu duduk di kursi di sebelah kanan Aditya. Tidak ada yang menduduki kursi sebelah kirinya sejak kepergian menantunya, ibu Naren. Rheva menurut. Ia pun merasa itu pilihan terbaik. Setidaknya ia tidak harus duduk di samping Naren. Aditya dan Rheva menunggu Naren yang masih belum memasuki ruang makan. Tidak sampai lima menit, Naren memasuki ruang makan. Untuk sesaat ia mengernyit dengan posisi duduk Rheva. Namun, tanpa mengatakan apa-apa, ia ikut mendudukkan diri di samping Rheva. Seketika tubuh Rheva merasa kaku. “Kenapa kamu duduk di situ? Duduk di tempatmu,” tegur Aditya yang melihat ketidaknyamanan Rheva dengan kehadiran Naren. “Duduk di mana saja sama, Kek. Memang apa salahnya kalau aku duduk di samping istriku?” Naren berkata santai. Tidak ia hiraukan tatapan tajam Aditya. Ia menatap Rheva yang masih terdiam. “Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa mau aku ambilkan?” “Ti-ti-tidak! Aku bisa mengambilnya sendiri.” Rheva menjawab cepat. Ia pun segera mengambil nasi dan lauk-pauk degan cepat. Suasana makan malam begitu sunyi. Tidak ada satu pun yang membuka percakapan. Hal itu membuat Rheva semakin tidak nyaman. Rheva yang tidak suka dengan kesunyian, merasa suasana begitu mencekam. Tidak jauh berbeda saat mereka berkumpul di ruang keluarga usai makan malam. Suasana hening. Rheva yang tadi ceria, kini seketika menjadi pendiam. Ia hanya membuka suara seperlunya ketika Aditya mengajaknya berbicara. Rheva terkejut dan menatap Aditya yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Aditya tersenyum kecil. “Besok pagi, apa kamu mau menemaniku jalan pagi?” Rheva mengangguk kecil. “Iya, Kek.” “Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat.” Aditya pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamarnya. Naren meraih tangan Rheva. “Sayang, ayo kita ke kamar.” Rheva menepis tangan Naren. “Aku bisa jalan sendiri.” Rheva bangkit dari duduknya dan pergi lebih dulu ke kamar. Naren mengikuti di belakangnya dengan senyum menyeringai. Sesampainya di kamar, Rheva langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia menata bantal tepat di tengah-tengah tempat tidur. “Jangan pernah melewati batas ini,” ucap Rheva kepada Naren yang hendak naik ke atas tempat tidur. “Hm!” Naren merebahkan diri di tempat tidur. Untuk beberapa lama Rheva masih belum bisa tidur. Matanya terpejam, tetapi pikirannya melalang buana. Ia merasa sangat aneh dengan sikap Naren yang terlihat tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. ‘Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?’ batin Rheva gelisah. Ia sangat yakin Naren pasti tidak akan membiarkan dirinya begitu saja. Rheva merasakan ada pergerakan dari sisi Naren. Lalu, ia merasa seseorang sedang menindihnya. Rheva membuka mata, wajah Naren tepat di depan matanya. “Na-Na-Naren, apa yang kamu lakukan?! Menjauh dariku!” Bukannya menjauh, Naren justru mendekatkan wajahnya ke wajah Rheva. Hangat napas Naren yang menerpa wajahnya membuat tubuh Rheva meremang. Rheva mencoba mendorong Naren, tetapi tidak bisa. Naren bahkan mendekatkan kepalanya ke telinga Rheva dan berbisik, “Aku menginginkannya. Coba kamu rasakan, dia begitu keras sekarang.” Naren meraih tangan Rheva, membawanya ke area pribadinya. Dapat Rheva rasakan tonjolan besar di area itu. Seketika Rheva menjerit keras. “Naren!!!” “Tidak bisakah kamu tidak berteriak? Kamu bisa membangunkan seisi rumah.” “Aku tidak peduli! Cepat menyingkir sebelum aku berteriak lebih keras.” Rheva bersiap untuk berteriak kembali, tetapi Naren lebih dulu membungkam mulut Rheva. Kali ini ia berhati-hati supaya tidak digigit kembali oleh wanita itu. Naren baru menghentikan aksinya ketika Rheva memukul dirinya pelan. Rheva yang kehabisan napas, langsung mengambil oksigen sebanyak mungkin melalui hidung dan mulutnya. Tidak ia pedulikan Naren yang menciumi area lehernya. Baginya, oksigen lebih penting untuk mengisi paru-parunya. Rheva terkejut ketika tangan Naren menyentuh dirinya dari balik pakaian yang dikenakannya. Seketika tubuhnya meremang kala kulitnya bersentuhan dengan telapak tangan Naren yang besar dan hangat. “Naren, kumohon jangan lakukan itu.” Rheva memohon dengan mata berkaca-kaca. Kemarahannya tadi hilang entah kemana. Kini dirinya diselimuti ketakutan. Takut jika Naren benar-benar akan menyetubuhi dirinya. “Kenapa?” suara Naren serak saat berbicara. Napasnya berat dan panas. “Apa kamu tidak ingin b******a denganku? Apa kamu tidak kasihan dengan Naren junior yang sudah mengeras ini?” Naren menggesekkan kejantannnya ke milik Rheva yang masih berbalut pakaian. “Naren, kumohon. Aku tahu aku salah. Kamu boleh menghukumku dengan cara apa saja, tapi tolong jangan perkosa aku.” Naren mengangkat kepalanya. Wajah mereka sangat dekat. Bahkan hidung mereka pun saling menempel. “Kamu istriku. Mana mungkin aku memperkosa istriku sendiri? Aku hanya menginginkan hakku sebagai suami. Memangnya kamu ingin aku melakukannya dengan wanila lain di luar sana?” “Hm! Lebih baik kamu melakukannya dengan wanita lain di luar sana.” Naren yang merasa gemas dengan jawaban Rheva, menggigit leher wanita itu hingga meninggalkan bekas. “Kamu mengadukanku pada kakek kalau aku lebih menyukai wanita lain. Sekarang, giliran aku menginginkan istriku sendiri, kamu malah memintaku untuk mencari wanita lain.” “Naren, tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengatakan hal-hal buruk lagi tentangmu pada kakek. Asal kamu melepaskanku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, Naren.” Rheva berkata dengan air mata menggenang. Siap jatuh kapan saja. “Tapi aku sudah terlanjur terangsang. Bagaimana ini?” “Naren, kumohon.” Akhirnya, air mata Rheva pun jatuh tanpa bisa dibendung lagi, Melihat hal itu, bukannya menghentikan aksinya, Naren justru menjilati air mata Rheva yang mengalir dari sudut matanya. Tubuh Rheva semakin meremang hebat dan bahkan sedikit bergetar dengan apa yang dilakukan Naren. Dengan kekuatan yang tersisa, Rheva berteriak, “Daripada kamu melecehkanku seperti ini, lebih baik kamu bunuh aku saja, Naren!” Naren tersenyum miring. “Mana mungkin aku tega membunuhmu, Sayang. Daripada membunuhmu, lebih baik aku membawamu ke surga dunia. Kamu belum pernah merasakannya, kan? Jadi, hari ini aku akan menunjukkan padamu apa itu surga dunia.” Rheva tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang bisa dikeluarkannya, bentuk betapa putus asanya dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN