Hampir saja

1502 Kata
Sakura dan Oliver panik melihat Princess Aluna Lucky yang terjatuh dan mengalami kontraksi perut. Mereka segera memanggil perawat dan dokter untuk mendapatkan pertolongan. Dokter Queen dan perawat segera datang ke ruangan dan membantu Princess Aluna Lucky. Mereka memeriksa keadaannya dengan cermat dan memberikan perawatan yang diperlukan. "Tenang, Princess Aluna Lucky. Kami akan melakukan yang terbaik untukmu dan bayimu," ucap Dokter Queen dengan suara lembut, mencoba menenangkan Princess Aluna Lucky. Sakura dan Oliver berdiri di samping tempat tidur, penuh kekhawatiran dan kecemasan. Mereka saling berpegangan tangan, memberikan dukungan satu sama lain. Setelah beberapa saat, kontraksi perut Princess Aluna Lucky mulai mereda. Dokter Queen memberikan penjelasan bahwa kejadian tersebut mungkin disebabkan oleh kelelahan dan tekanan yang Princess Aluna Lucky alami. "Mungkin lebih baik jika Princess Aluna Lucky istirahat di rumah sakit untuk beberapa hari, agar kami dapat memantau keadaannya dengan lebih baik," saran Dokter Queen kepada Sakura dan Oliver. Sakura dan Oliver setuju dengan saran dokter dan bersedia tinggal di rumah sakit untuk menjaga Princess Aluna Lucky. Mereka berjanji untuk selalu ada di sampingnya dan memberikan dukungan penuh. Malam itu, mereka bertiga berada di kamar rumah sakit, saling berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain. Mereka berjanji untuk selalu menjaga kebahagiaan dan kesehatan Princess Aluna Lucky dan bayinya. "Bagaimana keadaan Aluna? Apa yang terjadi?" tanya Bu Reina yang panik ketika mendengar Aluna mengalami kontraksi dan harus dirawat di rumah sakit. "Ini salah Sakura," ucap Oliver dengan nada kesal. "Ini salahmu, Oliver," balas Sakura dengan nada marah. "Kalian berdua, baru kali ini ibu mendapat klien yang berantem seperti anak kecil," tegur Bu Reina dengan nada kesal. "Sakura, kamu rawat Noah saja, biar Oliver yang menjaga Aluna malam ini," putuskan Bu Reina dengan tegas. Mereka pun pulang ke rumah meninggalkan Sakura dan Oliver berdua di rumah sakit. Bu Reina sedang sibuk mengurus acara pernikahannya dengan Pak Gibran, Papa Sakura yang akan dinikahinya. "Kenapa ibu meninggalkan Oliver merawat Aluna?" tanya Sakura dengan rasa kebingungan. "Kamu tidak bisa membaca situasi, Sakura. Mereka saling mencintai," jelas Bu Reina dengan rasa pengertian. "Tapi, Bu, aku masih istri sahnya," protes Sakura. "Ya, tapi kamu juga tidak memiliki perasaan padanya. Aluna juga butuh kasih sayang seorang lelaki," sela Bu Reina dengan bijak. **** "Maafkan aku, Aluna," ucap Oliver Richie memulai percakapan. "Tidak apa-apa, yang penting bayi ini sehat," jawab Aluna dengan penuh pengertian. "Aluna, aku ingin menikahimu," ucap Oliver dengan tegas. "Gila kamu, Oliver. Sakura bagaimana?" tanya Aluna dengan rasa khawatir. "Aku akan menceraikannya, lagian aku sudah menemukanmu," jawab Oliver dengan mantap. "Setidaknya tunggu anak ini lahir," pinta Aluna dengan rasa haru. "Baiklah, kalau itu maumu," janji Oliver dengan penuh cinta. Tidak berapa lama kemudian, Liliana Gerald datang sambil menangis dan memeluk Princess Aluna Lucky dengan penuh emosi. "Kenapa kamu menangis, Liliana?" tanya Princess Aluna Lucky dengan penuh perhatian. "Aku takut kamu kenapa-kenapa, Aluna," jawab Liliana dengan suara terisak. "Aku tidak apa-apa, Liliana. Lihatlah, aku baik-baik saja," ujar Princess Aluna Lucky dengan senyuman. Saat itu, Shawn masuk ke dalam ruangan dengan membawa sekeranjang coklat dan cemilan. "Ini aku membawa coklat dan cemilan untukmu. Aku dengar dari Sakura kalau hasil USG menunjukkan bahwa bayimu kurang berat badannya," ucap Shawn sambil meletakkan sekeranjang di meja samping kasur Princess Aluna Lucky. "Bagaimana kabar Adrian?" tanya Princess Aluna Lucky dengan suara berbisik. "Adrian sudah menikah dengan seorang wanita Rusia di sana dua bulan yang lalu," jawab Shawn. "Kasihan sekali Sakura menunggunya di sini tanpa tahu kabarnya," ucap Princess Aluna Lucky dengan rasa simpati. "Adrian memang cowok b******k," ujar Shawn dengan nada kesal. Tiba-tiba, Liliana Gerald terlihat curiga dan marah saat Shawn menyebutkan Sakura. "Kamu masih punya perasaan sama Sakura?" tanya Liliana dengan rasa curiga. "Oh, tidak sayang. Aku hanya mengungkapkan kekecewaanku pada saudara kembarku," ucap Shawn sambil mencubit pipi Liliana Gerald dengan lembut. "Sudah pulanglah kalian. Aluna butuh waktu untuk istirahat," kata Oliver Richie sambil mendorong Shawn dan Liliana Gerald keluar dari ruangan. "Tapi kami baru saja tiba," protes Liliana Gerald dengan raut wajah yang keberatan. Namun, Oliver Richie tetap mendorong mereka keluar dari ruangan dan menutup pintu. "Sudahlah, sayang. Mungkin mereka butuh waktu berdua," ucap Shawn sambil menggandeng tangan Liliana Gerald keluar dari rumah sakit. "Kenapa kamu mengusir mereka, Oliver?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa heran. "Kamu butuh istirahat, dan aku perlu waktu untuk bersamamu," jawab Oliver Richie dengan penuh perhatian. Oliver Richie mendekati Princess Aluna Lucky dan mencium lembut bibirnya. Mereka saling bertatapan dengan penuh cinta. Tiba-tiba, orangtua Oliver Richie masuk ke dalam ruangan. "Papa?" ucap Oliver Richie terkejut. "Kenapa? Kamu terkejut Papa bisa tahu semuanya?" tanya Pak Hendra dengan senyuman. "Hmm, Om," sapa Princess Aluna Lucky dengan senyuman hangat. "Bagaimana keadaanmu dan kandunganmu?" tanya Pak Hendra sambil meletakkan sebuah parcel buah di meja sebelah kasur Princess Aluna Lucky. "Baik, Om," jawab Princess Aluna Lucky dengan rasa bahagia. "Mukamu sama persis dengan Mama mu waktu masih muda dulu," ujar Pak Hendra sambil menatap lekat ke wajah Princess Aluna Lucky. "Om, kenal Mama?" tanya Aluna dengan rasa penasaran. "Tentu saja. Mama mu dulu primadona kampus yang sangat terkenal akan kecantikan dan kepintarannya. Sayangnya, dia memilih pria si kutu buku," sindir Pak Hendra dengan senyum kecil. "Papa pria yang berkarisma, Om," balas Aluna dengan bangga. "Oliver, tolong belikan Papa sebungkus rokok. Tadi Papa lupa membawanya," pinta Pak Hendra sambil mengusir Oliver ke luar dengan alasan membeli rokok. Setelah Oliver keluar dan pintu tertutup, suasana di ruangan menjadi hening. Pak Hendra mulai melihat Princess Aluna Lucky dengan serius. "Aluna, Om sungguh prihatin dengan kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya kedua orangtuamu," ucap Pak Hendra dengan nada serius. "Kok Om bisa tahu?" tanya Princess Aluna Lucky mulai penasaran. "Tentu saja Om tahu. Kalau mereka tidak menolak untuk menyerahkan usaha jasa sewa rahim ini, mungkin mereka masih berada di sampingmu, dan kamu tidak perlu menjalani hidup yang seperti ini," jelas Pak Hendra dengan nada penuh makna. "Maksud Om?" tanya Princess Aluna Lucky mulai bingung. "Suatu saat kamu akan tahu semuanya, Papa-mu yang arogan, Mama-mu yang naif. Semua tidak seperti yang kamu bayangkan, Aluna," ujar Pak Hendra dengan raut wajah serius. Kemudian, Oliver Richie masuk kembali dengan membawa rokok untuk Pak Hendra. "Ya sudah, Papa mau pulang dulu. Jangan lupa dengan pekerjaanmu di perusahaan," ucap Pak Hendra sambil berpamitan. Pak Hendra keluar meninggalkan Sakura dalam keadaan penuh kebingungan, dan Oliver melihat raut wajah Princess Aluna Lucky yang penuh kebingungan. "Apa yang disampaikan beliau?" tanya Oliver Richie dengan rasa penasaran. "Ah, tidak apa-apa. Bagaimana kamu bisa tahu orangtuaku dulu menjalankan usaha jasa sewa rahim ini, Oliver?" tanya Aluna dengan rasa penasaran. "Papa yang menyarankannya. Kenapa?" jawab Oliver Richie dengan rasa cemas. "Om Hendra?" tanya Aluna dengan rasa kebingungan. "Iya, kenapa, Aluna?" jawab Oliver Richie dengan rasa ingin tahu. "Tidak apa-apa, rasanya aku ingin cepat kembali ke rumah," ucap Aluna dengan rasa cemas. "Besok mungkin kita sudah bisa kembali ke rumah, Aluna," ujar Oliver Richie mencoba menenangkan Aluna. "Sakura, apa tidak sebaiknya kamu mengikuti kencan buta? Biar Ibu carikan beberapa pria pilihan untukmu," usul Bu Reina. "Aku masih menunggu kabar Adrian, Bu," jawab Sakura dengan rasa ragu. "Adrian sama sekali tidak memberimu kabar sejak kepergiannya, Sakura. Sifat orang tidak mudah berubah," kata Bu Reina dengan rasa khawatir. "Tapi, Bu..." ujar Sakura mencoba membela Adrian. "Ada baiknya kamu mengikuti saran Bu Reina, Sakura," sela Pak Gibran dengan bijak. Sakura hanya termenung, lalu masuk ke kamar tempat Noah tidur. Pikirannya melayang kemana-mana, mencoba mencari keputusan yang tepat. Noah terbangun dan memegang jari tangan Sakura, mengajaknya bermain. Sakura pun menggendong Noah dengan penuh kasih sayang, menciumnya, dan merasa terhibur dengan kehadirannya. Sakura merasa tenang saat memeluk Noah. Dia merasa bahwa cinta dan kehadiran Noah adalah sumber kekuatannya untuk menghadapi segala tantangan dalam hidup. Beberapa hari kemudian, Sakura memutuskan untuk mengikuti saran Bu Reina dan mencoba kencan buta. Bu Reina dengan senang hati membantu Sakura mencari beberapa pria yang cocok untuknya. Saat Sakura bertemu dengan pria pertama dalam kencan butanya, dia merasa gugup namun tetap berusaha terbuka dan jujur. Mereka berdua menghabiskan waktu yang menyenangkan dan saling mengenal satu sama lain. Kencan buta berlanjut dengan beberapa pria lainnya, dan Sakura mulai merasa lebih percaya diri dalam menjalin hubungan dengan orang baru. Meskipun belum menemukan cinta sejati, Sakura merasa bahwa ini adalah langkah yang baik dalam memulai kembali kehidupannya. Sementara itu, Princess Aluna Lucky dan Oliver Richie merencanakan kembali ke rumah mereka setelah princess aluna lucky pulih sepenuhnya. "Bagaimana kabarmu, Aluna?" tanya Sakura saat Princess Aluna Lucky tiba di rumah. "Kamu dandan mau kemana, Sakura?" tanya Oliver Richie yang mengantar Princess Aluna Lucky pulang ke rumah. "Aku akan mengikuti kencan buta atas saran Bu Reina," jawab Sakura dengan rasa antusias. "Apakah itu tandanya kamu menyetujui untuk bercerai denganku dan memulai hidup baru?" tanya Oliver Richie dengan senyuman di wajahnya. "Aku akan memikirkannya, Oliver. Aku merasa menjadi istrimu membuatku tertekan, apalagi dengan sifat kedua orangtuamu yang berbeda di depan dan belakang," ucap Sakura dengan senyuman. Saat itu, Adrian muncul di depan pintu dengan seorang wanita bule yang cukup cantik, tubuhnya tinggi langsing, rambutnya seperti boneka barbie, matanya biru "Ini siapa, Adrian?" tanya Sakura dengan rasa kecewa. "Aku menemukan belahan jiwaku di Amerika. Kenalkan, namanya Luciana," ujar Adrian dengan bangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN