4. wanitaku

523 Kata
Seharian penuh Melodi tenggelam dalam pekerjaannya. Setumpuk berkas terakhir barusaja diselesaikannya, sekaligus disusun dengan rapi. Baru saja dia duduk dan menyandarkan punggungnya ketika handphone berbunyi. " Haloo.. Assalamualaikum.." " Walaikumsalam...bagaimana sudah selesai, aku sudah didepan kantormu" Melodi bengong mendengar kata - kata dari Erlangga yang beruntun. Belum sempet dia menjawab sambungan telepon itu telah terputus. Membuat Melodi cemberut kesal. " Kebiasaan..." gumamnya, menarik perhatian Susan. " Hey...ada apa Mel...kok kelihatanya kesal.." tanya Susan kemudian " Ah tidak kok..cuma ...kesel sama handphone aja..." sahut Melodi gugup ketahuan ngomel sendiri. " Oh..aku kira kenapa....sudah selesai kan. pulang yuk.." ajak Susan kemudian. " Sudah..ayo..." sahut Melodi lantas berdiri dan melangkah mengikuti Susan menuju lift. Sesampainya didepan gerbang. mereka berhenti, " Kamu pulang naik apa Mel..." tanya Susan, melihat Melodi berdiri seperti patung didepan pintu. " haaa...." Melodi kaget. " Ih kamu suka ngelamun ya...pulang naik apa.." " Hehehe...naik motor..." jawab Melodi cengengesan. " oh gitu...ya udah aq duluan ya..bisnya sudah datang" pamit Susan seraya berlari kearah bis jemputan karyawan yang baru datang. " hati - hati ya...." teriak Melodi, lalu berlari menyeberang jalan kearah Erlangga yang sudah menunggunya dari tadi. " Sudah lama Ngga" tanya Melodi sambil tersenyum. " Lumayan...naik gih.." kata Erlangga sambil menyerahkan helm kearah Melodi. Seperti biasa tanpa bertanya dan pemberitahuan lebih dulu, Erlangga langsung melaju membelah jalanan dengan motornya menuju kearah tempat yang sudah direncanakan sejak tadi. Tigapuluh menit kemudian motor berhenti diparkiran sebuah rumah. Rumah yang tidak begitu besar tapi terlihat sejuk dan nyaman. Tampak pemandangan yang sangat indah. Sebuah taman yang tersusun rapi, sebuah kolam ikan dan bebatuan yang tersusun rapi. Dan juga air mancur yang menimbulkan suara gemericik membuat suasana tampak lebih asri. " Ayo masuk...jangan bengong.." kata Erlangga sambil menarik lengan Melodi. Setengah berlari Melodi mengikuti langkah panjang Erlangga. Erlangga menghempaskan tubuhnya disofa ruang tengah rumahnya, Melodi mengikutinya duduk disamping Erlangga. " Mel...kalau mau minum dikulkas, kalau mau makan belum masak, kalau mau kekamar mandi ada dipojok sana..aku mandi dulu ya.." kata Erlangga panjang lebar sambil ngeloyor pergi menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Melodi. Tinggalan Melodi yang bersungut- sungut karena kesal. " Huh...dasar..." protesnya hanya ditanggapi senyuman oleh empunya rumah. Senyuman yang sangat manis dan penuh arti, membuat wajah Melodi terasa panas. Ada sesuatu yang tidak biasa dia rasakan saat melihat senyuman Erlangga barusan. Lima belas menit berlalu, tampak Erlangga masih anteng dilamarnya , dan belum menunjukan tanda- tanda mau keluar. Sampai setengah jam kemudian, membuat Melodi jengah, dan bosan menunggu sampai akhirnya diputuskan untuk menelpon Erlangga Saat Melodi menekan nomor Erlangga terdengar suara getar disampingnya. Melodi pun menoleh dan terkejut melihat kearah layar handphone Erlangga. Tampak wajahnya yang sedang tersenyum dilayar handphone tersebut, lebih kaget lagi saat Melodi membaca nama untu nomer teleponnya. " Wanitaku..." Melodi terdiam beberapa saat. sampai waktu panggilan berakhir. Dia masih sangat kaget dengan apa barusan yang dialaminya. Sampai dia dikagetkan oleh bunyi handphonenya sendiri. " Assalamualaikum Bu..." sapa Melodi " Walaikumsalam...kamu dimana nak kok belum pulang..ibu khawatir" tanya Ibu " Lagi sama Angga Bu...nanti bentar lagi pulang" jawab Melodi " Oh ya sudah kalau begitu, hati- hati ya nak" katanya kemudian. " iya Bu.." jawab Melodi kemudian mengakhiri sambungan telepon tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN