BAB DUA PULUH

4274 Kata
Fakultas kedokteran Universitas Bumi Mataram pukul dua belas siang. Terik terasa menyengat di bulan Juli. Hal itu tak menyurutkan semangat mahasiswa baru untuk lebih mengenal tentang kampus tempat mereka belajar. Leon baru selesai dengan kelas anatomi. Setelah mengakhiri kelas dengan memberikan beberapa tugas kepada mahasiswanya, lelaki tampan itu segera kembali ke ruang dosen departemen forensik. Terlihat beberapa dosen berada di tempat duduk nya dengan aktivitas mengetik. Dari sepuluh dosen departemen forensik, hanya Leon lah yang masih menyandang dosen termuda. Lelaki itu meletakan tablet yang setia ia bawa di atas meja. Kursi empuk besar nya segera ia duduki setelah beberapa hari ia tidak berada di kantor itu. Hampir sebagian kegiatan sebagai dosen forensik ia habiskan di Rumah Sakit Akademik sekaligus sebagai penanggung jawab instalasi forensik. Sebotol air mineral dingin segera ia tenggak, leher kering yang sedari tadi ia rasa seketika basah menghilangkan rasa dahaga. "Pak Leon, kemarin ada mahasiswa yang nyari buat wawancara lho." bu Fatma yang meja kerjanya berada di seberang memberitahu. "Mahasiswa baru kan bu? Iya dia sudah kontrak waktu dengan saya." Leon tersenyum. "Pak Leon, kalau ketemu sama mba Ivonne sampaikan salam saya ya. Saya benar-benar nge fans sama dia pak." Celetuk pak Faizal. Dosen berbadan gempal yang sudah lama menggemari aksi lenggak lenggok Ivonne diatas catwalk. "Wah saya jarang ketemu Ivonne sekarang pak. Tapi kalau ketemu akan saya sampaikan salam dari bapak." Leon tersenyum memandang rekan nya. "Lho kenapa? Sedang LDR kah?" celetuk bu Sinta yang membuat semua dosen yang berada di ruangan menatap ke arah Leon. "LDR? Saya kan nggak pacaran sama Ivonne bu Sinta hehehe." Leon terlihat salah tingkah. "Ah, pacaran juga nggak papa pak Leon. Kita malahan seneng lho kalau gosip yang selama ini beredar itu kenyataan." sambung pak Faizal. "Hah gosip? Gosip apaan lagi yah pak? Haduuh ada-ada saja hehehe." Leon terkekeh. Terlihat semua orang ikutan terkekeh. Jam telah menunjukan pukul setengah satu, dosen muda itu izin meninggalkan ruangan untuk menuju masjid kampus yang terletak tak jauh dari kantin. Shalat berjamaah telah selesai, tetapi masih terlihat beberapa mahasiswa dan dosen yang mengejar waktu shalat termasuk Leon. Lelaki itu membasuh wajahnya di area wudhu. Setelah selesai, ia segera masuk dan mengerjakan kewajiban nya sebagai seorang muslim. Lima belas menit berselang, Leon keluar dari dalam bangunan menuju teras masjid. Lelaki itu menghembuskan nafas berat berfikir kenapa orang-orang masih belum bisa melupakan gosip yang pernah beredar bersama Ivonne. Padahal peristiwa itu sudah lima bulan lebih berlalu dan Donovan beserta rekan-rekan nya berhasil dibungkam. Lamunan lelaki itu tersadar saat seseorang menyapa dari arah samping. "Maaf permisi kak, saya mau mengambil sepatu saya." seseorang menyapa dengan sopan nya. Tersadar dari lamunan, Leon segera mencari arah suara yang terdengar lembut di sampinya. Wanita berwajah western tersenyum menatap Leon. Melihat pakaian yang masih mengenakan seragam hitam putih serta memakai jas almamater, agaknya ia seorang mahasiswa baru. "Eh maaf." Leon menggeser duduk agar mahasiswa baru itu bisa mengambil sepatu nya. Gadis itu tersenyum dan terlihat mengambil sepatu untuk segera dipakai. "Gadis itu cantik ...." gumam Leon dalam hati. "Terimakasih kak." Rhea tersenyum. "Kamu, mahasiswa baru dek?" Leon memberanikan diri bertanya. "Ehh iya betul kak. Saya mahasiswa baru. Kalau kakak angkatan berapa ya?" Rhea berusaha bersikap ramah dengan orang yang ia sangka adalah kakak angkatan. Wajah tampan dan penampilan yang terlihat trendi membuat Leon lebih pantas disebut sebagai mahasiswa daripada dosen. Leon terlihat terkejut dengan pertanyaan mahasiswa itu, tetapi ia kemudian tersenyum geli. "Saya angkatan 2018." goda Leon asal bicara. "Wah, berarti sedang tahun terakhir dong kak? Sedang skripsi." Rhea terlihat terkejut. "Yah, begitulah. Kamu bule?" Leon menatap wajah gadis itu sembari tersenyum. "Ehh iya kak. Papah saya asli Belanda." Jelas Rhea sembari memasang sepatunya. "Oh, kamu muslim ya? Maaf ya, aku sempat ngira kalau kamu non muslim." Leon sembari menunjuk ke arah dalam masjid. "Oh hahaha iya kak, saya alhamdulillah muslim dari lahir. Nggak papa kak, banyak kok yang nyangka saya non muslim." jelas Rhea sembari tersenyum. Matanya yang sipit dan lesung pipi yang terlihat jelas ketika tersenyum membuat gadis itu terlihat semakin cantik. "Oke, kalau gitu aku duluan ya. Bye." Leon tersenyum dan segera meninggalkan gadis itu. Rhea hanya tersenyum memperhatikan lelaki ramah yang baru saja menjadi teman baru nya. Teman? Gadis itu menepuk jidatnya, kenapa ia tidak menanyakan namanya. Rhea menggelang-gelangkan kepala menyesali kebodohan menyia-nyiakan berkenalan dengan lelaki tampan sekaligus ramah itu. Gadis itu menghembuskan nafas sesaat dan segera kembali berkumpul dengan kelompok nya. ***** Kegiatan orientasi hari itu telah selesai dengan lancar. Langit jingga membentang indah di cakrawala Jogja sore itu. Kelompok urologi berkumpul kembali di bawah gazebo sebelum mereka beranjak pulang. Terlihat mereka sedang berdiskusi terkait tugas surprise harian masa orientasi. Semakin hari tugas yang diberi bertambah banyak. Hal ini mengharuskan mereka bekerja dengan cepat agar bisa mendapatkan bahan sebelum malam tiba. Sesuai kesepakatan kemarin, Rhea dan Zeea bertugas mewawancarai dosen misterius yang telah kontrak waktu dengan mereka. Beberapa pertanyaan telah mereka siapkan. Sementara anggota kelompok yang lain berpisah untuk mencari bahan tugas kelompok. Kedua mahasiswa itu segera memisahkan diri untuk menuju Rumah Sakit Akademik. Jalanan menuju area Rumah Sakit Akademik fakultas kedokteran nampak selalu padat. Rumah Sakit yang berjarak kurang lebih satu kilometer itu adalah tempat praktik calon - calon dokter muda Universitas Bumi Mataram. Lima belas menit berlalu, Rhea segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Mereka sengaja datang lebih awal dari kontrak waktu agar tidak terlambat. Sementara jam telah menunjukan pukul lima sore. Gedung bertingkat lima nampak megah diantara bangunan sekitar. Di lantai dua terdapat jembatan yang menghubungkan langsung ke gedung fakultas kedokteran UBM. Layanan rumah sakit bertipe B itu sangat lengkap. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya kunjungan pasien untuk berobat, bahkan ketika sore menjelang. Rhea telah merapikan penampilan nya dengan memakai jas almamater, begitu pula dengan Zeea. Kedua mahasiswa itu segera berjalan memasuki lobi rumah sakit untuk mencari letak ruang forensik. Bingung sempat melanda kedua mahasiswa itu dikarenakan luas bangunan rumah sakit dan mereka baru pertama menginjakan kaki di rumah sakit akademik. Seorang security berhasil mereka tanyai dan dengan ramah nya menunjukan arah dimana area instalasi forensik berada. Setelah mengucapkan terimakasih, kedua bersahabat itu segera mengikuti arah yang ditunjukan oleh staf security. Mereka menyusuri lorong area rawat inap yang terlihat ramai dengan para pengunjung. Berjalan melalui beberapa paviliun, terlihat papan yang menunjukan arah ruang forensik berbelok ke kanan. Mereka saling berpandangan, sedikit rasa ragu mulai menyusupi pikiran kedua mahasiswa itu. Karena lorong dihadapan mereka kini benar-benar terlihat sepi, berbeda dengan area lorong di sekitar rawat inap. "Rhe, perasaan gue mulai nggak enak nih." celoteh Zeea sembari memperhatikan keadaan sekeliling. "Duuh nggak enak kenapa si?" Rhea menatap wajah sahabat nya yang mulai terlihat pucat. "Gue belum pernah masuk ke kamar mayat. Gue takut." Zeea mencoba jujur. "Gue juga belum pernah kali. Tapi mau gimana lagi Zee. Mau nggak mau kita harus ketemu tuh dosen disana hari ini. Kalau nggak, kita nggak tau bisa ketemu kapan lagi." Rhea mencoba memberanikan diri. "Duuh ... mana tuh lorong di depan sepi banget lagi. Gue takut sumpah." Zeea semakin terlihat panik. "Yaudah lu pegang tangan gue deh, oke? Semangat Zee, tarik nafas dalam, rileks dan berdoa selalu." Rhea mencoba menyemangati. Kedua gadis itu kembali berjalan menyusuri lorong sepi yang terasa panjang bagi mereka. Rhea tau sahabatnya sudah ketakutan, tetapi dia berusaha untuk tidak terlihat takut di depan sahabatnya itu. Ruang peruktian jenazah semakin terlihat didepan mata mereka. Kini suasana di sekitar mereka benar-benar sepi tanpa ada satu orang pun yang melintas. Samar-samar suara adzan magrib mulai terdengar. Rhea menatap jam tangan yang telah menunjukan pukul lima lebih empat puluh lima menit. "Rhe, maghrib nih." Zeea kembali memandang sahabat nya. "Iya gue tau. Pasti dosen itu udah nunggu. Tapi masalahnya dimana ya?" Rhea celingukan mencari keberadaan dosen misterius itu. "Nggak mungkin juga kan kita masuk kedalam Rhe?" Zeea panik kalau-kalau mereka harus masuk kedalam kamar mayat. "Bentar deh gue w******p itu dosen dulu." Rhea mengambil handphone dan segera mengetik pesan. "Pak, kami sudah di departemen forensik. Saya bisa bertemu bapak dimana ya?" Rhea dan Zeea duduk di sebuah bangku panjang yang berada di dekat pintu ruang rukti. Selang beberapa saat suara notifikasi dari handphone pun terdengar. "Masuk sj, sy ada di dlm." Rhea berpandangan dengan Zeea setelah membaca isi pesan dari dosen misterius itu. "Serius nih kita masuk Rhe?" Zeea meyakinkan sahabatnya. "Yah perintahnya juga gitu kan Zee." Rhea terlihat bingung. "Tap ... tapi ini, kamar mayat lho Rhe." Zeea terlihat semakin panik. "Iya gue tau, yaudah yook masuk. Semakin cepet kita ketemu tuh dosen, kita juga semakin cepet pulang Zee. Kamu pegangan tangan aku aja oke. Kita masuk sama-sama. Bissmillah." Rhea berusaha menguatkan sahabatnya agar tidak takut. "Oke, bissmillah." Setelah berusaha mengumpulkan keberanian, akhirnya kedua bersahabat itu membuka ruang rukti perlahan. Ceklek .... Hawa dingin langsung mereka rasakan ketika pintu besar ruang rukti terbuka perlahan. Rhea mengintip keadaan sekitar terlebih dahulu. Perlahan gadis itu menberanikan diri melangkahkan satu per satu kaki masuk ke dalam ruangan. Hawa dingin semakin terasa menusuk kulit tatkala mereka sudah berada di dalam ruangan. Disana terlihat beberapa tubuh tertutup kain putih diatas meja rukti. Beberapa tumpuk peti mati terlihat di pojok ruangan. Suara deru mesin pendingin mayat terdengar semakin jelas. Zeea sudah tidak bisa menahan rasa takutnya. Tangan nya menggenggam erat lengan Rhea sembari memejamkan mata. Walaupun kakinya mulai terasa lemas menyaksikan beberapa tubuh tak bernyawa disana, Rhea masih berusaha untuk terlihat kuat. Semata-mata agar sahabatnya tidak refleks lari meninggalkan nya. Gadis bule itu berjalan perlahan melewati meja rukti satu per satu. Didalam memang terlihat satu ruangan dengan pintu tertutup. Rhea berfikir dosen itu pasti berada disana. "Rhea, gue takut sumpah." Zeea semakin merapatkan tubuhnya kepada Rhea. "Sabar, bentar lagi nyampe kok." Rhea berusaha menenangkan sahabatnya. Seketika bau formalin tercium di hidungnya. Sudah tentu dan hal yang sangat wajar di area forensik yang mempunyai layanan bedah mayat. Kedua bersahabat itu berjalan berdampingan dengan perlahan. "Kalian ngapain disini?" sebuah tangan menepuk pundak kedua mahasiswa itu yang sontak membuat seorang Zeea pingsan seketika dan Rhea memejamkan mata sembari mengangkat tangan. "Ampun ... ampun, kami nggak ganggu. Tolong jangan ganggu kami. Kami cuma mau ketemu dosen. Ampun ...." Rhea meracau dengan mata tetap terpejam. Nafasnya terdengar memburu dan jantung nya berdebar dengan kencang. "Heh, gue bukan setan. Ini lho temanmu pingsan." seseorang menyadarkan Rhea dari kepanikan. Rhea berusaha menguasai diri dan membuka perlahan matanya. Terlihat sahabat nya sudah di topang oleh seseorang yang tidak asing di matanya. Yah dia adalah lelaki yang tadi siang bertemu di masjid kampus. "Allahuakbar Zeea, kakak! Alahmdulillah kakak disini, makasih ya kak." Rhea benar-benar terlihat girang saat mengetahui makhluk yang sedang berusaha menopang sahabatnya adalah manusia, bukan setan yang ada di bayangan nya. "Kalian sedang ngapain disini? Kalian nggak takut hah kalau mereka pada bangun?." Leon terkekeh melihat wajah pucat dua mahasiswa itu. "Kakak, sempat-sempatnya becanda ikh. Kami mau menemui dosen kak. Kita sudah kontrak waktu buat ketemu disini. Tapi pak dosen nya malahan belum kelihatan." Jelas Rhea masih dengan wajah pucatnya. "Kalian mau ketemu dosen di departemen forensik RSA? Bukan lewat sini lagi, disini tuh kamar mayat. Kalau ruang dosen departemen forensik lewatnya jalan yang disamping ini." jelas Leon masih menahan tawa nya. "Yah lagian pak satpam tadi nunjukin nya kesini kak. Kita kira pak dosen ada di ruangan itu." Tunjuk Rhea ke arah ruangan tertutup di dalam kamar mayat itu. "Bukan, itu ruang kadaver dan penyimpanan organ jaringan kali." Jelas Leon masih menahan tawanya. "By the way kak, bisa nggak si kita keluar dulu dari sini? Makin horor tau nggak." Rhea kembali bergidik ngeri. "Hadeeh ... yaudah kita ke kantor. Lagian temanmu kok ya bisa pingsan gini." Leon mengangkat tubuh Zeea yang masih dalam kondisi pingsan. Mereka menuju kantor departemen forensik melalui jalan samping ruang rukti dan meletakan tubuh Zeea di atas sofa. Rhea terlihat mencoba mengkondisikan sahabat nya dengan membaluri hidung dengan minyak kayu putih yang ia bawa. Terlihat Leon datang dari arah pantry dengan membawa dua gelas teh hangat, dan menghidangkan di meja. "Tenang aja, nanti temanmu juga segera siuman. Mendingan kamu minum dulu gih, kasihan kulitmu udah pucat juga." Perintah Leon yang telah duduk di seberang Rhea. "Makasih ya kak, jadi ngerepotin ini." Rhea tersenyum sembari mengambil gelas yang berada di meja. Ditenggaknya perlahan teh hangat itu yang dengan sekejap mengembalikan tenaganya yang sempat hilang saat berada di kamar mayat tadi. "Nggak papa, santai aja." Leon tersenyum. "Oh ya kak, kakak tahu nggak pak Leon ada dimana? Seharusnya kami sudah bertemu si karena kontrak waktu sehabis maghrib. Jangan sampai pak Leon marah gegara insiden teman saya pingsan ini." Rhea sedikit khawatir. "Tenang saja, pak Leon nggak akan marah kok. Lagian kalian mau ngapain si sebenarnya?" Leon berusaha menebak kalau gadis bule itu bernama Rhea yang dari kemarin mengirimi nya pesan w******p. "Jadi kita dapat tugas orientasi kak. Tugas hukuman si lebih tepatnya, buat wawancara dosen-dosen departemen forensik. Kebetulan dari semua dosen hanya pak Leon yang belum berhasil kita temui karena beliau jarang di area kampus. Akhirnya kami kontrak waktu untuk bertemu disini." jelas Rhea sembari menyeruput minumnya. "Oh gitu, jadi tugas ini hukuman sebenarnya? hehe." Leon terkekeh. "Iya kak, oh ya kak perasaan kita udah ketemu dua kali tapi kita belum kenalan. Nama saya Rhea kak." Rhea tersenyum sembari mengulurkan tangan. Sesuai dengan dugaan Leon bahwa gadis bule cantik di hadapan nya lah yang dari kemarin meminta kontrak waktu. Sembari menghembuskan nafas Leon pun menjabat tangan lembut mahasiswa itu. "Leon ...." Leon menatap wajah mahasiswanya yang kini terkejut dengan tersenyum. Rhea membelalakan mata tak percaya. Orang yang ia panggil sedari siang dengan sebutan "kakak" ternyata adalah sang dosen misterius. Orang yang ia anggap kakak angkatan tahun terakhir adalah dosen killer yang terkenal oleh mahasiswa kedokteran UBM. Leon melepaskan jabatan tangan tanpa memalingkan pandangan dari mahasiswanya yang masih tampak shock. "Ya ampun, kakak eh maksud saya bapak adalah pak Leon?" Rhea mencoba mengkonfirmasi kembali. "Yah saya Leon. Orang yang sedari kemarin kamu w******p untuk kontrak waktu." Jelas Leon. "Maafkan saya pak. Saya benar-benar tidak tahu. Maafkan saya pak." Rhea terlihat benar-benar meminta maaf atas ketidak tahuan nya. "Sudah santai saja." Leon tersenyum. Zeea terlihat menggeliat perlahan. Ia terbangun dari kondisi pingsan nya. Dengan sigap Rhea segera membantu sahabat nya untuk duduk. Rhea mengambil gelas yang berisi teh hangat dan membantu sahabatnya untuk minum. Diam-diam Leon memperhatikan cara Rhea dalam membantu sahabatnya. Nampak gadis itu berbeda dengan mahasiswanya kebanyakan. "Kita dimana Rhe?" Zeea mencoba menyadarkan diri. "Kita di kantor pak Leon." Rhea menjelaskan sembari melirik ke arah Leon. "Haduuh gara-gara dosen sialan itu gue sampe pingsan di kamar mayat gini Rhe." celoteh Zeea yang belum menyadari keberadaan Leon. Rhea membelalakan mata mendengar celotehan sahabatnya barusan. Sementara Leon mengernyitkan dahi mendengar ucapan mahasiswa nya itu. "Zeea ... sstt mulut lu di jaga please. Beliau ada di sebelah kita." Rhea menunjukan keberadaan Leon yang kini terlihat melipat kedua tangan nya di d**a. Zeea segera mencari keberadaan seseorang yang di maksud sahabatnya dan gadis itu terlihat salah tingkah. "Maaf pak Leon, bukan maksud saya berkata seperti itu. Saya masih dalam kondisi belum sadar sepenuhnya tadi pak. Maafkan saya pak." Zeea meminta maaf atas ucapan yang ia lontarkan. Terlihat Leon menghembuskan nafas dan membenahi posisi duduk nya. "Iya saya maafkan. Sekarang berhubung kamu sudah sadar, kalian ingin bertanya tentang apa? Waktu saya tidak banyak." Leon menatap wajah kedua mahasiswanya dengan tatapan tajam. Berbeda seratus delapan puluh derajat Rhea rasakan. "Mmmm ... baik pak. Sebelumnya perkenalkan pak saya Rheana Amalia dan ini teman saya Sazeea. Kami mahasiswa baru kedokteran dari kelompok Urologi. Kami ingin bertanya beberapa hal pak. Saya mohon izin untuk merekam percakapan hari ini apakah diperbolehkan?" Rhea bertanya dengan hati-hati sementara Zeea telah siap dengan alat recorder nya. "Hhmm ...." Leon hanya menganggukan kepala. "Baik pak, untuk nama lengkap bapak kalau boleh tau siapa ya pak?" Rhea mulai mengajukan pertanyaan. "Leonaga Chandra." "Alamat bapak dimana ya pak?" Rhea kembali bertanya. "Jalan Kaliurang." "Kalau boleh tahu kenapa bapak berminat menjadi dosen di departemen forensik?" Rhea menatap dengan rasa penasaran. "Karena pasien forensik tidak berisik seperti pasien umum, apalagi seperti kalian." Rhea dan Zeea saling berpandangan mendengar jawaban dari dosen muda itu. Mereka sempat menahan tawa namun kembali fokus kepada pertanyaan selanjutnya. Kurang lebih sekitar lima belas menit tugas mereka untuk mewawancarai dosen misterius telah terlaksana dengan baik. Walaupun Leon menjawab dengan nada cuek, tetapi Rhea yakin dibalik sikapnya itu dia adalah orang yang baik. Setelah berpamitan, akhirnya mereka menuju parkiran untuk kembali pulang. Sebelum kembali ke rumah, kedua bersahabat itu menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di salah satu lesehan terkenal di area jalan Kaliurang. Zeea nampak menenggak air mineral sebanyak mungkin setelah uji nyali di kamar mayat dan bertemu dosen killer berhasil di lalui. Mereka memesan pecel ayam dan segelas es teh sebagai menu makan malam. Sementara mereka mengabari tugas yang berhasil itu melalui group kelompok mereka. "Gilaa gue nggak nyangka kalau orang yang ketemu di masjid kampus tadi siang tuh si dosen killer." Rhea menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi maksudnya cerita elu tadi siang yang ketemu kakak angkatan ganteng kayak brad pitt versi indonesia, itu dosen Rhe?" Zeea tampak terkejut. "Iya ... haduh, bisa malu gue kalau ketemu dia lagi." Rhea menenggak es teh yang telah terhidang. "Ya lagian, gue kira tu dosen misterius udah bapak-bapak ternyata masih muda gitu. Emang ganteng banget si tapi muka jutek nya itu lho nyebelin." Zeea mulai memakan pecel ayam pesanan nya. "Ah udahlah, yang penting tugas kita dah selesai inih Zee." Rhea mencoba tak memikirkan peristiwa yang terjadi dengan dosennya itu. Mau bagaimanapun, Leonaga Chandra adalah dosen yang unik dan menggelitik rasa penasaran sekaligus. Dia bisa berperilaku sangat hangat tetapi bisa seketika berubah menjadi orang yang sangat dingin. Kedua bersahabat itu kembali menikmati pecel ayam yang tinggal sedikit. Setelah santap malam selesai, Rhea mengantarkan Zeea terlebih dahulu sebelum ia kembali ke rumah. Rasanya ia ingin segera beristirahat agar masa orientasi ini segera selesai. **** Langkah kaki terdengar dari seorang Leonaga yang sedang menuju area kolam renang. Bulan separo terlihat jelas di langit Jogja yang tanpa lelah sang sinar menerangi kegelapan yang ada. Putra kedua Amartya Chandra itu tampak baru selesai mebersihkan badan. Dia meminta asisten rumah tangga untuk menyiapakan segelas kopi di area kolam renang. Philip sudah menduga bahwa tuan nya sedang banyak fikiran. Hal itu terlihat jika ia meminta untuk dibuatkan kopi dan akan berada di area kolam renang beberapa saat untuk mencari sumber inspirasi. Seorang asisten rumah tangga meletakan kopi pesanan sang majikan yang kini sudah duduk dengan kaki tercelup di dalam kolam. Sementara Philip hanya berani mengawasi dari kejauhan. Leon terlihat beberapa kali menarik nafas dalam. Tangannya bermain air perlahan, kemudian kembali memandangi bulan separo yang terlihat semakin terang. Ucapan teman-teman dosen nya tadi siang benar-benar mengusik pikiran nya. "Philip ...." Leon memanggil sang asisten. Seseorang itu segera berjalan mendekat. "Saya boss." Philip datang dengan membungkukan badan. "Tolong ambilkan majalah di laci meja kerja saya ya." Perintah Leon. "Siap boss, mohon tunggu sebentar." Philip berpamitan dan segera melaksanakan instruksi sang atasan. Selang beberapa menit, Philip telah kembali dengan sebuah majalan berada di tangan. "Silahkan boss." Philip menyerahkan majalah yang ia bawa. "Phil, tolong duduk disini sebentar." Pinta Leon. Seketika sang asisten segera menuruti perintah tuan nya. Terlihat Leon kembali membuka satu persatu halaman, dan berhenti dimana foto dirinya berpelukan dengan Ivonne terpampang. "Apakah ada sesuatu yang sedang mengganjal di fikiran boss?" Philip berusaha bertanya dengan hati-hati. Sementara Leon terlihat menghembuskan nafas sembari memejamkan mata sesaat. "Hhmm ... coba fikirkan Phil, kenapa orang-orang masih menganggap kami pacaran padahal gosip ini udah selesai lima bulan yang lalu." Leon terlihat kesal. "Boss merasa tidak nyaman?" Philip kembali bertanya dengan hati-hati. "Iya lah, banget." Leon menyeruput kopinya. "Maaf sebelumnya boss, menurut saya memang gosip waktu itu sudah terlanjur fenomenal boss. Walaupun Donovan dan penyebar foto sudah mengakui, tetapi masyarakat sudah terlanjur memandang gosip itu benar adanya. Walaupun boss sudah berusaha mengurangi interaksi bertemu dengan mba Ivonne, tetapi beberapa kali boss kerap tertangkap kamera jalan berdua." Philip mengutarakan pendapat nya. "Begitu kah?" Leon mengernyitkan dahi. "Boss bisa mulai dengan kejujuran. Maksud saya jujur dengan diri sendiri. Mungkin secara tidak sadar, sebenarnya boss juga ada perasaan dengan mba Ivonne." Philip tersenyum memandang atasan nya. "Kau ini, bukan nya memberikan saran yang masuk akal malahan menjerumuskan." Leon terlihat kesal. "Bukan apa-apa boss, kadang semakin kita berusaha menolak atau menghindari sesuatu, hal itu malahan bisa menjadi bumerang buat kita." Philip berpendapat. "Ini yang tak aku sukai jika berurusan dengan wanita. Ribet tau nggak." Leon kembali menenggak kopi nya. "Mungkin bisa boss coba komunikasi dengan mba Ivonne. Tidak perlu sering tapi sesekali. Maaf boss mungkin saya harus jujur. Setiap saat mba Ivonne selalu menanyakan kabar boss kepada saya. Dia tidak berani bertanya langsung kepada boss karena tidak pernah ada balasan setiap mengirim pesan ke boss langsung." Philip mencoba jujur "Oh ya? Jadi selama ini kamu mata-mata Ivonne hah?" Leon menatap kesal kepada asisten nya. "Haduh ya bukan begitu juga boss. Saya hanya kasihan kepada mba Ivonne yang selalu mengkhawatirkan keadaan boss. Bukan berarti saya mata-mata." Philip terlihat panik atas prasangka atasan nya. "Jangan-jangan kamu ngomong gini lagi coba nyomblangin aku sama dia ya? Dibayar berapa kamu sama dia hah?" Leon masih menatap kesal. "Haduuh boss salah sangka melulu ih. Yasudah boss mau bagaimana? Perlu saya selidiki untuk masalah ini?" Philip mengalah. "Nggak perlu, mendingan lu urusin kantor cabang sana gih. Bukan nya ngasih solusi malahan ngejebak lu." Leon terkekeh. "Ah serba salah saya. Oke boss. Tapi inget pesan saya tadi ya boss. Coba dipikir-pikir dulu hahaha." Philip terkekeh sembari pamit untuk kembali ke dalam rumah. Leon kembali memandangi majalah dimana foto dirinya dan Ivonne terpampang. Dalam hati kecil, lelaki itu mengakui banyak hal ia sangkal tentang kedekatan dirinya dengan sang model tetapi banyak momen yang tanpa sadar telah tercipta diantara mereka. Contohnya saja ketika mereka berada di Raja Ampat saat penggarapan project Agatha Jones. Kala itu Leon memang memutuskan untuk turut serta ke bumi cenderawasih bersama sahabatnya itu. Selain untuk memantau kegiatan pemotretan, kesempatan itu ia gunakan untuk berlibur menghilangkan penat. Selama kegiatan di Raja Ampat berlangsung, Dia dan Ivonne memang terlihat sangat dekat bahkan sangat mesra di setiap momen. Kegiatan selama satu minggu itu pula mereka gunakan untuk saling mengenal satu sama lain dengan intensif. Agatha dan seluruh kru yang terlibat sempat curiga bahwa ia dan sang model sudah terjalin hubungan khusus. Tetapi ia selalu mengatakan tidak karena memang tidak ada hubungan spesial diantara mereka. Hingga suatu hari saat Leon dan Ivonne memutuskan untuk eksplore salah satu pulau disana karena kala itu tidak ada jadwal pemotretan. Dengan menggunakan speedboat, mereka berusaha menghindari keramaian dengan menjelajah pulau tersebut berdua. Hingga pada kondisi mereka terlalu menikmati keindahan pantai dan suasana yang terlalu membuat mereka nyaman, masing-masing dari mereka berhasil mendaratkan ciuman pertama. Walaupun hanya sebuah ciuman, memori itu benar-benar membekas di kepala Leon hingga saat ini. Sejak saat itulah, ia memutuskan untuk membatasi komunikasi dengan seorang Ivonne. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menahan diri saat itu. Tanpa sadar lelaki itu menyentuh bibirnya. Apakah benar ucapan sang asisten bahwa sebenarnya rasa cinta telah tumbuh tanpa ia sadari kepada Ivonne? Atau memang ia harus kembali berkomunikasi dengan model itu dan mencoba bersikap biasa? Tetapi hari ini seorang mahasiswa yang berbeda telah berhasil mencuri perhatian. Gadis bule yang lugu, lucu, cantik dan periang. Leon meremas rambutnya, betapa wanita adalah akar masalah yang nyata, pikirnya. Dia menenggak kopi yang masih tersisa dan segera kembali masuk ke dalam rumah. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan daripada membuang waktu dengan pikiran nya yang tidak jelas. Apalagi usaha-usaha yang ia bangun sedang berkembang dengan pesatnya. Disisi lain ia harus bisa membuktikan bahwa ia bisa berdiri di kaki sendiri tanpa ada bantuan dari nama besar keluarganya. Tak berbeda jauh di sebuah rumah berlantai dua kediaman seorang model ternama, Ivonne Catherine Abigail. Disebuah kamar dengan iringan musik klasik yang terputar dari gramophone. Ivonne baru saja membersihkan diri setah seharian menyelesaikan jadwal padat pemotretan dan shooting nya. Dengan rambut basah tergulung handuk, ia berbaring menatap bulan yang bersinar terang dari jendela kamar. Ia menatap tanggalan yang dilingkari dengan spidol pink. Angka 21 adalah tanggal ulang tahun nya yang bertepatan pada hari sabtu esok. Kedua orang tuanya memang telah berencana akan membuatkan sebuah pesta. Beberapa undangan telah tersebar, namun hanya satu undangan yang belum sampai kepada seseorang. Yah, undangan itu untuk Leon yang saat ini sedang ia pegang. Sesungguhnya ia tak yakin kalau lelaki itu akan datang, bahkan sekedar memberikan ucapan selamat. Ivonne membuka galery foto di handphone nya, segera ia mencari folder "Raja Ampat". Ia memandangi foto dirinya dengan Leon. Tak banyak foto yang ia punya bersama lelaki itu. Selain masalah privacy, Leon memang tidak terlalu suka dan tidak mengizinkan gambar nya diambil dengan sembarang. Foto yang menunjukan dimana mereka sedang berpelukan seketika membuat hatinya terasa perih. Hal yang paling menyakitkan bagi dirinya adalah saat ia menjatuhkan cintanya kepada seseorang yang berhasil memberinya ciuman pertama, seketika juga orang itu berusaha menjaga jarak darinya. Itu adalah hal yang menyiksa bagi seorang Ivonne Abigail. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya. Kembali ia berusaha menyemangati diri sendiri. Jika memang mereka berjodoh, sekuat apapun mereka mencoba menghindar pasti akan tetap dipersatukan. Ivonne kembali menutup handphone nya. Ia menuruni anak tangga untuk menemui Stevie diruang tengah. Gadis itu menyerahkan undangan dan memerintahkan untuk tetap mengirimkan kepada Leon. Perkara lelaki itu akan datang atau tidak itu urusan belakangan. Yang penting niat baiknya mengundang sebagai sahabat dan partner kerja telah ia laksanakan. Stevie hanya menganggukan kepala seolah mengerti apa yang talent nya sedang rasakan. Sudah lama Stevie merasa sang talent dan anak kedua dari pengusaha Amartya Chandra mempunyai hubungan spesial. Selama ini ia belum berani menanyakan langsung kepada Ivonne karena hal itu hak privasi sang talent. Sejak kepulangan mereka dari Raja Ampat, sang model kerap terlihat murung dan akan kembali terlihat ceria saat ia bertemu dengan pengusaha muda itu. Stevie menatap sang model yang kembali berjalan menaiki tangga menuju kamar. Bagaimana pun besok ia harus menyerahkan undangan itu langsung kepada Leon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN