Naren dan Rheva mengikuti langkah pelayan restoran yang membawa mereka ke sebuah ruangan pribadi. Malam tadi, setelah Rheva terlelap dan mengoleskan salep pada paha istrinya, Naren melakukan reservasi. Ia juga sudah mengirimi Naila pesan untuk datang pagi ini dan juga alamat restorannya.
“Terima kasih.” Naren tersenyum kecil kepada pelayan yang mengantar mereka setelah wanita itu membukakan ruang pribadi.
“Sama-sama, Pak.” Wanita itu tersenyum sembari membungkuk kecil. Lalu meninggalkan mereka.
Masih dengan menggandeng Rheva, Naren membawa Rheva melangkah masuk.
Di dalam, sudah ada seorang wanita yang menunggu mereka. Dilihat dari ekspresi wanita itu saat menatap dirinya, Rheva tahu bahwa wanita itu adalah Naila. Sebab dalam n*vel aslinya, hanya Nailalah satu-satunya wanita yang sangat membenci protagonis wanita. Menganggap protagonis wanita telah menghalangi cintanya dan Naren.
“Naren, kenapa kamu mengajaknya juga?” Naila menatap tidak suka dengan kehadiran Rheva. Apalagi saat Naren menarik kursi untuk Rheva duduki.
Naila tentu saja terkejut. Sejak kapan Naren begitu perhatian kepada Rheva? Bahkan saat mereka bertemu kemarin, Naren masih membenci Rheva.
“Kenapa? Dia istriku, aku berhak membawanya kemana pun aku pergi.” Naren menjawab dengan suara datar. Begitu pun dengan ekspresi wajahnya. Tidak ada lagi jejak keramahan yang sebelumnya menghiasi wajah tampan pria itu.
“Naren ....” Naila menatap tidak percaya dengan jawaban Naren.
Tanpa sadar, kedua tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat. Ia menatap Rheva penuh permusuhan. Ia yakin Rheva pasti telah meracuni pikiran Naren. Jika tidak, tidak mungkin Naren bisa berubah sikap begitu cepat.
Rheva tidak mau kalah. Ia pun menatap sinis Naila. Senyum mengejek menghiasi wajahnya. Hal itu tentu membuat Naila semakin yakin dengan pikirannya bahwa Rheva telah meracuni otak Naren.
“Tujuanku memintamu bertemu sekarang adalah untuk mengatakan sesuatu yang penting padamu, Naila.” Naren langsung mengutarakan tujuannya meminta Naila datang.
Baik Rheva dan Naila menatap Naren penuh rasa penasaran.
“Apa sangat penting sekali sampai kamu memintaku datang sepagi ini?” tanya Naila mewakili pertanyaan di benak Rheva.
“Ya, ini sangat penting.” Naren menatap Rheva dengan senyum kecil. Ia merangkul bahu istrinya. Lalu beralih menatap Naila dengan tatapan serius. Begitu pun dengan suaranya saat ia berkata, “Naila, aku ingin kita putus.”
Tidak hanya Naila, Rheva pun terkejut dengan pernyataan Naren. Kedua wanita itu menatap Naren dengan sorot tidak percaya.
“Naren, kamu bercanda, kan?” tanya Naila memastikan setelah tersadar dari keterkejutannya.
“Aku serius, Naila.” Naren menjawab tegas. “Kuakui bahwa sebelumnya aku memang sangat mencintaimu, tetapi hubungan kita ini salah. Karena itu aku ingin mengakhiri hubungan terlarang ini dan kembali kepada istriku.”
Dengan senyum kecil Naren menatap Rheva yang masih menatapnya dengan ekspresi terkejut.
“Aku tidak mau kita putus!” tolak Naila cepat.
Naila tidak terima jika Naren memutuskannya begitu saja. Apalagi alasan yang diberikan Naren tidak masuk akal, menurutnya. Sebelumnya Naren telah berjanji akan menceraikan Rheva dan menikahinya.
Naren menatap Naila tajam. Begitu pula dengan Rheva yang menatap Naila penuh ejekan.
“Aku tidak peduli kamu mau atau tidak. Yang jelas aku ingin mengakhiri hubungan denganmu.” Naren berkata datar.
“Naren, kamu tidak bisa melakukan hal ini kepadaku! Kita sudah hampir satu tahun bersama, kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja.”
“Apakah sebagai wanita kamu tidak memiliki rasa malu, Naila?” Rheva berkata dengan pelan tapi menohok. Ia sangat muak dengan sikap wanita itu.
Naila menatap nyalang Rheva. “Apa yang sudah kamu lakukan kepada Naren? Kamu pasti sudah menjelek-jelekkan aku dan memfitnahnya supaya memutuskan aku, kan? Kamu pasti sudah meracuni otak Naren, kan?”
“Naila, hentikan!” bentak Naren yang tidak terima Naila menuduh Rheva dengan tuduhan yang tidak berdasar.
Rheva tertawa keras mendengar tuduhan Naila. Tanpa kemarahan dia berkata, “Untuk apa aku memfitnahnya supaya menjauhimu?”
“Tentu karena kamu sakit hati karena Naren lebih memilihku dibandingkan dirimu.”
Rheva kembali tertawa. Ia menatap Naila penuh ejekan. “Asal kamu tahu saja, Naila. Aku bahkan sudah mencoba untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan supaya dia bisa leluasa denganmu. Kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia justru menghalangi dan mengancamku bahwa dia tidak akan melepaskanku.”
“Tidak mungkin! Naren tidak akan mungkin melakukan itu. Semua itu hanya omong kosongmu.” Naila tidak percaya dengan semua ucapan Rheva.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi, jika kamu ingin menyalahkan orang lain, maka salahkan saja Naren. Kenapa dia tidak mau aku bercerai dengannya dan justru lebih memilih untuk memutuskanmu?”
“Kamu bohong!”
Naila yakin semua ucapan Rheva adalah kebohongan. Ia yakin Naren tidak akan mungkin mempertahankan Rheva. Naren selalu berkata kepadanya bahwa pria itu akan menceraikan Rheva dan menikahinya. Sayangnya saat ini Naren tidak bisa melakukannya karena kakeknya masih belum mewariskan perusahaan Mahendra Group kepada Naren.
“Untuk apa aku berbohong kepadamu? Tidak ada gunanya. Kalau kamu mau mengambil Naren dariku, lakukan saja. Aku tidak keberatan.” Rheva berkata dengan menatap Naren penuh ejekan melalui ekor matanya.
Naren bukanlah satu-satunya laki-laki yang ada di dunia ini. Masih banyak laki-laki lain yang berterbaran di muka bumi ini. Dan Rheva tidak akan menghabiskan sisa hidupnya bersama pria yang tidak setia seperti Naren.
“Sayang!” Naren menatap terkejut dengan ucapan istrinya.
Rheva menatap sinis Naren. “Kenapa? Semua yang kukatakan memang benar. Kamu tidak mau aku menceraikanmu. Bahkan kamu menyuruh orang untuk menghalangi dan mengawasiku sepanjang hari supaya tidak menggugat cerai kamu. Tapi aku tidak keberatan kalau kamu ingin hidup dengannya. Aku justru akan sangat senang kalau kamu sendiri yang menceraikanku.”
Naren menghela napas pelan dengan kepala tertunduk. Namun, tangannya masih setia merangkul sang istri. Naren benar-benar tidak percaya Rheva masih ingin berpisah dengannya meski ia sudah menandatangai surat perjanjian yang diberikan oleh istrinya itu.
Naila yang melihat itu menatap nanar Naren. Ia tidak percaya Naren benar-benar melakukannya. Ia pikir Rheva hanya berbicara omong kosong untuk membuatnya menjauhi Naren. Ia pikir Rheva melakukan itu karena sakit hati, sebab Naren lebih memilih dirinya dibandingkan istrinya sendiri.
“Naren ....” Naila memanggil Naren dengan suara pelan, ada kegetiran pada nadanya.
Naren menatap Naila dengan wajah datar dan sorot mata tajam. “Jadi aku harap mulai saat ini berhentilah menggangguku.”
Naren meraih tangan Rheva dan mengajaknya meninggalkan ruangan pribadi itu.
“Naren, kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku! Naren!” teriak Naila histeris kepada Naren yang terus berjalan meninggalkan ruangan, mengindahkan teriakan Naila yang terus memanggil namanya.
“Kasihan sekali Naila. Tampaknya dia sangat terluka,” komentar Rheva yang mengikuti langkah Naren.
Rheva benar-benar tidak menyangka Naren akan memutuskan hubungannya dengan Naila seperti pada syarat pertama di surat perjanjian.
“Apa peduliku?” Naren berkata santai tanpa ada perasaan bersalah sama sekali karena telah memutuskan Naila secara sepihak. “Bukankah itu yang kamu inginkan?”
Rheva memang ingin Naren memutuskan Naila, tetapi tidak menyangka pria itu akan melakukannya tepat di hadapannya secara langsung. Apakah Naren melakukan itu untuk membuatnya percaya, sementara di belakang dirinya, mereka masih akan tetap menjalin hubungan?
Jika benar seperti itu, maka jangan salahkan dirinya berbuat nekat. Ia akan memberi perhitungan kepada mereka berdua jika dirinya sampai memergoki mereka masih berhubungan.