Dalang di balik semua

1559 Kata
"Maksud papa?" tanya Shawn dengan rasa kebingungan. "Papa sudah mengirimnya ke pusat kesehatan jiwa," jawab pak hendra dengan nada dingin. "Kenapa, Pa?" Shawn terkejut mendengarnya. "Kita satu keluarga rusuh dibuat oleh satu wanita. Lagian, dia sudah tidak berguna lagi," jelas pak hendra dengan rasa frustrasi. "Papa, dia kan sudah tidak tinggal di rumah ini. Kenapa papa masih mengusiknya?" protes Shawn dengan rasa keadilan. "Mencegah lebih baik," jawab Pak Hendra dengan tegas. "Biarkan dia bebas, Pa. Aku akan menuruti semua kemauan papa," ujar Adrian keluar dari kamarnya. Pak Hendra memicingkan matanya, merenungkan kata-kata Adrian. "Yakin kamu?" "Iya, Pa. Bebaskan Sakura," tegas Adrian. "Baiklah, papa akan membebaskan Sakura, asal kamu mau bekerja di cabang perusahaan luar negeri," tawar Pak Hendra. "Izinkan Adrian untuk pamit pada teman-teman Adrian sebelum pergi, Pa," pinta adrian. "Baiklah, waktu kamu 3 hari," Pak Hendra menyetujuinya. Shawn keluar rumah dan pergi menemui Liliana Gerald. Dia merasa rindu dengan kehadirannya. "Aku merindukanmu, Liliana," ucap Shawn sambil memeluk Liliana Gerald. "Ehemmm," Princess Aluna Lucky berdeham, menginterupsi momen mereka. "Maafkan aku, Aluna. Sakura akan segera pulang ke rumah," ujar Shawn dengan rasa lega. "Darimana kamu tahu?" tanya Aluna dengan rasa penasaran. "Papa yang memberitahu kami," jawab Shawn dengan rasa sedih. "Papa mu? Jadi orangtuamu dalangnya?" tanya Liliana Gerald dengan rasa tidak percaya. "Ya, bisa dibilang seperti itu," Shawn menjawab sambil tersenyum malu. "Kemana Sakura dibawa oleh papamu? Kenapa?" tanya Liliana dengan rasa penasaran. "Ke rumah sakit jiwa, karena menurutnya Sakura menghalangi masa depan kami," jelas Shawn dengan nada sedih. "Apa sakit jiwa, sayang?" ujar Liliana, membelalakan mata tak percaya. "Kasihan sekali Sakura. Aku baru ingat, kami pernah berjumpa pertama kali saat kita sedang makan, Liliana. Kamu ingat? Wanita yang memarahi aku karena membanting meja, dan ternyata itu adalah cafe miliknya," kenang Shawn. "Oh, iya, iya, aku ingat. Astaga, apakah kita menderita demensia?" Liliana tertawa. "Ya, Sakura dulu menikah di keluarga kami dan diberi cafe oleh papa. Kemudian, cafe itu ditarik karena Sakura tidak bisa mengatur manajemennya," cerita Shawn dengan rasa sedih. "Adrian tahu hal ini, Shawn?" tanya Liliana dengan rasa penasaran. "Sakura bebas karena Adrian yang meminta, dengan syarat dia memegang cabang perusahaan luar negeri," jelas Shawn. "Pasti sedih sekali jika Sakura mendengarnya," ucap Liliana dengan rasa simpati. Akhirnya, malam itu Sakura kembali ke rumah Princess Aluna Lucky. "Bagaimana keadaanmu, Sakura?" tanya Bu Reina, yang sedang menggendong Noah. "Aku hampir gila di sana. Saat aku sedang keluar buang sampah, tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan menculikku. Ketika aku sadar, aku sudah di rumah sakit jiwa," cerita Sakura dengan rasa trauma. Bu Reina mendengarkan cerita Sakura dengan perasaan prihatin. Dia memeluk Sakura dengan penuh kasih sayang. "Oh, Sakura, betapa mengerikan pengalaman yang kamu alami. Aku sangat menyesal tidak dapat melindungimu," ucap Bu Reina dengan suara gemetar. Sakura menangis di pelukan Bu Reina, merasa lega bahwa dia kembali ke tempat yang aman. Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald berdiri di samping mereka, memberikan dukungan dan kehangatan. "Kami di sini untukmu, Sakura. Kamu tidak sendiri," ujar Aluna dengan suara lembut. Liliana menambahkan, "Kami akan membantu kamu pulih dari pengalaman ini. Kamu kuat, Sakura." Malam itu, mereka semua duduk bersama di ruang keluarga, berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain. Mereka berjanji untuk mendukung Sakura dalam proses pemulihannya dan memastikan kebahagiaannya kembali. " sini biar kugendong bu" ujar princess aluna lucky Bu Reina mendengarkan cerita Sakura dengan perasaan prihatin. Dia memeluk Sakura dengan penuh kasih sayang. "Oh, Sakura, betapa mengerikan pengalaman yang kamu alami. Aku sangat menyesal tidak dapat melindungimu," ucap Bu Reina dengan suara gemetar. Sakura menangis di pelukan Bu Reina, merasa lega bahwa dia kembali ke tempat yang aman. Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald berdiri di samping mereka, memberikan dukungan dan kehangatan. "Kami di sini untukmu, Sakura. Kamu tidak sendiri," ujar Aluna dengan suara lembut. Liliana menambahkan, "Kami akan membantu kamu pulih dari pengalaman ini. Kamu kuat, Sakura." "Terima kasih, Liliana, Aluna, Bu Reina, dan Noah kecil," ucap Sakura dengan rasa terima kasih. "Oeeee," Noah kecil menangis, seolah-olah mengerti apa yang diucapkan oleh Sakura dan yang lainnya. "Lucu sekali kamu, Noah. Kamu memang ngerti apa yang kami bilang," kata Sakura sambil tersenyum. Mereka bertiga pun tertawa. Tidak berapa lama kemudian, ada yang menekan bel rumah, lalu Sakura membuka pintu. "Kenapa lagi kamu ke sini, Adrian?" tanya Sakura dengan rasa penasaran. "Aku pamit pergi," ujar Adrian dengan mencoba tersenyum. "Kamu mau pergi ke mana?" tanya Sakura dengan sedikit kesedihan terdengar dalam suaranya. "Aku akan menjalankan perusahaan papa yang di luar negeri," jelas Adrian. "Jadi, kamu tidak akan kembali lagi?" tanya Sakura dengan suara serak, hampir menangis. "Aku belum tahu, Sakura. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Adrian dengan perhatian. "Iya, kapan kamu akan pergi?" tanya Sakura dengan rasa kekhawatiran. "Mungkin 2 hari lagi, Sakura. Kamu sementara tinggal di sini saja dulu sampai keadaan di rumah stabil. Maafkan aku, Sakura, atas semua yang telah terjadi," ucap Adrian sambil memeluk Sakura dan membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Titip Sakura ya, Bu Reina, Aluna, Liliana," ucap Adrian dengan rasa haru. Lalu Adrian pergi meninggalkan Sakura yang menangis di tengah derasnya hujan yang turun tiba-tiba. **** 2 hari kemudian, Adrian bersiap di bandara akan berangkat ke luar negeri. "Adrian," panggil Sakura sambil berlari dan memeluknya. Ternyata Sakura, Liliana, dan Bu Reina serta Noah mengantar kepergiannya. "Seandainya Adrian dari dulu seperti itu," ujar Shawn sambil memegang tangan Liliana Gerald. Liliana tersenyum melihat kebersamaan Sakura dan Adrian. Dia menggenggam tangan Shawn dengan erat, merasakan kehangatan dalam sentuhan mereka. "Ya, seandainya Adrian sudah menyadari sejak dulu betapa berartinya Sakura baginya," ucap Liliana dengan suara lembut. Shawn menatap Liliana dengan penuh cinta. "Kamu tahu, Liliana, aku beruntung memiliki kamu. Kamu adalah cahaya dalam hidupku." Liliana tersipu dan membalas pandangan Shawn dengan senyuman. Mereka berdua merasakan kebahagiaan dalam momen itu, mengetahui bahwa mereka telah menemukan cinta sejati satu sama lain. Sementara itu, Sakura melepaskan pelukan Adrian dengan perasaan campuran. Dia mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya. "Terima kasih, Adrian, atas segalanya. Aku berharap kamu mendapatkan kebahagiaan yang sejati di luar sana," ucap Sakura dengan suara lembut. Adrian tersenyum, mencoba menahan emosinya. "Aku akan selalu mengingatmu, Sakura. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku." Mereka berdua saling melihat dengan tatapan penuh rasa sayang. Kemudian, Adrian berjalan menuju pintu keberangkatan, meninggalkan Sakura dengan perasaan campuran antara kehilangan dan harapan. Sakura bergabung kembali dengan Liliana, Shawn, Bu Reina, dan Noah. **** "Apakah benar papa mengirim Adrian ke luar negeri sebagai ganti membebaskan Sakura?" tanya Oliver Richie di kantor papanya. "Ya, itu lebih baik untuk semua. Citra perusahaan juga terjaga," ujar Pak Hendra dengan tegas sambil meminum kopinya. "Apakah ulah papa juga yang menyebabkan kecelakaan yang menimpa Sakura? Termasuk perusahaan papa yang menjadi milik Sakura?" tanya Oliver dengan rasa penasaran. "Papa hanya memberikan peringatan, tapi kalian tidak mau mendengarkan. Lihatlah apa yang terjadi pada apa yang kalian sayangi," jelas Pak Hendra dengan nada menegur. "Papa... cukup... berhentilah... Kami ini anak papa, bukan robot," protes Oliver dengan suara penuh emosi. "Kamu juga sekarang berulah setelah menemukan wanita pujaan hatimu?" tanya Pak Hendra dengan rasa kecewa. Oliver Richie terdiam, tidak menyangka papanya akan mengetahui kabar tersebut begitu cepat. "Jangan pernah sentuh Aluna," peringatkan Pak Hendra dengan tegas. "Jadi itu nama perempuan itu," ucap Oliver dengan rasa terkejut. "Oliver tidak main-main, Pa. Oliver akan mengungkapkan semuanya," ucap Oliver dengan tekad. "Sebelum kamu mengungkapkan semuanya, papa akan membuatmu menyesal duluan," ancam Pak Hendra. Oliver Richie lalu meninggalkan ruangan papanya dengan perasaan campuran antara keputusasaan dan tekad yang kuat. **** Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya kandungan Princess Aluna Lucky sudah menginjak usia 20 minggu. Noah juga sudah mulai makan makanan pendamping ASI (MPASI). Sakura terlihat lebih riang dan bahagia. Bu Reina menjalin hubungan dengan Papa Sakura, mereka berdua saling mendukung dan menjaga kebahagiaan keluarga mereka. "Sudah saatnya kita melakukan USG pada kandunganmu, Aluna," sahut Sakura dengan antusias. "Baiklah," Princess Aluna Lucky pun mempersiapkan diri untuk pergi ke dokter kandungan. "Aku yang akan mengantar," ujar Oliver, tiba tepat waktu di depan pintu rumah. "Papa di rumah saja bersama Bu Reina dan Noah, biar kami bertiga ke dokter kandungan," kata Sakura dengan tegas. "Kami juga ingin melihatnya, Sakura. Ya kan, Pa?" ujar Bu Reina, sudah memanggil Papa Sakura dengan sebutan 'Papa'. Akhirnya, mereka berangkat bersama ke dokter kandungan. Antriannya cukup ramai, Princess Aluna Lucky mendapat urutan ke-10 dan harus menunggu selama 1 jam 30 menit. "Ibu Princess Aluna Lucky," panggil perawat, dan semua turut berdiri siap untuk masuk ke ruangan dokter. "Mohon maaf, hanya yang bersangkutan dan walinya yang bisa mendampingi," jelas perawat. "Tapi kami semua adalah walinya, Suster," ujar Bu Reina dengan rasa kecewa. "Mohon maaf, hanya boleh 2 wali," tegaskan perawat. "Sudah, Bu, biar Sakura dan Oliver saja," kata Princess Aluna Lucky dengan penuh pengertian. Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan dokter dengan antusias. Oliver duduk di samping Princess Aluna Lucky yang terbaring di kasur untuk diperiksa oleh dokter kandungan. "Mari kita periksa bayinya ya, Bu Aluna. Ini suaminya, ya?" tanya Dokter Queen. "Bukan," jawab Sakura dengan cepat. "Iya, saya suaminya," sahut Oliver Richie. "Ehem, baiklah. Bayinya sehat, kaki dan tangan tidak ada tampak kelainan, ketuban cukup tapi berat badan bayi kurang dari normal. Apakah ibu kurang selera makan?" tanya Dokter Queen. Princess Aluna Lucky mengangguk, kemudian Dokter Queen meresepkan vitamin untuk Princess Aluna Lucky. Ketika akan keluar dari kamar, Sakura dan Oliver berebut untuk mengantar Princess Aluna Lucky keluar, sehingga tanpa sengaja mereka membuat Princess Aluna Lucky terjatuh dan mengalami kontraksi perut yang membuatnya tidak mampu berdiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN