"Apa yang membuatmu tertarik padanya? Apakah ada sesuatu yang khusus tentang dia?" tanya princess aluna lucky.
Liliana tersenyum. "Dia terlihat sangat percaya diri dan memiliki pesona yang unik. Aku ingin tahu apakah dia sebaik itu dalam kehidupan nyata."
"Aku paham perasaanmu. Kadang-kadang, kita tertarik dengan seseorang berdasarkan kesan pertama. Tapi ingatlah, kita perlu mengenal seseorang lebih dalam sebelum membuat kesimpulan," kata princess aluna lucky dengan bijak.
Liliana mengangguk. "Iya, kamu benar. Aku akan mencoba mengenal Adrian lebih baik sebelum membuat keputusan apapun."
"Mama, kami sedang membicarakan sesuatu yang cukup menarik selama makan malam tadi," jawab Liliana Gerald.
"Tentang apa, sayang?" tanya Mama Liliana penasaran.
"Ah, tante, Liliana sedang membicarakan seorang pria yang dia sukai," kata princess aluna lucky sambil tersenyum.
Tiba-tiba, Adrian masuk ke ruangan mereka.
"Kamu," kata Adrian sambil mengarahkan pandangannya ke Liliana.
"Aku?" Liliana bingung.
"Iya, kamu. Coba kamu lihat betul-betul, siapa yang kamu lihat, dia atau aku?" Adrian menunjukkan sebuah foto seorang pria yang tampak mirip dengannya, hanya saja potongan rambutnya dan gaya berpakaiannya berbeda.
Liliana tampak serius melihat foto tersebut, beberapa saat kemudian dia melihat ke Adrian dan foto itu secara bergantian selama 10 menit.
"Rasaku tidak ada bedanya, keduanya sama-sama tampan dan berkharisma," ucap Liliana tanpa sadar.
Princess Aluna Lucky segera menutup mulut Liliana Gerald. "Ah, mungkin maksudnya kurang jelas, Adrian."
"Sini, handphonemu," pinta Adrian sambil mengulurkan tangannya.
Liliana Gerald tersenyum dan memberikan handphonenya. Adrian kemudian mengetik nomor handphonenya dan menekan tombol panggil.
"Itu nomorku. Bila sudah ingat, tolong hubungi aku," ucap Adrian sebelum keluar dari ruangan.
"Dia tampak menggemaskan, Aluna," kata Liliana Gerald tampak terpukau.
"Rupanya anak Mama lagi jatuh cinta," sahut bu axel.
"Jangan terlalu terlibat dengannya, Liliana," kata Princess Aluna Lucky dengan serius.
"Kenapa? Dia tampak baik," jawab Liliana bertanya-tanya.
"Mama, aku akan berhati-hati. Aku hanya ingin mengenal Adrian lebih baik," kata Liliana dengan penuh keyakinan.
Mama Liliana menghela nafas. "Liliana, sebagai ibumu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku khawatir kamu akan terluka."
Liliana menggenggam tangan Mama Liliana dengan lembut. "Aku mengerti, Mama. Aku akan berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan."
Sementara itu, di ruangan VVIP tempat Sakura dirawat, terlihat Adrian masuk kembali dengan dahi yang berkernyit.
"Kamu habis darimana?" tanya Sakura yang masih berbaring lemah.
"Ini semua demi Sakura. Kenapa kamu masih bisa salah membedakan antara aku dan Shawn? Apakah kami terlihat sama bagimu?" tanya Adrian dengan kesal.
"Sudahlah, Adrian. Sekarang Sakura adalah kakak iparmu," kata Oliver Richie dengan nada tegas.
Sakura terlihat terkejut mendengar Oliver Richie yang marah. Sakura masih belum tahu bahwa dia menjalani histerektomi juga.
"Oliver, kenapa perutku sakit sekali?" tanya Sakura bingung.
"Iya, Sakura. Ini karena luka di perutmu cukup parah," jawab Oliver dengan penuh perhatian.
Adrian dan Oliver tampak saling bertukar pandang, merasa khawatir dengan kondisi Sakura.
Tiba-tiba, Shawn masuk dengan senyum iblisnya.
"Kukira kau mati, Sakura," ujar Shawn sambil tertawa sinis.
"Kau!" ujar Adrian dan Oliver bersamaan, siap untuk melawan Shawn.
"Ya, aku heran kenapa kalian tergila-gila dengan w************n seperti dia. Dia bahkan tidak tahu bahwa aku bukan Adrian," kata Shawn dengan sombong.
"Sini, kamu," kata Adrian sambil menarik lengan Shawn dan mengajaknya ke ruangan Liliana Gerald.
"Siapa orang ini?" tanya Shawn dengan acuh tak acuh.
"Wah, tampaknya tidak ada bedanya," ujar Liliana Gerald sambil menghampiri keduanya dan mengelilingi mereka dengan rasa ingin tahu.
Liliana Gerald menatap Shawn dengan rasa penasaran. "Jadi, siapa sebenarnya kamu?"
Shawn tersenyum dengan angkuh. "Aku adalah Shawn, kembaran Adrian. Tapi sepertinya kalian tidak bisa membedakan kami."
Adrian memandang Shawn dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu inginkan, Shawn? Kenapa kamu selalu mencoba membuat masalah?"
Shawn mengedipkan mata dengan sinis. "Apa yang bisa kukatakan? Aku hanya ingin melihat reaksi kalian saat mengetahui Sakura masih hidup."
"Ayo, mari kita bicara di luar, jangan di sini," ujar Princess Aluna Lucky sambil mengajak Adrian, Shawn, dan Liliana Gerald keluar dari ruangan tersebut.
Adrian mendekati Shawn dengan sikap tegas. "Sekarang, beri tahu kami dengan jujur. Apa motif sebenarnya di balik semua ini?"
Shawn tersenyum dengan misterius. "Kalian akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu."
Tiba-tiba, seorang perawat melewati mereka dan bertanya, "Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Ayo," kata Adrian sambil mengajak mereka semua ke ruangan tempat Sakura dirawat.
Princess Aluna Lucky bertanya pada Sakura, "Bagaimana keadaanmu, Sakura?"
Sakura tampak kebingungan. "Aluna?"
Oliver Richie menghampiri Princess Aluna Lucky, menariknya menjauh dari Sakura. "Sepertinya ada sebagian memori Sakura yang hilang, terutama saat kejadian itu."
Orangtua Oliver Richie masuk ke ruangan dan bertanya, "Apa yang sedang terjadi? Biarkan Sakura beristirahat. Siapa kedua wanita ini?"
Mereka kemudian bubar dan Princess Aluna Lucky serta Liliana Gerald kembali ke ruangan tempat orangtua Liliana dirawat.
Kami semua merasa bingung dan khawatir dengan keadaan Sakura. Kami berusaha mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul, sambil tetap memberikan dukungan dan kekuatan bagi Sakura dan keluarganya.
"Kalian habis dari mana?" tanya orangtua Liliana Gerald dengan nada khawatir.
"Kami habis dari kencan buta, Tante," ujar Princess Aluna Lucky sambil tersenyum mencoba melunakkan suasana yang tegang akibat kedatangan Adrian tadi.
"Sudah waktunya tidur sehingga besok kita bisa pulang ke rumah," ajak Bu Riana yang sejak tadi sedang berbincang dengan kedua orangtua Liliana Gerald.
Mereka pun mematikan lampu dan tidur nyenyak malam itu
****
"Siapa kedua wanita itu?" tanya orangtua Oliver Richie.
"Mereka adalah teman Sakura, bukan begitu, Sakura?" ujar Oliver Richie sambil menatap Sakura.
"Iya, Ma. Mereka hanya datang untuk melihat keadaanku," jawab Sakura dengan lemah.
"Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan? Kan kami sudah mengingatkanmu untuk tidak menyetir sendiri," kata ibu Oliver Richie dengan nada cemas.
"Maaf, Ma. Papa. Aku minta maaf sudah membuat kalian khawatir," kata Sakura dengan sedih.
"Adrian, Shawn, kalian berdua kenapa berada di sini?" tanya Oliver Richie dengan rasa penasaran.
"Kami hanya ingin tahu bagaimana keadaan Sakura, apakah masih bernapas atau tidak," kata Shawn sambil tertawa sinis.
Tanpa ragu, mama oliver richie melancarkan tamparan ke pipi Shawn.
"Kalian menjijikkan!" ucap shawn dengan penuh amarah, keluar dari ruangan tersebut dan membanting pintu.
"Pergi juga, Adrian. Apakah Mama harus menamparmu seperti Shawn? Kalian harus belajar dari Oliver Richie tentang kepemimpinan," kata ibu Oliver Richie dengan tegas.
"Mama, Papa selalu pilih kasih dan tidak memberi kesempatan kepada kami untuk membuktikan diri," ujar Adrian dengan suara tergugah.
Orangtua Oliver Richie saling pandang, merasa terpukul oleh perkataan Adrian. Ibunya, Ibu Anita, menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Adrian, maafkan Mama dan Papa jika kami terlihat seperti itu. Kami hanya khawatir tentang keputusan yang kalian ambil dan ingin melindungi kalian dari kemungkinan bahaya atau kesalahan," kata Ibu Anita dengan suara lembut.
Papa Oliver Richie, Bapak Hendra, menambahkan, "Kami ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Tapi mungkin kami telah terlalu melindungi kalian tanpa memberikan kesempatan untuk tumbuh dan belajar dari pengalaman."
"Adrian bukan anak kecil lagi, Pa, Ma. Lagian, kami punya minat masing-masing. Kebetulan saja Oliver Richie bisa melanjutkan perusahaan Pa-Ma," ujar Liliana Gerald dengan suara lembut.
Adrian pun keluar dari ruangan dengan hati terluka, merasakan kekecewaan yang mendalam.
Oliver Richie mendekati Liliana Gerald dengan sikap penuh pengertian. "Kami mengerti maksud kalian, Liliana."
Princess Aluna Lucky ikut berbicara, "Mungkin mereka merasa terbebani oleh Oliver, Ma-Pa. Berilah mereka kesempatan untuk mengejar minat dan impian mereka sendiri."
Bu Anita dan Pak Hendra mengangguk, memahami apa yang dikatakan Aluna dan Liliana. "Baiklah, istirahatlah, Sakura. Kami hanya datang untuk melihat keadaanmu sekaligus ada acara dekat rumah sakit," kata Bu Anita sambil memberikan sekeranjang buah pada Sakura. Mereka kemudian berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Sakura merasa bingung dan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Oliver Richie menatap Sakura dengan lembut. "Tidak perlu dipikirkan jika kamu tidak mengingatnya. Yang penting sekarang adalah kesembuhanmu."
Mereka semua tidur dengan banyak pertanyaan yang menghantui pikiran mereka malam itu.
Keesokan paginya, Liliana Gerald membantu kedua orangtuanya untuk bersiap pulang. Princess Aluna Lucky dan Bu Reina berada di samping mereka, memberikan dukungan dan bantuan.
"Terima kasih, Aluna dan Bu Reina, sudah mendampingi Liliana selama kami di rumah sakit," ucap Bu Anita dengan penuh rasa terima kasih.
"Liliana Gerald sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, begitu juga Aluna," kata Bu Reina dengan hangat.
Orangtua Liliana Gerald memeluk Bu Reina dan Princess Aluna Lucky dengan penuh kasih sayang sebelum mereka berpisah dan pulang secara terpisah.
"Aku akan mengantar kalian pulang," ujar Shawn yang duduk di ruang tunggu rumah sakit, menghampiri mereka.
"Adrian?" tanya Liliana Gerald, ingin memastikan identitasnya.
Shawn tersenyum, membuat Liliana Gerald merasa tersanjung. Shawn membuka bagasi mobilnya dan memasukkan tas mereka, lalu membuka pintu untuk orangtua Liliana dan membiarkan Liliana Gerald duduk di sampingnya.
Ketika dalam perjalanan, Shawn mulai mengemudi dengan cepat dan ugal-ugalan.
"Pelan, Shawn. Orangtuaku belum sepenuhnya pulih," kata Liliana Gerald dengan khawatir.
"Aku Shawn, bukan Adrian. Kenapa kalian tidak bisa membedakan aku dan Adrian?" ujar Shawn dengan nada kecewa.
Liliana Gerald terlihat pucat pasi, menyadari kesalahannya dalam mengenali Shawn. Dia merasa sangat menyesal atas kekeliruannya dan memahami betapa pentingnya membedakan antara keduanya.
"Maaf, Shawn. Aku sungguh menyesal dan meminta maaf atas kesalahanku," ucap Liliana Gerald dengan suara yang penuh penyesalan.
Shawn menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menatap Liliana Gerald dengan serius. "Kamu harus lebih berhati-hati dalam mengenali orang, Liliana. Kesalahan seperti ini bisa berdampak besar."
Liliana Gerald mengangguk dengan penuh penyesalan. "Aku benar-benar minta maaf, Shawn. Aku akan lebih berhati-hati dan tidak membuat kesalahan seperti ini lagi."