Perasaan takut seketika menghantui Rheva. Naren menyeringai sembari mendekatkan kepalanya ke wajah Rheva.
“Apa yang mau kamu lakukan?” Rheva mencoba menjaga suaranya tetap tenang, tetapi ternyata tidak bisa. Suaranya justru bergetar karena takut. “Hei, Naren! Apa yang ingin kamu lakukan?!”
Rheva mencoba mendorong tubuh Naren untuk menjauhi dirinya. Namun, Naren dengan cepat menangkap kedua tangan itu. Meletakkannya di atas kepala Rheva, sedikit menekannya ke dinding.
“Naren, kamu jangan macam-macam denganku!” ancam Rheva.
“Aku tidak macam-macam. Aku hanya ingin memberimu sedikit hukuman.”
“Memang apa salahku? Seharusnya aku yang menghukummu karena sudah melecehkanku berkali-kali.” Perasaan takutnya kini berubah kesal usai mendengar ucapan Naren.
“Kamu pura-pura lupa atau memang sudah lupa? Jangan kamu pikir aku diam saja dengan apa yang sudah kamu katakan kepada kakek tentangku tadi.”
Rheva menelan ludah susah payah. Perlahan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jika ia tahu Naren akan marah, ia tidak akan mengadu kepada Aditya di depan Naren. Sayangnya ia terlalu bersemangat dan tidak ingin melepaskan kesempatan emasnya begitu saja.
Rheva benar-benar menyesal. Ia lupa bahwa Naren pasti akan membalasnya.
Rheva mencoba tersenyum manis. Berharap Naren luluh dengan senyumannya.
“Naren, untuk itu aku minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku ... aku mengatakannya karena aku kesal. Aku tidak memiliki tujuan lain.”
Alis Naren terangkat tinggi. “Benarkah?”
Rheva mengangguk cepat. “Ya! Itu benar. Aku berjanji aku tidak akan melakukannya lagi. Aku bersumpah.”
“Sayangnya aku bukanlah orang pemaaf, Sayang. Apa yang kamu lakukan, aku menginginkan bayarannya.”
“Ma-maksudmu?”
“Aku ingin b******a denganmu malam ini.” Naren membawa satu tangan Rheva ke selangkangannya, meletakkan tangan itu tepat di kejantannya. “Dia sudah sangat keras sekali, Sayang.”
Mata Rheva membulat sempurna. Refleks ia menarik tangannya dengan cepat. Sayangnya Naren menahannya di sana.
“Naren, lepaskan!”
“Kenapa? Aku tidak memintamu lebih sebagai bayaran atas fitnah yang kamu katakan kepada kakek. Aku hanya ingin kamu memainkannya. Atau, kamu ingin kita langsung bermain? Kalau memang itu keinginanmu, aku akan dengan senang hati menerimanya.”
Naren pun melepaskan kungkungannya. Menggendong Rheva dan membawanya ke tempat tidur.
“Naren, lepaskan aku!” Rheva meronta dalam gendongan Naren. Ia memukul-mukul keras Naren sekuat tenaga. Mengabaikan rasa sakit di tangannya.
Naren mengabaikan teriakan Rheva yang memekakkan telinganya. Sesampainya di tempat tidur, Naren menghempaskan Rheva dan mengungkung tubuh wanita itu supaya tidak kabur.
Jantung Rheva berdebar kencang karena takut. Kali ini dirinya benar-benar takut Naren akan menggagahi dirinya. Bagaimanapun Rheva masih belum siap untuk kehilangan keperawananya.
“Naren, kumohon,” lirih Rheva kala Naren mendekatkan wajahnya. “Aku berjanji aku tidak akan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada kakek, tapi tolong lepaskan aku. Kumohon.”
“Sudah terlambat, Sayang. Seharusnya kamu memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu sebelum mengatakan hal buruk mengenaiku pada kakek.”
Tubuh Rheva meremang hebat kala tangan besar dan hangat Naren menyentuh dirinya dari balik pakaian.
“Naren, kumohon. Tolong maafkan aku.” Mata Rheva berkaca-kaca. Ia benar-benar ketakutan sekali saat ini.
Naren mengabaikan permohonan Rheva. Ia menggesekkan kejantanannya tepat di bagian pribadi Rheva yang masih tertutup pakaian.
Rheva meremang hebat hingga tubuhnya sedikit bergetar. “Daripada kamu melecehkanku seperti ini, lebih baik kamu bunuh aku saja, Naren!”
Naren tersenyum miring. “Tentu, Sayang. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan membunuhmu dalam kenikmatan surga dunia. Aku akan membuatmu melayang dan merasakan apa artinya kenikmatan surga dunia.”
“Kamu memang b*jingan, Naren!” Rheva berteriak putus asa. Air mata kini mengalir di wajahnya.
Naren segera menghentikan aksinya menjahili Rheva. Ia tidak menyangka dan terkejut melihat Rheva menangis.
“Hei, Sayang. Jangan menangis. Aku hanya bercanda saja. Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya.” Naren mencoba menenangkan Rheva yang terus mengeluarkan air mata.
“Kamu berengsek, Naren! Aku membencimu!”
Naren bangkit dari atas tubuh Rheva. Merebahkan diri di samping wanita itu. Lalu mendekapnya. “Iya, aku tahu. Maafkan aku. Sekarang berhentilah menangis.”
Rheva tidak berontak. Dirinya sangat lelah untuk menghadapi Naren. Hari ini Naren benar-benar telah menguras emosinya. Karena itulah ia hanya bisa diam saja dalam dekapan Naren.
Rheva tidak tahu kapan ia terlelap. Saat membuka mata, ia sudah tidak menemukan Naren di kamar. Ia menghela napas lega karena tidak harus melihat Naren saat membuka mata. Namun, kelegaan itu mendadak berubah menjadi keterkejutan dan amarah.
“Naren!” teriak Rheva sekencang mungkin.
Rheva bangkit dari tempat tidur, berlari keluar kamar untuk mencari keberadaan Naren. Namun, saat ia membuka pintu, dirinya menabrak Naren yang kebetulan hendak masuk ke kamar.
Rheva terpental, tetapi Naren dengan sigap meraih pinggang Rheva sebelum gadis itu terjatuh. “Ada apa denganmu? Kenapa terburu-buru begitu?”
Rheva melepas paksa tangan Naren di pinggangnya. Lalu, ia menampar wajah Naren sekuat mungkin. Ia menatap nyalang Naren.
“Apa yang kamu lakukan padaku?! Kamu benar-benar pria berengsek, Naren. Kamu baj*ngan!”
Naren mengeryit bingung. Tidak mengerti dengan kemarahan Rheva yang ditujukan kepadanya.
Naren menangkap tangan Rheva yang kembali hendak menamparnya. “Ada apa denganmu? Kenapa pagi-pagi sudah marah begitu?”
“Kamu tidak perlu berpura-pura bodoh. Kamu sudah merenggut keperawananku.” Rheva berteriak marah. “Seharusnya aku tidak mempercayaimu. Kamu benar-benar pria berengsek, Naren!”
Naren tersenyum menyeringai mendengar ucapan Rheva. “Itu salahmu sendiri. Kenapa kamu tampak menggoda saat tidur. Jadi jangan salahkan aku tidak bisa menahan diri.”
“Kamu!” suara Rheva tertahan. Ia sangat marah hingga sulit untuk berkata-kata.
Rheva membuang muka, meninggalkan Naren yang berdiri di ambang pintu dengan senyum menyeringai.
Rheva masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tertegun saat membuka jubah tidurnya. Ternyata pakaian dalam yang dikenakannya masih lengkap. Namun, yang membuat Rheva sangat terkejut adalah memar di pahanya. Bekas cubitan yang ia lakukan malam tadi, kini sudah tidak terasa sakit lagi. Begitu pun dengan telapak tangannya.
“Mungkinkah?” gumam Rheva masih dengan keterkejutannya. Lalu menggeleng cepat. “Tidak! Dia tidak mungkin tahu kalau aku mencubit pahaku malam tadi. Jika dia mengetahuinya, dia pasti akan memberitahu kakek kalau aku hanya pura-pura menangis di hadapannya. Tapi nyatanya dia hanya diam saja.”
Rheva mengangguk berulang kali, meyakini pikirannya bahwa Naren tidak akan mengetahui apa yang dilakukannya malam tadi.
Tidak ingin memikirkannya, Rheva pun bergegas mandi. Naren tidak ada di kamar saat ia keluar dari kamar mandi. Di atas tempat tidur, ada sebuah pakaian dan pesan.
‘Gunakan salep ini untuk menghilangkan memar di pahamu.’
Rheva menatap tidak percaya pada kertas di tangannya. Ia tidak menyangka bahwa pria itu mengetahuinya. Namun, kenapa pria itu diam saja? Apa alasan di balik diamnya Naren?
“Jangan-jangan dia memiliki rencana di belakangku.” Rheva bermonolog. “Sepertinya mulai saat ini aku harus waspada padanya. Ternyata aku terlalu meremehkan pria itu.”
Rheva pun mengoleskan salep pada memar di pahanya. Setelah itu ia mengenakan pakaian.
Naren memasuki kamar tepat setelah Rheva selesai mengenakan pakaian. Pria itu tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi ke kamar mandi. Hal itu tentu saja membuat Rheva heran. Namun, ia tidak ambil pusing. Ia segera berhias sebelum meninggalkan kamar.
Saat tiba di lantai bawah, Rheva bertemu Aditya. Mereka berjalan bersama menuju ke ruang makan. Mereka mengobrol sebentar sembari menunggu Naren turun untuk sarapan bersama.
Usai sarapan, Naren membawa Rheva pergi meninggalkan kediaman utama Mahendra. Rheva tidak bisa menolak. Ia tidak tahu apa yang akan Naren lakukan jika ia menolak ajakan pria itu.
“Kenapa kita ke sini?” Rheva mengernyit bingung ketika Naren menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
“Kita akan menemui seseorang.” Naren keluar dari mobil diikuti Rheva. Lalu menggandeng tangan istrinya memasuki restoran.