Agatha nampak lega seketika saat melihat kedua sahabatnya telah datang ke ruangan yang telah ia pesan, setelah sekian lama teman-temannya berpamitan untuk kembali ke kegiatan masing-masing. Yang membuatnya sedikit heran adalah sahabat dan talent nya itu berjalan sembari bergandengan tangan dengan senyum terumbar di bibir masing-masing.
Tak berbeda jauh dengan sang manajer, Stevie yang telah mengenal luar dalam tentang Ivonne sedikit terbengong melihat talent nya sudah terlihat lebih dekat dengan anak bungsu keluarga Chandra yang baru saja ia ketahui dari seorang Agatha Jones. Dia sangat tahu betul talent nya adalah orang yang gampang-gampang susah untuk dekat dengan seorang pria.
“Kalian kenapa si?” celetuk Ivonne heran melihat ekspresi sahabat dan manajernya.
“Kalian tuh ya aku pikir-pikir, lama-lama serasi juga kalau jalan bareng gandengan tangan gitu,” goda Agatha.
Ivonne dan Leon sama-sama melihat ke arah tangan mereka yang masih saling menggenggam dan seketika langsung dilepaskan. Mereka tersenyum nampak tersipu malu dan salah tingkah.
“Ciee ... mendadak salah tingkah nih.” ledek Stevie.
"Atau jangan-jangan kalian baru jadian nih?" tebak Agatha.
"Hussh ngawur, sejak kapan lu jadi biang bikin gosip hhmm?" Leon terlihat sewot.
Leon dan Ivonne pun segera mengambil tempat duduk didekat Agatha.
“Ya kali aja, siapa tau benar tebakan gue hehehe. Gue masih nggak percaya ternyata kalian udah saling kenal. Elu masih ingat nggak yon, kemarin gue sempet bilang ke elu kan kalau gue mau kenalin elu sama seseorang yang special?” Agatha memandang ke arah Leon.
“Iya gue inget. Emang siapa orangnya?” Leon memandang Agatha dengan tenang.
“Ya ini, Ivonne Abigail. Model luar biasa yang multi talent. Gue punya project beberapa baju baru, dan gue rencananya pingin Ivonne buat jadi model nya. Cuma ….” ucapan Agatha terpotong
“Cuma kenapa?” Leon memburu.
Ivonne dan Stevie pun tak kalah penasaran dengan kelanjutan ucapan Agatha sang desainer.
“Cuma gue butuh sponsor yang notabene dia suka juga dengan keragaman etnis negara kita. Lu tau negara kita kaya banget dengan aneka ragam budaya unik nya. Dan gue cuma nemu sponsor yang punya tipe kayak gitu ya cuma elu yon.” jelas Agatha sembari tersenyum.
“Oke, gua paham. Rencana mau bikin video clip sama pemotretan dimana?” tanya Leon tanpa basa-basi.
Agatha pun tersenyum seketika mendengar ucapan sahabatnya itu. Leon adalah salah satu sponsor yang sangat suka sekali memperkenalkan dan menjunjung tinggi budaya-budaya unik negaranya. Sementara Ivonne dan Stevie hanya saling berpandangan mendengarkan diskusi mereka.
“Gue rencana nya mau ambil Raja Ampat sama Sumbawa. Tapi masalah tempat itu bisa kita diskusikan lagi. Gue nurut sama sponsor si baiknya gimana yang pas sama model baju baru gue.” jelas Agatha dengan semangatnya.
Ivonne dan manajernya pun tampak tersenyum saat mendengar penjelasan dari desainer yang sudah tidak bisa diragukan lagi jam terbang nya. Seketika Leon melihat jam tangan yang telah menunjukan pukul tiga sore.
“Yaudah Tha, lu tau prosedurnya gimana. Urusin semuanya sama Philip. By the way … gue pamit dulu ya, ada janji sama teman lain. Mendadak nih soalnya. Then makasih buat undangan nya ya Tha.” Leon berpamitan sembari berdiri dari duduknya.
“Oke Leon, makasih banget pokoknya. Sesegera mungkin tim gue akan kirim proposal dan portofolio kita ke Philip.” Agatha sembari mencium pipi kiri dan kanan Leon.
Leon pun memberikan senyum dan lambaian tangan kearah Ivonne, ia segera keluar untuk pergi menemui teman lainnya yang sudah berjanji untuk bertemu jauh-jauh hari. Agatha dan Ivonne hanya saling memandang kearah lelaki yang perlahan berjalan meninggalkan tempat dimana mereka berada. Bagi Agatha, mempunyai relasi seperti Leonaga adalah hal yang harus ia jaga sampai akhir hayat nya.
Leonaga bukan hanya seorang sahabat, tetapi sudah ia anggap sebagai keluarga nya sendiri. Sementara ketiga wanita itu kembali melanjutkan diskusi dan pembahasan tentang proyek besar desain baju baru rancangan Agatha Jones.
"Oke Ivy, kak Stevie. Kalian berdua udah denger tadi kan sekilas tentang project besar desain baju baru gue. Tadi aku juga udah jelasin secara singkat ke kak Stevie tentang keinginanku buat pilih Ivy sebagai model yang akan memperkenalkan rancangan baru ini. Bagaimana Ivy? Apakah kamu bersedia?" Agatha tersenyum memandang Ivonne.
"Kak Agatha, tanpa kakak minta pun aku mau banget jadi bagian project kakak yang satu ini. Makasih ya kak udah percayain project besar ini ke aku sebagai model nya." Ivonne nampak sangat antusias mendengar tawaran dari Agatha.
"Oke Ivy, sama-sama. Aku yakin dengan segala track record kamu sebagai model profesional, kamu akan bisa membawakan baju rancangan terbaru ini ke vibe yang tepat. Sudah sepantasnya kamu yang terpilih." Agatha yakin dengan model baru itu.
"Jadi sponsor utama project ini fix Leonaga kak?" Stevie memastikan.
"Iya kak Stevie, dia sudah fix jadi sponsor utama. Tetapi aku minta satu hal sama kalian. Jangan pernah kalian cerita tentang sponsor utama project ini ke publik apalagi media. Karena Leon tipe orang yang tidak suka terekspose nama nya. Apalagi terekspose keluarga nya." Agatha memohon kepada Ivonne dan Stevie.
Nampak Stevie mengangguk tanda mengerti akan kebutuhan privacy yang sangat Agatha junjung tinggi terhadap sahabat sekaligus sponsor utama mereka.
"Hhmm maaf kak Agatha. Memang nya, Leon dari keluarga siapa? Sampai-sampai nama keluarga nya tidak boleh terekspose?" Ivonne ingin memastikan walaupun hati kecilnya mengatakan bahwa Leon adalah salah satu anggota keluarga Chandra.
"Amartya Chandra, Ivy. Dia pewaris kedua keluarga Chandra." jelas Stevie
Untuk kali ini, Ivonne Abigail benar-benar dibuat tidak berkutik saat mengetahui siapa sosok Leonaga sebenarnya. Intuisi dan hati kecilnya selalu benar bahwa lelaki yang telah membuat ia nyaman hari ini adalah bukan lelaki biasa. Putra dari pemilik Chandraka Group yang dikelola ayah nya.
"Serius?" Ivonne membelalakan mata.
"Yah serius. Tapi penampilan dia santai banget kan? Sekilas orang-orang tidak akan menyangka kalau dia putra dari pemilik Chandra Universe Group." Agatha terkekeh melihat ekspresi kaget seorang Ivonne.
"Oke kak Agatha, berarti yang harus kami persiapkan apa nih? Untuk adendum Ivy sebagai model kapan akan kita sepakati?" Stevie memastikan kembali.
"Sementara kami akan mengirim proposal dahulu ke asisten Leon. Nanti untuk adendum bisa dipersiapkan saat tim kami presentasi project di kantor Leon ya kak." jelas Agatha sembari tersenyum.
"Oke siap." Stevie tersenyum puas.
Matahari mulai menggelincir perlahan ke sisi barat. Jalanan mulai memadat, memasuki jam kantor yang hampir usai. Ketiga gadis itu berpisah setelah kesepakatan yang mereka diskusikan telah mencapai kata final.