Ivonne duduk termangu sembari memandang televisi yang masih sibuk memberitakan dirinya dengan Leon. Ditambah Donovan yang memanfaatkan kesempatan itu untuk panjat sosial dengan menambahkan berita-berita tentang rasa sakit hatinya seolah-olah menjadi korban yang terkhianati. Wajah cantik itu menyiratkan kekesalan terhadap Donovan yang benar-benar tampak mengada ada.
“Ivy, are you oke?” Stevie merasa gusar melihat talent nya selalu berwajah murung sejak berita viralnya mencuat.
“Yeah I am oke, as always,” Ivonne dengan wajah muram.
“Mau aku buatkan minuman kesukaan kamu?” Stevie menawarkan segelas lemon tea.
“Nggak usah Stev, nggak perlu juga. Oh ya, udah ada kabar dari Leon belum?” Ivonne sembari tetap memandang televisi.
“Belum ada, bukan nya besok malam kalian ketemu?” Stevie mengkonfirmasi kembali.
“Iya, besok kita ketemu buat bahas hal ini,” jelas Ivonne
“Oke, buat jaga-jaga aku siapin beberapa surat perjanjian jika akan ada kesepakatan diantara kalian.” Stevie sembari beranjak untuk mengambil lembar perjanjian.
“Stev, nggak perlu siapin kayak gitu. Aku akan ketemu berdua aja sama dia bukan untuk membahas masalah bisnis. Aku yakin dia udah punya solusi buat stop bualan si Donovan dan kawan-kawan nya itu,” Ivonne dengan yakin.
“Kamu yakin hanya mau bertemu berdua aja? Kamu yakin Leonaga nggak akan macam-macam sama kamu?” Stevie meyakinkan.
“Iya … Stev, Leon itu lelaki baik. Aku bisa ngerasain. Dia berbeda ...”
Stevie hanya menghela nafas panjang. Ivonne selain sebagai talent dan partner kerja, dia sudah menganggap seperti adiknya sendiri.
Matahari bergulir cepat ke ufuk barat, langit jingga nya terbentang indah diatas kediaman model cantik itu. Asisten Leon yaitu Philip telah memberikan beberapa instruksi melalui telfon untuk menuju Olympus Tower, penthouse tempat kediaman Leon dengan aman. Sebelumnya Ivonne harus berangkat sendiri menuju Café Victory, tempat yang merupakan milik sahabat Leon sekaligus sebagai tempat transit sementara bagi Ivonne. Kemudian dari sana gadis itu akan dijemput oleh Philip melalui pintu keluar rahasia yang telah disiapkan.
Matahari semakin terbenam, rencana itu pun mulai dijalankan. Ivonne dengan memakai mantel berbulu, berkacamata hitam dan memakai topi mengendarai mobilnya keluar rumah menuju Café Victory. Sesuai dugaannya, beberapa mobil paparazy langsung mengejar untuk membuntuti tanpa ampun.
Dua mobil suv hitam langsung mengcover mobil Ivonne dengan membuat barrier yang menghalangi mobil para paparazzi dijalan. Hanya dalam sekejap, mobil model itu telah hilang dari pandangan mata para paparazzi. Memakan waktu lima belas menit, mobil sedan putih milik Ivonne langsung masuk kedalam basement parkir Café Victoria. Philip yang telah menunggu segera membukakakan pintu untuknya.
“Anda tidak apa-apa?” Philip khawatir yang melihat sedikit kecemasan di raut wajah Ivonne
“Tidak apa-apa. Apakah kamu Philip?” Ivonne sedikit waspada.
“Ya saya Philip, mari silahkan berpindah mobil untuk menuju Olympus tower.” Philip sembari membukakan pintu mobilnya untuk Ivonne.
Mereka berdua pun melaju ke tempat dimana Leon telah menunggu. Olympus tower? Ivonne sejenak berfikir, apakah benar Leon tinggal di penthouse super mewah dan sangat privat di negaranya itu?
“Philip, kau tidak salah menyebut nama Olympus tower?” Ivonne memastikan. Begitu banyak pertanyaan yang telah menumpuk dipikirannya.
“Betul non,” ujar Philip pendek.
“Apakah Leon tinggal disana?” Ivonne masih menyelidiki.
“Olympus tower salah satu asset dari keluarga Chandra. Tuan Leon memiliki satu unit di lantai seratus,” jelas Philip pendek.
Bayangan gedung tinggi berlantai seratus dengan ornament gothic yunani terlihat di depan mata perlahan. Sebuah patung Pegasus berdiri megah menyambut mereka berdua di pintu masuk nya. Sementara diujung puncak gedung terdapat patung Zeus, Poseidon, Hades, dan Athena yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Philip telah memarkirkan mobilnya di basement dan segera mereka memasuki lift khusus yang langsung menuju lantai seratus. Philip memencet tombol dan segera pintu terbuka. Sebuah ruangan mewah berlantai dua dengan nuansa modern klasik membuat mata Ivonne benar-benar terpana.
Alunan musik terdengar berserta dengan aroma terapi mint tercium menusuk hidung. Banyak ornament modern bercampur klasik di ruangan itu. Ivonne baru menyadari betapa Leon benar-benar orang yang tak bisa dianggap remeh. Terdengar suara sepatu turun dari lantai dua, terlihat Leon dengan pakaian santai berjalan mendekat dimana Ivonne masih berdiri terpana menatap nya.
“Selamat malam boss.” sapa Philip sembari membungkukan badan.
“Malam, hai Ivonne apa kabar?” sapa Leon dengan senyum hangatnya yang tanpa disadari membuat gadis itu kembali terpana. Sementara Philip segera keluar ruangan, memberikan mereka privacy untuk mengobrol berdua.
“Hai ... kabarku baik,” sapa Ivonne dengan tersenyum.
“Maaf, telah membuatmu ribet atau bingung untuk sampai ditempat ini. Tapi percayalah, sementara hal ini yang harus kita lakukan sampai keadaan benar-benar terkendali dan aman tentunya.” jelas Leon. Sementara Ivonne hanya memandang Leon sembari tersenyum.
“Leon, bagaimana kamu bisa bersikap tenang sementara diluar sana awak media dan Donovan sedang gencar-gencarnya membuat reputasi kita hancur?” Ivonne mulai meluapkan kekhawatirannya.
“Ivonne … calm down oke, tenang. Kamu duduk dulu, aku ambil minum sebentar. Apakah kamu mau wine?”
"Tidak, orange jus saja." pinta Ivonne.
Leon berjalan kearah dapur menuangkan orange jus kedalam dua gelas. Sementara Ivonne memandang kearah jendela dari ruang santai dimana gemerlap lampu kota terlihat sangat indah. Leon meletakan dua gelas orange jus di meja dan segera dia mendekati Ivonne yang nampak masih terpana dengan pemandangan lampu kota.
“Hei ....” sapa Leon sembari memegang bahu Ivonne.
Sedikit rasa kaget saat merasakan remasan jari tangan Leon di bahunya.
”Ayoo kita duduk dulu.” ajak Leon.
“Ya ....” Ivonne mengikuti langkah Leon.
“Kau bisa melepas mantelmu. Sini biar aku taroh digantungan.” Leon menawarkan.
Akhirnya Ivonne melepas mantel berbulu yang dipakai. Leon segera menaruh mantel itu ditempat gantungan mantel yang berada didekat pintu masuk, sementara Ivonne telah memakai setelan mini dress dengan warna hitam.
“Apa rencanamu Leon? Jujur aku sudah mulai gila dengan pertanyaan-pertanyaan yang paparazzi lontarkan. Apalagi pernyataan si Donovan gila itu.” Ivonne dengan raut muka kesal.
“Ivy, sabar. Kabar baiknya adalah, Donovan tidak tahu siapa lawan dia sebenarnya dengan terus-terusan menyalahkanku sebagai pihak ketiga. Rencanaku kurang lebih seperti ini.” jelas Leon dengan santai sembari menjelaskan strategi yang akan dia lakukan untuk menghentikan gossip yang telah beredar.
"Apakah kau yakin akan menggunakan cara itu?" Ivonne memastikan.
"Yeah aku yakin. Aku yakin Donovan akan belajar satu hal dengan adanya peristiwa ini. Bahwa peribahasa tong kosong nyaring bunyinya adalah benar adanya." Leon tersenyum memandang Ivonne.
Tidak terlalu lama mereka berdiskusi, satu jam berlalu Ivonne segera diantar kembali oleh Philip menuju café Victoria. Gadis itu hanya mengingat pesan Leon bahwa ia jangan sampai membuka suara perihal berita gossip itu sampai tiba pihak Donovan mengadakan konferensi pers. Walaupun beribu tanda tanya besar masih berputar-putar di kepala model muda itu tentang rencana detail yang akan Leon lakukan, tetapi ia selalu yakin bahwa masalah ini akan segera berakhir.