BAB ENAM BELAS

1235 Kata
Kegiatan trabas yang diakhiri dengan makan siang di The Queen of South Resort menjadi penutup kegiatan siang itu. Sesuai dengan janji yang disepakati, bahwa sorenya mereka akan kembali berkumpul hanya untuk sekedar ngobrol dan ngopi santai. Tetapi acara yang seharusnya berlangsung jam tiga sore pun mundur menjadi jam tujuh malam dikarenakan Leonaga mendadak harus bertemu dengan beberapa klien. Mochafe dipilih oleh Aloy dan Braga sebagai tempat tongkrongan mereka. Café yang menyediakan menu berbagai kopi dan cokelat, serta makanan ringan yang sangat lengkap, merupakan tempat yang banyak menjadi incaran anak-anak muda khususnya mahasiswa sekitar kampus UBM. Pemiliknya yang ramah dan mudah berbaur, menambah kenyamanan tersendiri sebagai tempat tongkrongan anak muda. Aloy, Braga dan Vincent yang merupakan seorang anggota polisi sekaligus sahabat yang bertugas sebagai intelejen di Kepolisian Daerah setempat sudah menempati area favorit mereka yang berada di outdoor balkoni. Berbagai cemilan dan secangkir kopi favorit masing-masing sudah terhidang di atas meja. Sebuah group akustik sedang perform dengan lagu-lagu romantis indie Jogja. Sang pemilik yang tak lain merupakan tante dari Rhea terlihat datang dari arah tangga. Dia mulai menyapa meja pengunjung satu persatu sebagai salah satu cara membina hubungan saling percaya antara pemilik cafe dan customer. Aloy melihat pemilik café yang terbilang cantik pun segera menyenggol tangan Braga yang di sinyalir sedikit mempunyai perasaan khusus sejak lama. Walaupun Braga sepantaran dengan Leon, agak nya dalam hal mencari pasangam hidup lelaki itu lebih memilih wanita yang lebih dewasa dari nya. “Eh … Eh, ganteng nggak gue?” bisik Braga. “Siip …. “ Aloy dan Vincent mengangkat jempol bersamaan. “Hai … kalian,” sapa Lydia sembari mendekat ke arah meja Aloy, Braga dan Vincent berada. “Halo, tante cantik. Apa kabar nih?” Celetuk Aloy sembari melambaikan tangan. “Kabar baik Al. Kok cuma bertiga? Yang satu lagi mana?” Lydia nampak mencari keberadaan seseorang. “Siapa nih maksudnya tant?” Aloy memastikan sembari melirik ke arah Braga. “Tant … tant, emang aku tantemu po? Please panggil Lydia aja Aloy, mba atau kakak juga boleh.” Lydia sedikit sewot mendengar godaan dari sahabat Leon. Sementara Aloy dan Braga hanya bisa menahan tawa. "Iya deh mba, iya." Aloy mengangkat jempol sembari mengedipkan mata. “Biasa, si dokter ganteng. Kok nggak gabung?” Lydia mencari sosok Leon. “Dia mah masih banyak urusan, tapi bentar lagi juga sampai sini kok. Oh ya, kenalin mba, ini temen gue juga namanya Vincent. Polisi dia ….” Aloy memperkenalkan Vincent. “Halo, saya Lydia. Semoga betah nongkrong disini ya?” Lydia dan Vincent pun saling menjabat tangan. “Vincent, salam kenal mbak Lydia.” Vincent sembari tersenyum. “Kok tumben baru kelihatan mba?” celetuk Braga “Iya nih, tadi habis jemput dan ngurusin uborampe keponakan yang mau kuliah disini.” Lydia menarik kursi dan bergabung duduk bersama mereka. “Wah, cewek apa cowok mba keponakannya? Kuliah di UBM?” cecar Aloy “Cewek dong, keponakan ku cantik lho. Heem dia kuliah di UBM, ambil kedokteran.” Jelas Lydia. “Apaan nih sebut-sebut dokter hhmm?” celetuk Leon mengagetkan mereka berempat. Leon baru saja tiba dan tersenyum ke arah mereka. “Ya ampun Leon. Aku pikir-pikir kamu sama hantu tuh sebelas dua belas tau. Nggak ada angin hujan, tiba-tiba bisa muncul dadakan.” Gerutu Lydia. Leon pun melakukan tos dengan ketiga teman-teman nya, tak luput mencium pipi kanan dan liri Lydia. “Urusan lu udah beres bro?” Braga mencoba mengkonfirmasi. “Udah, ya lagian mbak sist ini kayaknya tadi sebut-sebut dokter. Pada ngobrolin apa si? Kayaknya asyik banget dah.” kini Leon penasaran. “Ini lho, keponakannya mbak Lydia baru datang. Katanya anaknya cantik dan calon mahasiswa kedokteran UBM.” jelas Braga. “Ooh … kirain apaan,” Leon menanggapi tanpa ekspresi. “Serius keponakanku cantik yon, besok deh gue kenalin ke elu. Oh ya satu lagi, gue titip dia ya. Jangan sampai saat ospek besok dia di kerjain habis-habisan. Kalau sampe dia nangis gegara di ospek, elu yon yang bakalan gue kejar-kejar.” Ujar Lydia sembari terkekeh “Lah … kok gue? Apa urusannya?” ujar Leon sembari menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan bule Bantul itu. “Iya lah jelas urusan elu. Elu juga bakalan jadi dosennya kan?” ujar Lydia “Mantap yon, belum apa-apa udah dikasih tugas jagain anak orang. Selamat.“ Aloy terkekeh “Haduuh lama-lama ngobrol sama kalian, gue jadi butuh ngopi juga kayak nya. Obrolan nya sampai bikin energy gue keserep. Enjoy ya guys.” Lydia beranjak dari kursi sembari memberikan tos kepada Leon dan teman-teman nya. "Hedeh lebay amat si mba ... mba." celetuk keempat bersahabat itu. Lydia sudah menganggap Leon, Aloy dan Braga seperti sahabat sendiri. Apalagi Leon yang sudah membantu beberapa bisnis nya bisa berdiri hingga berkembang pesat seperti sekarang. Sementara keempat lelaki di meja nomor tujuh belas itu hanya terkekeh, memperhatikan Lydia menuruni anak tangga sampai hilang dari pandangan mata. “Eh Cent, lu udah nunggu lama? Sorry ya, tadi habis ketemu klien dulu gue.” Leon merasa tak enak jika sahabat nya menunggu terlalu lama. “It’s oke Leon, tak apa. Gue cuma mau kasih elu ini.” Vincent sembari menyerahkan beberapa file yang terikat menjadi satu. “Ini, data yang elu ceritain di telfon tadi siang?” Leon mengkonfirmasi. “Yuph … kita butuh banget bantuan dari elu. Mayat nya masih tahap evakuasi. Gue pastiin kalau si victim udah di Rumah Sakit, gue bakalan hubungin elu untuk detail nya.” jelas Vincent sembari menyeruput kopi nya. “Oke Cent, gua usahain analisis ini secepatnya.” Leon sembari memasukan file itu kedalam tas. “Thanks a lot ya bro. Kayak nya gue nggak bisa lama-lama disini.” Vincent menyeruput kopi terakhir nya. “Gue cabut dulu ya gaes.” Vincent berdiri dari kursi sembari melayangkan tos pada ketiga sahabatnya. “Oke, hati-hati bro,” celetuk Braga dan Aloy bersamaan. Sementara Leon hanya mengangguk. Setelah bayangan Vincent hilang dari pandangan mata, mereka bertiga saling menatap. “Kayaknya, kasus kali ini berat bro?” Braga sedikit penasaran ketika mendengar sekilas obrolan kedua sahabatnya tadi. “Berat atau nggak, kalau dibawa ngopi semuanya jadi happy.” Leon terkekeh. “Yaaah lagian elu, jadi dokter spesialis forensik. Kenapa si nggak ambil yang umum-umum aja gitu?” gerutu Aloy. “Hhmm asal kalian tau pasien umum tuh cerewet-cerewet, tau nggak? Ya kayak elu pada nih kalau lagi laper. Kalau forensik kan pasien pada diem-diem bae. Mau gue omelin kek, mau gue ajak nyanyi kek, mau gue ajak curhat kek, mereka tuh diem nggak pernah protes.” ujar Leon dengan raut wajah santai nya.. “Buset, serem amat si lu. Ya kali, lu ajak ngobrol dia jawab. Yang ada lu jiper kali dan pasti ngibrit haha.” Ledek Braga. “Nggak juga, kalau dia jawab ya gue ajak ngopi aja hahaha.” tawa Leon pun meledak “Hahaha … dasar sialan.” Celoteh Aloy. Mereka bertiga pun tertawa, menikmati secangkir kopi hangat yang tak pernah membuat mereka bosan. Bagi mereka, kopi sarat akan berbagai makna kehidupan. Salah satu prinsip filosofi yang mereka pegang adalah bahwa kopi tidak pernah memilih siapa yang layak untuk menikmatinya, karena dihadapan kopi semua orang sama. Itulah alasan kenapa ketiga bersahabat itu sangat menggemari minuman satu itu. Apapun keadaan status sosial dan ekonomi, tetapi di hadapan Tuhan mereka adalah sama. Malam semakin larut dan hawa dingin semakin terasa menusuk kulit. Bintang yang bertebaran di langit Jogja malam itu seakan menemani seluruh penghuni kota untuk menyongsong esok hari yang lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN