BAB TIGA BELAS

1347 Kata
House of Chandra, sebutan bagi kediaman utama keluarga Chandra terletak di daerah Kaliurang atas. Sebuah daerah perbukitan bernama Green Hill, berdiri sebuah rumah mewah bergaya gothic dengan lima lantai tepat berada diatas bukit itu. Hamparan rumput hijau membentang mengelilingi area bangunan rumah yang lebih mirip seperti sebuah kastil. Sebuah kolam air mancur besar menyemburkan air birunya terletak di balik tembok besi tinggi bergambar singa. Beberapa lapis pos penjagaan yang terdiri dari petugas keamanan, nampak bergantian berjaga dengan ketat. Hanya orang-orang yang mempunyai kartu akses bisa memasuki area Green Hill. Mobil yang ditumpaki Leon berjalan pelan mendekati gerbang utama yang dijaga ketat oleh staf security. Beberapa kamera CCTV terpasang aktiv diatas gerbang memantau setiap pergerakan. Seorang staf keamanan yang sudah faham dengan mobilnya segera mendekati dan memberikan hormat. Satu persatu, pintu gerbang otomatis terbuka dan mobil itu segera melanjutkan perjalanan. Rumah mewah kediaman orang tuanya sudah terpampang didepan mata. Rumah yang Leon tempati sedari kecil hingga SMA pun sekilas kembali mengingatkan beberapa kenangan antara dia dan keluarganya. Segera ia memarkirkan mobil di depan lobi rumah, seorang staf yang terlihat sudah sedikit renta menyambut kedatangannya dengan suka cita. “Selamat malam mas Leon.” sapa seorang staf yang memakai tuxedo rapi. Leon segera keluar dari dalam mobil dan memandangi sejenak rumah yang sudah lama tak ia kunjungi. “Selamat malam Kushi.” sapa Leon sembari tersenyum. Mereka nampak saling berpelukan, menumpahkan rasa rindu sesaat. “Mas Leon sudah lama sekali tidak berkunjung. Semoga den mas sehat-sehat saja.” Kushi tersenyum bahagia bisa melihat kembali salah satu tuan muda House of Chandra bertandang. “Aku, sehat-sehat saja Kushi. Aku senang bisa melihatmu lagi dan tentunya rumah ini.” Leon masih mengamati rumah besar itu. “Syukurlah kalau mas Leon sehat. Mari den, Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu kedatangan den mas Leon.” Kushi sembari membungkuk, memberi hormat. “Benarkah, mereka sudah menungguku?” Leon tak percaya mendengar kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya. “Benar den, beliau sangat merindukan den mas Leon. Kalau boleh saya memberikan saran, sering-sering lah den mas berkunjung.” jelas Kushi dengan tenang. Akhirnya Leon melangkahkan kaki memasuki rumah tersebut diikuti oleh Kushi dan beberapa staf lainnya. Tak heran, seorang Leonaga merasa aneh mendengar kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya. Sedari kecil, Amartya dan Tatiana Chandra yang merupakan orang tua dari Leonaga sudah terkenal sebagai pasangan work a holic. Setiap hari, Leon dan Abirama sang kakak menghabiskan waktu di rumah besar itu hanya dengan pengasuh, pembantu dan staf penjaga yang setia menemani mereka. Sedangkan kedua orang tuanya selalu sibuk mengurus bisnis dan melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara. Memasuki rumah, Leon langsung diarahkan menuju ruang keluarga di lantai tiga. Ruangan dengan tema cozy dipilih sebagai ruang keluarga Amartya. Pintu besar dari kayu mahoni itupun diketuk dan segera saja terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Leon memasuki ruangan itu perlahan, dilihat kedua orang tuanya sudah berada disana, memandang sembari tersenyum. “Anakku ….” Nyonya Tatiana berjalan mendekati anak keduanya yang memang jarang bertemu. Leon hanya mendekati dan segera memeluk mamah nya itu. “Apa kabar mah?” Leon sembari tersenyum. “Kabar mamah baik, ayo duduk.” ajak nyonya Tatiana. Sementara Leon mengikuti wanita yang masih terlihat cantik di usia ke-55 tahun. Berjalan menuju arah sofa, terlihat tuan Amartya Chandra telah duduk menunggu anak bungsu nya itu. “Hai pah, Apa kabar?” sapa Leon sembari memandang wajah papah nya. Lelaki yang terlihat penuh kewibawaan itu pun berdiri dan mendekati anak yang jarang pulang ke rumah itu. Tak lama, tuan Chandra pun segera memeluk anak keduanya dengan erat. “Papah baik nak … macan papah lama sekali tak terlihat hhmm? Kamu ini benar-benar sibuk atau memang sengaja tak ingin pulang ke rumah?” tuan Chandra menatap si bungsu penuh dengan kerinduan. “Maafin Leon pah, mah. Maafkan Leon yang jarang pulang ke rumah. Sekarang, Leon benar-benar sibuk mengurus bisnis dan mengajar.” jelas Leon sembari duduk. “Oh ya pah, tadi siang mas Rama telfon katanya ada hal yang akan dibicarakan oleh mamah dan papah. Bisa kah kita langsung membahas ke intinya saja, karena Leon masih ada temu janji dengan klien.” Terlihat kedua orang tuanya tersenyum mendengar Leon yang terlihat buru-buru. Sementara Leon sedikit terheran dengan sikap kedua orang tua yang memandangi dengan senyum terukir di bibir masing-masing. “Kamu ini nak, sudah seperti presiden saja sibuknya. Nanti kamu harus makan malam disini. Mamah sudah masakin makanan kesukaan kamu.” perintah nyonya Tatiana sembari tersenyum. “Apakah seseorang yang akan kamu temui model itu hhmm?” tuan Chandra mulai menyelidik. “Bukan pah, Leon mau bertemu dengan vendor.” Leon menanggapi dengan santai. “Sejujurnya, papah dan mamah tidak terlalu kaget saat mendengar namamu jadi viral seperti sekarang. Karena masalah hubunganmu dengan anak Darmawan itu. Sejauh apa hubungan kalian sebenarnya?” tuan Chandra mengkonfirmasi langsung kepada sang anak. “Pah, berita itu hoax. Kita nggak ada hubungan apa-apa, beneran. Itu kerjaan paparazi butuh duit aja makanya bikin berita sampai segitunya.” Leon menjelaskan dengan santai. "Apakah papah perlu mengadakan undangan makan malam untuk keluarga Darmawan Abigail? Dan ... haduh siapa itu nama anaknya?" tuan Chandra mencoba mengingat-ingat nama model yang digosipkan dengan sang putra. "Ivonne Abigail." celetuk Leon "Yah Ivonne Abigail. Apakah papah perlu mengundang mereka untuk memperjelas status kalian?" tuan Chandra tersenyum menatap putra nya. "Pah, ini apaan lagi si malahan bikin gosip baru. Please lah. Nggak lucu deh." Leon nampak bete dengan gurauan sang ayah yang menurutnya terlalu garing. “lho … lho haha, kok kamu jadi sewot?” goda tuan Chandra kepada anak bungsu nya. “Siapa yang sewot pah? Perasaan biasa aja dah. Malahan papah tuh yang ikut kemakan gosip.” Leon sedikit salah tingkah. “Tapi benar, kamu dan dia memang tidak ada hubungan spesial seperti yang diberitakan?” Tuan Chandra kembali menatap dengan raut muka serius. “Serius pah, Leon nggak ada hubungan spesial selain partner bisnis saja. Dia salah satu talent aku juga pah, mah. Kami memang sedang ada project bersama Agatha yang mau launching design baju barunya. Kebetulan Ivonne ini yang terpilih untuk memperagakan besok awal Agustus.” jelas Leon sembari tersenyum. “Oke, baiklah kalau begitu. Papah percaya kok sama penjelasan kamu. Oh ya nak, papah pingin tanya serius satu lagi sama kamu.” tuan Chandra kembali menatap si bungsu dengan serius. “Nanya apa pah? Semoga Leon bisa jawab ya.” Leon sembari bercanda agar suasana tidak terlalu kaku. “Kapan kamu mulai ikutan mengurus bisnis keluarga? Apa kamu nggak capek, mengurus usaha kamu sendirian sekaligus kamu sibuk dengan kegiatan mengajar di Universitas itu?” cecar tuan Chandra. Sementara Leon hanya tersenyum memandang wajah kedua orang tuanya. “Pah, ternyata papah belum faham siapa Leon sebenarnya ya? Walaupun bisnis Leon besarnya belum bisa disamakan dengan perusahaan keluarga, tapi perusahaan itu adalah rintisan Leon sendiri. Leon rintis dengan susah payah tanpa Leon minta bantuan ke siapapun. Sepuluh tahun Leon sudah bisa berdikari, nggak ngebanggain sukses karena harta keluarga. Jadi sebelumnya mohon maaf pah, kalau papah menanyakan kapan Leon akan mengurus bisnis keluarga, Leon belum bisa. Dan, perkara mengajar, yah … anggap saja biar biaya kuliah selama ini bisa terbayarkan dengan sesuatu yang bermanfaat.” jelas Leon sembari tersenyum. “Tapi ada hak kamu di semua perusahaan-perusahaan keluarga kita. Kamu juga punya saham di Chandra Universe. Entah kenapa papah lebih yakin kamu bisa mengurus CUG daripada kakakmu. Kakak mu itu ….” Ucapan tuan Chandra terpotong. Leon terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ada apa dengan nya malam ini? Apakah ia berminat akan pensiun dini dari CEO Chandra Universe? Dan kenapa papahnya tidak yakin dengan kepemimpinan sang kakak? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala pemuda itu. “Udah deh pah, kan anak kita baru pulang. Masa udah mau jadi forum debat aja. Sudah-sudah, mendingan sekarang kita makan malam. Mamah udah masakin makanan kesukaan kamu Leon.” nyonya Tatiana menengahi sembari tersenyum. “Nah ini baru asyik.” Leon tersenyum kearah papah nya yang masih nampak sedikit kesal dan menggandeng tangan mamahnya untuk segera beranjak ke tempat makan. Dia tak ingin terjebak lama-lama diskusi dengan papahnya. Sementara tuan Chandra hanya tersenyum melihat tingkah anak sulung nya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN