BAB LIMA BELAS

1532 Kata
Lima hari berlalu setelah malam pertemuan Leon dan Ivonne di Olympus Tower terlaksana dengan lancar. Siang itu media seluruh nasional digemparkan dengan adanya konferensi pers yang dilakukan oleh pihak Donovan Reynaldi. Dihadapan puluhan kamera dan wartawan berbagai media di sebuah gedung pertemuan yang telah ia sewa, dengan kepala tertunduk Donovan meminta maaf atas segala ucapan yang ia koar-koar kan selama ini tentang skandal Leon dan model ternama Ivonne Abigail. "Dengan segala kerendahan hati, saya Donovan Alexander Reynaldi mengakui segala kesalahan yang telah saya lakukan, dan memohon maaf yang sebesar-besar nya kepada orang yang telah saya rugikan akibat pernyataan yang telah saya buat sebelumnya, yaitu Sankara Leonaga Chandra beserta Ivonne Catherine Abigail. Segala kabar dan tuduhan yang saya sebarkan selama ini adalah tidak benar adanya." Putra keluarga Reynaldi itu juga mengakui bahwa hubungan yang santer ia ceritakan di media dengan model terkenal itu hanyalah cerita bohong dan harapanya yang terlalu tinggi menjadi kekasih seorang Ivonne Abigail. Sementara photographer yang mengaku mengambil foto Leon dan Ivonne di sebuah café bergabung juga di konferensi pers hari itu. Lelaki berewok itu meminta maaf atas kelancangannya mengambil gambar dan memberikan kepada salah satu kantor redaksi majalah tanpa izin dengan bermaksud untuk menjatuhkan reputasi pengusaha dan model ternama itu. Mereka berdua mengaku salah dan meminta maaf di hadapan publik dan media. Sorakan dan hujatan dari awak media terdengar menggema di akhir acara. Ivonne beserta manajer dan asistennya tampak syok melihat konferensi pers yang disiarkan langsung melalui televisi di rumah. Stevie dan Joice sontak berteriak kegirangan melihat biang pembuat keonaran selama dua minggu ini sudah meminta maaf dan mengakui perbuatan yang dilakukan. Sementara Ivonne menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sembari tak henti-henti nya bersyukur. Dalam hati kecil, terbersit rasa penasaran apa yang telah Leon lakukan untuk mengembalikan nama baik mereka. Sehingga dengan mudah membuat seorang Donovan yang merupakan anak dari pengusaha Reynaldi mengaku sekaligus bisa menemukan oknum yang telah memotret mereka berdua dengan diam-diam. Keluarga Reynaldi sudah terkenal dengan usaha di bidang pengelolaan batu bara di pulau Kalimantan sejak dua puluh tahun yang lalu. Usaha yang sempat naik turun akhirnya berhasil berkembang bahkan lebih maju sejak Reynaldi Tambunan bergabung di Chandraka Energy Group. Bahkan usahanya tidak hanya mencakup pertambangan, tetapi sudah merambah ke dalam industri hiburan tanah air. Setelah konferensi pers selesai, tanpa sepatah kata pun Donovan langsung kembali ke arah lobi dengan tergesa. Segera ia masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di lobi diikuti seorang asisten dan beberapa pengawal pribadi yang sejak dua minggu terakhir ia sewa. Tangannya terkepal dengan raut wajah merah padam menahan amarah yang tertahan. Malu dan takut bercampur menjadi satu. Hanya sejenak ia merasa bahwa kehormatannya sebagai laki-laki benar-benar telah hancur berkeping-keping. “b******k! Kenapa dari awal kalian tidak bilang kalau si Leon itu adalah Sankara Chandra?” bentak Donovan meluapkan amarah kepada sang asisten yang hanya bisa terdiam dan tampak ketakutan. “Ma ... maaf boss, kami tidak tahu. Info dari pimpinan redaksi itu tidak mengatakan bahwa Leon itu adalah putra kedua keluarga Amartya Chandra. Seperti yang boss tau, kita mengenalnya sebagai Sankara Chandra, bukan Leon. Kita juga tidak tahu kalau dia sudah kembali dari luar negeri selama empat bulan ini.” jelas asistennya dengan hati-hati. “Bodoh nya kalian ya, namanya Sankara Leonaga Chandra. Wajar kalau dia dipanggil Leon juga! Kenapa aku juga nggak berfikiran sampai sana Aargh … b******k! Sial!” Gerutu Donovan dengan kesal. “Kitt … kita salah sasaran boss. Maafkan kami yang kurang hati-hati.” sang asisten tampak pasrah kali ini. Donovan hanya menatap tajam kearah asistennya dengan wajah merah padam. Dipukulnya kepala asistennya itu dengan segera. “Pake nanya lagi, iya lah! Sangat salah sasaran!!” bentak Donovan. “Maafkan kami boss.” untuk kali ini sang asisten benar-benar ketakutan. “Enam puluh persen saham perusahaan di pegang oleh keluarga Chandra. Jika gara-gara kelakuan bodoh kalian ini berdampak dengan perusahaan-perusahaan keluarga Reynaldi, jangan harap kalian dapat ampun. Seharusnya kalian riset dahulu siapa Leon itu, bodoh!” maki Donovan masih dengan amarahnya. Sang asisten hanya bisa terdiam tanpa berminat untuk segera menjawab ucapan atasannya. Karena baginya, menjawab hanya akan memperkeruh suasana ditengah amarah yang masih membara. Sementara telepon pintar Donovan berdering dengan nama ayah nya tertera di layar. Ketakutan kembali menghinggapi perasaan kalutnya. Digeser tombol hijau penerima panggilan dengan tangan sedikit bergetar. “Ha … halo Ayah.” sapa Donovan dengan suara sedikit bergetar. “Anak bodoh! Dimana sekarang kamu hah?” terdengar suara sang ayah dengan nada tinggi di seberang telepon. Badan nya mendadak menggigil ketakutan. “Donovan sedang perjalanan ke kantor, yah.” jelas nya dengan bibir bergetar. Lelaki itu sudah bisa membayangkan, kalau ayah nya akan benar-benar menghajar ia habis-habisan karena telah berani bermain api dengan keluarga Chandra. “Temui ayah di kantor segera, sekarang!” bentak tuan Reynaldi dari seberang telepon. Donovan hanya memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas dalam. Kali ini dia benar-benar akan mendapatkan amukan dari orang tuanya. "Baik, yah," **** Gedung berlantai sepuluh, sudah terlihat dari dalam mobil yang membawa Donovan. Dirinya gelisah sejak meninggalkan gedung konferensi pers, dan sebentar lagi dia harus menjawab ribuan tanya yang akan dilontarkan sang ayah. Tulisan besar PT.Reynal Ultima terpampang di depan mata saat mobil hitam itu memasuki halaman gedung business centre keluarganya. Sebelum memasuki lobi gedung, ia sedikit merapikan setelan jas yang melekat di badan. Tenggorokan lelaki bermata sipit itu terasa kering, keringat dingin tak henti mengalir deras di pelipis nya. Dia mulai berjalan memasuki lift menuju ruangan dimana sang ayah berada. Ting .... Lift berhenti di lantai sembilan. Dengan sedikit bergegas, rasanya Donovan ingin segera melewati hari berat ini. Tok ... tok ... tok "Masuk," Terdengar suara berat dari dalam yang sudah pasti itu adalah sang ayah. Donovan segera memasuki ruangan diiringi oleh sang asisten yang berjalan di belakang. Tuan Reynaldi menghentikan aktivitas menandatangani beberapa berkas tatkala putra yang wajah nya baru saja ia lihat di televisi, kini telah berdiri di hadapan lelaki berambut putih itu. Tangan nya memberikan isyarat kepada sekretaris dan asisten putranya untuk meninggalkan mereka berdua. Perlahan tuan Reynaldi berjalan mendekati sang putra. Plak .... Sebuah tamparan keras berhasil membuat Donovan jatuh tersungkur. Dengan menahan perih, pemuda itu mencoba bangkit lagi. Namun, tamparan kedua berhasil di layangkan ayah nya kembali kepada dirinya. Plak .... Kali ini kedua pipi sang putra telah memerah. Perih, panas dan ngilu itu yang Donovan rasakan. "Ayah ... ma ... maafin aku ayah." Donovan memelas sembari mencoba bangkit kembali. "Duduk kamu, dasar anak kurang ajar." perintah tuan Reynaldi. Pemuda itu segera mendudukan p****t nya di kursi, sementara sang ayah kembali duduk di balik meja kantor nya. "Maaf ayah, Don hanya ...." "Hanya apa? Hanya ingin mempermalukan ayah, gitu?" tuan Reynaldi menatap sang putra dengan tajam. "Tidak ayah, Don tidak mengira kalau Leon itu adalah Sankara Chandra." jelas Donovan "Kapan kamu bisa tidak berbuat onar hah? Mbok yo kalau punya otak itu dipakai buat mikir! Kamu sama aja udah bawa perusahaan yang ayah rintis dengan susah payah ini berada di pinggir jurang sekarang. Ngerti nggak kamu?" tuan Reynaldi dengan wajah merah padam. "Iya ayah, maaf ...." "Coba sekarang kamu lihat saham perusahaan kita. Lihat ini. Anjlok gegara kelakuan bodoh kamu." tuan Reynaldi menghembuskan nafas berat, memijit-mijit kening nya. "Don janji, akan mengembalikan harga saham perusahaan kita kembali seperti awal ayah. Bahkan lebih." Donovan terlihat yakin, walaupun hal itu akan sangat berat. "Bulshit, ayah sudah tidak berharap banyak sama kamu Don. Ayah nyerah menghadapi sikap arogansimu itu. Kamu ayah kuliahin jauh-jauh keluar negeri dengan harapan agar otak mu bisa dipakai dengan benar, tetapi kelakuanmu sama saja seperti orang yang tidak berpendidikan. Asal kamu tahu, CUG sedang mereview kembali kontrak kerja dengan perusahaan kita. Sekarang ayah hanya berharap sama keajaiban. Karena kamu telah berani bermain api dengan orang yang salah, maka kamu harus bersiap-siap untuk mempertanggung jawabkan segala kemungkinan terburuk yang akan menimpamu." Jelas tuan Reynaldi. "Maksud ayah?" Donovan terlihat khawatir "Banyak berdoa saja, semoga Sankara tidak akan memperkarakan perbuatanmu itu kepada pihak berwajib." Tuan Donovan menatap wajah sang anak tanpa senyuman. "Ayah, aku mohon. Aku tidak ingin dipenjara. Don sudah mengaku salah, apakah ayah tega akan membiarkan anak lelaki satu-satunya ini dipenjara?" Donovan semakin ketakutan. Dia tidak pernah ingin membayangkan kehidupan penjara, apalagi jika harus menjadi seorang pesakitan. Terlihat tuan Reynaldi menghela nafas beberapa saat, kemudian kembali menatap sang putra. "Hhmm, baiklah. Ayah akan coba berbicara kembali dengan keluarga Chandra untuk meminta pengampunan mu. Tetapi kau harus berjanji, ini ulah terakhirmu membuat malu keluarga." Ancam sang ayah. "Siap ayah, Don janji ini yang terakhir. Terimakasih." Donovan terlihat sedikit lega karena sang ayah masih mau membantu nya. Ucap mulut manis terasa, sedangkan hati tetaplah membara. Hari ini dia telah kehilangan harga diri di depan publik, karena ulah dari salah satu pewaris Chandra. Kalau saja dari awal dia tahu siapa Leon sebenarnya, maka ia tidak akan terlalu antusias mencari simpati khalayak untuk mendapatkan perhatian seorang Ivonne. Perut dan d**a nya masih terasa sangat sakit tatkala anak buah Leonaga berhasil membuat ia mengakui dengan memukuli tanpa ampun. Beruntung bukan wajah tampan nya yang terkena pukul. Andai saja sang ayah tahu bahwa d**a dan perut nya penuh dengan luka lebam, maka ia tak akan berani menambah lebam di wajahnya. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Dia hanya bisa mengutuk dalam hati dan berjanji akan membalas rasa sakit hatinya suatu hari nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN