Karma

1504 Kata
Sakura mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Aku merasa terjebak dalam situasi yang sulit, Bu Reina. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Princess Aluna Lucky mendekat dan memeluk Sakura dengan penuh kasih sayang. "Kamu tidak sendirian, Sakura. Kami akan mendukungmu dalam menghadapi semua ini." Bu Reina juga ikut memeluk Sakura, memberikan dukungan dan kehangatan. Mereka bertiga saling menguatkan satu sama lain, menumbuhkan rasa solidaritas dan persaudaraan yang kuat di antara mereka. "Aku pernah mendengar bahwa Oliver merasa bahwa di antara semua anggota keluarganya, kamu yang paling perhatian dengannya, Sakura," ujar Princess Aluna Lucky. "Oliver?" tanya Sakura dengan rasa heran. "Ya, Sakura. Aku juga tidak menyangka bahwa Oliver pernah bercerita tentang kedua kakinya yang robot. Ketika kamu merawatnya dengan sepenuh hati, mungkin dia merasa kecewa saat mengetahui bahwa kamu dan Adrian masih berhubungan," jelas Aluna dengan penuh pengertian. "Oliver adalah pria yang membingungkan bagiku. Kadang baik, kadang cuek. Aku tidak mengerti tentang dirinya, dan dia juga tidak pernah menyentuhku," kata Sakura dengan rasa kebingungan. "Oliver tidak pernah menyentuhmu, Sakura?" tanya Aluna dengan rasa terkejut. "Ya, mungkin ini semua adalah karma bagiku juga. Aku tidak bisa memilih antara dua pria," ucap Sakura dengan rasa penyesalan. "Lalu bagaimana dengan Shawn?" tanya Aluna penasaran. "Shawn sepertinya juga memiliki perasaan khusus padaku," jawab Sakura dengan keraguan. "Aku tidak tahu, Aluna. Kami hanya tumbuh bersama sejak kecil, dan orangtua kami bersahabat," tambah Sakura. "Sudahlah, Aluna, Sakura. Kita tidur sekarang. Aku yakin cerita kalian akan berlanjut esok pagi jika dilanjutkan," kata Bu Riana sambil tersenyum. Mereka bertiga tertawa dan membangunkan Noah. Setelah menepuk lembut p****t Noah, akhirnya dia tertidur lagi. Akhirnya, mereka bertiga pun tertidur hingga esok pagi. **** Princess Aluna Lucky terbangun oleh bunyi alarmnya dan segera membersihkan diri serta memakan sarapan yang disiapkan oleh Sakura. Dia lalu berpamitan pada Noah dan Bu Reina. Tin Tin tin... Suara klakson mobil Liliana Gerald terdengar. "Bagaimana kabarmu, Aluna?" tanya Liliana Gerald dengan senyum di wajahnya. "Oh, baik sekali, Liliana," ujar Princess Aluna Lucky dengan senang. "Bagaimana keadaan Noah dan Sakura?" tanya Liliana Gerald dengan rasa perhatian. "Noah adalah anak yang baik dan tidak pernah menyusahkan kami. Namun, Sakura sepertinya membutuhkan bantuan untuk mengatasi tekanan batinnya," jawab Aluna dengan serius. "Sakura?" tanya Liliana dengan rasa keheranan. "Iya, kamu ingat dia pernah bercerita tentang keluarga Oliver?" jelas Aluna. "Ya, tapi kita hanya mendengar satu sisi cerita. Bagaimana jika dia melebih-lebihkannya?" sela Liliana dengan rasa skeptis. "Aku juga tidak yakin, tapi semalam Adrian datang ke rumah dan menuduh bahwa Noah adalah anak mereka," ungkap Aluna. "Lalu?" tanya Liliana penasaran. "Sakura akhirnya bercerita bahwa mereka pernah memiliki hubungan dan bahkan memiliki anak, namun akhirnya digugurkan. Aku juga bercerita tentang Oliver yang mengatakan bahwa Sakura sangat perhatian ketika dia mengalami kecelakaan dan harus menggunakan kaki robot," jelas Aluna dengan rasa prihatin. "Hubungan yang rumit sekali. Oh ya, Aluna, aku sudah bercerita pada Mama tentang Noah dan Shawn," kata Liliana dengan senyum di wajahnya. "Mama ingin mengadopsi Noah. Dia bilang Shawn adalah pria yang tampan," tambah Liliana. "Sakura pasti akan sedih jika Noah diadopsi oleh keluargamu, Liliana," ujar Aluna dengan rasa empati. "Oh ya? Baiklah, nanti aku akan membahasnya kembali dengan Mama," kata Liliana sambil mengangguk. Mereka akhirnya sampai di universitas dan masuk ke ruang kuliah. Aluna merasa bersyukur karena tidak lagi mengalami mual muntah, sehingga dia bisa berkuliah dengan tenang. "Kamu baik-baik saja?" tanya Ronald Weasley saat dia mendatangi mereka selama jam istirahat. "Tentu saja," jawab Princess Aluna Lucky dengan senyum. "Ini makanan untukmu," kata Ronald Weasley sambil memberikan sebatang cokelat padanya. Aluna tersenyum dan mengambil cokelat dari tangan Ronald. Dia dengan lahap memakan cokelat tersebut. "Aku iri padamu, Aluna," ujar Liliana Gerald dengan rasa cemburu. "Kenapa? Karena aku diberi cokelat dan kamu tidak?" balas Aluna sambil tertawa. "Bercanda, makanlah, Bodoh," bisik Liliana Gerald. Tiba-tiba, dari luar ruangan terdengar suara keramaian. "Ada apa di luar?" tanya Aluna penasaran. Masuklah Oliver Richie ke dalam ruang kelas mereka, disambut oleh kerumunan mahasiswa lainnya. "Aluna, ini camilan untukmu," kata Oliver sambil menyodorkan sekeranjang makanan ringan kepadanya. "Kenapa kamu datang ke kampusku?" tanya Princess Aluna Lucky sambil membawanya ke tempat parkir mobil yang jauh dari keramaian. Oliver Richie tiba-tiba menciumnya secara tiba-tiba. "Gila kamu!" tolak Aluna dengan tegas. "Aku menyadari perasaanku padamu setelah mengingat masa sekolah kita dulu, Aluna," ucap Oliver dengan tulus. "Itu sudah lama sekali, Oliver. Mungkin kamu hanya bingung karena Sakura," jawab Aluna dengan rasa ragu. "Jangan sebut namanya lagi. Aku tidak ingin mendengarnya," ucap Oliver dengan nada kesal. "Adrian datang ke rumah kami semalam," kata Aluna. "Aku tahu, dia pasti datang ke rumahmu untuk melihat Sakura," ujar Oliver dengan rasa pahit. "Sampai kapan kamu akan membuatnya tinggal di rumahku?" tanya Aluna dengan kekhawatiran. Princess Aluna Lucky menatap Oliver dengan serius, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit antara persahabatan, cinta, dan loyalitas pada Sakura. "Oliver, aku memahami bahwa kamu memiliki perasaan khusus padaku. Namun, aku tidak ingin menyakiti Sakura. Dia adalah sahabatku dan aku tidak ingin mengkhianatinya," ucap Aluna dengan tegas. Oliver menatap Aluna dengan rasa penyesalan. "Aku mengerti, Aluna. Aku tidak bermaksud untuk menciptakan masalah antara kita dan Sakura. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku." Diam-diam, tanpa sepengetahuan Princess Aluna Lucky dan Oliver Richie, ada seseorang yang memotret mereka dari balik pohon dekat parkiran mobil. "Pak Hendra pasti akan menaikkan jabatanku jika aku memberinya informasi ini," batin laki-laki tersebut dengan berpikir licik. "Kamu adalah pria yang sudah menikah, Oliver. Kamu harus bisa membedakan antara kehidupan pribadi, bisnis, dan masa lalumu," tegas Aluna dengan rasa kesal. "Aluna, jangan sembunyikan perasaanmu sendiri," kata Oliver dengan nada serius. "Maksudmu?" tanya Aluna dengan rasa kebingungan. "Aku tahu kamu menerima persyaratanku karena kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku," ungkap Oliver dengan penuh keyakinan. "Oliver, tolong, sekarang semuanya sudah berbeda," ucap Aluna dengan nada lemah. Princess Aluna Lucky meninggalkan Oliver Richie sendirian, menuju ke tempat duduknya di samping Liliana Gerald. "Kenapa, Aluna?" tanya Liliana Gerald begitu Aluna kembali duduk di sampingnya. "Ayo kita pergi. Pikiranku seperti benang kusut," ajak Aluna dengan rasa kebingungan. Mereka berdua pun pergi meninggalkan kampus dan menuju ke kebun binatang untuk mencari ketenangan. "Sekarang ceritakan," ujar Liliana Gerald dengan rasa penasaran. "Oliver menciumku," ungkap princess launa lucky. "Apa?!" seru Liliana dengan kaget. "Dia masih menyukai aku, Liliana, tapi sekarang dia sudah menikah, dan hubungan kami tidak lebih dari sekadar rekan bisnis," jelas princess aluna lucky dengan rasa sedih. "Jadi, apa yang membuatmu begitu kalut, Aluna?" tanya Liliana dengan kekhawatiran. "Aku juga tidak tahu, Liliana," jawab Aluna dengan perasaan campuran. "Jujur saja, Aluna. Apakah kamu memiliki perasaan yang sama dengan Oliver?" Liliana menatap tajam kedua mata Princess Aluna Lucky. "Aku... aku..." Princess Aluna Lucky berusaha menjelaskan dengan terbata-bata. "Sudah kuduga. Seorang Princess Aluna Lucky tidak mungkin berubah dalam waktu singkat demi satu triliun. Aku yakin orangtuamu juga memiliki simpanan sebanyak itu," kata Liliana dengan tegas. "Liliana, kamu mengenalku kan?" tanya Princess Aluna Lucky. "Tentu saja. Kamu menyesal menolaknya dulu karena dia terkenal nakal, kan? Padahal sebenarnya kamu memiliki perasaan yang sama, dan sekarang kamu tidak mau melewatkan kesempatan itu lagi?" "Tapi bagaimana dengan Sakura?" "Di mana Aluna yang dulu arogan dan percaya diri?" "Sejak kehilangan kedua orangtuaku, aku menyadari bahwa sikapku telah menyakiti banyak orang. Aku tidak akan pernah menjadi Aluna yang dulu lagi, Liliana." "Tapi dalam pertarungan ini, kita membutuhkan Aluna yang dulu." "Sakura sudah kehilangan banyak hal, dan dia juga saudara tirimu, Liliana." "Apa? Dia saudara tiriku? Apa maksudmu?" "Iya, dia adalah anak yang dikandung oleh Bu Reina juga," kata Princess Aluna Lucky. "Kita semua ternyata terhubung oleh satu benang kusut, ya," tambah Liliana Gerald. "Kamu suka Oliver, Oliver suka kamu, tapi dia sudah punya istri. Dan aku menyukai Shawn, yang ternyata adik Oliver dan juga menyukai Sakura," jelas Aluna. "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Shawn?" tanya Liliana. "Kami baik. Shawn ternyata pria yang baik dan romantis," jawab Aluna. Tiba-tiba, handphone Princess Aluna Lucky berdering. "Angkat dulu, Aluna. Mana tahu itu telepon penting," saran Liliana. Ternyata, itu telepon dari Bu Reina. "Iya, ada apa, Bu?" tanya Aluna. "Sakura menghilang, Aluna," kata Bu Reina dengan cemas. "Ibu yakin dia tidak ada di dalam rumah atau mungkin sedang jalan-jalan keluar rumah?" tanya Aluna khawatir. "Ibu sudah mencarinya, tapi tidak ada. Tolong kamu hubungi polisi. Ibu sedang sibuk mengurus Noah," pinta Bu Reina. Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald pun pulang ke rumah mereka dan mencari Sakura di sekitar rumah. "Mungkin dia bersama Adrian," ujar Liliana Gerald. Mereka mencoba menelepon Adrian, tetapi tidak bisa menghubunginya. "Shawn, kemana Adrian?" tanya Liliana Gerald pada Shawn. "Dia sedang di rumah, dihukum oleh Papa. Ada apa?" tanya Shawn penasaran. "Sakura menghilang," ungkap Liliana Gerald. "Menghilang?" Shawn terkejut. Shawn langsung merasa cemas mendengar kabar bahwa Sakura menghilang. Dia segera menghubungi ayahnya dan memberitahu tentang kejadian tersebut. "Papa, Sakura menghilang. Kita harus segera mencarinya," kata Shawn dengan nada khawatir. Sementara itu, Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald terus mencari Sakura di sekitar rumah. Mereka memeriksa setiap sudut dan memanggil namanya dengan harapan Sakura akan muncul. "kamu tidak usah mencarinya lagi shawn" ujar papa shawn menatap shawn dengan tatapan tegas dan duduk di sofa sambil membaca koran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN