BAB SEMBILAN BELAS

1682 Kata
Kelompok Urologi duduk berkumpul di salah satu meja Mochafe di area outdoor lantai satu dengan beberapa pesanan yang sudah terhidang. Lydia menyambut teman-teman Rhea dengan ramah saat sang keponakan memberitahukan bahwa mereka akan mampir setelah kegiatan orientasi selesai. Walau dengan keadaan yang lelah akibat kegiatan yang menguras tenaga hari ini, kelompok urologi kembali sumringah tatkala mereka di gratiskan makan oleh pemilik cafe yang merupakan tante dari Rhea. "Eh kalian jangan sungkan ya. Makan yang banyak, mau pesan apa aja boleh. Hari ini gratis karena kalian mau mampir ke cafe tante. Tante berterimakasih juga kalian udah bantuin Rhea disini." Lydia tersenyum saat melihat teman-teman keponakan nya terlihat sumringah. "Wah makasih banyak tante Lydia. Kan anak kos kayak kita-kita jadi senang dapat gratisan." Celetuk Zeea, sementara Rizka dan Anin terlihat mencolek pinggang Zeea agar tidak terlalu ceplas ceplos. "Makasih tante Lydia," Seluruh teman-teman Rhea berterimakasih. "Iya sama-sama. Yasudah kalian lanjutkan kegiatan kalian yang nyaman ya. Tante tinggal dulu mau urusin customer yang lain. Oh ya, password wifi udah dikasih tau kan?" Lydia memastikan Rhea dan teman-teman nya sudah terkoneksi internet agar mereka bisa menyelesaikan tugas. "Oh sudah tante, keren dah internet nya ngebut banget ini." Malik mengacungkan jempol. "Oke deh, enjoy ya." Lydia melayangkan tos kepada teman-teman Rhea dan segera meninggalkan mereka untuk kembali menangani pesanan yang lain. "Wah Rhe, tante mu itu bule juga ya? Gaul banget orang nya. Keren dah." Celetuk Adam yang terpukau dengan sikap humble Lydia. "Iya Rhe, tantemu baik banget sumpah. Gue bakalan rekomendasiin ini cafe si pasti." Malik menambahkan. "Iya bule, tapi bule SNI hahaha. Tanteku emang gitu, orang dia juga masih muda. Pokok nya kalian santai aja deh." Rhea tersenyum. "Tantemu udah nikah Rhe?" Zeva penasaran. "Dia divorce sama bule perancis. Tapi emang lebih baik gitu si. Mungkin udah takdirnya." jelas Rhea. "Yah, sayang. Padahal cantik dan baik hati." Albert menyayangkan. "Udah deh, kok malahan jadi pada kepo sama kehidupan orang si. Tugas nih masih menanti." Sela Anin sementara Rhea hanya tersenyum. "Oh ya Rhe, pak dosen misterius itu udah balas wa lu belum?" Puput penasaran. "Oh iya, gue belum cek lagi. Bentar ya." Rhea mengambil handphone yang sedari tadi berada di tas. Beberapa saat dia mengecek pesan w******p dan terlihat satu pesan nampak di layar pop up. "bsk siang." Rhea memperlihatkan balasan pesan w******p dari sang dosen kepada teman-teman nya. "Yaah, besok siang mana bisa." Malik menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Gue balas apa dong? Kalau minta ketemu sore gitu sopan nggak si?" Rhea meminta pertimbangan. "Kalau menurut gue si nggak papa deh. Yang penting kita bilang kalau jadwal kita sampai sore full." Zeea memberikan saran. Rhea terlihat mengangguk-anggukan kepala kemudian mengetik balasan untuk dosen misterius itu. "Maaf pak, seminggu ini kami masih jadwal orientasi. Kegiatan kami baru selesai sekitar jam empat sore. Baiknya bagaimana ya pak? Kami mohon saran." Rhea kembali menunjukan pesan yang ia tulis kepada teman-teman nya. Semua anggota kelompok terlihat menganggukan kepala, kemudian Rhea mengirimkan kembali balasan kepada sang dosen. "Gue penasaran tuh dosen kayak gimana muka nya. Mau ketemu aja susah banget. Semoga nggak pelit ngasih nilai dah." Zeva terlihat kesal sekaligus penasaran. "Tapi tadi gue sempet tanya ke kakak pendamping, katanya dari dosen departemen forensik cuma pak Leon yang pelit banget ngasih nilai si." sambung Puput. "Wah ini nih, jangan sampai udah pelit ngasih nilai, komuknya juga nggak ngenakin nih pasti." Celetuk Adam. Sementara sembari menunggu balasan, kelompok urologi kembali mengerjakan tugas paper yang harus dibawa besok. Jaringan internet yang cepat di cafe milik tante nya benar-benar sangat membantu mereka untuk mencari bahan materi yang mereka cari. Semakin beranjak malam, suasana semakin ramai dengan pengunjung. Baik mahasiswa maupun masyarakat umum datang silih berganti untuk sekedar nongkrong atau makan malam. Ting Tong .... Terdengar notifikasi pesan dari handphone Rhea. Gadis itu segera membuka pesan yang tak lain dari dosen yang berhasil membuat mereka penasaran. "Stlh maghrib, di dept forensik RSA." Rhea membelalakan mata membaca pesan yang baru saja ia dapatkan. Anggota kelompok lain yang melihat perubahan sikap bule cantik itu ikut menjadi pesanaran. "Rhea, lu kenapa?" Zeea mencolek bahu sahabat nya itu. "Nggak salah nih?" Rhea menunjukan isi pesan dosen misterius itu. Seketika Zeea tak kalah terbelalak setelah selesai membaca. "Eh, kita disuruh ketemu di departemen forensik Rumah Sakit Akademik masa." Zeea menunjukan balasan sang dosen kepada teman-teman nya. Ekspresi yang lain pun tak jauh berbeda dengan Rhea dan Zeea. "Anjiir gue takut lah, gimana dong?" Zeva bergidik ngeri membayangkan dirinya masuk ke kamar mayat. "Yah tapi gimana dong, beliau bisa nya jam segitu. Kalau kita nolak, dan pak dosen nggak berkenan berabe malahan." Malik tampak bingung. "Oke gue si nggak masalah, tapi gue mau ada satu orang yang nemenin gua dah siapa yang mau? Yang lain ngerjain tugas surprise orientasi. Gimana?" Rhea memberikan pendapat. "Bissmillah, aku mau deh nemenin kamu Rhe." Zeea mengajukan diri. "Oke Rhe, kalau gitu sekarang lu balas tu dosen kalau besok bersedia. Zeea yang akan nemenin Rhea, sementara yang lain besok ngerjain tugas surprise. Gimana?" Malik membagi tugas. "Setuju," Rhea kembali mengetik pesan balasan kepada dosen yang benar-benar membuat kepalanya banyak tanda tanya itu. "Siap pak, kami bersedia." Setelah urusan kontrak waktu dengan sang dosen misterius selesai, kelompok urologi kembali melanjutkan mengerjakan tugas sembari menghabiskan beberapa minum dan cemilan yang masih tersisa. Sementara di salah satu meja area balkoni Mochafe, terlihat Leon tersenyum sembari memandangi handphone yang sedari tadi dipegang. Lelaki itu baru saja menyelesaikan tugas bersama kepolisian untuk mengidentifikasi mayat tak dikenal dan menyempatkan mampir di cafe Lydia bersama sahabat-sahabat nya. "Kenapa lu nyengir-nyengir sendiri dari tadi?" Vincent heran melihat sang sahabat sedari tadi tak mengalihkan pandangan dari layar handphone. "Nggak, ini ada mahasiswa baru minta ketemu besok." Jelas Leon "Udah punya fans baru nih ternyata?" celetuk Aloy "Nggak juga, biasalah tugas masa orientasi. Palingan juga dikerjain sama kakak angkatan nya." Leon terkekeh. "Dasar, oh ya. Sabtu besok Ivonne ulang tahun. Lu mau datang nggak?" Aloy menyeruput kopi nya. "Hhmm ... emang gue diundang?" Leon menatap Aloy. "Ya pasti lah." celetuk Braga. "Kalau gitu, mana undangan nya?" Leon terkekeh. "Ya nanti juga dikasih. Ditunggu aja boss." Aloy tersenyum, paham maksud dari sahabatnya itu. "Gue datang atau nggak, itu nggak ada pengaruhnya bro. Kayaknya juga gue ada jadwal keluar kota weekend besok." jelas Leon. "Tetep ada pengaruhnya bro." celetuk Aloy. "Iya, ada pengaruhnya pasti." Vincent menambahkan. "Yah nggak asik nih. Temenan sama orang penting dan sibuk ternyata gini amat ya." Braga menghisap rokok elektronik nya. "Yon, sorry nih ya gue cuma mau ingetin. Kesempatan itu tidak datang dua kali." Vincent mencoba memberikan saran. "Iya gue ngerti, terus?" sela Leon sembari terkekeh. "Ivonne udah buka pintu hatinya lebar banget buat elu. Apa susah nya si elu tinggal masuk? Seorang Ivonne gitu, kurang apa lagi coba? Iya nggak Loy, Ga?" Vincent terkekeh. "Iya lah, kalau gue mah bakalan langsung gue sikat. Jangan sampai keduluan sama cowok lain hahaha." Aloy terkekeh. "Nah ini nih, ini yang belum paham dan sudah terlanjur kemakan gosip. Masalah cewek tuh ya, ngapain si selalu dibahas? Gue bukan nya nggak mau sama Ivonne, tapi gue belum pingin dibikin ribet sama cewek bro." jelas Leon "Nah lho ... berarti ada kemungkinan elu juga suka sama Ivonne kan? Hahaha." Vincent terbahak. "Ah bangke, biasa aja kalau gue mah." Leon membela diri. "Halah alesan." Celetuk Aloy "Banyak alesan lu yon." Timpal Braga. "Gue nggak banyak alasan. Kalau gue nembak Lydia aja sekarang gimana hhmm?" Leon melirik ke arah Braga. "Wah ... wah, perang dunia tiga pecah." Aloy menyikut lengan Braga. Sementara Braga menatap Leon dengan tatapan tajam, walaupun senyum di bibirnya sedikit terkembang. "Waduh cari perkara. Temen tikam temen." Vincent tertawa. "Ya lagian, daripada ada yang udah lama suka tapi nggak nembak-nembak. Nah kebetulan tuh ada Lydia. Lyd ... sini bentar." Leon melambaikan tangan ke arah Lydia yang baru saja menemui sahabat nya yang bertandang. "Wah elu Yon," Braga sedikit kesal sementara Vincent dan Alloy semakin bersemangat menggoda Braga. "Hai kalian, gimana? Ada yang kurang? Atau mau nambah pesanan?" Lydia tersenyum memandang Leon dan teman-teman nya. "Lyd, tumben lu cantik banget malam ini." Leon memuji. Nampak Lydia sedikit terbengong dengan pujian yang Leon lontarkan. "Elu yon, lagi sakit kah?" Lydia menatap Leon dengan heran. Sementara Vincent dan Alloy hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Lydia. "Kok sakit si? Sehat wal afiat gue Lyd." Leon tersenyum. "Elu pasti lagi sakit. Lagi demam yah lu?" Lydia sembari memegang jidat Leonaga. "Soalnya ini bukan Leon yang biasa gue kenal. Tumben-tumbenan lu muji gue. Bilang gue cantik segala. Pasti ada maunya kan lu?" Lydia sedikit curiga. "Ampun dah, gue jujur dia nggak percaya. Lu mau nggak jadi cewek gue?" Leon tersenyum memandang Bule Bantul. Sementara Braga sedikit ketar ketir dengan kelakuan sahabatnya, walaupun ia menduga tindakan Leon tidak lah serius. "Nah lho, yang punya pistol si Vincent yang nembak si Leon." Alloy melirik ke arah Braga. "Iiisshh elu lagi kesurupan apa si yon? Kurang ngopi kayaknya elu dah. Apa salah kopi jangan-jangan nih?" Lydia semakin terlihat bingung mendengar ucapan Leon. "Huuft iya deh mbak, kayaknya gue kurang ngopi. Maksud gue bukan jadi cewek gue mbak, tapi jadi cewek sahabat gue si Braga ini. Mau nggak lu mbak?" Leon tersenyum ke arah Braga. Kini giliran Lydia yang semakin bingung dengan kelakuan Leon. "Maneh teh kumaha? Yang resep ka urang teh saha, yang nembak ka urang saha? Huuft." Lydia kembali sewot. "Lah ... lah, kumat lagi dia jadi bule sunda." celetuk Alloy. "Braga, tuh tembak cepetan. Udah gue bukain jalan." Leon berbisik ke arah Braga. "Haduh, maafin temen-temen gue ya mba. Mereka lama nggak clubing jadinya gitu deh." Braga mencoba mengalihkan topik. "Kalian tuh emang, sukanya bikin gue jadi pingin ngopi juga. Udah ya gue daripada dibikin pusing disini, gue balik dulu ke bawah." Lydia dengan sedikit kesal. "Mau ngapain kebawah Lyd? Pertanyaan gue belum di jawab." Leon terkekeh melihat pemilik cafe yang sudah berbalik badan. "Mau ngopi!" Teriak Lydia. Tawa keempat lelaki bersahabat itu langsung pecah melihat kelakuan Lydia. Suasana cafe mulai terdengar sepi. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Beberapa staf cafe sudah terlihat membersihkan meja dan kursi satu per satu. Setelah menghabiskan beberapa tenggak kopi yang tersisa dan membayar tagihan, keempat bersahabat itu segera kembali ke rumah masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN