Chapter 3 - Pertemuan Kita

1814 Kata
Dia adalah Liliana Seran. Hidupnya selalu dikelilingi oleh kemewahan dan kenyamanan. Dirinya kaya, cantik, pintar, dan punya karier yang menakjubkan. Dibesarkan sebagai anak dari salah satu pemilik usaha batu bara dan ibu yang menjadi direktur rumah sakit, membuat segala hal dalam hidup wanita itu selalu berjalan mulus. Akan tetapi, ia adalah manusia normal yang tetap memiliki masalah. “Lalu apa masalahmu?” “Masalahku adalah dituntut menikah dalam waktu dekat.” Ya, masalah dari wanita itu adalah perkara asmara. Seumur-umur, dia belum pernah merasakan apa yang dinamakan pacaran. Suka pada orang sih pernah, tapi dirinya tak pernah mengambil langkah serius untuk menjalin hubungan. “Jadi, apa hubungannya masalahmu itu denganku?” Di sinilah Liliana berada, duduk di kafetaria rumah sakit bersama sahabatnya, Intan, yang menjadi petugas farmasi di sini. Dua orang itu telah berteman sejak SMA. Mereka sedang menghabiskan jam istirahat makan malam. Wajah dokter ayu itu tampak merengut. “Ayolah, Intan. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa kuajak mengobrol mengenai hal ini.” Seketika, perempuan dengan rambut pendek itu memasang senyum menggoda. “Oh ya? Benarkah itu?” “Astaga, ayolah. Aku serius. Kau kan sudah menikah, jadi keputusanku untuk membahas masalah ini denganmu sangat tepat.” Intan pun langsung tersenyum remeh seraya menghela nafas. Ia mulai menyesap kopi yang tersaji di depannya sedikit demi sedikit. Wanita itu menatap Liliana dengan tak habis pikir. “Bagaimana dengan Deva? Kau tak mengajaknya membahas masalah ini juga?” “Buat apa aku membahas masalah ini dengan anak itu? Yang ada, dia malah menertawaiku,” jawab Liliana dengan ketus. Intan meletakkan cangkir kopinya ke meja sambil memutar mata jengah. “Kau ini masih tak sadar ya?” “Hah?” Pelajaran pertama bagi Intan, Liliana adalah manusia tak peka. Liliana, Deva, dan Intan merupakan tiga serangkai sejak zaman mereka kuliah. Deva menjadi sahabat dekat mereka berdua. Intan sendiri adalah orang yang peka. Dia bisa tahu kalau manusia aneh bernama Deva itu telah menyukai Liliana sejak dulu. Ini sungguh konyol. Bagaimana mungkin Liliana masih tak menyadari perasaan Deva? “Ada apa sih? Kenapa kau malah diam?” Liliana memandang Intan dengan wajah tak mengerti. “Sudahlah.” Wanita berambut pendek yang sudah menikah itu langsung mengubah topik. “Jadi, bagaimana calon jodohmu kemarin?” Dokter residen di bidang ortopedi itu langsung mengubah ekspresinya menjadi bosan. “Entahlah, dia manusia biasa. Sama saja dengan laki-laki lain menurutku.” “Ya jelas dia manusia biasa, Liliana. Masa alien? Kesanmu untuknya benar-benar aneh.” Pelajaran kedua bagi Intan, Liliana adalah seorang manusia jutek yang sulit jatuh cinta. Wanita di bidang farmasi itu memandang Liliana dengan tatapan tak percaya. “Kau masih waras kan? Bukankah calonmu kali ini adalah seorang dokter bedah muda? Harusnya dia keren dong.” “Tidak,” jawab Liliana seraya menggelengkan kepala. “Dia biasa saja. Apa bedanya sih laki-laki satu dengan laki-laki lain? Mereka kan sama saja. Sama-sama punya itu.” Orang ini pasti sudah tak waras, hanya itu pemikiran yang muncul di benak Intan. Kenapa Liliana bisa sesulit ini untuk jatuh cinta? “Kau tahu, Intan?” Tiba-tiba, Liliana memanggilnya. “Alasanku untuk tidak menikah sampai diangkat menjadi dokter spesialis karena aku masih belum siap. Pendidikan menjadi dokter residen itu melelahkan, aku tak bisa membayangkan apakah keluargaku mampu terurus atau tidak.” Saat Liliana mengutarakan hal tadi, Intan tertegun. Bagaimana pun, ia juga seperti itu. Petugas farmasi yang sudah menikah ini sangat sadar apabila ia belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik karena selalu sibuk. Sorot mata Liliana tampak lelah. Ia menghela nafas panjang dan mendengus. Bibirnya membentuk senyum miris. “Kalau dipikir-pikir, wanita memang seperti ini kan?” “Apa maksudmu?” “Kita dipaksa memilih harus menjadi wanita karier yang sukses atau ibu rumah tangga yang baik. Namun pada akhirnya, setiap wanita selalu dituntut dalam dua hal itu dan tak bisa memilih.” Apa yang diucapkan oleh Liliana memang benar. Fakta yang ada memang seperti itu. Intan tak mampu mengelaknya. “Kalau bisa memilih, kayaknya lebih enakkan single ya? Setidaknya, kita tak mengganggu kehidupan orang lain dengan menjadikan mereka suami atau pun anak kita nanti.” Intan langsung memandang sahabatnya dengan tatapan tak suka. “Jangan mengatakan hal seperti itu. Memangnya saat ini kau masih belum menemukan laki-laki yang menarik hatimu?” Saat Intan menanyakan hal tadi, Liliana langsung terperangah. Ia kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Wajahnya tampak bingung. “Entahlah, sepertinya tidak. Aku hanya ....” Tiba-tiba, siluet seorang pria berkulit sawo matang dengan rambut hitam lurus hadir di bayangan wanita itu. Kalau boleh jujur, ia memiliki rasa penasaran yang ‘aneh’ dengan korban kecelakaan kemarin. Bayangan pria itu muncul sekilas dan Liliana langsung berusaha menyingkirkannya. Wanita itu melanjutkan, “... aku hanya belum menemukan orang yang cocok saja.” Sekali lagi, Intan adalah orang yang peka. Dia menyadari reaksi aneh dari sahabatnya ini. Wanita berambut pendek itu menatap Liliana dengan mata selidik. “Kau yakin?” “Ya jelaslah.” “Aneh sekali. Kau pasti berbohong.” “Hah? Untuk apa aku membohongimu?” Pada akhirnya, istirahat malam yang dihabiskan bersama oleh dua orang itu berlalu begitu saja. Mereka langsung berpisah setelah selesai makan dan kembali menjalankan tugas masing-masing. Liliana merasa sedikit lega telah menceritakan masalahnya. Meskipun Intan tidak memberi solusi praktis, setidaknya ia bahagia telah membagikan bebannya itu pada sang sahabat. Dokter wanita yang kini berjalan di koridor rumah sakit itu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18.45. Ini berarti ia masih punya sisa waktu 15 menit untuk istirahat. Tiba-tiba, terbesit suatu ide di kepalanya. Sepertinya tak masalah kalau dia berjalan-jalan ke ruangan pasien dulu. Bagaimana pun, ia belum menemui ‘orang itu’ sejak siuman kemarin. Wanita cantik ini tersenyum miring. “Entah kenapa, aku ingin mengeceknya.” *** “Anda bilang biaya rumah sakitku ditanggung oleh asuransi kecelakaan dengan sedikit bantuan dari seorang dokter?” “Ya, itu benar sekali.” Pria dengan kulit sawo matang itu mengerjapkan mata berulang kali. Ia mengedarkan matanya untuk melihat sekeliling ruangan, berharap kalau ada kamera tersembunyi atau semacamnya. Bisa saja dia disyuting televisi dan diberikan uang gratis kan? Ini benar-benar gila. Sebelumnya ia sudah mengira kalau biaya yang dihabiskan di rumah sakit ini pasti sangat besar, mengingat dirinya tak sadar selama dua minggu. Namun saat bertanya pada dokter, ia malah diberi jawaban seperti tadi. Apakah ini semacam acara televisi di mana para aktris memberi uang secara cuma-cuma pada orang asing? Memangnya ini sinetron? Kok bisa ada dokter yang membantu biaya pengobatannya? Ini sangat tak masuk akal. Beragam pertanyaan terus muncul di kepala pria berambut hitam lurus itu. Wajahnya yang kebingungan tampak disadari oleh dokter yang kini sedang sibuk melepas alat ventilator dari tubuhnya. Dokter berusia 40-an itu tersenyum. “Kau tampak kaget sekali. Bantuan dari dokter itu bukan hal yang besar kok, dia hanya—” “Aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin ada orang yang membantuku? Apakah ini berarti aku tak perlu membayar apa pun?” “Benar sekali” “Gila. Aku pasti bermimpi.” Dokter itu kembali tertawa. “Apa kau tahu? Dokter yang membantumu itu selalu datang ke sini selama kau tak sadarkan diri. Dia menjengukmu setiap hari.” Pria itu langsung melebarkan mata tak percaya. Untuk sesaat, ia merasa kabel dalam otaknya tak dapat tersambung. Dirinya benar-benar tak mampu mencerna informasi tadi. “Apa katamu?” “Dia—“ Sebelum dokter itu sempat mengucapkan suatu hal, suara pintu ruangan yang dibuka pelan langsung menarik perhatian semua orang, tak terkecuali pria dengan kulit sawo matang yang masih terbaring di ranjang pasien itu. “Ah, Liliana. Kebetulan sekali dirimu datang. Aku ingin membahas hasil CT-scan tulang kaki Rehan denganmu.” “Wah, panjang umur banget,” komentar salah seorang perawat. Pria berkulit sawo matang yang terbaring itu menyipitkan mata saat seorang dokter wanita berkulit putih dengan rambut hitam digelung berjalan mendekat. Ia mengenali wanita ini. Dokter ini adalah dokter yang pertama kali dilihatnya saat siuman kemarin. “Siapa Rehan?” Suara wanita itu tampak bingung. Dokter berusia 40 tahun yang itu menoleh ke arah pasien laki-laki tadi. “Dia yang bernama Rehan.” Seketika, pandangan mereka bertemu. Tatapan mata mereka saling terkunci selama beberapa saat. Seorang berandalan dan dokter residen kaya raya itu memandang satu sama lain dalam waktu lama. Dokter laki-laki paruh baya itu tampak teringat sesuatu. Ia menatap Rehan dengan senyum cerah. “Oh iya, Dokter Liliana inilah yang membantu biaya pengobatanmu.” “A-apa?” Rehan langsung tersentak dan memandang tak percaya ke arah dokternya. “Yang benar saja?” “Ya, aku memang membantumu,” jawab wanita bernama Liliana tadi dengan datar. Rehan langsung memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Kenapa orang ini membantunya? Mereka bahkan belum saling mengenal. Terlebih, Liliana tampak seusia dengannya. Rasanya aneh sekali. Padahal dia tadi sudah berfantasi kalau orang yang membantunya adalah dokter tua renta yang ingin menambah amal jariyah untuk kebaikan akhirat. Apa-apaan coba? Kenapa orang semuda ini membantunya? Apa motif orang ini? Rehan yang sedari tadi menatap intens ke arah Liliana pun langsung bertanya, “Kenapa kau—?” “Permisi, apakah pembicaraan kalian bisa dilanjut nanti? Aku ingin Dokter Liliana pergi ke ruanganku sebentar untuk membahas masalah tulang kaki ini terlebih dahulu. Bisakah kau melakukannya, Dokter Liliana?” Wanita bertubuh semampai itu langsung mengangguk. “Baiklah, Dok.” Dengan senyum ramah, Dokter Budi menoleh ke arah Rehan. “Saya permisi sebentar ya, Rehan. Besok pagi saya akan memberitahu kabar apakah kakimu perlu dioperasi atau tidak.” “A-ah, oke.” Jajaran tim medis itu pun pergi ke luar, meninggalkan Rehan seorang diri dalam ruang rawat inapnya. Seketika ia merasa de javu, kondisi ini sama seperti apa yang dialaminya saat sadar kemarin. Di atas tempat tidur, Rehan yang kini tak lagi memakai ventilator oksigen itu hanya bisa menatap kosong ke arah langit-langit ruangannya. Ia plonga-plongo dengan wajah cengo. “Setelah kemarin aku syok pas tau gak sadar selama dua minggu, sekarang aku malah makin syok setelah dibantu sama cewek yang gak kukenal.” Rehan yang cengo itu justru tertawa datar. “Ha-ha-ha.” Laki-laki berkulit sawo matang dengan hidung mancung ini menutup matanya dengan lengan kiri dan membentuk senyum maniak. Ia tertawa ironis, “Apa-apaan nasib sial yang menimpaku?” Yah, pada dasarnya, hidup laki-laki berambut hitam lurus itu selalu dikelilingi oleh kejutan. Mengalami kecelakaan dan mendapat bantuan seperti ini sangat tak masuk akal untuknya. Laki-laki itu adalah Rehan, hanya Rehan saja tanpa nama keluarga. Dirinya adalah manusia aneh, seorang berandalan, dan tidak punya asal-usul yang jelas. Meskipun banyak orang yang mengecapnya seperti itu, ia tetap manusia normal yang memiliki masalah. Lalu, apa masalahnya? Sebagai laki-laki tulen yang tak pernah berhadapan dengan wanita selain ibu dan adiknya, ia merasa harga dirinya dihancurkan saat tahu punya hutang dengan seorang wanita yang bahkan tak dikenali olehnya. Apa sebenarnya motif dokter wanita itu? Walau sudah terlanjur begini, hanya satu hal yang Rehan tahu. Ia adalah seorang laki-laki berprinsip. “Seorang berandalan sepertiku diharamkan punya hutang dengan wanita. Titik.” Apa yang direncanakan oleh otak laki-laki aneh ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN