BAB 4 : Bersandiwara

1196 Kata
Gerakan tangan Rheva terhenti. Seketika sebuah ide melintas di kepalanya. Ia menatap Aditya dengan ekspresi sedih. Lalu menggeleng kecil sembari berkata dengan suara yang ia buat sesedih mungkin, “Tidak apa-apa, Kek,” Mata Aditya menyipit tajam. Tidak percaya dengan ucapan Rheva. Aditya mengalihkan pandangannya kepada Naren. Menatap tajam pria pria itu. Seketika aura di sekitar mereka berubah mencekam. “Jawab aku, Naren. Apa kamu yang menyakiti Rheva?” Rheva melirik Naren. Kedua sudut bibir Rheva sedikit terangkat. Untuk meyakinkan aktingnya, diam-diam Rheva menurunkan tangannya yang berada di atas meja. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum mencubit pahanya dengan kuat. Mencegah untuk tidak berteriak. Seketika air mata turun membasahi wajahnya. Aditya terkejut dengan Rheva yang tiba-tiba menangis. Begitu pun dengan Naren. Ia yang hendak membantah tuduhan Aditya pun kembali menelan kata-katanya. “Rheva, kamu kenapa?” Aditya dan Naren bertanya bersamaan. Rheva menghapus air matanya. “Maafkan aku, Kakek. Aku ... aku sudah tidak kuat lagi.” Rheva bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan air mata. Karena itu, untuk terus membuat air matanya mengalir, ia terus mencubit pahanya. “Apa maksudmu?” Aditya bertanya cepat. Sementara Naren mengernyit bingung. Rheva tidak langsung menjawab, tetapi justru melirik Naren dengan ekspresi takut-takut. Naren semakin mengernyit bingung dengan sikap Rheva. Berbeda dengan Aditya yang dibuat geram. Kedua tangannya terkepal erat. “Katakan saja, Rheva. Tidak perlu takut dengan Naren. Aku akan melindungimu,” perintah Aditya tegas. Rheva menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Aditya. Bagaimanapun ia tidak pandai bersandiwara. Ia takut Aditya akan mengetahui bahwa dirinya hanya bersandiwara. “Sebenarnya ... sebenarnya beberapa hari terakhir ini, Naren suka sekali menyakitiku, Kek.” Rheva berkata dengan takut-takut, sesekali ia melirik Naren yang duduk di sebelahnya. Naren terkejut mendengar ucapan istrinya. Meski begitu, ia tidak marah, tetapi justru tersenyum miring. Tidak menyangka istrinya itu pandai bersandiwara tepat di hadapannya. Aditya menatap tajam Naren. Amarah semakin membuncah saat melihat senyum di wajah Naren. “Sekarang Naren tidak hanya berselingkuh dengan Naila saja, Kek.” Rheva melanjutkan ucapannya, “Tapi sekarang dia mulai bermain tangan padaku. Malam tadi aku membuka ponselnya yang berdering, yang ternyata itu pesan dari Naila. Saat Naren tahu aku membuka ponselnya, dia langsung memukuli tanganku. Lihat, Kek.” Rheva menunjukkan telapak tangannya yang merah kepada Aditya. Seketika Aditya menggebrak meja. Wajahnya merah padam karena amarah. “Kamu benar-benar keterlaluan, Naren!” murka Aditya. “Aku tidak pernah mengajarimu untuk menyakiti wanita. Apalagi menyakiti istrimu demi selingkuhanmu!” “Kakek, ini tidak seperti apa yang Rheva katakan,” sahut Naren membela diri. Ia benar-benar tidak menyangka Rheva akan memfitnahnya seperti itu hanya untuk bisa berpisah dengannya. “Jadi kamu mau bilang bahwa Rheva mengada-ada? Begitu? Bukti sudah jelas di depan mata, tapi kamu masih mencoba untuk mengelak. Kamu benar-benar keterlaluan, Naren!” Di balik wajah sedihnya, Rheva tertawa keras dalam hati. Ia puas karena bisa membuat Aditya membela dirinya dan memarahi Naren. Jika dirinya tidak bisa menghadapi Naren, maka tidak ada salahnya ia meminjam tangan Aditya untuk memberi pelajaran kepada Naren. Rheva yakin Naren pasti sangat marah kepadanya saat ini. Dan itu adalah hal yang ia inginkan. Dengan Naren membenci dirinya, Rheva yakin secepatnya Naren pasti akan menceraikannya. Naren tertunduk. “Maafkan aku, Kek. Aku khilaf.” “Kalau begitu, mulai malam ini kalian tinggal di sini. Aku tidak akan membiarkan kalian tinggal sendiri dan membuatmu leluasa menyakiti cucu menantuku.” Rheva refleks menatap Aditya dengan tatapan tidak percaya. Ia tentu saja panik dengan keputusan Aditya. Sementara Naren masih setia menundukkan kepalanya. “Tidak perlu, Kakek. Aku tidak ingin merepotkan kakek. Biarkan kami tinggal di rumah kami sendiri.” Bukan Rheva tidak ingin tinggal di kediaman utama Mahendra. Dalam n*vel, Aditya digambarkan sangat menyayangi cucu menantunya, pritagonis wanita. Namun, jika mereka tinggal di kediaman utama Mahendra, maka dirinya akan tidur sekamar atau mungkin seranjang dengan Naren. Tidak! Jika itu adalah protagonis wanita, mungkin akan setuju untuk tinggal di kediaman utama Mahendra. Akan tetapi, sekarang ia bukanlah protagonis wanita meski dirinya berada di tubuh protagonis wanita. Dan ia tidak ingin tidur di kamar dan tempat tidur yang sama dengan Naren. Tidak akan pernah! “Baik, Kek.” Naren menjawab dengan masih menundukkan kepala. Namun, di balik wajah itu, tidak ada yang tahu bahwa sebuah senyum licik menghiasi wajah tampannya. Rheva menatap tajam Naren. Kekesalan dan amarah kembali merayapi dirinya. Ingin rasanya ia menghajar Naren hingga babak belur saat ini. Sayangnya mereka sekarang berada di kediaman utama Mahendra. Sehingga ia harus bisa bersikap lemah lembut di hadapan Aditya. Jika mereka di rumah mereka sendiri, Rheva benar-benar akan membunuh Naren. Lebih baik dirinya masuk penjara dibandingkan harus tidur bersama Naren. “Lebih baik kita lanjutkan makan malamnya.” Aditya memberi perintah. Aditya menatap tajam Naren dan berkata, “Naren, kamu suapi istrimu.” “Baik, Kek.” Naren menjawab patuh. Ia pun segera menyuapi Rheva dengan telaten. Rheva tidak punya pilihan lain selain membiarkan Naren menyuapinya. Suasana makan malam diisi keheningan dan sedikit mencekam. Tidak ada satu pun orang yang membuka suara. Hal itu membuat Rheva merasa tidak nyaman. Usai makan malam, Aditya meminta mereka berdua berkumpul di ruang keluarga. Pria tua itu menasihati Naren dengan begitu banyak wejangan. Rheva tertawa keras dalam hati melihat Naren hanya tertunduk patuh. “Aku ingin kamu menjauhi Naila mulai sekarang. Selain itu, aku tidak ingin melihat Rheva terluka karenamu. Jika sampai aku mendapati Rheva terluka meski hanya seujung kuku, maka jangan salahkan aku jika memberimu hukuman berat.” Aditya mengakhiri wejangannya dengan ancaman kepada Naren. Aditya meraih tangan Rheva yang duduk di sampingnya. Dengan suara lembut ia berkata, “Kamu tenang saja, Rheva. Aku akan melindungimu dari siapa pun. Terutama dari Naren. Jika dia masih berani menyakitimu, katakan padaku, biar aku yang memberi dia pelajaran.” Rheva mengangguk cepat. “Iya, Kek. Terima kasih banyak karena kakek mau membelaku.” Rheva mencoba mengeluarkan air matanya, Sayangnya tidak berhasil. Ia hanya bisa memasang ekspresi sedih untuk meyakinkan Aditya bahwa dirinya tertindas oleh Naren. “Apa yang kamu katakan? Kamu cucu kesayanganku, tentu aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, termasuk Naren.” Aditya membawa Rheva dalam pelukannya. “Mulai sekarang, jangan pernah memendam masalahmu sendiri. Jika Naren berani menyakitimu meski hanya seujung kuku, beritahu aku. Kamu paham, Rheva?” Meskipun Aditya berkata dengan lembut kepada Rheva, tetapi ia menatap tajam Naren yang kini masih menundukkan kepalanya. “Iya, Kek.” “Baiklah. Sekarang sudah malam, kalian istirahatlah.” Aditya menatap Naren yang kini sudah tidak menunduk lagi. “Jika kamu berani menyakiti Rheva, aku benar-benar akan menghukummu, Naren. Kamu ingat itu.” “Iya, Kakek. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi.” “Ya sudah, kalian tidur sana.” Rheva hanya bisa pasrah saat Naren meraih tangannya. Membawanya ke lantai dua, di mana kamar Naren berada. Setelah memastikan bahwa Aditya tidak melihat mereka, Rheva menarik tangannya dari genggaman Naren. Sayangnya tidak berhasil. Naren memegangi tangannya dengan erat, tetapi tidak menyakitkan. “Naren, lepas!” geram Rheva dengan suara rendah, takut Aditya akan mendengar suaranya. Naren diam saja. Ia terus melangkah ke kamarnya. Sesampainya di kamar, tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Rheva, Naren menutup pintu dan menguncinya. Lalu ia meraih bahu Rheva dan menyandarkan wanita itu ke pintu, mengungkungnya supaya tidak kabur. “Na-Na-Naren. Apa yang ingin kamu lakukan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN