Di dalam lift, Rheva mengelap wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift.
“Sial! Mataku benar-benar merah. Dasar Naren berengsek m*sum. Berani-beraninya dia mempermalukanku di depan umum. Sepertinya aku memang harus berhati-hati dan menjaga jarak dengannya.”
Pintu lift terbuka. Rheva meninggalkan lift dengan menundukkan kepalanya. Dengan langkah lebar ia meninggalkan gedung perusahaan. Di depan gedung perusahaan, Rheva segera menghentikan taksi. Takut Naren akan menyusulnya.
Saat menyadari bahwa dirinya tidak membawa tas dan dompetnya, Rheva meminta sang sopir mengantarnya ke kediaman utama Mahendra. Sesampainya di kediaman utama Mahendra, Rheva menghampiri petugas keamanan yang berjaga dan meminjam uang untuk membayar ongkos taksi.
Setelahnya, Rheva memasuki gerbang kediaman utama Mahendra dengan langkah lebar. Rumah mewah dan sangat besar itu begitu sepi saat Rheva melangkah masuk. Ia segera ke kamarnya untuk mengambil uang dan memberikannya kepada petugas keamanan.
“Kemana kakek?” Rheva bertanya kepada pelayan saat ia kembali memasuki rumah.
“Tuan besar ada di taman belakang, Nona. Beliau sedang berjemur.”
Rheva mengangguk. Lalu menuju taman belakang. Aditya duduk di kursi santainya yang menghadap ke arah matahari. Sementara Adam duduk di dekatnya. Mereka tampak mengobrol santai.
“Kakek.” Rheva menghampiri Aditya. Ia mengambil kursi yang tidak jauh dari Aditya dan meletakkannya di samping pria tua itu.
“Rheva, kamu sudah kembali?” Aditya menegakkan tubuhnya dan menatap Rheva. Semburat kebahagiaan tampak di wajah tuanya. Namun, ekspresi itu mendadak menjadi kekhawatiran saat melihat wajah Rheva. “Ada apa dengan wajamu? Kamu habis menangis?”
Rheva refleks menyentuh wajahnya. Lalu menggeleng pelan. “Tidak, Kek. Ini hanya kelilipan saja.”
Aditya memincing tajam. Ketidakpercayaan tampak jelas di wajahnya. “Pasti Naren telah melakukan sesuatu lagi padamu, kan? Katakan, kali ini apa yang sudah Naren lakukan padamu?”
“Tidak, Kek.”
Kali ini Rheva benar-benar harus berpikir ulang untuk mengadu kepada Aditya. Ia tidak tahu apa yang akan Naren lakukan kepadanya jika ia mengadu kepada Aditya.
Aditya menggenggam tangan Rheva. “Jangan takut, Rheva. Katakan padaku, kali ini apa yang sudah dilakukan Naren hingga membuatmu menangis?”
Rheva menunduk dan berkata dalam hatinya, ‘Apakah aku harus membuat pelajaran pada Naren? Tapi kalau aku mengadu pada kakek, Naren pasti tidak akan membiarkanku selamat. Dia pasti akan menjahiliku lagi. Tapi ini kesempatan bagus untuk membalas perbuatan Naren yang sudah mempermalukanku tadi.’
Rheva benar-benar bimbang. Ia ingin sekali membalas perbuatan Naren yang telah mempermalukan dan melecehkannya tadi. Namun, mengingat apa yang akan Naren lakukan jika mengetahui dirinya mengadu kepada Aditya, membuat Rheva berpikir dua kali.
“Rheva, jangan takut, Nak. Katakan saja padaku. Aku akan memberi hukuman pada Naren karena telah membuatmu menangis.”
Suara Aditya membuyarkan Rheva dari pikirannya. Ia menatap Aditya sebentar, lalu menunduk lagi.
“Sebenarnya ... tadi Naren membawaku menemui Naila, Kek.”
Pada akhirnya Rheva tidak kuasa untuk menahan diri. Keinginannya untuk membalas Naren lebih kuat dibandingkan apa yang akan Naren lakukan kepadanya nanti.
“Apa?!” pekik Aditya. “Beraninya dia masih menemui wanita itu!”
Karena tidak memungkinkan bagi dirinya mencubit pahanya, Rheva pun terpaksa menggigit bagian dalam mulutnya. Hanya itulah satu-satunya cara agar ia bisa mengeluarkan air mata.
“Awalnya kupikir Naren akan memutuskan hubungannya seperti yang kakek minta. Tapi ternyata tidak, Kek. Mereka justru bersekongkol, Kek.”
“Apa maksudmu, Nak?”
“Naren memberi tahu Naila, bahwa untuk sementara mereka tidak akan berhubungan dulu. Selama kakek belum mewariskan perusahan padanya, mereka harus menjaga jarak. Naren juga mengatakan bahwa ia akan menceraikanku begitu kakek memberikan warisan kepadanya. Lalu mengumumkan hubungan mereka pada publik.”
“Naren benar-benar keterlaluan!” geram Aditya sembari memukul lengan kursi dengan keras.
Rheva menatap Aditya dengan air mata berderai. Ia menggenggam balik tangan Aditya. “Kek, tolong izinkan aku berpisah dengan Naren. Kumohon, Kek. Aku ... aku tidak sanggup lagi, Kek.”
“Maafkan aku, Nak. Aku tahu kamu sangat menderita dengan sikap Naren. Tapi aku sudah berjanji pada almarhum kakekmu bahwa aku akan menikahkanmu dengan Naren dan merawatmu. Kamu tenang saja, aku akan memberi pelajaran saat Naren pulang nanti.”
Rheva menggeleng cepat. “Tidak, Kek. Tidak perlu. Biarkan saja.” Rheva berkata cepat.
Jangan sampai Aditya memarahi Naren. Ia tidak tahu apa yang akan Naren lakukan padanya nanti. Bisa-bisa Naren benar-benar akan memperkosanya. Membayangkannya saja membuat Rheva bergiding ngeri.
“Tidak bisa, Rheva. Naren harus diberi pelajaran. Karena dia sangat ingin sekali menguasai perusahaan, maka aku tidak akan memberikan Mahendra Group padanya. Daripada memberikannya kepada Naren, aku lebih suka memberikan Mahendra Group padamu, Rheva.”
Aditya menoleh dan berkata kepada Adam, “Adam, segera penggil notaris dan pengacara secepatnya. Aku akan mengubah wasiatku yang sebelumnya.”
“Baik, Tuan!”
Mata Rheva membulat sempurna mendengar ucapan Aditya. “Kakek, kakek tidak perlu melakukan itu.”
“Ini sudah keputusanku, Rheva. Aku sudah tidak mempercayai Naren lagi. Sebelum aku mati, aku harus memastikan bahwa Mahendra Group berada di tangan yang tepat. Dan aku percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat.” Aditya tersenyum lebar kepada Rheva.
“Tapi, Kek. Aku tidak tahu mengenai perusahaan.”
“Aku akan meminta Adam mencarikan seseorang yang tepat untuk mengajarimu ilmu bisnis.”
“Kakek ....” Rheva tidak bisa berkata-kata. Ia tidak mengerti apakah harus senang atau menangis. Tidak terbesit di benaknya akan berakhir seperti ini.
“Aku sudah sangat tua, Rheva. Tidak tahu kapan aku akan meninggal. Jadi, sebelum aku meninggal, aku ingin memastikan Mahendra Group berada di tangan yang tepat.”
“Jangan berkata seperti itu, Kek. Aku yakin kakek pasti akan memiliki umur panjang.”
“Aku pun berharap begitu, Nak. Aku ingin melihat cicitku. Tapi dengan kelakuan Naren, rasa-rasanya umurku tidak akan lama lagi.”
“Kakek, jangan berkata begitu. Apa pun yang terjadi antara aku dan Naren, aku akan selalu menemani kakek. Jadi tolong jangan berkata seperti itu.”
Di kehidupan nyata, Rheva tidak memiliki orang tua ataupun keluarga. Sejak bayi ia sudah berada di panti asuhan. Hanya ibu pantilah orang satu-satunya yang menyayangi dirinya. Namun, tepat setelah dirinya lulus SMA, ibu panti meninggalkan dunia ini serta dirinya untuk selama-lamanya.
Aditya hanyalah cerita fiksi dalam n*vel, tetapi setelah Rheva bertemu dengan pria itu kemarin, ia sangat senang. Meski raganya adalah milik protagonis wanita, tetapi ia bahagia bisa merasakan kasih sayang dari Aditya.
Aditya tersenyum lembut. “Aku akan berusaha untuk hidup lebih lama lagi, supaya aku bisa melihatmu bahagia, Nak.”
Adam lebih dulu menginterupsi sebelum Rheva membuka mulut. “Tuan, waktunya Anda ke rumah sakit untuk melakukan check up.”
“Kakek, boleh aku ikut?”
Aditya tersenyum lebar. “Tentu. Aku akan sangat senang kalau kamu mau menemaniku.”
Mereka bertiga pun segera ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin Aditya. Semuanya merasa lega ketika dokter mengatakan Aditya sehat. Hanya saja dokter menyarankan Aditya untuk lebih sering bergerak.
Usai dari rumah sakit, mereka langsung kembali pulang untuk beristirahat.
Sore harinya, Rheva dan Aditya bersantai di ruang keluarga.
“Kamu sudah pulang?” Aditya menatap Naren yang baru pulang kerja dan melewati ruang keluarga. “Ikut kakek ke ruang kerja sekarang.”
Aditya bangkit dan meninggalkan ruang keluarga.
Rheva pura-pura menonton televisi ketika Naren menatapnya.
Naren yang bingung dan heran, hanya bisa mengikuti pria itu dengan banyak pertanyaan dalam benaknya. Dilihat dari sikap Rheva, ia yakin pasti ada hubungannya dengan wanita itu.
Rheva menghela napas lega begitu Naren meninggalkan ruang keluarga. Meski begitu, dadanya berdebar kencang. Perasaan takut perlahan mengelayuti dirinya.
“Tamatlah riwayatku. Ya Tuhan, tolong lindungi aku dari Naren.”