BAB 7 : Menjadi Tontonan Publik

1206 Kata
Naren mengernyit mendapati Rheva melangkah ke tepi jalan dan bukannya ke mobil mereka. Ia segera menarik lengan Rheva yang melambai hendak menghentikan sebuah taksi. “Naren, lepas!” Rheva berusaha memberontak. “Mau kemana kamu?” “Bukan urusanmu! Lepas!” “Aku tidak akan melepasnya jika kamu tidak mengatakan kemana tujuanmu.” “Apa urusanmu ingin tahu kemana aku pergi?” “Apa pun yang menyangkut dirimu, akan menjadi urusanku.” “Kamu benar-benar berengsek, Naren.” Naren mendekatkan wajahnya ke wajah Rheva. Ia tersenyum miring dan berkata, “Terima kasih untuk pujiannya. Sekarang katakan padaku, kamu ingin pergi kemana?” Naren tidak akan melepaskan Rheva. Ia tahu istrinya itu pasti masih ingin bercerai darinya. Jika tidak, mana mungkin wanita itu membuat isi perjanjian yang menyudutkan dirinya. Selain itu, pengaduannya kepada Aditya malam tadi sudah menjadi bukti kuat bahwa Rheva ingin berpisah darinya. Akan tetapi, Naren tidak akan membiarkan Rheva melakukannya. Ia akan melakukan berbagai cara untuk menggagalkan Rheva. “Bukan urusanmu. Kamu tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadiku.” “Siapa yang bilang aku tidak memiliki hak? Aku suamimu, aku berhak tahu kemana istriku pergi.” “Kamu!” Rheva tercekat karena amarah. “Karena kamu tidak mau mengatakan tujuanmu, lebih baik kamu ikut aku ke perusahaan.” Naren menarik Rheva kembali menuju mobil. “Aku tidak mau! Naren, lepaskan aku!” Naren berhenti dan berbalik. “Apa kamu tidak malu berteriak seperti itu di tempat umum?” Rheva terkejut. Ia menatap sekeliling. Banyak orang yang berseliweran, menatap ke arah mereka berdua. Tidak ingin semakin malu, akhirnya Rheva pun dengan pasrah mengikuti Naren ke mobil. Naren tersenyum puas dengan kepatuhan Rheva. Ia melajukan kendaraannya menuju Mahendra Group. Dalam perjalanan, Rheva selalu menatap pemandangan luar. Ia tidak menghiraukan Naren yang terus mengoceh. “Jangan cemberut terus.” Naren menggenggam tangan Rheva. Rheva menepis tangan Naren dengan cepat. Tidak sedikit pun ia menatap ataupun melirik Naren. Mulutnya masih setia mengatup rapat, tidak ingin mengatakan apa pun, meski hanya sekadar bergumam. Naren menghentikan mobilnya tepat di depan gedung perusahaan. Rheva segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Ia hendak kabur dengan taksi. Sayangnya, lagi-lagi Naren berhasil menangkap dirinya. “Sebenarnya apa maumu, Naren?!” pekik Rheva frustasi. “Aku hanya tidak ingin kamu jauh dariku. Itu saja.” Rheva menggigit tangan Naren dengan sekuat mungkin. Seketika Naren memekik keras karena kesakitan. Tangannya pun refleks melepas tangan Rheva. Kesempatan itu tidak Rheva sia-siakan. Ia segera berlari secepat mungkin. Namun, lagi-lagi Naren berhasil menangkapnya. Kali ini pria itu menggendong Rheva di depan. Dengan langkah lebar ia memasuki gedung perusahaan. “Naren, lepaskan aku!” Rheva berontak sekuat mungkin. Naren kewalahan menghadapi Rheva. Namun, ia masih bisa memegangi Rheva supaya tidak jatuh. “Diam dan patuhlah,” kesal Naren. “Memangnya kamu tidak malu dilihati oleh banyak orang?” Seketika Rheva terdiam. Ia menatap ke sekeliling. Dan benar saja, banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Kebanyakan dari mereka menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa. Hal itu tentu membuat Rheva sangat malu. “Turunkan aku,” pinta Rheva dengan suara pelan. “Aku tidak akan menurunkanmu kalau kamu masih berusaha kabur.” Rheva mengalungkan kedua tangannya di leher Naren. Lalu ia mendekatkan kepalanya ke telinga Naren dan berbisik, “Turunkan aku atau aku gigit telingamu sampai putus.” “Sejak kapan kamu jadi suka melakukan kekerasan pada suamimu sendiri, hm?” Naren pun menurunkan Rheva, tapi tangannya langsung menggenggam tangan Rheva. Ia tidak ingin Rheva kembali kabur darinya. Rheva tidak menjawab. Dirinya hanya bisa pasrah dan menurut saat Naren membawanya memasuki gedung perusahaan. Semua orang masih menatap mereka dengan senyum yang disembunyikan di balik tangan. Hal itu membuat Rheva merapatkan dirinya ke tubuh Naren. Mencoba bersembunyi dengan menggunakan tubuh Naren sebagai tameng. Rheva tidak berhenti merutuk dan memaki Naren di dalam hatinya. Sementara Naren hanya tersenyum kecil dengan sikap Rheva. Merasa lucu dengan sikap istrinya yang kini tampak seperti kelinci yang imut. “Lepaskan!” Rheva menghempaskan tangannya hingga tangan Naren terlepas begitu mereka berada di dalam lift. Naren mengernyit untuk sesaat sebelum mengurung Rheva ke dinding lift dengan tubuhnya. Sikap Rheva yang berubah-ubah, membuat wanita itu tampak menggemaskan di mata Naren. Hal itu membuat Naren tidak bisa menahan diri. Ia mencium Rheva dengan agresif. Rheva sangat terkejut dengan serangan dadakan dari Naren. Ia memberontak dan tidak sengaja menggigit bibir Naren dengan kuat. “Akh!” Naren seketika melepaskan ciuman mereka. Tangannya refleks menutupi mulutnya yang sangat sakit. Ada darah di telapak tangannya saat Naren menjauhkannya dari mulut. “Kenapa kamu menggigitku?” Rheva terkejut melihat darah di bibir Naren. Ada perasaan bersalah, tetapi ia mencoba untuk tidak peduli. “Itu ... itu salahmu sendiri. Kenapa kamu selalu menciumku?” Tatapan Naren berubah tajam. Ia kembali mengungkung Rheva. Lalu menciumi area leher Rheva. “Naren, apa yang kamu lakukan?!” Rheva berteriak histeris. Rheva memberontak dengan sekuat tenaga. Sayangnya Naren tidak melepaskannya. Ia justru semakin gencar menciumi lehernya. Bahkan kedua tangan Naren berpindah melingkar di pinggang Rheva. “Naren, lepaskan aku! Kamu benar-benar berengsek, Naren!” Rheva hanya bisa meluapkan amarahnya dengan sumpah serapah karena gerakannya yang terbatas. Naren mengabaikan teriakan Rheva meski telinganya sedikit berdengung. Bahkan Naren pun tidak menghentikan aksinya saat lift berhenti dan pintunya terbuka. Orang-orang yang menunggu di depan lift tampak terkejut dengan pemandangan itu. Begitu pun dengan Rheva. Seketika amarah dan malu menjadi satu. Lidahnya kelu untuk sekadar mengucapkan satu patah kata pun. Keterdiaman Rheva membuat Naren menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah orang-orang yang menatap mereka. Seketika itu juga, orang-orang di depan lift serempak membalikkan badan. Ada beberapa yang langsung berlari menjauhi lift. Ini sungguh berita besar! Ini pertama kalinya mereka memergoki atasan mereka bermesraan dengan istrinya di dalam lift. Dan ini benar-benar sangat langka! Pintu lift kembali tertutup. Naren menjauhkan dirinya dari Rheva. Tanpa merasa malu, pria itu berkata dengan santainya, “Sepertinya kejadian ini akan menjadi pembicaraan di antara para karyawan.” Rheva hanya bisa menunduk. Kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya mengepal erat. Amarah dan rasa malu menggumpal sedemikian besar dalam dirinya. “Hei, tidak perlu takut atau malu. Aku akan membungkam mereka yang melihat kita tadi jika kamu tidak ingin terjadi rumor.” Rheva mendongak. Ia menatap Naren dengan mata merahnya akibat menahan rasa malu dan marah. Sekuat tenaga Rheva melayangkan tangannya ke pipi Naren hingga wajah pria itu menoleh ke samping. “Kamu benar-benar berengsek, Naren! Kenapa kamu suka sekali melecehkan diriku? Kenapa?” Air mata membasahi wajah Rheva. Ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap Naren yang keterlaluan. Naren terkejut. Buru-buru ia membawa Rheva dalam dekapannya. Rheva hanya bisa pasrah. Ia terlalu lelah untuk menghadapi Naren. “Maafkan aku, Sayang.” Naren berkata dengan tulus. Ia tidak menyangka perbuatannya akan membuat istrinya menangis. Naren melepaskan pelukannya begitu lift berhenti di lantai 19. Digenggamnya tangan Rheva meninggalkan lift. Namun, baru beberapa langkah, Rheva melepas tangan Naren dengan cepat dan kembali lagi ke dalam lift tepat sebelum lift menutup sempurna. Untuk sesaat Naren terdiam karena terkejut. Saat ia berbalik, lift sudah bergerak turun. “Sial! Bisa-bisanya aku tertipu dengan wajah memelasnya itu. Lihat saja nanti, Sayang. Lain kali aku tidak akan melepaskanmu meski kamu memohon hingga menangis darah.” Naren menatap pintu lift di hadapannya dengan senyum licik sebelum berbalik dan melangkah ke ruang kerjanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN