" Silahkan mas ganteng.." sapa seorang lelaki tapi sangat centil dan berdandan seperti wanita. terlihat sangat genit, sehingga membuat Arrey geli dan bergidik. Karena lelaki seperti perempuan atau lebih gampang disebut wanita jadi-jadian selalu nempel dan mencolek- colek pipinya.
Membuat Melodi ingin tertawa. tapi sebisa mungkin dia tahan tawanya, karena takut menyinggung wanita tadi.
" Saya mau bertemu dengan Mbak Vely, " kata Arrey.
" Beliau sedang pergi dan berpesan kepada saya untuk melayani mas ganteng" kata cewek jadi jadian itu sambil mengedipkan sebelah matanya, masih dengan tingkah genit nya.
" Oh gitu, saya sama tunangan saya mau fitting baju pengantin " kata Arrey segera mendekati Melodi dan memeluk pinggangnya.
Membuat Melodi kaget, dan berusaha menepis tangan Arrey. Tapi sayang pemuda itu terlalu erat memeluknya. Sehingga Melodi hanya bisa melotot pada Arrey dan wajahnya ditekuk pertanda dia sangat kesal.
" Mari ikut saya..." kata Cewek jadi-jadian itu sewot sambil menatap Melodi dengan sinis.
Arrey tersenyum senang, selain bisa lepas dari laki- laki centil dia bisa mencuri kesempatan memeluk Melodi.
" Lepaskan tanganmu" bisik Melodi ketus.
" Kalau kamu masih tidak mau berkompromi aku akan mencium disini" bisik Arrey tak mau kalah sambil mengedipkan matanya mengikuti gaya laki- laki centil tadi.
Malodi menggeram dan menginjak kaki Arrey. Sehingga spontan dia melepaskan pelukannya dari Melodi.
" Aduuhh..." pekik Arrey membuat laki- laki centil yang lagi asyik memilih baju itu menoleh dan segera mendekat dan mengelus pipinya. Membuat Melodi menahan tawanya.
" Kenapa cin..." tanya Beti dengan gaya khasnya. Laki jadi- jadian itu biasa dipanggil Beti.
" Tidak apa- apa" jawab Arrey berusaha menghindar. wajahnya terlihat lucu sekali.
" Ambilkan baju pengantin yang paling bagus dan paling mahal, sesuai ukuran kami dan langsung bungkus...tak usah dicoba.." lanjutnya tampak gugup, karena risih.
" yakin cin..tak usah dicoba.." tanya Beti lagi.
" Tidak usah..tadi ditlpn mbak Vely yang ada pas untuk ukuran kami" katanya dengan cepat.
Tak urung Beti segera mengambil baju yang diminta oleh Arrey dengan wajah sewotnya.
" Bisa gila gue lama- lama disini" gumam Arrey sambil mengelap pipinya yang tadi dipegang- pegang Beti .
Melodi hanya diam, walau sebenarnya dia berusaha menahan tawanya.
" Ini cin sudah selesai " kata Beti masih kelihatan jengkel sambil menyerahkan dua buah paperbag.
" Ok...selanjutnya akan aku selesaikan dengan Mbak Vely. terimakasih kami permisi.." Katanya langsung menarik lengan Melodi keluar dari butik itu.
" Eh cin...kok buru-buru minum dulu...mau kopi" Beti berusaha mencegah Arrey.
Tapi dia terlanjur keluar dari butik itu.
" Lain kali..." teriaknya sambil setengah berlari menuju parkiran.
Sesampai diparkiran Arrey melempar paper bag nya ke jok mobil belakang dan segera masuk ke mobil. Melodi mengikutinya. Terlihat Arrey begitu lega dan mengusap usap dadanya sambil beberapa kali menghela nafas. wajahnya terlihat lucu.
Dan Melodi langsung tertawa terpingkal pingkal tanpa dapat dicegah sampai memegangi perutnya yang terasa kaku karena menahan tawa dari tadi.
Arrey menatapnya dengan wajah b**o sekaligus heran. Cewek yang biasanya ketus kini tertawa terpingkal pingkal.
Menyadari Arrey menatapnya Melodi segera menghentikan tawanya dan menyusut air mata yang keluar karena dia tertawa tadi.
" Ternyata kamu cantik sekali kalau tertawa" kata Arrey menatapnya sambil menyangga dagunya dan sikunya berada di stir mobil.
" Kalau masih melihatku, tak congkel keluar nanti bola matamu" kata Melodi ketus
"Yah kumat lagi deh" Gumam Arrey sambil mengusap wajahnya kasar dan segera melajukan mobilnya pulang.