Sebuah Dendam

2448 Kata

"Asrul?" "Kenapa? Kamu kaget?" Dia tersenyum sinis. "Ah, mungkin aku perlu mengingatkanmu tentang sesuatu. Kamu pernah mengatakan, bahwa kenyataan kamu masih bernapas, adalah bukti kalau aku masih hidup. Aku setuju dengan ucapanmu. Karena satu-satunya yang akan membuat napasmu berhenti adalah aku." Aku tidak bisa bicara, kerongkonganku baru saja disumbat dengan sesuatu yang sangat padat, aku yakin itu. Bahkan otakku juga dibuat macet. Tidak ada satu pun dari kalimat Asrul yang bisa kucerna dengan baik. Semua terasa abu-abu bagiku. Tubuhku masih menggelepar tak berdaya di lantai, dan ruangan serba putih ini, ini adalah tempat yang sama, dimana Gus Anam pernah menghajar bapak habis-habisan, dan tempat yang sama di mana Asrul pernah memberiku semangat untuk menemukan bapak. Laboratorium

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN