Apa rasanya menjadi orang asing yang dipungut dan dijadikan keluarga oleh seseorang, lalu kembali dijadikan asing dalam sekejap? Itu menyakitkan. Aku sedang mengalaminya saat ini. Untungnya meski hidup dan tinggal satu atap, kehidupanku tak pernah sepenuhnya terlibat dengan mereka, kecuali Ning Jea. Meski begitu, perasaan terasing ini masih begitu nyata saat kali pertama membuka mata di ruangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Mukhfi? Benarkah ini tempatnya?” Aku bangkit dari tempat tidur sambil mengucek mata, memastikan bahwa penglihatanku tidak salah. Rasanya tempat ini terlalu terang untukku. Berkas cahaya yang masuk dari celah ventilasi membuatku menyipitkan mata dan berusaha mengindar. Rasanya pasti tidak lucu kalau aku harus mati di hari pertama karantina hanya karena cah

