BAB TUJUH BELAS

1151 Kata
“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku Disanalah, aku berdiri jadi pandu ibu ku Indonesia kebangsaaan ku … bangsa dan tanah air ku Marilah kita berseru, Indonesia bersatu.” Lagu kebangsaan Indonesia samar-samar terdengar dari halaman utama Universitas Bumi Mataram. Dimana hari ini tengah berlangsung upacara pembukaan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) mahasiswa baru. Sebanyak lima ribu mahasiswa yang terbagi dalam delapan belas fakultas memenuhi lapangan berumput hijau. Setelah seremoni penerimaan mahasiswa baru selesai, masing-masing anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas membawa mahasiswa baru menuju gedung fakultas mereka. Gerbang melengkung bertuliskan Fakultas Kedokteran Universitas Bumi Mataram di atas gapura sudah nampak dari kejauhan. Kondisi kampus yang masih sepi tak mengurangi semangat calon dokter-dokter muda yang baru menginjakan kaki di kampus hijau itu. Sebanyak dua ratus mahasiswa baru yang akan terbagi menjadi empat kelas berjalan perlahan menuju tanah lapang di depan Dekanat Fakultas Kedokteran. Terik matahari mulai menyengat diatas kepala mereka, beberapa maba atau mahasiswa baru tampak mengibaskan block note yang sedari tadi mereka pegang, berharap mendapatkan beberapa angin segar. Terlihat beberapa kakak angkatan dengan memakai jas almamater berwarna hijau tua, berdiri di depan mereka. Setelah kakak angkatan yang lain telah selesai mengkondisikan barisan maba agar terlihat lebih rapi, seorang lelaki berambut ikal dengan wajah yang bisa dikatakan tampan itu berdiri di depan mereka. Senyum lesung pipinya sempat membuat barisan maba perempuan sejenak terpana. “Halo … semangat pagi!” teriak lelaki berambut ikal itu. “Semangat pagi!” teriak barisan maba tak kalah semangatnya. “ Halo adik-adik mahasiswa baru, perkenalkan nama saya Zayn Hakeem. Saya presiden BEM Fakultas Kedokteran. Hari ini adik-adik semua telah resmi memasuki masa orientasi pengenalan kampus. Semoga selama lima hari ke depan akan memberikan adik-adik pengetahuan tentang dunia perkuliahan terutama di Fakultas Kedokteran tercinta kita dengan lancar dan tak ada suatu halangan apapun. Semangat selalu ya!” teriak Presiden BEM itu dengan penuh semangat. Hari pertama Orientasi dimulai dengan pembagian kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh anggota. Kebetulan Rhea masuk ke dalam kelompok dua dengan nama kelompok “Urologi”. Acara selanjutnya adalah pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terdaftar di Fakultas Kedokteran, semacam wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan hobi. Sedari kecil Rhea telah mewarisi bakat seni dari sang nenek, dia memutuskan untuk mengikuti UKM seni tari. Masing-masing kelompok diberi kakak pendamping dimana hari itu dijelaskan aturan-aturan yang wajib ditaati selama pelaksanaan ospek. “Jangan lupa, buat mahasiswa putri yang tidak memakai hijab, rambut wajib diikat dua. Satu orang melakukan kesalahan, maka semua anggota akan ikut terkena hukuman. Jadi kerjasama anggota kelompok sangat penting dilakukan.” Jelas kakak pendamping yang memperkenalkan diri dengan nama Niken. “Siap, mengerti kak.” ucap seluruh anggota kelompok dua. Acara expo UKM siang itu telah selesai. Terlihat beberapa kelompok berkumpul di bawah pohon-pohon rindang di sekitaran gedung dekanat. Tak terkecuali dengan kelompok urologi. Mereka asyik berkenalan sesama anggota dan mulai berdiskusi membahas tugas kelompok yang telah menanti. Disisi lain, beberapa kelompok tidak kalah antusias saling berkenalan dan berdiskusi atau hanya sekedar ngobrol bertukar fikiran. “Perkenalkan nama saya Rheana Amalia Lael Ebenheimer dari Bandung. Salam kenal teman-teman.” Rhea tersenyum setelah selesai memperkenalkan diri. Semua anggota urologi nampak tercengang heran. “Bandung? Aku kira kamu mahasiswa kelas internasional atau mahasiswa pertukaran luar negeri. Salam kenal ya, saya Sazeea Putri Reyna. Panggil aja Zeea. Aku asli Jogja.” gadis yang berwajah cantik dengan kacamata nya mengulurkan tangan dengan antusias. “Iya, kami kira kamu bule,” ujar teman-teman nya yang lain. “Ayah saya asli dari Groningen. Jadi masih campuran juga.” jelas Rhea “Groningen mana tuh?” tanya seorang laki-laki yang sedikit berbadan gembul. “Yaelah, Groningen aja nggak tau. Belanda.” timpal Malik yang merupakan ketua kelompok urologi. Mereka melanjutkan diskusi agar tugas-tugas yang diberikan bisa diselesaikan dengan segera. Berbagai properti yang harus mereka bawa selama lima hari masa ospek segera mereka cari. Kelompoknya membelah diri dalam mengerjakan tugas-tugas. Rhea dan teman-teman cewek mencari properti di Miata yang sudah terkenal sebagai pusat perbelanjaan murah bagi mahasiswa. Kebetulan hari ini ia membawa mobil milik tantenya sehingga mempermudah kelompok mereka untuk mencari keperluan tugas. Seharian kelompok Urologi berjibaku mengerjakan tugas di Kos Anin sampai senja terbenam. Tak terasa mahasiswa baru itu telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas pertama kelompok mereka. Satu-per satu anggota kelompok itu berpamitan untuk kembali ke rumah dan kos masing-masing disaat jam telah menunjukan pukul sembilan malam. Suara deru mesin mobil di matikan ketika Rhea telah sampai di rumah Palagan. Memastikan tidak ada barang-barang yang tertinggal di dalam mobil, gadis itu segera beranjak masuk ke dalam rumah. Wajahnya nampak lesu setelah seharian berjibaku dengan panasnya kota Jogja. "Hai keponakan tante yang paling cantik, kenapa lesu gini hhmm?" terlihat Lydia yang sudah berada di rumah berjalan mendekat ke arahnya. "Kok tante jam segini udah pulang, tumben?" "Iya nih, badan tante rada nggak enak. Jadi tante minta tolong sama si Davin buat nutup cafe. Gimana hari ini hhmm? Lancar kan?" Lydia sembari membawa segelas Lemon Tea hangat yang telah ia persiapkan untuk keponakan nya. "Makasih tant, ya gitu deh. Namanya juga maba tant, harus dibikin capek dulu sama senior hahaha." Rhea terkekeh. "Hhmm yaudah nanti kamu tidurnya jangan kemalaman biar besok bangun-bangun badan kamu udah segar lagi. Tante udah bilang sama temen tante yang jadi dosen di kedokteran sana. Kalau ada yang macem-macem sama kamu, dia yang akan tante marahin hahaha." tawa Lydia meledak. "Diih tante, nggak gitu juga kali. Lagian ini salah satu proses tant, jadi emang harus Rhea jalani, nikmati dan syukuri. Tante tenang aja deh." Rhea tersenyum memandangi tante nya. "Oke deh tante percaya keponakan tante pasti bakalan bisa lah. Ospek mah pasti kecil." Lydia tersenyum sembari memeluk keponakan nya itu. "Yaudah tante, Rhea masuk kamar dulu ya. Mau mandi, badan udah lengket banget." Pamit Rhea sembari mencium pipi Lydia. "By the way kamu udah makan belum?" Lydia tampak sedikit khawatir. "Udah kok tante, tadi Rhea udah makan di kos Anin." "Eits makan apa? Kamu masih baru di Jogja ya Rhe, perut kamu masih harus adaptasi dengan makanan disini. Jadi jangan jajan-jajan sembarangan dulu." Lydia sedikit khawatir. "Makan pecel lele tant, enaaak banget serius. Tante tenang aja, perut Rhea udah kebal kok. Rhea ke kamar dulu ya tant, bye." Rhea tersenyum dan segera beranjak ke arah kamarnya. "Bye Rhe," Lydia memandangi keponakan nya sampai ia menghilang dibalik pintu kamar. Rhea menutup pintu kamar dan segera merebahkan badan yang terasa lelah diatas kasur. Tak lupa ia menelfon sang mamah sebentar hanya untuk melaporkan kegiatan yang ia lakukan hari ini. Setelah dirasa cukup, ia segera mematikan telfon nya. Gadis itu menghembuskan nafas berat memandang langit-langit kamar. Sejenak ia merindukan sosok sang mamah yang sudah pasti jika jam segini saat di Bandung mereka sedang menonton film bersama. Rhea dan sang mamah mempunyai hobi yang sama yaitu menonton film. Baru tiga hari di Jogja saja dia sudah merasakan homesick. Gadis itu kembali menghembuskan nafas berat nya dan beranjak mengambil handuk untuk membersihkan diri agar ia bisa segera beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN