Oliver Richie merasa sedikit tersindir, "Seharusnya kamu tidak arogan, Aluna. Jika kamu lebih rendah hati dan berbagi masalahmu, mungkin semuanya akan berbeda sekarang."
Princess Aluna Lucky merenung sejenak, merasa bersalah atas sikapnya yang terlalu tertutup. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan lebih terbuka dan berbagi dengan orang-orang terdekatnya, termasuk Liliana Gerald.
"Apa yang kalian bicarakan? IVF?" tanya Liliana Gerald dengan keheranan saat keluar dari ruangan dan mendengar percakapan antara Princess Aluna Lucky dan Oliver Richie.
"Sudah berapa lama kamu mendengar percakapan kami, Liliana?" tanya Princess Aluna Lucky, terkejut dengan kehadiran Liliana Gerald.
"Sejak awal kamu keluar, Aluna. Aku baru ingat bahwa kamu dan Bu Reina berutang cerita padaku," jelas Liliana Gerald dengan serius.
Princess Aluna Lucky merasa cemas, "Aku pamit dulu, Aluna. Liliana, aku sudah membayar lunas biaya rumah sakit orangtuamu. Terima kasih karena kamu tidak mempersulit kejadian ini."
Oliver Richie pergi meninggalkan mereka berdua yang terlihat serius. Liliana Gerald menatap Princess Aluna Lucky dengan kekhawatiran.
"Aluna, apa yang Oliver Richie lakukan padamu?" tanya Liliana Gerald dengan rasa penasaran.
"Liliana, aku takut membebankanmu, terutama saat orangtuamu baru saja mengalami kecelakaan," ujar Princess Aluna Lucky dengan ragu.
"Itu hal yang berbeda, Aluna. Kamu harus menjelaskan padaku," tegas Liliana Gerald.
Princess Aluna Lucky menunduk, memainkan tangannya dengan ragu. Dia merasa ragu untuk menceritakan pada Liliana Gerald.
Liliana Gerald memegang kedua tangan Princess Aluna Lucky dengan penuh kehangatan, "Aluna, aku di sini untukmu. Ceritakan padaku."
Princess Aluna Lucky mengangkat wajahnya dan dengan ragu menjawab, "Sebenarnya, aku membantu proses IVF pasangan Oliver Richie dan Sakura."
Liliana Gerald terkejut, "Bagaimana cara kamu membantu mereka? Bukankah Sakura harus menjalani histerektomi setelah mengalami kecelakaan?"
Princess Aluna Lucky menundukkan kepala, ragu untuk melanjutkan ceritanya. Namun, dengan dukungan Liliana Gerald, dia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan.
"Liliana, aku akan membawa embrio mereka di dalam rahimku," ucap Princess Aluna Lucky dengan penuh keraguan.
"Apa?!!!" Liliana Gerald spontan berdiri dari tempat duduknya, terkejut dengan pengakuan tersebut.
Liliana Gerald berdiri dengan tatapan yang penuh keheranan dan kebingungan. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Aluna, apa maksudmu? Kamu akan membawa embrio mereka di dalam rahimmu?" tanya Liliana Gerald dengan suara yang gemetar.
Princess Aluna Lucky merasa gugup, tetapi dia mengangkat kepalanya dan menjawab dengan tulus, "Iya, Liliana. Aku setuju untuk menjadi surrogate mother bagi Oliver Richie dan Sakura. Mereka ingin sangat memiliki anak, dan aku merasa ini adalah cara yang bisa aku bantu."
Liliana Gerald duduk kembali dengan perasaan campur aduk. Dia mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia dengar. Dia merasa kagum dengan kebaikan hati Princess Aluna Lucky, tetapi juga merasa khawatir dengan konsekuensi dan tantangan yang mungkin dihadapi.
"Liliana, aku tahu ini mungkin terdengar gila dan sulit dipahami. Tapi aku ingin membantu mereka, memberikan mereka kesempatan untuk menjadi orangtua. Aku tahu ini adalah keputusan besar, dan aku membutuhkan dukunganmu," ujar Princess Aluna Lucky dengan penuh harap.
Liliana Gerald melihat wajah Princess Aluna Lucky yang penuh keraguan dan keinginan untuk membantu. Dia merasa terharu dengan kebaikan hati sahabatnya ini. Setelah beberapa saat berpikir, Liliana Gerald mengambil tangan Princess Aluna Lucky dengan penuh kehangatan.
"Aluna, aku tidak bisa membayangkan seberapa berat keputusan ini bagimu. Tapi aku mendukungmu sepenuhnya. Aku tahu bahwa kamu melakukan ini dengan niat yang baik, dan aku akan selalu ada untukmu," ucap Liliana Gerald dengan tulus.
Princess Aluna Lucky tersenyum lega, merasa lega bahwa sahabatnya menerima keputusannya. Mereka berdua saling memeluk dengan erat, merasakan kekuatan dan kebersamaan dalam persahabatan mereka.
"Tapi bagaimana bisa kamu terlibat dengan Oliver Richie dan Sakura, dan kebetulan menjadi ibu pengganti untuk mengandung anak mereka?" tanya Liliana Gerald dengan rasa kebingungan.
"Sejak kepergian kedua orangtuaku, ternyata mereka memiliki usaha jasa sewa rahim, dan aku harus melanjutkan ketika aku memutuskan untuk menjawab panggilan telepon pertama dari klien kami, yang kebetulan adalah Oliver Richie," jelas Princess Aluna Lucky.
"Kami? Maksudmu Bu Riana juga terlibat dalam masalah ini?" tanya Liliana Gerald dengan keheranan.
"Bu Riana dulu juga menjadi ibu pengganti untuk Liliana," tambah Princess Aluna Lucky.
Karena Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald cukup lama berada di luar ruangan, Bu Reina mulai bingung dan memutuskan untuk keluar dari ruangan.
"Benarkah, Bu?" tanya Liliana Gerald, menatap Bu Reina dengan rasa ingin tahu.
"Aku sudah menceritakan semuanya, Bu. Aku merasa Liliana Gerald adalah orang yang bisa kita percayai," ucap Princess Aluna Lucky dengan penuh keyakinan.
Bu Riana memeluk Liliana Gerald dengan penuh kasih sayang. "Aku bingung harus bagaimana menceritakan padamu, Liliana," ucap Bu Reina sambil memeluk Liliana Gerald.
"Ibu?" Liliana Gerald tampak bingung dengan reaksi Bu Riana. Sepertinya Bu Reina tidak tahu apa yang telah Princess Aluna Lucky ceritakan.
"Iya, kamu adalah anak yang ibu kandung dari Liliana," ujar Bu Reina sambil membelai rambut Liliana Gerald.
Liliana Gerald terlihat sangat kebingungan dan melepaskan pelukan Bu Reina. "Maksud ibu?" tanyanya dengan penuh kebingungan.
Liliana Gerald masih terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar dari Bu Reina. Dia merasa kebingungan dan ingin segera mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap.
Princess Aluna Lucky memasuki ruangan dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Liliana, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu. Aku ingin menjelaskan semuanya dengan jujur."
Liliana Gerald mengangguk, masih mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia terima. Dia duduk dengan tegang, menunggu penjelasan dari Princess Aluna Lucky dan Bu Reina.
Princess Aluna Lucky duduk di samping Liliana Gerald, mengambil nafas dalam-dalam, dan mulai menceritakan kisah yang terjadi di masa lalu. Dia menjelaskan bagaimana Bu Reina menjadi ibu pengganti untuk Liliana, dan bagaimana dia sendiri terlibat dalam usaha jasa sewa rahim setelah kepergian orangtuanya.
Liliana Gerald mendengarkan dengan seksama, perasaan campur aduk melingkupi hatinya. Dia merasa terharu dengan pengorbanan dan kebaikan hati yang telah dilakukan oleh Princess Aluna Lucky dan Bu Reina. Namun, dia juga merasa bingung dan tidak tahu bagaimana dia harus merespons semua ini.
Setelah Princess Aluna Lucky selesai bercerita, Bu Reina mengambil tangan Liliana Gerald dengan lembut. "Liliana, aku tahu ini adalah kabar yang mengejutkan bagimu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah anak yang aku kandung. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati sejak saat kamu lahir."
Liliana Gerald menatap Bu Reina dengan perasaan campur aduk. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan atau bagaimana dia harus merespons. Dia merasa terombang-ambing dalam gelombang emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
Princess Aluna Lucky mencoba memberikan dukungan pada Liliana Gerald. "Liliana, aku mengerti bahwa ini adalah berita yang mengejutkan dan mungkin sulit untuk diterima. "
"Jangan bicarakan hal ini di depan orangtuaku. Maafkan aku, Bu Reina. Aku tidak menganggapmu lebih dari sekedar seorang teman orangtuanya Aluna. Terima kasih atas kejujuranmu," ucap Liliana Gerald saat masuk ke dalam ruangan.
"Aluna, aku lega bahwa kamu sudah jujur, meskipun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan," ujar Bu Reina dengan lega.
"Aluna juga, Bu. Aku merasa lega setidaknya ada teman untuk berbagi cerita, apalagi Liliana Gerald adalah sahabatku," sambung Princess Aluna Lucky.
"Mari kita keluar dan beli makan siang," ajak Bu Reina, mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka.
Di dalam ruangan, Liliana Gerald terlihat syok dengan cerita yang baru saja dia dengar dari Princess Aluna Lucky dan Bu Reina. Dia duduk di sudut ruangan, tampak melamun.
"Liliana, kamu kenapa?" tanya ibunya dengan suara lemah.
"Mama, Liliana anak mama kan?" tanya Liliana Gerald dengan perasaan campur aduk.
"Tentu saja, kenapa kamu bertanya seperti itu?" jawab ibunya dengan penuh kehangatan.
Liliana Gerald lalu memeluk kedua orangtuanya yang masih terbaring lemah. "Tidak apa-apa, Ma. Liliana bahagia memiliki kalian di hidup Liliana," ucapnya dengan tulus.
"Papa, dimana Aluna?" tanya papanya.
"Lagi keluar bersama Bu Reina, mungkin sedang membeli makan malam. Hari ini benar-benar berlalu dengan cepat," jawab papanya dengan penuh harap.
Beberapa jam kemudian, Princess Aluna Lucky dan Bu Reina kembali ke ruangan dengan bungkusan makanan. Mereka melihat Liliana Gerald yang masih terdiam di sudut ruangan.
"Maaf, Liliana. Kami tidak bermaksud membuatmu terkejut atau bingung dengan cerita kami. Kami ingin berbagi denganmu karena kamu adalah sahabat terdekat Aluna dan juga bagian dari keluarga kami," ujar Princess Aluna Lucky dengan penuh penyesalan.
Liliana Gerald mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Aku tahu, Aluna. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk memproses semuanya. Tapi aku menghargai kejujuran kalian dan aku tetap berada di sini untukmu."
Bu Reina menghampiri Liliana Gerald dan duduk di sampingnya. Dia memegang tangan Liliana dengan lembut, "Liliana, kamu adalah anak yang aku kandung dengan penuh cinta. Aku selalu menganggapmu sebagai anakku sendiri."
Mereka menghabiskan waktu bersama, menikmati makanan yang dibeli Princess Aluna Lucky dan Bu Reina. Percakapan mereka menjadi lebih ringan dan tawa mulai mengisi ruangan.
"Ngomong-ngomong, tadi apa yang kamu bicarakan dengan Oliver Richie?" tanya Liliana Gerald.
"Kami membicarakan tentang Sakura dan keadaan orangtuanya," jawab princess aluna lucky.
"Oh, bagaimana dengan Adrian?" tanya Liliana penasaran.
"Adrian? Adik Oliver Richie? Apakah itu yang kamu maksud?" tanya princess aluna lucly.
"Iya, apakah Adrian sudah punya pacar setelah Sakura menikah dengan Oliver?" tanya Liliana lagi.
"Kenapa? Apakah kamu tertarik padanya?" tanya princess aluna lucky balik.
"Hmmm... baru kali ini aku melihat pria sekeren dia dalam hidupku, cara dia berbicara," ucap Liliana.
"Apakah kamu jatuh cinta padanya?" tanya princess aluna lucky dengan penasaran.
"Liliana, mungkin kamu hanya terkesan dengan sikap Adrian. Kita belum tahu banyak tentang dia," kata princess aluna lucky.
Liliana menggelengkan kepala. "Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Adrian. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya."