Lelaki terbaik, yang selalu membuatku jatuh cinta bahkan saat dia tidak melakukan apa pun. Yang mampu membuat otakku macet total, dan detak jantung menjadi sangat kampungan karena melihatnya, hanya ada satu. Ayas. Senyumnya yang hangat, tatapanya yang lembut, dan bibirnya yang bergerak atau tawanya yang berderai derai, mampu meledakan semangat dalam diriku, bahkan saat seluruh dunia sedang mengutuk napasku. "Kenapa?" Ayas memelukku dari belakang, mataku masih fokus pada ulat hijau gagal diet yang sangat memprihatinkan. "Kasihan." Ayas melongok ke depan, menyandarkan dagunya di bahuku. Manja. "Kenapa?" Dia masih belum mengubah perrtanyaan. "Tadi, beberapa anak melemparkannya. Entah karena takut, atau memang menganggap ulat ini sebagai mainan, tapi aku membayangkan, gimana kalau kit

