BAB DUA BELAS

2253 Kata
Satu minggu setelah pertemuan dengan Leon dan Agatha di café Ramayana, Ivonne resmi menandatangani kontrak project dengan Agatha Jones untuk baju baru yang direncanakan launching pada awal bulan Agustus. Hampir satu minggu ini matahari sangat terik menyengat di birunya langit Jogja. Membuat seorang Ivonne Abigail di waktu senggang lebih memilih memanjakan diri dengan berendam di kolam jacuzi. Segelas lemon tea dingin yang merupakan minuman favoritnya pun tak pernah luput didekat nya. Rumah berlantai dua yang ia huni, baru dibeli sejak dia terjun di dunia modeling. Dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, ia telah berhasil membuat beberapa investasi. Dari kejauhan terlihat Joice, sang asisten pribadi datang menghampiri dengan sedikit tergesa. “Kak Ivy ... kak Ivy, gawat kak!” Joice datang dengan sedikit berlari. Stevie yang sedari tadi menemani Ivonne mengobrol sedikit bertanya-tanya ada gerangan apakah yang membuat asisten cantik itu datang dengan raut wajah panik. “Joice, gawat apanya? Coba kamu tenang dulu.” Stevie berusaha menenangkan asisten pribadi Ivonne yang sedikit terengah-engah. “Nih kak, baru terbit. Masih anget!” Joice menyerahkan sebuah majalah ke arah mereka berdua. Mereka saling berpandangan, Ivonne mengambil majalah itu dari tangan sang asisten. Terlihat di sampul majalah yang diserahkan oleh Joice terpampang foto sang model dengan sebuah tulisan besar. “IVONNE ABIGAIL, PETUALANGAN CINTA SANG MODEL.” Ivonne membuka halaman pertama, rasa kaget sekaligus tak percaya meledak saat melihat foto diri nya sedang berpelukan dengan seseorang. Stevie pun tak kalah terbelalak melihat foto yang terpampang di halaman utama adalah sang talent. Direbutnya majalah yang sedang Ivonne pegang dengan segera untuk memastikan. “Ivy … apa-apaan ini? Elu pelukan sama siapa?” Stevie memandang wajah sang talent dengan tatapan heran menyelidik. Ivonne masih mencoba menyadarkan diri dengan berita yang tertulis di majalah gossip tersebut. Dia tak menyangka saat berpelukan dengan Leonaga, seseorang diam-diam telah mengambil gambar mereka. “Sial, kecolongan ternyata gue!” Ivonne menghembuskan nafasnya dengan kesal. Kacamata hitam yang dipakai pun dilemparkan ke lantai. “Dia siapa kak? Pacar baru kakak?” Joice tak kalah penasaran. “Iya Ivy, dia siapa? Lu lagi dekat sama siapa lagi nah sekarang?” Stevie sedikit mendesak. “Haduuh … kalian tenang dulu dong, jangan panik. Cowok itu Leon.” Ivonne menggigit bibirnya sembari memandang kearah asisten pribadi dan manajernya. “Leon? Leonaga? Kok bisa?” Stevie sedikit terperanjat saat nama anak bungsu dari keluarga Chandra itu keluar dari mulut Ivonne. “Leon Chandra?” Joice tak kalah kaget. “Iya … nggak nyangka gue, kayaknya semua bagian bumi ini pasti ada paparazzi nya ya?” Ivonne menyandarkan badannya di bak jacuzi sembari menenggak lemon tea nya. “Lu baca nggak nih? Di berita ditulis, Leon Chandra adalah orang ketiga yang diduga nyebabin elu putus sama Donovan.” Stevie mulai berbicara dengan mode paniknya. “Yaudah si nggak usah panik, yang penting aku sama Leon juga nggak ngapa-ngapain selain pelukan.” Ivonne mencoba bersikap tenang. “Serius elu sama Leon nggak ada apa-apa? Dulu aja pas kalian turun dari balkoni café, kalian gandengan tangan kan? Jujur aja deh Vy kalau kalian udah jadian.” Jiwa detektif Stevie mulai muncul. “Iya Stev, beneran. Kita cuma temenan dan partner kerja kok. Kita nggak jadian. Serius.” Ivonne tersenyum meyakinkan manajernya. “Tapi apakah publik nggak akan mengira kak Leon beneran jadi orang ketiga gegara berita ini?” Joice sedikit khawatir. "Nah itu ... itu pasti Vy, akan banyak oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk menyerang kalian." Stevie tampak khawatir. “Gini ya Stev, Joice. Bagaimana Leon jadi orang ketiga? Aku sama Donovan aja juga nggak ada apa-apa. Yang halu kan pihak Donovan. Buat sekarang gini deh, kita lihat dulu perkembangan ini berita gimana. Kita jangan sekali-kali buka suara pertama tentang berita ini. Gue juga yakin Leon nggak akan ambil pusing sama berita ginian,” Ivonne mencoba memberikan pendapat. “Tapi reputasi elu dan dia taruhannya Ivy. Belum lagi kalau keluarga Chandra tau berita ini, apakah kita nggak akan di gugat tuh kalau dirasa berita ini akan mencemarkan nama baik dari salah satu pewarisnya?” Stevie berjalan mondar-mandir sembari memegangi jidat. “Iya Stev, maka dari itu kita tunggu dulu aja sementara ini,” Ivonne berusaha menenangkan. Samar-samar terdengar suara ramai dari balik tembok tinggi rumah berlantai dua itu. Mereka bertiga sedikit terkejut dan dengan segera Joice berlari mengintip dari balik jendela rumah. Berbondong-bondong wartawan sudah ramai berkumpul didepan gerbang rumah sang model hanya untuk mencari kebenaran berita yang baru saja mencuat ke permukaan. Stevie segera berlari menyusul kearah Joice berada. Dia tak kalah kaget melihat kerumunan wartawan yang sudah berkerumun didepan rumah. Stevie segera berjalan kearah dimana Ivonne masih menikmati lemon tea nya dengan santai. “Ivy, sepertinya kita nggak bisa menunggu. Puluhan wartawan udah standby di luar gerbang,” lapor Stevie. Ivonne terbelalak mendengar ucapan manajernya, sejenak tertegun memikirkan apa yang harus dia lakukan karena semua wartawan pasti akan mengejar dirinya untuk mempertanyakan berita gossip yang baru mencuat. Sementara itu setelah selesai memberikan kuliah siang mahasiswa Coas untuk stase forensik, Leon segera kembali menuju kantor yang lebih tepat disebut basecamp menurutnya. Rumah tiga lantai di jalan Kaliurang dia sulap menjadi kantor pribadi. Disana, dokter trabas itu lebih suka untuk menyendiri, memikirkan pekerjaan sebagai dosen sekaligus mengelola berbagai bisnis yang telah ia rintis. Mobilnya telah terparkir di halaman rumah, rasanya ia ingin sekali membilas badan yang terasa sudah sangat lengket. “Good evening boss.” Philip berjalan menghampiri sedikit terburu. “Good evening Philip … how? Any good news?” Leon duduk sembari melepas tali sepatu satu per satu. “Bad news boss … look at this.” Philip menyerahkan sebuah majalah gossip. Lelaki yang terlihat sedikit lelah itu mengernyitkan kening saat melihat sebuah majalah gossip dengan foto Ivonne Abigail sebagai cover nya. “Halaman utama boss,” perintah Philip tak sabar. Leon segera membuka majalah itu dan seketika matanya terbelalak saat melihat foto dirinya dan Ivonne sedang berpelukan. Walaupun wajahnya tidak terlalu jelas terlihat karena badan nya sedikit membelakangi dari sudut pengambilan gambar. “What? ....” Leon kaget sekaligus terkekeh. Sementara Philip memejamkan mata sesaat saat ekspresi atasan nya itu biasa-biasa saja. Bahkan lebih ke tidak peduli dengan berita-berita tak bermanfaat seperti itu lebih tepat nya. “Leonaga Chandra diduga orang ketiga penyebab putusnya hubungan Ivonne Abigail dan Donovan Reynaldi. Mereka terlibat cinta segitiga terlarang sejak pertemuan pertama mereka di JFW season empat.” Philip masih memperhatikan ekspresi atasannya itu. Leon hanya menghembuskan nafas dan sedikit menggeleng-gelengkan kepala. “Demi duit, apapun bisa dilakukan. Nyemplung sumur juga mau kalau bisa menghasilkan duit,” gumam Leon. “Apakah ada rencana untuk menepis berita itu boss? Saya ada usulan beberapa strategi.” Philip memberikan masukan. “Apakah ada reaksi dari papah, mamah atau kak Rama tentang berita ini?” Leon memastikan sembari memandangi foto dirinya yang sedang berpelukan dengan sang model. “Belum ada boss,” “Philip, bukannya kalau kita menanggapi berita ini berarti kita membenarkan berita ini bukan?” Leon mengernyitkan dahi. “Bisa jadi iya, bisa jadi juga tidak. 50:50,” ujar Philip. “Aku belum ingin memberikan tanggapan apapun tentang berita ini. Karena pada dasarnya, aku sama Ivonne juga tidak ada hubungan special apapun selain partner kerja. Kamu tahu kan dia talent aku?” Leon tak mau ambil pusing. “Baik boss, sementara jika ada pihak yang meminta klarifikasi, kami akan bilang no comment.” Philip dengan tersenyum. “Sip … kamu tahu bagianmu apa Philip.” Leon beranjak berdiri sembari menepuk punggung asisten nya. Dia tak ingin memikirkan hal yang ia rasa tidak perlu dan tidak penting untuk dipikirkan. Dokter muda itu segera beranjak ke area kolam renang dan segera menceburkan diri untuk menyegarkan badan. Sampai keesokan harinya, beberapa wartawan masih setia menunggu kemunculan Ivonne Abigail di depan pintu gerbang rumah. Ivonne yang dijadwalkan melakukan beberapa pemotretan hari ini pun sedikit kesulitan untuk keluar dari rumah kediamannya. Berbagai strategi telah di susun secara matang oleh Stevie. Walaupun demikian, nampaknya Ivonne tidak bisa menghindari kerumunan wartawan yang dengan segera mengepung mobilnya. Bak luapan air bah, dengan cepat foto dan berita tentang hubungan Ivonne dan Leon menjadi viral baik di sosial media maupun di televisi. Kedua belah pihak pun belum ada tanda-tanda akan melakukan konferensi pers untuk klarifikasi. Bumbu-bumbu tambahan dari pihak Donovan yang memang belum terlalu menerima dirinya diputuskan sepihak oleh Ivonne semakin membuat berita itu kian memanas. Stevie sang manajer nampak pusing sejak dari pagi melihat banyak pesan yang masuk ke dalam telepon pintar nya. Berulang kali panggilan telfon masuk sengaja tidak diangkat, serta ribuan pesan sms maupun pesan w******p yang menanyakan kebenaran berita sudah menumpuk. “Ivy … gimana ini? Gue pusing mau jawab apa. Ribuan pesan wa sama panggilan telfon yang masuk pasti cuma mau nanyain kebenaran berita itu.” Stevie sembari memegangi jidat. “Hhmm … pokoknya kalian nggak boleh ngomong apa-apa sebelum gue ketemu sama Leon buat bahas ini.” tegas Ivonne. “Tapi kapan? Kapan kamu mau ketemu Leon?” Stevie memburu. “Secepatnya.” Ivonne memandang sang manajer sembari tersenyum. Sementara Leon yang memang lebih cuek dalam menanggapi berita yang sedang heboh ini lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannnya. Walaupun tak bisa dipungkiri gosip itu telah menyebar deras di area kampus tempat nya mengajar. Handphone nya berbunyi berkali-kali. Dilihat nama kakak nya terpampang di depan layar. Dengan menarik nafas, Leon mengangkat panggilan telfon dari kakak nya itu. “Halo …. “ “Leon my bro! Apa kabar? Kamu posisi dimana sekarang?” terdengar suara lantang dari balik telepon. Leon hanya menghembuskan nafasnya sembari terpejam beberapa saat. Kakak yang sudah jarang berkomunikasi sejak ia menikahi putri keluarga Hartman kembali terdengar di telinganya. Entah kenapa, dia merasa sangat kehilangan momen-momen berharga dengan kakak satu-satu nya itu sejak ia memutuskan untuk menikahi mba Anjana. Walaupun usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun kedua, tetapi kakak nya belum juga dikaruniani momongan. “Di kantor mas. Kenapa?” Leon sembari mengetik pekerjaan di komputer. “Elu beneran pacaran sama anaknya Darmawan Abigail?” “Nggak, gossip.” Leon tak berminat menanggapi pertanyaan sang kakak. “Lu tau kan, berita elu udah viral dimana-mana? Di kantor mas juga ramai. Di kantor mba Anjana juga ramai. Sejak kapan si adek mas ini jadi artis? Hahaha.” kelakar Rama. “Tau ….” Leon semakin tak berminat untuk mengobrol lama-lama.. “Hhmm … mas cuma mau sampein pesan. Nanti malam, mamah sama papah pengen ketemu kamu di rumah.” Jelas Rama. “Ketemu buat apa si mas? Gue sibuk kali.” Leon menghentikan aktivitas mengetiknya. Sedikit tertegun dengan pesan yang ia dengar. “Paling juga mau minta penjelasan lu tentang berita viral ini. Jangan lupa lho, mamah sama papah nunggu,” pesan Rama. “Oke, thanks udah ngabarin.” Leon menutup panggilan telepon dengan kakak nya. Leon berfikir sejenak tentang info dari kakak nya. Sangat jarang kedua orang tuanya sengaja request bertemu atau pun mengobrol secara langsung. Kalau memang mereka hanya ingin bertemu untuk membahas berita tidak penting ini, berarti hal ini menjadi sesuatu yang spesial buat mereka pikir Leon. Dokter muda itu kembali membuka laci meja kerja yang berisi sebuah majalah gossip. Dibuka kembali halaman pertama yang berisi berita dirinya dengan Ivonne. Lama ia memandangi foto mereka yang sedang berpelukan mesra. Dia tak habis fikir, kenapa hal bodoh seperti itu bisa mereka lakukan di tempat umum. Lamunan nya buyar tatkala kembali handphone nya berdering. Tampak nomor baru muncul di layar telepon pintar nya. “Hallo ….” Sapa Leon dengan rasa penasaran. “Hallo, apakah benar ini nomor Leon Chandra?” terdengar suara seorang wanita dari seberang. “Iya benar, ini siapa?” Leon sedikit waspada. “Syukurlah ... Leon, ini aku Ivonne. Aku minta nomor telfonmu sama kak Agatha. Apakah aku menganggumu?” suara girang Ivonne kembali terdengar. “Oh Ivonne, hai nggak kok nggak ganggu. Kenapa? Ada yang bisa dibantu?” Leon sedikit terbata. “Leon, apakah kamu sudah dengar berita tentang kita?” Ivonne mencoba mengkonfirmasi. “Iya Ivonne, aku sudah dengar beritanya.” “Apakah, kamu ada rencana agar berita ini tidak menyebar lebih luas? Jujur dengan adanya berita ini, aktivitasku sekarang benar-benar menjadi sangat terbatas.” Kekhawatiran sedikit terdengar dari ucapan model itu. "Terbatas bagaimana?" Leon penasaran. "Dari kemarin, puluhan wartawan mengepung kediamanku. Mereka menunggu 24 jam, untuk konfirmasi berita kita. Itu benar-benar sangat mengganggu karena aku tidak bisa keluar rumah sama sekali." jelas Ivonne. “Rencana? Sepertinya belum ada. Tapi, aku meminta izin darimu untuk membungkam mulut Donovan terlebih dahulu. Dan, sebetulnya kamu tidak perlu khawatir berlebih dengan berita itu. Lagian kita juga nggak ada apa-apa, so take it easy.” Leon mencoba menenangkan model muda itu. “Kenapa, kamu harus meminta izin kepadaku? Please … you know what my story with Donovan was like? Kayaknya kita perlu ketemu Leon, untuk bahas ini. Jujur, aku merasa terpojok oleh pihak Donovan yang nambah-nambahin berita nggak benar.” Ivonne terdengar sedikit panik. “Hhmm … sepertinya belum perlu kita ketemu untuk saat ini. Yang harus kamu tau Ivy, semua berita yang beredar sebentar lagi akan segera aku bereskan. Kamu tenang saja, nanti Philip akan mengabarimu lebih lanjut. Oh ya, ada acara yang harus aku hadiri, aku tutup teleponnya ya?” “Oke, aku percaya padamu Leon. Take care. Bye.” pamit Ivonne dari seberang telepon. “Bye, Ivonne.” Leon mematikan panggilan telepon nya. Leon memandang lurus kearah air terjun buatan di halaman rumah. Dipanggil nya Philip untuk mendekat kearahnya. Terlihat dia membisikan sesuatu kepada sang asisten yang diikuti anggukan kepala Philip. Tanpa sepatah kata keluar, asisten kepercayaannya itu segera beranjak pergi. Leon melihat jam tangan, tak terasa sebentar lagi senja akan menyapa. Dia beranjak untuk mempersiapkan diri, memenuhi pesan yang disampaikan sang kakak..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN