"Gus, apa kita harus benar-benar melakukan ini pada putri kita?" Suara itu terdengar lemah dan sedikit serak. Kutebak, pemiliknya pasti sudah menangis untuk waktu yang lama. "Aku juga tidak ingin melakukannya, Ning. Tapi ini demi kebaikan Asha." Suara itu memiliki nada kesedihan yang begitu nyata. Mereka adalah orang-orang yang sudah memberiku kehidupan selama delapan belas tahun ini. Ning Jea dan Gus Ayas, begitu orang-orang memanggil keduanya. "Kebaikan macam apa yang sedang kamu bicarakan, Gus? Membiarkannya sendirian dan kesepian, apa itu bisa disebut kebaikan?" Terdengar helaan napas berat dari Gus Ayas, dari pantulan cermin yang menghadap ke kamarku, aku bisa melihat lelaki itu menengadahkan kepala seolah berusaha menghentikan sesuatu yang hendak turun dari sudut mata. Aku sen

