Chapter 2 - Sampul Manusia

1701 Kata
Sering kali, kita memiliki pikiran yang tidak-tidak terhadap seseorang hanya karena melihat penampilannya. Mau dibantah seperti apa pun, faktanya manusia selalu melihat buku melalui sampulnya. Liliana sendiri adalah contoh dari manusia itu. Dia orang normal. Pikirannya langsung berspekulasi yang tidak-tidak setelah melihat pria yang kini terbaring di tempat tidur IGD itu. Pasien yang ingin ia sembuhkan itu berbeda dari bayangan dokter residen tersebut. Di hadapan Liliana, seorang pria berpenampilan kacau tengah terbujur lemah. Beberapa luka gores akibat benturan tampak di wajah, tangan, dan kakinya yang berkulit sawo matang. Wajah pria itu tak bisa dilihat jelas karena tertutup ventilator oksigen dan perban yang membalut kepalanya. Jaketnya yang berwarna hitam identik dengan kostum preman di sinetron. Selain itu, ia juga memakai celana jeans robek-robek yang kumel. Dilihat dari sisi mana pun, sudah jelas jika orang ini adalah manusia bermasalah. Untuk sesaat, alis Liliana mengernyit. Dahinya berkerut. Dari lubuk hati terdalam, ia merasa agak gimana gitu. Bagaimana pun, kehidupannya sebagai anggota keluarga sosialita di kota metropolitan membuat dokter cantik itu tak pernah berinteraksi dengan kaum berandalan seperti ini. Entah kenapa saat melihatnya secara langsung, ia merasa tidak suka. “Apa yang salah, Dokter Liliana?” Wanita itu langsung tersentak. Seorang perawat yang ada di sampingnya tampak menyadari ekspresi aneh di wajah dokter itu. Ia tampak sibuk memasang alat bernama traction splint untuk meluruskan kaki korban yang mengalami patah tulang ini. Menyadari kesalahannya yang telah berpikir tidak-tidak, Liliana langsung meminta maaf. “Maaf. Aku sedikit kehilangan fokus.” Sekarang, dokter itu kembali mengambil sikap serius. Tatapan matanya yang tajam langsung mengobservasi keparahan dari luka yang diderita korban. Ia membantu perawat tadi untuk memasang alat sambil memeriksa keparahan dari frakturnya. Seorang dokter umum berjalan mendekati Liliana. “Berdasarkan laporan warga yang membawa pasien ke IGD, orang ini mengalami kecelakaan dengan truk muatan besar. Dia mengendarai motor dalam kecepatan tinggi lalu tubuhnya terpelanting.” Tanpa menatap orang yang diajaknya bicara, Liliana menyahut, “Lantas bagaimana hasil survei primer yang telah dilakukan?” “Setelah diperiksa, dia mengalami cedera pada kaki dan tangan, termasuk kepalanya yang sedikit mengalami pendarahan karena benturan. Namun, kita harus segera lakukan CT-scan untuk memeriksa ada tidaknya pendarahan di otak apabila pasien tak kunjung sadar selama 30 menit.” Saat mendengar itu, Liliana langsung mengangguk paham. “Apa yang Anda katakan benar. Kita juga harus lakukan CT scan untuk melihat jelas bagian tulang yang patah.” Apa pun bisa terjadi. Meskipun darah yang keluar dari kepala pria ini sedikit, bisa jadi dirinya mengalami pendarahan hebat di kepala. Bagaimana pun, CT scan harus cepat dilakukan karena ini bisa gawat. Pintu IGD dibuka secara tiba-tiba dan seorang pria berjas dokter masuk ke dalam sambil berlari. Dia adalah Deva, rekan kerja Liliana yang merupakan dokter residen di spesialisasi neurologis. “Aku dengar ada pasien kecelakaan yang dilarikan ke IGD. Maaf karena terlambat, aku akan memeriksa sarafnya.” Dalam keheningan, semua tim medis yang ada di ruang IGD tampak tegang. Mereka berjibaku sama-sama untuk menyelamatkan pria tersebut, termasuk Liliana. Keringat menetes di dahi dokter wanita itu. Dia sibuk memasang gips untuk mencegah tulang kaki pasien tak bergeser semakin parah. Waktu demi waktu terus berlalu. Liliana yang gusar tampak menoleh ke perawat yang ada di sampingnya. Sorot mata dokter itu serius. “Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kondisi pasien semakin menurun. Ini sudah 30 menit sejak ia tiba di IGD, namun dirinya belum menujukan tanda kesadaran.” Deva yang ada di sana tampak setuju. “Benar, ada kejanggalan di sini. Kita harus ganti pakaiannya dengan pakaian khusus untuk scan. Ini taruhan nyawa!” “Baik!” Liliana membantu beberapa perawat memakaikan pakaian khusus itu. Wajah cantiknya terlihat begitu tegang sejak tadi. Liliana harus melakukan apa saja untuk memastikannya selamat, meski ia jijik dan tak suka dengan orang yang berpenampilan preman seperti ini. Wanita itu tak ingin membohongi diri sendiri. Sejak dulu, ia membenci orang yang berpenampilan seperti preman. Mereka orang tidak berguna. Kerjanya berbuat onar. Lontang-lantung tak jelas dan menjadi sampah masyarakat. Bahkan terkadang, mereka hobi melakukan tindak kriminal. Ia tak salah kalau membenci orang seperti itu kan? Saat tempat tidur pasien itu didorong, tiba-tiba Liliana merasa seseorang menyentuh tangannya. Wanita itu langsung membulatkan mata tak percaya. Ketika melihat tangannya sekarang digenggam begitu erat oleh pria yang tak sadarkan diri ini, hati Liliana berkecamuk. Tatapan jijik terlihat jelas di sorot matanya. Apa-apaan coba? Kenapa orang ini memegang tangannya secara tiba-tiba? Selama ini, tak ada laki-laki apalagi orang asing yang berani menyentuh tangannya. Terlebih, fakta yang ada menjelaskan kalau pria ini adalah salah satu kaum berandalan yang selama ini ia benci. Alis dokter itu tampak bertaut tajam. Dahinya mengerut hingga tampak lipatan yang menggambarkan rasa tak suka dengan jelas. Liliana menyipitkan mata. Demi apa pun, ia benar-benar risih dan jijik. Tanpa pikir panjang, Liliana langsung berusaha melepas genggaman itu. Namun, suara parau yang keluar dari mulut pria itu membuatnya terenyak. “I-ibu ....” Dokter wanita ini mengerjapkan mata untuk beberapa kali. Ia tak salah dengar kan tadi? Pria ini baru saja menggaungkan nama ibu ketika kondisinya tak berdaya. Terlebih, dirinya mengucapkan hal itu sembari menggenggam erat tangan Liliana. Entah kenapa, ia merasa tak tega untuk sesaat. Raut risih di wajah dokter itu kini terganti dengan ekspresi sendu. Tatapan matanya benar-benar tak lepas dari pria berpipi tirus itu. Ada sesuatu dari pria ini yang membuat Liliana tertarik tanpa sebab setelah ia menatapnya begitu lekat. “Untuk sesaat, sepertinya tidak apa-apa membiarkanmu menggenggam tanganku,” gumam Liliana dengan nada pelan hingga tak dapat didengar oleh tim medis lain. Tatapan matanya yang semula hanya terkunci pada pria tanpa nama itu langsung berganti ke depan. Ia berusaha memperhatikan jalan. Setidaknya, Liliana akan membiarkan genggaman ini bertaut sampai mereka tiba di instalasi radiologi. Tanpa sadar, dokter ayu itu membalas genggaman tangan pasien tersebut. Jari mereka saling menyatu dengan erat seolah tak dapat dipisahkan. Apa pun yang terjadi, meski Liliana harus berjibaku menyelamatkan orang berpakaian preman ini, ia bersumpah untuk menyembuhkannya. “Kau akan baik-baik saja. Dirimu pasti selamat. Pasti.” *** Pada kehidupan ini, Tuhan memang selalu memiliki rencana lain pada takdir seseorang. Liliana tahu betul akan hal itu. Ia yang saat ini tengah istirahat makan siang justru pergi menuju kamar pasien. Wanita itu menghela nafas panjang. “Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkanmu, namun kondisi yang ada malah seperti ini.” Kedua mata Liliana benar-benar tak mampu lepas dari sosok yang ia duga sebagai ‘preman’ ini. Bagaimana pun, orang tak berdaya di hadapannya adalah pria tanpa nama yang mengalami kecelakaan malam itu. “Dua minggu sudah berlalu, namun kenapa dirimu masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk sadar?” gumamnya dengan nada tak mengerti. Beragam hal telah terjadi selama dua minggu ini, termasuk pertemuan Liliana dengan calon jodoh yang dipilihkan ibunya pada hari Sabtu lalu. Namun entah kenapa, dirinya merasa tak bisa melupakan pria yang telah ia cap sebagai berandal ini. Ada suatu ikatan tak kasat mata antara mereka setelah keduanya saling menggenggam tangan hari itu. Liliana tak tahu kenapa, ia merasa iba dan kasihan padanya. Wajah sawo matang pria ini tampak begitu pucat setelah dia tak sadarkan diri dalam waktu lama. Bulu matanya begitu indah. Meskipun pria ini memiliki kulit yang lebih gelap darinya, tak dapat dipungkiri kalau ia memang memiliki wajah rupawan. Rahangnya yang tegas dengan hidung mancung membuktikan hal itu. Wanita ini terpaku. Dia mengamati wajah orang ini dengan begitu lama. Menyadari hal aneh yang dilakukannya itu, Liliana langsung mendengus geli. Dia tertawa pelan. “Apa sih yang kupikirkan tadi?” Dokter itu geleng-geleng kepala karena tak habis pikir. “Sejak kapan aku jadi perempuan mata keranjang? Otakku semakin tak beres.” Dokter wanita itu menghela nafas lagi. Dia melirik ke arah jam tangannya, mencoba untuk melihat apakah jam istirahatnya sudah habis atau belum. “Aku tak bisa lama-lama di sini.” Liliana menatap pria ini untuk sekali lagi. Bagaimana pun, dia harus kembali menjalani tugasnya sebagai dokter. Saat dokter itu melenggang pergi, ia mendengar suara serak yang familier. “Ibu....” Dokter itu mengerjapkan mata untuk memastikan apa yang ia dengar tadi tak salah. Dengan cepat, Liliana berbalik dan berjalan cepat ke arah pria yang masih terbaring di atas tempat tidur pasien. Ia menatapnya lekat. Kelopak mata pria itu terbuka dengan perlahan. Liliana melebarkan matanya. “Kau ... sadar?” “Uhhh....” Dokter dengan rambut bergelombang panjang itu segera memeriksa. “Tunggu sebentar. Jangan bergerak terlalu banyak. Aku akan mengecek kondisimu.” Suasana berubah menjadi hening. Pria dengan kulit sawo matang itu memijit pelipisnya yang berdenyut pusing. Ia hanya diam membiarkan Liliana memeriksa tubuhnya. Untuk sesaat, orang dengan rambut hitam lurus itu mengedarkan pandangan ke seisi ruang. “Aku ... di rumah sakit?” Liliana terperanjat. “Ah, benar. Kau dilarikan ke sini saat mengalami kecelakaan. Sudah dua minggu dirimu tak sadarkan diri.” “Apa? Dua ... minggu?!” Liliana tak tahu harus merespons apa saat melihat wajah syok pria ini. Ia juga bingung. “Apa ada yang salah?” Mata laki-laki ini melebar tak percaya. Wajahnya sangat terkejut. Ia hanya diam dan tak menjawab pertanyaan dari dokter itu. Pria ini mengernyit sembari memijit kepalanya yang kembali berdenyut. “H-hei, kenapa? Kau baik-baik saja?” Astaga, Liliana menjadi panik sendiri saat melihat orang ini hanya diam. Memang benar dirinya adalah dokter, namun spesialisasinya adalah bidang ortopedi. Wanita itu harus segera menghubungi dokter yang menangani pria di hadapannya. Ia tak mau ambil risiko kalau orang ini kenapa-kenapa. “Tunggu sebentar. Kau jangan terlalu bergerak. Jangan lepas apa pun dan tetap diam di posisimu. Aku akan segera kembali. Kau mengerti?” Pria itu menatap Liliana dengan sorot mata bingung. Wanita itu tak habis pikir. Apakah pria ini terlalu bodoh untuk mengerti ucapannya tadi? Ah, sudahlah. Masa bodoh. Dokter wanita itu tak menggubris reaksi dari pria tersebut. Dia segera pergi keluar, meninggalkan pasien itu dalam keadaan bingung. Ruangan ini benar-benar menjadi senyap. Pria tadi tampak plonga-plongo di atas tempat tidur pasien. Dia memijit pelipisnya lagi. Dirinya sungguh pusing dengan fakta yang ada saat ini. Mata pria itu terpejam kembali dan dia tersenyum miris. “Ah, mampus. Kok bisa kecelakaan begini sih?” Pria itu mulai tertawa ironis. “Mati aku. Apa yang harus kulakukan?” Pada akhirnya, takdir Tuhan memang istimewa. Tanpa disadari oleh dua orang itu, benang merah mulai terajut di antara garis kehidupan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN