Chapter 1 - Kehidupan Menyebalkan
Dulu waktu SD, kita sudah belajar kalau manusia tak bisa hidup tanpa orang lain. Namun nyatanya, hidup dalam masyarakat itu adalah hal yang paling menyusahkan.
Kita dipaksa mengikuti standar orang lain.
“Umur segini kok belum nikah sih? Percuma wajah cantik kalau gak laku.”
Kita dicap seenaknya oleh masyarakat.
“Emangnya kamu mau jadi perawan tua karena gak segera nikah?”
Bahkan terkadang, apa yang kita usahakan selalu dianggap remeh.
“Buat apa kerja keras kayak gitu? Kita ini wanita, prioritas hidup kita menikah. Kodrat kita menjadi ibu. Menikah nomor 1 dan kerja nomor 2.”
Beginilah kenyataannya. Orang-orang berkomentar pedas sesuka hati mereka.
Dengan mata menyipit, wanita bernama Liliana Seran itu tersenyum ketika mendengar hinaan tadi. Di saat seperti ini, tak ada yang bisa dilakukan olehnya selain menulikan telinga dan membisukan mulut.
Acara reuni keluarga memang menyebalkan. Kalau boleh memaki seluruh orang yang mengerubunginya saat ini, wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang itu pasti sudah melakukannya sejak tadi.
Telinga dan hatinya merasa panas mendengar seluruh omong kosong itu. Meskipun demikian, senyum palsu maish bertengger di wajah ayunya. Ia menyipitkan mata guna membentuk tatapan ramah, meski ingin memelototi seluruh orang di sini.
“Liliana, mari kita pulang. Aku dan Ibumu masih ada pekerjaan.”
“Oke, Ayah.”
Dengan anggun, Liliana yang dianggap sebagai wanita paling sempurna di antara para tamu itu pergi menyusul ayah dan ibunya. Mereka bertiga melenggang begitu saja dan pergi menggunakan mobil mewah.
Namun, wanita dengan usia 27 tahun itu bukanlah anak kecil. Ia sama sekali tidak naif. Entah bagaimana, atmosfer dalam mobil ini terasa lebih menegangkan daripada lokasi reuni tadi.
Tak ada sepatah kata pun yang terdengar dari dalam mobil itu. Liliana sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wanita berambut panjang itu lebih memilih untuk bersender di kursi mobil seraya memejamkan mata. Ia sudah muak.
“Liliana, apa kau tidak malu saat ditanyai hal-hal seperti tadi?”
Ini dia. Pertanyaan maut yang lebih menyeramkan dari soal CPNS telah keluar dari mulut ibunya sendiri.
Kelopak mata Liliana terbuka sedikit. Ia termenung. “Aku ... tidak malu. Malah biasa saja. Aku memang tidak ada niat menikah dalam waktu dekat.”
“Liliana! Apa kau tidak ingat umurmu? Kau ini bukan anak kecil yang harus Ayah dan Ibu arahkan untuk melakukan suatu hal! Kau harus cepat menikah!”
Saat ayahnya yang tengah menyetir mobil berkata demikian, Liliana merasa hatinya panas. Ia membuang muka dan mengalihkan pandangan mata ke arah jalan yang dilewati.
“Liliana! Apa-apaan sifatmu ini? Kalau orang tua menasihati sesuatu, tolong ditanggapi! Bukannya diam saja!” Ibunya yang kesal langsung menoleh ke belakang dengan dahi berkerut.
Ayah Liliana melirik anaknya yang duduk di kursi belakang lewat kaca spion. “Liliana, Ayah tak mau mengulangi ini lagi tapi kau tak pernah mendengarkan kami! Kau harus menikah! Usiamu sudah 27 tahun! Semua orang mencemoohmu!”
“Aku ... tahu! Aku tahu!” ucap Liliana dengan nada mendesis kesal yang dipenuhi oleh penekanan.
Menyadari suasana yang ada di dalam mobil berubah menjadi hening, Liliana merasa bersalah. Dia yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh langsung menatap tegas ke depan, ke arah ayah dan ibunya.
Di saat seperti ini, ia sudah mencapai batas kesabaran. Ia sudah muak dengan urusan pernikahan dan pernikahan. Nyatanya, kedua orang tua Liliana selalu menekannya. Setiap saat dirinya berkunjung ke rumah—karena selama ini ia tinggal di apartemen—mereka selalu berusaha menjodohkannya.
Memuakkan. Ini adalah hidupnya, tapi kenapa ia tak boleh menyetir jalan hidupnya sendiri? Kenapa orang tuanya harus ikut campur?
Dengan sorot mata tegas, Liliana berujar, “Ayah dan Ibu, tolong pahamlah dengan situasiku. Aku adalah seorang dokter residen. Pekerjaan dokter residen lebih melelahkan daripada saat koas dan menjadi dokter umum dulu. Aku lelah dengan pekerjaan tanpa upah ini.”
Wajah Liliana yang sejak tadi tampak lelah menjadi semakin tertekan saat ia mengungkapkan isi hati pada orang tuanya.
Alasan kenapa ia tak mau menikah sampai sekarang karena tekanan psikis dari pekerjaannya yang melelahkan.
“Coba bayangkan. Bagaimana mungkin aku bisa menikah, mengurus suami dan anakku nanti, kalau di saat yang sama aku kelelahan ketika bekerja? Yang ada, keluargaku bisa hancur. Aku tak mau itu terjadi, jadi jangan bahas soal—“
“Omong kosong.”
Liliana langsung tersentak saat mendengar nada bicara berat yang keluar dari mulut ibunya. Ia melebarkan mata. Wajahnya terperangah saat mata mereka bertemu. Ia bisa melihat bagaimana tatapan remeh dari sang ibu yang bercampur kekesalan.
Wajah ibunya tampak merengut. “Aku juga adalah dokter, bahkan diriku menjabat sebagai direktur rumah sakit dari tempatmu bekerja. Lantas, kenapa aku bisa membesarkanmu dan melayani suamiku selama ini?”
Ini adalah alasan kenapa Liliana tak pernah berbagi beban yang ditanggungnya kepada orang lain, termasuk kedua orang tuanya sendiri. Manusia itu egois. Mereka tak akan pernah mengerti.
“Liliana.” Ayahnya memanggil dengan nada pengertian. “Apa yang dikatakan ibumu benar. Kalau ibumu yang pernah mengalaminya saja bisa, kenapa kau tidak?”
“Tapi ... ibu dan aku berbeda! Kami—“
“Jangan jadikan itu sebagai alasan lagi! Ayah sudah lelah mendengarnya!”
“Ibu juga tak mau mendengar alasan apa pun lagi. Sabtu depan, kau harus pulang ke rumah. Ibu sudah buat janji dengan anak teman Ibu yang bekerja sebagai dokter bedah. Kami sepakat untuk menjodohkan kalian.”
Lidah Liliana kelu. Ia menatap tak percaya ke arah ibunya. Apa-apaan ini? Perjodohan lagi? Bahkan, ayah dan ibunya tak meminta persetujuan dulu. Bukankah ini keterlaluan?
“Aku tidak—“
“Ibu dan Ayah tak menerima penolakan. Untuk sekarang, kami akan mengantarmu ke apartemen.”
Pada akhirnya perjalanan dalam mobil itu kembali senyap, setidaknya untuk Liliana. Ia mengabaikan suara ayah dan ibunya yang terus mengobrol di kursi depan. Wanita itu membanting tubuhnya ke senderan kursi dengan mata terpejam. Rasa lelah dan muak menguasai hatinya. Ia mengepalkan tangan kuat untuk menahan emosi.
“Sialan ... sialan ... sialan!” desis wanita itu dengan nada yang begitu pelan.
Ini adalah sisi masyarakat yang ia benci. Di mana orang lain, bahkan keluarganya sendiri, suka mencampuri urusan pribadi. Liliana begitu menyayangi ayah dan ibunya. Akan tetapi, ia tak suka dikekang.
Kenapa manusia suka bersikap egois? Ia sendiri tak tahu. Namun, ia tahu kalau hidup dalam masyarakat itu memang melelahkan.
***
Terkadang waktu semakin cepat berlalu saat kita memiliki hal merepotkan di hari tertentu. Sama seperti yang dialami Liliana, ia sama sekali tak mengira kalau besok sudah hari Sabtu. Sebuah hari di mana ia harus menemui calon jodohnya.
Wajah ayu dokter itu tampak lesu. Ia menggulung jas putih miliknya sebatas siku. Liliana menghela nafas panjang.
“Aku benci hari Sabtu besok.”
“Kenapa begitu? Sabtu besok kan kita cuti.”
Mendengar seseorang menyahuti ucapannya, wanita yang sejak tadi merengut di meja itu mendongak. Ia bisa melihat temannya, Deva, yang kini meneguk minuman kaleng dengan santai.
Berbeda dengannya yang menempuh pendidikan spesialis dokter ortopedi, Deva mengambil spesialisasi di bidang neurologis. Kedua dokter residen itu kebetulan mendapat tugas jaga IGD bersama. Namun karena IGD sepi, keduanya duduk santai di koridor.
“Kau tidak tahu. Besok adalah hari paling menyebalkan,” jawab Liliana dengan ketus.
Pria berkulit kuning langsat dengan senyum menawan itu tertawa. Tatapan matanya terlihat meledek. “Bukankah kau menganggap setiap hari itu menyebalkan? Dirimu kan dokter yang suram.”
Wajah tak suka terlihat jelas di wajah Liliana saat ia diejek. Sudah menjadi rahasia umum bagi teman-temannya kalau wanita berparas cantik itu terkenal jutek dan judes. Namun hebatnya, Liliana jago berakting dan bersiap ramah di hadapan banyak orang, terutama di depan pasiennya.
Dengan malas, wanita itu melirik Deva. “Sudahlah, aku tak mau berbincang denganmu. Pergi saja sana. Kau semakin menghancurkan mood-ku.”
Deva tertawa untuk yang ke sekian kali. Ia memang paling suka menggoda rekan kerjanya yang satu ini. Rona merah tampak menghiasi sedikit bagian pipinya saat Liliana melirik dokter itu.
Orang awam yang melihat dokter pria ini pasti tahu kalau ia sangat menyukai wanita yang diajaknya bicara tersebut. Pancaran mata hitamnya terlihat begitu hangat, seakan memancarkan rasa cinta yang begitu tulus.
Ia pun tersenyum. “Ya sudah, aku memang mau pergi ke kamar mandi. Bye!”
“Bye! Aku bersyukur tidak melihat wajahmu yang menyebalkan itu, Deva!”
Mengabaikan Deva yang tertawa sambil berlari ke arah kamar mandi, wanita dengan rambut bergelombang itu kembali memangkukan wajahnya di tangan. Dia menghela nafas.
Besok dirinya harus pulang ke rumah, berdandan rapi, dan wajib bersikap sok manis di hadapan calon jodohnya. Ini sangat menyebalkan. Terhitung sudah 8 kali dirinya dijodohkan seperti ini. Liliana hanya bisa berharap kalau perjodohan besok akan gagal.
“Dokter Liliana!”
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuatnya terperanjat. Tanpa pikir panjang, Liliana langsung bangun dari kursinya dan berlari. Ia langsung menghadap ke arah dokter umum yang meneriaki namanya tadi.
“Apa yang terjadi, Dok? Kenapa Anda terlihat panik?” Alis Liliana bertaut, dia cemas.
Dokter umum itu menjelaskan situasi yang dihadapinya dengan tegang. “Kita mendapat pasien darurat di IGD!”
“Di saat tengah malam? Apakah dia korban kecelakaan?”
“Benar, kami telah memberinya pertolongan pertama. Namun berdasarkan anamnesis dari pengantar pasien, dia mengalami fraktur. Ini bisa dilihat dari kakinya yang bengkak.”
Pandangan Liliana yang sejak tadi malas dan sayu langsung berubah menjadi serius. Tatapannya tegas. Dia menganggukkan kepala paham.
“Saya mengerti. Kalau begitu, ayo kita ke ruang IGD sekarang.”
“Baik!” Dua orang itu segera berlari masuk ke dalam ruang IGD.
Liliana sendiri merasa bersalah. Hanya karena IGD tengah sepi, ia pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya yang pusing akibat masalah perjodohan. Kalau tahu akan ada pasien gawat darurat seperti ini, ia harusnya terus berjaga di dalam.
Apa pun yang terjadi, dokter berparas ayu dengan kulit putih ini bersumpah untuk memastikan pasiennya tetap selamat. Ia tak akan membiarkan pasien yang datang di jam 12 malam itu kenapa-kenapa. Titik.