Balkoni lantai dua café Ramayana adalah area makan berbentuk outdoor, dimana area itu juga tersedia kolam renang yang lumayan luas. Leon dan Ivonne mengambil duduk disebuah kursi yang menghadap ke arah kekarnya Gunung Merapi. Semeribit angin menghempaskan rambut panjang Ivonne yang berwarna cokelat dengan lembut. Dia mengambil duduk menghadap Leon yang sibuk memesan segelas Americano dan lemon tea minuman favorit Ivonne.
“Kamu suka banget ngopi ya?” Ivonne memulai pembicaraan.
“Yah ... cuma kopi yang ngertiin suasana hati gue.” Leon memandang wajah Ivonne.
“Buat elu, pasti bosen banget ya ngedengerin obrolan kayak di dalam tadi?” Ivonne terkekeh menerka-nerka.
“Not really, asalkan nggak makin lebay aja obrolannya.” timpal Leon dengan tenang.
“Obrolan lebay menurut kamu yang kayak gimana si? Perasaan biasa aja deh.” Ivonne terkekeh mendengar jawaban lelaki tampan yang tak lepas memandang dirinya sedari tadi.
“Ya yang kayak tadi temen-temen kamu omongin. Gosip, pencapaian, gosip, pencapaian. Gitu aja terus sampe cafe ini tutup.” Leon mulai mengaduk kopinya dengan pelan.
“Berarti aku termasuk lebay dong?” Ivonne dengan wajah sedikit cemberut.
“Kalau kamu termasuk kayak mereka, ngapain aku ajak kamu ngobrol disini. Aku tahu kamu nggak kayak mereka, kamu pun juga ngerasa bosen kan sebenernya? Mereka-mereka sering anggap remeh model-model baru atau junior mereka.” Leon sembari tersenyum.
Sekarang giliran Ivonne tertegun mendengar ucapan lelaki yang memang ia rasa spesial itu. Sepertinya Brad pitt Indonesia itu paham betul dengan apa yang dia rasakan tadi.
“Tuh kan diem aja, pasti omonganku bener hahaha.” Leon sontak tertawa. Ivonne hanya tersenyum mendengar celotehan lelaki yang benar adanya.
“Kamu paranormal ya? Kok bisa ngerti si.” Ivonne tersenyum sembari menyeruput segelas lemon tea nya.
“Oh ya, aku boleh tanya sesuatu nggak?” Leon menyeruput Americano yang sedari tadi diaduknya.
“Tanya tentang?” Ivonne menatapnya dengan tatapan heran.
“Daripada aku dengar dari media, kan aku mendingan nanya ke kamu langsung.” Leon tersenyum.
Sembari menyibak gerai poni, gadis manis itu tak henti-hentinya tersenyum dengan sikap Leon yang ternyata asyik diajak ngobrol.
“Oke, asalkan pertanyaannya bukan tentang matematika hehe,” jawab Ivonne
“Haha nggak, tenang aja. Bukan pertanyaan tentang matematika kok. Tapi aku hanya ingin bertanya, apa benar kamu ada hubungan dengan Donovan? Anak ketiga dari keluarga Reynaldi?” Leon menatap gadis itu sembari tersenyum.
Nampak Ivonne menghembuskan nafas sesaat kemudian kembali memandang ke arah pengusaha muda itu sembari tersenyum.
“Kenapa si harus tanya tentang Donovan?” Ivonne tersenyum sedikit tak berminat.
“Ya karena berita yang sekarang ramai itu. Daripada aku dengar dari media yang kadang ditambah-tambahin, kan mendingan aku tanya ke kamu langsung. Iya nggak?” Leon sembari terkekeh.
“Hadeeh, oke deh big boss Leon, aku coba jawab dengan eksklusif hanya sama kamu. Aku tuh nggak ada apa-apa sama Donovan,” Jelas Ivonne.
“Ah masa? Yang bener lah.” Leon mencoba mengajuk hati gadis yang sedang menatapnya.
“Iya beneran, orang aku aja ketemu dia baru dua kali. Terakhir ya emang ketemu di acara Reynaldi House Awards itu.” Jelas Ivonne sembari menenggak minumannya kembali.
“Kalau gitu, kok bisa elu di isukan pacaran sama dia dan mau putus?” Leon semakin penasaran.
“Akal-akalan media aja. Terus ya ada oknum-oknum yang nambahin bumbu. Padahal aku mau foto itu gegara si Donovan yang minta pas aku mau pulang dari acara itu.” jelas Ivonne sedikit kesal dengan kecerobohan yang telah ia lakukan saat itu.
Jika saja ia tak menyetujui permintaan Donovan untuk ber swafoto bersama, mungkin gossip mereka jadian tidak akan se viral seperti sekarang.
“Hhmm ... jadi intinya yang halu si Donovan dong?” celetuk Leon
“Ya bisa dibilang begitu, lagian apa hebatnya dia si? Dia kan playboy kelas kakap. Dia juga deketin aku cuma kalau ada butuhnya dan yang paling gue benci banget apa coba? Elu tau lah sebagai cowok apa yang mereka harapin dari seorang cewek.” Jelas Ivonne dengan raut muka sedikit muram.
Lelaki itu sedikit kaget melihat perubahan raut wajah model cantik itu. Seorang Ivonne yang baru ia kenal terlihat selalu ceria dan tersenyum pun bisa semurung itu.
“Ivonne, are you oke?” Leon memegang telapak tangan gadis itu dengan lembut. Ivonne sedikit terperanjat dan sadar dari lamunan nya.
“Hhmm? ....” gumamnya sembari menatap mata Leon.
Tatapan tajam lelaki yang ada dihadapannya itu benar-benar membuat jantung gadis cantik itu berdegup kencang.
“Kenapa? Apa ada masalah?” Leon mencoba memberikan perhatian lebih kepada model muda itu.
“Hehehe nggak, aku nggak apa-apa.” Ivonne terkekeh sembari mencoba tersenyum.
“Hhmm ... kamu tahu Ivonne, segala sesuatu pasti selalu mempunyai alasan. Seperti pertemuan kita hari ini. Apa yang kamu katakan tadi tentang laki-laki juga pasti ada alasannya.” Leon memandangnya sembari tersenyum.
Ivonne hanya memandang wajah Leon dengan lekat-lekat. Bagaimana bisa orang yang baru dia kenal sesaat dan baru mengajaknya ngobrol seolah-olah sangat mengerti isi hatinya. Tanpa sadar, Ivonne semakin tertarik untuk mengenal seorang Leonaga lebih jauh lagi. Tatapan mata mereka saat saling bertemu sering membuat jantung gadis itu mendadak berdegup kencang, dan desiran darah di nadinya semakin terasa kuat.
“Huft itulah aku Leon. Orang-orang melihat ku, memandang ku dan menganggap ku sebagai wanita yang suka mempermainkan laki-laki. Padahal aku hanyalah salah satu orang yang pernah menjadi korban kebejatan dari seorang laki-laki.” gadis itu sedikit tertunduk.
Leon kembali tertegun sejenak sembari memandang wajah yang sekarang menunjukan sedikit emosi yang lama tertahan. Sedikit muram tetapi tidak mengurangi kecantikan nya.
“Ivonne Abigail, hei dengarkan ucapanku ini ya. Aku nggak akan pernah menanyakan apa yang telah kamu alami sehingga hal itu bisa membuatmu membenci laki-laki. Semua orang pasti punya masa lalu, baik itu bahagia atau pun pahit sekalipun. Yang penting sekarang, jadikan semua itu sebagai pelajaran berharga. Dimata ku, seseorang yang terkenal suka mempermainkan laki-laki seperti yang kamu katakan tadi, itu lebih baik dari pada berpura-pura baik tetapi dia tidak bisa menjadi orang baik.” Leon tersenyum sembari memandang wajah gadis itu dengan tenang. Dilihatnya Ivonne tersenyum setelah mendengar ucapannya.
“Baru kamu yang tau aku kayak gini Leon.” Ivonne memandang nya sembari tersenyum.
“Apakah itu sebuah kesalahan?” Leon dengan tatapan menaksir.
“Nggak, sama sekali tidak. Justru aku bersyukur karena Tuhan telah mengenalkanmu di hidupku.” Ivonne menatap mata Leon sembari tersenyum.
“Kalau dengan bercerita bisa membuat hatimu lebih tenang, gue siap jadi pendengar yang baik buat kamu.” Leon memberikan penawaran. Mereka berdua pun sama-sama tersenyum.
“Kapanpun?” Ivonne memastikan dengan tatapan manja.
“Anytime,” Leon memastikan.
Mereka pun tertawa bersama. Tak selang lama, handphone Leon terdengar meraung-raung dari dalam saku celana. Nama Agatha tertera di layar telepon pintar itu. Segera dia angkat dan terlihat beberapa saat berbicara di saluran telepon. Setelah selesai, ia segera kembali menaruh handphone di saku dan menatap model yang masih menikmati segelas lemon tea nya.
“Kenapa? Penting ya?” Ivonne terlihat penasaran.
“Agatha, nyuruh kita ke dalam. Teman-temannya udah pulang. Tinggal dia sama manajer kamu.” Leon sedikit terkekeh.
Ivonne hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala keheranan mendengar ucapan lelaki itu. Mereka berdiri dari tempat duduk untuk bersiap-siap kembali kedalam ruang VIP, tempat dimana sahabatnya berada.
“Leon ....” sela Ivonne sebelum mereka beranjak kembali ke dalam.
“Iya, kenapa?” Leon tersenyum memandang wajah ayu model itu.
Seketika gadis itu memeluk lelaki yang sudah menjadi orang spesial di matanya untuk beberapa saat. Kebingungan sedikit mendera hati Leon melihat sikap model cantik itu memeluk secara tiba-tiba.
“Makasih ya, udah mau jadi pendengar yang baik buat aku.” bisiknya dengan pelan. Senyum Leon terkembang, dia membelai bahu gadis itu dengan perlahan.
“Sama-sama Ivonne.” bisik Leon.
Mereka pun saling melepaskan pelukan dan mengumbar senyum bersama. Digenggamnya tangan gadis itu dan segera mereka turun ke bawah untuk menemui sahabatnya di ruang VIP.
Tanpa mereka sadari, dari seberang tempat duduk dimana mereka asyik berbincang, seorang fotografer bertopi telah mengambil pose mereka saat berpelukan. Lelaki misterius berkumis tebal itu segera mengeluarkan handphone dari saku celana dan terlihat sedang mengetik beberapa pesan ke sebuah kantor redaksi salah satu majalah gosip terbesar di kota Yogyakarta.
“Gue punya kabar besar, ada orang ke tiga yg bikin Ivonne dan Donovan putus. Ivonne Abigail punya pacar baru. Foto bukti akan gue kirim by email. Jangan lupa, uang transfer ke rekening seperti biasa.”
Begitu isi pesan w******p fotografer tersebut dan segera mengirim foto-foto yang diambilnya tadi. Sesungging senyum jahat terkembang di bibirnya dan segera dia bergegas pergi dari café itu.