BAB DELAPAN BELAS

1250 Kata
Dua mahasiswa terlihat berlari dari kejauhan dengan tampak susah payah dengan beberapa bungkus plastik besar di kedua tangan masing-masing. Rhea dan Zeea berusaha segera menuju gerbang kampus dengan sekuat tenaga. Pagi ini mereka terlambat karena terjebak kemacetan di jam kantor pagi Jogja. Gadis itu harus menjemput Zeea terlebih dahulu dikarenakan properti tugas kelompok mereka ditempatkan di Kos sahabat nya. Terlihat digerbang kampus, kelompok Urologi masih berbaris dengan rapi. Mereka belum diizinkan masuk halaman kampus jika anggota kelompok belum lengkap. Beberapa anggota Komdis (Komisi Kedisiplinan) sudah menunggu kedatangan mereka dengan muka gahar nya. Masih dengan nafas terengah-engah, kedua maba yang terlambat itu segera menghadap ke salah satu kakak komdis yang menunggu kedatangan mereka. "Maaf kak kami terlambat." Rhea berusaha menjelaskan, masih dengan nafas terengah-engah. "Nama kalian siapa?" "Saya Rhea dan Sazeea dari kelompok Urologi melapor." Rhea melapor. "Jam berapa ini? Rajin sekali kalian baru datang sementara teman-teman kalian sudah datang dari subuh. Kalau besok sudah jadi dokter sukanya datang telat, pasien mu keburu meninggal semua dek." celetuk salah satu anggota komdis menyindir keterlambatan mereka. "Maaf kak siap salah, tapi kami terjebak macet saat berangkat." Zeea membantu menjelaskan. "Terus besok kalau kamu telat visite pasien, mau pakai alasan jalan macet juga dek?" Sindir salah satu kakak komdis yang lain. "Siap tidak kak, siap kami salah." Rhea dan Zeea menjawab bersamaan. "Ini lagi, sudah tertulis di peraturan maba baru kedokteran tidak boleh di cat rambut. Kenapa rambutmu di cat hah? Pake softlens biru lagi tuh mata. Kesini mau kuliah atau mau gaya-gayaan doang?" Anggun yang merupakan anggota komdis perempuan membelai rambut Rhea yang berwarna pirang. Walaupun wajah dari anggota komdis itu sebetulnya sangat cantik, tetapi sikap judes nya bisa membuat siapapun yang melihat akan ciut nyalinya. "Kak maaf." Sela Anin dengan hati-hati. "Apa?" Anggun memandang wajahnya dengan tajam. "Maaf kak, rambut dia tidak di cat kak dan dia tidak pake soflens juga. Tapi memang bule asli." jelas Anin perlahan. Anggun menyeringai sedikit membelalakan mata. Tak dapat disembunyikan rasa kaget sedikit tersirat di wajah ayu nya. "Kamu bule? Asli mana? Bule Prawirotaman?" cecar Anggun. "Saya orang Indonesia kak, tapi ayah saya dari Belanda. Saya asli Bandung." jelas Rhea dengan tenang. "Oh ... Bandung. Bilang dong kalau kamu bule." Anggun kembali mereda emosi nya. "Sudah-sudah, Urologi cek perlengkapan. Kalau sudah lengkap kalian boleh masuk." Harlan sang ketua komdis menengahi perdebatan mereka. Setelah di cek satu per satu perlengkapan yang wajib mereka bawa, kelompok Urologi akhirnya diperbolehkan masuk untuk bergabung dengan kelompok lain di halaman utama. Beberapa kelompok yang tidak lengkap membawa tugas segera mereka diberikan hukuman, tak terkecuali kelompok Rhea dan teman-temannya. "Untuk kelompok Urologi, karena hari pertama ada dua anggota yang datang terlambat, tugas hukuman nya adalah mewawancarai dan mendapat tanda tangan dosen-dosen departemen kedokteran forensik. Deadline pengumpulan tugas hukuman ini adalah tiga hari mulai dari sekarang." Suara Harlan lantang terdengar. Masing-masing anggota Urologi hanya saling memandang satu sama lain atas hukuman yang ditimpakan kepada mereka. Setelah briefing pagi selesai, Rhea dan Zeea segera meminta maaf kepada teman-teman kelompok nya. Beruntung kelompok Urologi berisikan anggota yang saling menghargai dan sangat kompak sehingga mereka menerima hukuman itu dengan tangan terbuka. "Udahlah santai aja Rhea, Zeea. Namanya juga jalan, mana ada yang tahu kondisinya bakalan kayak gimana. Makasih ya udah bawain perlengkapan kelompok tanpa ada yang tertinggal satu pun." Malik menengahi sembari tersenyum. "Iya gaes, santai aja lah. Hitung-hitung biar kita tambah tau dosen-dosen kita nantinya seperti apa." Anin mencoba menyemangati. "Makasih ya teman-teman atas pengertian nya, besok aku janji nggak akan telat lagi." Zeea tersenyum. "Dosen forensik, perlu bagi tugas nih kayaknya." Celetuk Rizka. "Oke kita baiknya emang bagi tugas, biar efisiensi waktu. Apalagi kita cuma diberi waktu tiga hari." Malik menjelaskan pembagian tugas hukuman untuk kelompoknya. Setelah masing-masing anggota mendapatkan tugas, kelompok itu membubarkan diri. **** Hari itu juga kelompok Urologi memutuskan untuk mewawancarai beberapa dosen mata kuliah forensik di ruang dosen. Awalnya rasa canggung sempat menghantui mahasiswa baru itu. Tetapi setelah saling menyemangati, akhirnya mereka berani memasuki ruangan dosen departemen forensik dan berhasil mewawancarai beberapa dosen yang berada di ruangan. Sekitar sepuluh dosen berhasil diwawancarai dan kotak tanda tangan berhasil diisi. Tinggal satu dosen yang belum berhasil di temui dan diwawancarai. Info yang mereka dapatkan adalah dosen ini lebih sering berkantor di Rumah Sakit Akademik yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kampus Hijau. Keberadaan di kantor departemen forensik hanya bisa dihitung dua kali seminggu. Terlihat sebagian anggota kelompok Urologi sedang berdiskusi dibawah pohon beringin yang rindang saat waktu memasuki jam istirahat. "Kita nggak mungkin nih semua pergi ke Rumah Sakit Akademik buat wawancara kalau masih di jam orientasi gini. Bisa-bisa kelompok kita dihukum berjamaah lagi kayak tadi pagi." Jelas Malik "Wah ... ampun-ampun kalau disuruh lari keliling lapangan lagi gue." Adam tak rela jika ia harus kembali menjalani hukuman keliling lapangan. "Ya kalau nggak pas kegiatan orientasi kita mau ketemu kapan? Orang kegiatan kita selesai sampai jam empat sorean. Nggak ada waktu." Anin terlihat bingung. "Tadi info tu dosen di kampus setiap hari apa ya? Mungkin kita bisa kontrak waktu dulu buat ketemu. Siapa tau itu dosen bisa ditemui di kampus." Malik memberikan solusi. "Tadi kata dosen yang lain si beliau ada di area kampus nggak pasti juga. Cuma seringnya kelihatan tuh setiap hari jumat." Jelas Zeea. "Wah kalau jumat udah lewat batas waktu dong." celetuk Rizka "Gini aja deh, tugas kita kan cuma tinggal wawancara satu dosen tuh. Gue akan minta nomer handphone nya ke bagian tata usaha atau ke dosen departemen forensik yang lain. Nanti kita tinggal kontrak waktu aja ngikutin jadwal beliau. Soalnya bener kata Malik, jadwal kita seminggu ini padat. Dan deadline tugas ini cuma tiga hari. Nggak akan ada waktu buat wawancara dan minta tanda tangan. Yang ada tugas kita nggak akan kelar." Rhea memberikan solusi yang cukup jitu, membuat wajah seluruh anggota kelompok berseri. "Nah ide bagus tuh Rhe, gue siap nemenin elu pas minta nomer dosen spesial ini deh." Puput mengajukan diri. "Oke makasih Puput. Oh ya pak dosen ini namanya siapa tadi ya? Gue lupa." Rhea kembali mencoba mengingat nama dosen yang belum bisa mereka temui itu. "Pak Leon, Rhe." Adam memberitahu. Terlihat Rhea mengangguk-anggukan kepala. "Oke deh, berarti untuk tugas wawancara dosen terakhir ini kita serahkan ke Rhea ya?" Malik menyimpulkan. "Siap," Rhea tersenyum. Kelompok urologi kembali membubarkan diri karena jam istirahat masih tersisa sekitar dua puluh menit. Sebagian ada yang menuju kantin dan sebagian pergi ke masjid kampus untuk mengejar waktu shalat. Sementara Rhea dan Puput memutuskan untuk kembali ke gedung tata usaha. Tugas mereka untuk meminta nomor telepon dosen forensik yang disebut sangat sibuk itu harus mereka dapatkan untuk membuat kontrak waktu. Selang beberapa menit, Rhea dan Puput berhasil mendapatkan kontak telepon sang dosen. Gadis itu segera mengirim pesan w******p untuk kontrak waktu wawancara. "Selamat siang pak Leon, perkenalkan saya Rhea mahasiswa baru kedokteran. Maaf sebelumnya pak, kami mendapat tugas orientasi untuk melakukan wawancara dengan bapak, apakah bapak berkenan? Jika berkenan, kami bermaksud untuk kontrak waktu dengan bapak sekiranya kapan bisa bertemu untuk melakukan wawancara." Dengan berdebar, Rhea mengirim pesan w******p kepada dosen yang mereka dengar sedikit killer. Sepuluh menit, dua puluh menit, satu jam pesan yang Rhea kirim belum juga dibaca. Sesibuk apa si dosen satu ini? Pikir Rhea. Hingga jam menunjukan pukul empat sore dan kegiatan orientasi hari itu selesai, pesan Rhea belum terbalas juga. Bukan hanya gadis itu yang berdebar, tetapi teman-teman kelompok urologi lain nya merasakan hal yang sama. Senja terbenam perlahan, suasana halaman fakultas kedokteran perlahan sepi dari kegiatan mahasiswa. Rhea dan teman-teman nya memutuskan untuk mampir ke cafe tante Lydia sembari mengerjakan tugas paper kelompok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN