Kehidupan

1525 Kata
Princess Aluna Lucky memandang Sakura dan Bu Reina dengan penuh rasa syukur. Betapa indahnya kehidupan ini, di mana semuanya kembali bersama meskipun telah dipisahkan puluhan tahun. Noah tiba-tiba menangis, dan Princess Aluna Lucky segera menggendongnya dan memberinya minum s**u dengan penuh kelembutan. ***** Oliver pulang ke rumah nya dan disambut oleh shawn yang sedang kebingungan mencari sakura di sekeliling rumah. "'Dimana Sakura, Oliver?" tanya Shawn ketika Oliver pulang ke rumah. "Bukankah kamu yang menyarankannya untuk tinggal bersama Aluna?" jawab Oliver dengan nada kebingungan. "Aku?" Shawn terkejut dengan pernyataan Oliver. Kemudian, Adrian tiba-tiba muncul. "Aku yang menyarankannya. Kamu lihat kan luka sayatan di tangan Sakura yang penuh keraguan?" "Luka sayatan?" Shawn terkejut dengan pengakuan Adrian. "Iya, luka sayatan. Mungkin Sakura merasa terdepresi dengan perlakuan kita. Kita seharusnya tidak memperlakukannya seperti itu. Dia juga merupakan korban," jelas Adrian dengan penyesalan. "Ini semua ulahmu, Adrian. Papa sudah tahu tentang hubungan gelap kalian," kata Oliver dengan nada kesal. "Hubungan gelap? Kamu merampasnya dariku" tanya Adrian dengan rasa tidak percaya. "Merampas? Kamu berani bilang begitu? Padahal kamu tidak mampu menjaganya dengan baik, bahkan ketika aku memilih untuk tutup mata terhadap hubungan kalian," balas Oliver dengan kekecewaan. "Sudahlah, tidak ada gunanya berantem memperebutkan satu wanita," sela Shawn dengan nada bijak. "Aku tidak pernah menaruh hati pada Sakura," ujar Oliver dengan rasa kesal. "Aku tahu kamu dari dulu mencintai satu wanita," ejek Shawn dengan senyuman. "Apa maksudmu?" tanya Oliver dengan rasa penasaran. "Sudahlah, akui saja," kata Shawn sambil tertawa. Oliver terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Shawn. Dia merasa terkejut dan bingung dengan pengakuan itu. "Aku sudah membaca buku harianmu yang tersimpan rapi di kamarmu," ujar Shawn dengan nada mengejek. "Apa yang kamu katakan?" Oliver Richie meraih kaos oblong Shawn dengan tatapan tak percaya. "Hentikan, kalian terlihat seperti anak kecil," sela Bu Yura, ibu mereka berdua, dengan nada tegas. "Diam kamu!" ujar Shawn dan Oliver Richie bersamaan, saling menatap dengan penuh ketegangan. "Hey, apa yang kalian lakukan? Papa akan marah kalau melihat tingkah kalian seperti ini," tegur Bu anita dengan rasa khawatir. "Ma, Shawn membaca buku harian milikku tanpa izin," oliver mengadu kepada Bu anita. "Shawn, kenapa kamu membaca privasi orang lain?" tanya Bu anita dengan rasa kecewa. "Aku hanya tergoda untuk membacanya," Shawn menjawab dengan nada mengejek. "Aku akan keluar, Ma," ujar Adrian sambil membanting pintu. "Mau kemana lagi kamu? Sebentar lagi waktunya makan malam. Papa mu akan marah jika kita tidak berkumpul di meja makan," kata Bu anita dengan nada lelah. "Aku sudah bukan anak kecil lagi, Ma," sahut Adrian dengan nada kesal, lalu pergi meninggalkan rumah. "Mama menyerah menghadapi kalian," Bu anita meninggalkan Shawn dan Oliver Richie dengan perasaan kecewa. Setelah Bu anita pergi dan Adrian sudah meninggalkan rumah, Shawn mencoba mengejek Oliver lagi, "Aku tidak menyangka kamu menyukai Aluna, Oliver." "Bukan urusanmu," Oliver pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, menutup pintu dengan perasaan campuran. Shawn tetap berdiri di luar kamar Oliver, mencoba membuatnya marah dengan kata-kata, "Pasti kamu senang sekali dia sedang membawa anakmu di perutnya." Oliver menutup pintu kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur. Dia membuka buku harian jadulnya dan menatap selembar foto ketika mereka masih sekelas dengan Princess Aluna Lucky, merenungkan masa lalu dan perasaannya yang rumit. Oliver menatap foto tersebut dengan campuran perasaan nostalgia dan kebingungan. Dia teringat saat mereka masih sekelas dengan Princess Aluna Lucky, saat semuanya terasa lebih sederhana dan tak rumit seperti sekarang. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka perlahan. Shawn masuk dengan wajah yang tampak serius. "Oliver, maafkan aku. Aku tahu aku telah melanggar privasimu dengan membaca buku harianmu," ucap Shawn dengan suara yang penuh penyesalan. Oliver menatap Shawn dengan ekspresi campuran. Dia merasa terharu dengan permintaan maaf itu, namun juga masih merasa kesal dengan tindakan Shawn. "Aku mengerti bahwa kamu tergoda untuk membacanya, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa itu adalah hal yang salah," kata Oliver dengan nada tegas. "Kamu tidak akan bilang padanya tentang perasaanmu?" tanya Shawn sambil duduk di samping Oliver, menatap lembaran foto yang dipegang oleh Oliver. "Aku sudah pernah menyatakan perasaanku padanya saat itu, tapi dia membuatku malu di hadapan semua teman kami," jawab Oliver dengan nada sedih. "Jadi itu alasanmu memberinya hukuman dengan mengandung anakmu?" tanya Shawn dengan rasa penasaran. "Seharusnya dia bisa menolaknya," kata Oliver dengan rasa kecewa. "Mungkin saja dia memiliki perasaan yang sama denganmu, Oliver, makanya dia mau menyetujui persyaratanku," sela Shawn dengan penuh pengertian. "Kamu tahu dari mana semua itu? Apakah Sakura memberitahumu?" tanya Oliver dengan rasa curiga. "Itu hal yang mudah untukku cari tahu, Oliver. Hubungan kalian memang cukup rumit, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Papa dan Mama tahu tentang ini," ujar Shawn dengan perasaan khawatir. Shawn melangkah keluar dari kamar Oliver Richie, meninggalkannya dalam kegelisahan. Oliver berpikir keras tentang bagaimana cara untuk menyelamatkan semua orang dari kemarahan kedua orangtuanya. **** Bu Reina memandikan Noah dan mempersiapkan makan malam untuk mereka bertiga. "Sakura, kamu sudah memberitahu mertuamu bahwa kamu akan tinggal bersama kami sementara?" tanya Bu Reina dengan kehati-hatian. "Biar Oliver saja yang menyampaikan pada mereka," jawab Sakura dengan rasa ragu. "Malam ini kita akan bergantian menjaga Noah. Besok kita akan mencari babysitter untuk menjaganya di malam hari," ujar Bu Reina dengan perasaan perhatian. "Ya, lebih baik seperti itu. Kita semua butuh waktu pemulihan," sahut Sakura dengan rasa lega. Setelah selesai makan malam, mereka duduk di ruang tamu menonton film. Mereka berusaha menikmati momen kebersamaan, mencoba melupakan sejenak semua masalah yang sedang mereka hadapi. Sambil menonton film, suasana di ruang tamu menjadi lebih tenang. Sakura, Bu Reina, dan Noah duduk bersama, merasakan kehangatan keluarga yang saling mendukung. Sakura merenung sejenak, memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambil. Dia tahu bahwa mereka semua perlu waktu untuk pemulihan dan penyesuaian setelah peristiwa yang terjadi. "Bu Reina, aku ingin berterima kasih atas segala dukungan dan bantuan yang kamu berikan padaku. Aku benar-benar merasa terbantu dan merasa seperti memiliki keluarga yang peduli," ujar Sakura dengan rasa tulus. Bu Reina tersenyum lembut. "Kamu adalah bagian dari keluarga kami sekarang, Sakura. Kami akan selalu mendukungmu dan Noah." Sakura merasa haru mendengar kata-kata Bu Reina. Dia merasa beruntung memiliki orang-orang seperti mereka di sisinya. "Dan Noah, kamu adalah anak yang istimewa. Kamu memiliki keluarga yang mencintaimu dengan sepenuh hati," kata Sakura sambil mengelus lembut rambut Noah. Noah tersenyum dan meraih tangan Sakura dengan penuh kebahagiaan. Bel pintu berbunyi, dan Sakura membukanya dengan terkejut melihat Adrian yang datang. "Mau ngapain kamu ke sini, Adrian?" tanya Sakura dengan nada tegas. "Aku hanya ingin melihatmu," jawab Adrian dengan suara lembut. "Kamu sudah gila, kembalilah," kata Sakura dengan tegas. "Siapa itu, Sakura?" tanya Bu Reina yang berjalan mendekati mereka. "Adrian? Kenapa kamu datang begitu larut malam?" tanya Bu Riana dengan rasa khawatir. Oeeee Noah menangis, menandakan bahwa sudah waktunya untuk minum s**u lagi. "Anak siapa itu? Aku yakin tidak salah dengar," kata Adrian sambil mencari sumber suara yang menangis. Tampak Princess Aluna Lucky sedang menggendong Noah dan memberinya s**u. Kemudian Noah pun tertidur kembali. "Anak siapa itu?" Adrian tampak curiga dan menatap Sakura dengan tajam. "Itu adalah anak yang dibuang oleh orangtuanya di depan rumah Aluna," jelas Sakura dengan nada sedih. "Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Adrian dengan rasa tidak percaya. "Kamu kira itu anak kita? Anak kita bahkan belum sempat berkembang di perutku, Adrian. Teganya kamu mencurigaiku! Pergi, kamu!" ucap Sakura dengan penuh emosi, mendorong tubuh Adrian keluar dari rumah. "Sakura..." Adrian mencoba untuk berbicara, tetapi Sakura menegaskan lagi, "Jangan pernah menampakkan dirimu di depanku lagi." Adrian pun pergi dengan penuh penyesalan. Dia pulang ke rumah dan disambut oleh Pak Nicole, ayahnya, di depan pintu rumah mereka. "Papa," panggil Adrian dengan rasa penyesalan. "Kamu habis darimana saja?" tanya Pak Hendra dengan penuh amarah. "Aku habis mencari udara, Pa," jawab Adrian dengan ragu. "Kamu selalu mencari masalah. Masuklah, dan jangan keluar dari rumah selama seminggu," ucap Pak Nicole dengan nada tegas. Adrian pun masuk ke dalam rumah dan langsung pergi ke kamarnya. Dia terbaring di tempat tidur, merenungi perbuatannya terhadap Sakura selama ini. **** "Ada apa denganmu dan Adrian, Sakura?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa penasaran. "Ceritanya rumit, Aluna, dan aku tidak tahu harus memulainya dari mana," jawab Sakura dengan rasa kebingungan. "Baiklah, ketika kamu sudah tenang, baru ceritakan pada kami," kata Aluna dengan penuh pengertian. "Ayo kita tidur, besok kita akan menjalani hari yang baru. Aluna, bukankah kamu besok akan pergi kuliah?" sela Bu Reina dengan penuh perhatian. Mereka bertiga pun pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat. "Sebenarnya, aku sudah mengenal Adrian sebelum menikah dengan Oliver Richie," Sakura mulai bercerita. "Lalu apa yang terjadi?" tanya Bu Reina dengan rasa penasaran. "Mama meninggal dunia, Papa depresi, dan perusahaan kami berada di ambang kehancuran. Kemudian, orangtua Oliver menjodohkan kami sebagai imbalan atas bantuan mereka untuk menyelamatkan perusahaan," jelas Sakura dengan nada sedih. "Maaf, Sakura, aku mendengar Adrian mencurigai bahwa Noah adalah anak kalian," ujar princess Aluna lucky dengan rasa khawatir. "Kamu tidak salah dengar, Aluna. Setelah menikah, aku masih menjalin hubungan dengan Adrian. Hingga suatu hari, aku hamil, tapi Adrian menyuruhku untuk menggugurkannya," ucap Sakura dengan rasa sedih dan penyesalan. Bu Reina dan Princess Aluna Lucky terdiam sejenak, meresapi cerita yang baru saja mereka dengar. Mereka bisa merasakan beban emosional yang Sakura rasakan selama ini. "Maafkan aku, Sakura. Aku tidak tahu bahwa kamu telah mengalami begitu banyak kesulitan," ucap Bu Reina dengan suara lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN