Hari Minggu. harusnya senang karena libur kerja. tapi tidak bagi Melodi karena hari ini adalah hari pernikahan Erlangga dengan Erika.
Laras masih saja diam membeku didepan meja riasnya. Merenungi tentang nasibnya.
" Sayang ayo..nanti kita ralat." tegur Bu Dina sambil mengelus puncak kepala Melodi.
Melodi bergeming. " Ma..Mel tidak usah pergi ya.." pintanya kemudian.
Dina merasa perih hatinya. Dia sangat tahu betapa hancur hati putrinya. Namun dia juga tidak kuasa. Terlalu banyak hutang Budi pada keluarga Prayoga. Seandainya bisa, dia lebih memilih melarikan putrinya supaya dia bisa bahagia dengan pilihanya.
Tapi apalah daya. Semua hanyalah angan semata.
" Sayang...kuatlah, ini yang terbaik. dan Mama yakin kamu pasti bahagia dengan Arrey, Mama lihat dia sangat menyukaimu" Kata Dina menghibur putrinya. Walaupun hatinya terasa sangat sakit melihat kondisi sang putri.
" Bu..ayo berangkat..mana Melodi" teriak Hardi dari ruang tamu.
" Iya Pak..."
Bu Dina segera merapikan riasan Melodi.
" Ayo sayang.." tanpaenunggu persetujuan dari Melodi, Budina menarik lengannya dan membawanya keruang tamu. Sepertinya dia sangat takut Hardi akan marah.
Mereka berangkat dengan cepat. Radit melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju masjid pusat kota.
Sesampainya di halaman Masjid. segera mereka turun. Dan bergegas masuk, karena sepertinya sudah terlambat.
Begitu sampai diambang pintu mushola. terdengar untaian ijap kabul dari Erlangga menggema memenuhi ruangan.
Seketika lutut Melodi terasa lemas dan matanya terasa gelap. Dan detik selanjutnya Melodi lemas dan terjatuh kebelakang.
Dan sepertinya Hardi , Dina dan Radit tidak menyadarinya, karena Melodi berdiri paling belakang.
Sebelum tubuh Melodi jatuh kelantai Masjid. Sepasang tangan kekar dan d**a bidang menahan tubuhnya. Tapi begitu menyadari bahwa Melodi tidak sadarkan diri. Segera dia membopong Melodi dan membawanya kemobil.
Untung saja posisi ijab kabul membelakangi pintu, jadi tidak ada yang melihat Melodi pingsan. Dan sepertinya Hardi, Dina ataupun Radit belum juga menyadari tidak adanya Melodi.Mereka segera mengambil tempat duduk dan mengikuti acara.
***
Dimobil. Arrey kebingungan. tapak agak panik. Mencari kotak P3K dan segera mengoleskan minyak kayu putih ke tisu dan mendekatkan ke hidung Melodi.
Mencium bau yang menyengat Melodi mulai tersadar. Perlahan membuka matanya.
" Syukurlah kamu sudah sadar" Kata Arrey lega.
Melodi menatap Arrey, air matanya tiba-tiba meluncur begitu saja. Terdengar isaknya pelan.
" Mel...." belum selesai Arrey berkat Melodi segera memotongnya.
" Pergi sekarang" kata Melodi disela isaknya.
Arrey segera menjalankan mobilnya tanpa bertanya lagi.
" Kemana" tanya Arrey
" Terserah" Kata Melodi. Isaknya tak lagi terdengar tapi airmata masih deras mengalir
Arrey menggaruk kepalnya. bingung mau kemana. Akhirnya dia membelok kearah apartemen pribadinya. Berharap Melodi bisa tenang disana.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di bassment apartemen Arrey.
" Ayo turun. " kata Arrey setelah membukakan pintu mobil. Melodi turun dan masih tampak begitu shock. Arrey menggandeng lengan ya menuju lift yang membawa mereka ke lantai limabelas .
" Duduklah,..." Arrey mendudukan Melodi di Sofa ruang tamu. Dan beranjak kedapur.
" Minum" katanya sambil menyerahkan gelas berisi air putih kearah Melodi.
Melodi menerima dan meminumnya hingga habis. Arrey mengambil gelas itu kembali. Dan Melodi menutup wajah dengan kedua telapak tanganya. Tangisnya kembali memecah kesunyian.
Arrey bingung harus bagaiman. Direngkuhnya kepala Melodi kedalam dekapannya. Dielusnya puncak kepala Melodi. Berharap dia bisa kembali tenang.